Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10- MCI 10
Sebenarnya yang terkejut disini juga bukan hanya Diandra. Raez juga kaget melihat teman keponakannya, yang selalu dia ceritakan di Madrid itu, teman kuliahnya yang berhenti kuliah karena orang tuanya tak lagi mengirim uang, dan dia yang hanya punya sedikit skill bertahan hidup saat itu harus putus kuliah, ternyata adalah Diandra.
Max mempersilahkan pamannya untuk duduk di sebelahnya. Tapi pamannya malah terus berjalan ke samping Diandra dan menarik kursi yamg ada di samping Diandra.
"Paman, aku sudah pesan makanannya. Sebentar lagi datang!"
Raez mengangguk berat. Dan kembali melihat ke arah Diandra.
"Sejak kapan kalian berteman?" tanya Raez pada Diandra.
Diandra sejak tadi hanya menundukkan kepalanya saja, sesekali dia menoleh ke arah Max. Mana berani dia melihat ke arah singa lapar itu.
"Sejak di Madrid, paman. Aku dan Diandra satu kampus, kami sama-sama dari negara A. Jadi saat itu kami memang bertemu di perkumpulan mahasiswa baru asal negara A" Max menjelaskan dengan sangat detail pada pamannya.
Raez menoleh ke arah keponakannya. Tapi dia kurang senang. Dia bertanya pada Diandra. Kenapa Max terkesan menjadi tameng untuk Diandra.
"Usia?"
"Diandra dia 24 tahun bulan depan, kami hanya beda setahun!"
Raez mulai menatap serius ke arah Max. Dan Diandra, semakin merasa tegang saja.
'Astaga, ini di meja makan loh, bukan meja interogasi?' batin Diandra.
"Setelah putus kuliah, apa pekerjaanmu?"
"Paman, dia penyanyi..."
"Max, apa aku bertanya padamu?" sela Raez yang kesabarannya sangat tipis.
Max, jadi tampak canggung. Untung saja pelayan restoran segera datang dengan tiga troli makanan yang mereka sajikan di atas meja.
Diandra benar-benar tak bisa berkutik, semua makanan kesukaannya, Raez letakkan di depannya. Bagaikan caranya Diandra mengambilnya.
Tapi, Max yang tahu betul makanan apa saja yang menjadi kesukaan Diandra. Segera berdiri dan meraih semangkuk pasta yang ada di depan pamannya.
"Paman, maaf. Tapi aku memesan ini untuk Diandra, dia suka sekali pasta dengan udang panggang!"
Diandra tersenyum senang. Dia akhirnya mendapatkan makanan kesukaannya tanpa harus bicara pada Raez.
"Terima kasih Max!" kata Diandra pelan.
Dan ucapan Diandra itu mengundang lirikan maut dari pria berjas di sebelahnya.
Max segera meletakkan mangkuk itu di depan Diandra.
"Ini Diandra, mau pakai garpu atau sumpit?" tanya Max.
"Apa dia anak kecil Max, dia bisa ambil sendiri alat makannya!" kata Raez.
"Paman, jangan begitu! paman menakutinya!" kata Max.
Pria itu melihat Diandra bahkan tidak jadi menggerakkan tangannya. Max mengambil garpu dan meletakkannya di atas mangkuk.
"Jangan takut Diandra, pamanmu di luar saja terlihat galak begitu. Padahal dia sangat baik. Ayo makan!" kata Max.
Diandra kembali tersenyum pada Max.
"Terima kasih" katanya sambil tersenyum manis pada Max.
Dan senyuman itu kembali membuat Raez merasa kesal.
'Apa-apaan dia? kenapa tersenyum begitu manis pada Max? jika dia ingin memanfaatkan Max untuk menjadi sumber uangnya, aku tidak akan biarkan itu terjadi!'
"Kamu bilang terima kasih terus. Aku jadi terharu!"
Raez mengernyitkan keningnya. Dia melihat keponakannya yang sepertinya sudah benar-benar masuk pada belenggu pesona mantan sugar baby nya itu.
Raez mengambil pisauu steak di sebelah Diandra, padahal sebenarnya pisaunya sendiri ada di dekatnya.
"Paman, itu..."
"Kenapa? bukannya dia makan pasta. Dia tidak akan menggunakan ini kan?" sela Raez.
Max mendengus pelan.
'Ada apa dengan paman. Dia agak banyak bicara kali ini?' batin Max.
Karena biasanya, ketika Raez bertemu dengan teman Max. Pamannya itu tidak terlalu banyak bicara, bahkan hanya akan berdehem atau mengangguk saja. Tidak pernah bertanya begitu detail seperti yang tadi pamannya itu tanyakan pada Diandra.
Diandra benar-benar kesulitan menelan makanya. Dia merasa dari arah samping, ada seseorang yang menatapnya tajam. Dan membagikan aura yang begitu tidak membuatnya nyaman.
"Diandra, ini jus jeruk kesukaan kamu!"
"Itu punyaku!" sela Raez.
'Ya ampun!' batin Diandra yang sebenarnya ingin menghilang saja dari tempat ini.
"Paman, bukannya paman tidak suka jus..."
"Itu dulu, belakangan aku kehilangan berat badan, butuh minuman seperti itu!"
Diandra tidak mau Max berdebat dengan pamannya yang dia tahu memang ingin cari gara-gara saja dengan Diandra itu.
"Max, tidak apa-apa. Aku minum air mineral saja!"
"Diandra, aku pesankan lagi saja ya?" tanya Max merasa tidak enak.
"Tidak perlu..."
Tak
Diandra dan Max segera menoleh ke arah sumber suara. Garpu dan pisau steak yang di pegang oleh Raez. Oleh pria itu di letakkan dengan sangat tidak pelan di atas meja.
"Paman..."
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi!" sela Raez segera menatap Diandra.
Diandra sampai mundurkan punggungnya ke sandaran kursi. Tatapan Raez, bahkan seperti mencekiknya tanpa menyentuh.
"Kamu butuh berapa? aku akan berikan padamu, tapi kamu jangan dekati keponakanku lagi" tegas Raez.
Max sampai berdiri mendengar pamannya bicara seperti itu pada Diandra.
"Paman, apa yang paman katakan? kenapa..."
"Kamu diam Max!" sela Raez menunjuk ke arah Max, "kamu tidak tahu wanita macam apa dia. Dia ini cuma seseorang yang akan memanfaatkan kamu saja. Mengincar uang kamu, untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Dia tidak punya hati! dia tidak punya itu untuk dia berikan padamu!"
Diandra mengepalkan tangannya. Dia tadinya sungguh tidak ingin mencari masalah dan gara-gara dengan keponakan dan paman itu. Tapi, karena Raez yang memulainya, dia juga tidak mungkin diam saja.
Raez bilang dia wanita yang hanya memanfaatkan pria. Maka dia akan jadi seperti itu. Diandra tidak terima, bukankah mereka sama-sama buruk. Kenapa harus membiarkan seseorang yang sama buruknya seperti dirinya menghinanya dan merendahkannya seperti itu.
"Paman, Diandra tidak seperti itu! aku kenal dia selama 7 tahun..."
"Dia hanya berpura-pura di depanmu. Wajah aslinya kamu akan segera tahu nanti!"
Diandra berdiri. Dia meraih tasnya, dan mendekati Max.
"Max, pamanmu benar. Sebaiknya jangan berhubungan dengan orang sepertiku! aku akan bayar makanan ini..."
"Aku tidak sudi menerima uang kotormu!" sela Raez lagi.
"Paman..." lirih Max yang sama sekali tidak menduga kalau pamannya akan bicara seperti itu.
Diandra menganggukkan kepalanya perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca. Tapi itu hanya pura-pura.
"Max, aku pergi!"
Diandra sengaja bertingkah dramatis. Memangnya siapa yang tidak bisa melakukan itu.
Dia sengaja mengulurkan tangan kirinya ke belakang. Membuat Max menjangkaunya dan memegang tangan kiri Diandra itu.
"Diandra, pamanku..."
"Dia benar, orang yang sangat terhormat dan suci seperti kalian. Tidak boleh punya hubungan apapun dengan orang sepertiku!" kata Diandra menepis tangan Max dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Diandra..."
"Tidak usah dikejar, apa kamu tidak tahu dia hanya bersandiwara?" sela Raez.
"Paman keterlaluan!" keluh Max yang langsung berlari keluar menyusul Diandra.
***
Bersambung...
Tak ada kah yg mendengar kata² Kamila itu..? 🤔
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣