"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta semusim 27
Setelah nyonya Ma pergi semua orang kembali duduk diruang keluarga, Yin, ibu pimpinan, ibu Ji Ming dan juga kakak ipar ibu pimpinan mereka duduk bersama. Oh pil sun duduk bermain catur dengan pamannya yaitu ayah Ji Ming, lalu Hyu Ming terlihat sibuk sendiri dengan handphonenya, sedangkan Ye Eun dan Ji Ming berserta anak-anaknya mereka tidak terlihat, mungkin mereka sedang bermain di taman belakang.
Sementara Or ji oh masih asik menikmati dessert nya. "Nyonya muda, bagaimana dengan baju-baju ini?" tanya Seol setelah kembali teringat dengan baju-baju ditangannya, saat Or ji oh masih asik menikmati dessert nya "jualan saja dan bagi uangnya dengan sama rata." jawaban Or ji oh tanpa melihat kearah Seol, karena menurutnya itu akan jauh lebih adil, dari pada memberikan baju itu hanya kepada sebagian pelayan saja, mendengar itu bibi kedua langsung menyipitkan matanya, ia jadi penasaran akan berapa harga baju bekas itu kalau dijual kembali, namun tidak berani menanyakannya secara langsung.
"ya?" sementara Seol terlihat bingung, ia masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Or ji oh, sebab ia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Selain itu setiap pakaian ibu pimpinan yang tidak terpakai biasanya akan langsung disumbangkan kepada yayasan amal, begitu pun dengan pakaian Yin. "jual saja dan bagi uangnya dengan sama rata pada pelayan lain" ujar Or ji oh mengulang kata-katanya kali ini dengan melihat kearah Seol, sementara Oh pil sun melihat kearah Or ji oh.
"baik nyonya muda" kata Seol akhirnya setelah mengerti dan sedikit gugup, karena meskipun baju itu bekas, jika dijual semuanya harganya tetap lumayan, bahkan lebih dari tujuh bulan gajinya, mendengar itu beberapa pelayan yang kebetulan juga ada disana terlihat senang, karena mereka sedang mendapatkan bonus. "hmm" dengus Oh pil sun tersenyum disela permainan catur nya, karena Or ji oh terlihat begitu murah hati.
Empat hari kemudian.
Pukul delapan tiga puluh, pagi ini Or ji oh sudah terlihat rapi dengan blus putih dan rok pendek sebatas lututnya, sepertinya sebentar lagi ia akan pergi keluar, tepat saat ia akan mengambil tasnya handphonenya pun berdering, "hmm" kata Or ji oh setelah mengangkat panggilan dan menempelkan handphonenya ke telinga, setelah melihat siapa yang meneleponnya. "ya! dimana?" katanya bertanya pada orang yang menelponnya sembari mengambil tasnya "toserba?!" katanya lagi sambil melihat keluar jendela karena toserba yang disebutnya jaraknya hanya tiga rumah dari rumah itu, meski ia tidak bisa melihat dari sana karena terhalang pagar yang jauh dan juga dinding yang tinggi, "baiklah aku kesana" katanya kemudian setelah tak dapat melihat apa-apa dan mulai berjalan dengan terburu-buru.
Namun karena terburu-buru ia tidak sengaja menabrak lengan Oh pil sun yang sedang bermain dengan kucingnya, didepan kamarnya. Bahkan kucing itu nyaris saja jatuh jika Oh pil sun tidak memegangnya erat. "eh! maaf" kata Or ji oh pada Oh pil sun tanpa mematikan teleponnya dan melihat kearah Oh pil sun sebentar, yang kini telah memeluk kucingnya. "hmm" jawab Oh pil sun hanya dengan bergumam, wajahnya terlihat cemas dan terus memperhatikan kucing dalam pelukannya, "lain kali jalan hati-hati!" katanya memberi peringatan dengan nada sedikit ketus, setelah memastikan bahwa kucing dalam pelukannya aman.
"hmm baiklah! Lain kali kalau ada kesempatan aku tidak akan menabrak mu, tapi menginjaknya!" kata Or ji oh tak kalah dingin sebagaimana biasanya seperti tidak memiliki perasaan, karena Oh pil sun terlihat begitu menyayangi kucing tersebut. "sssst" sontak membuat Oh pil sun berdesis saat mendengar itu, ia bahkan langsung melihat kearah Or ji oh namun Or ji oh justru memalingkan wajahnya, dan berjalan meninggalkannya. "kemana dia akan pergi dengan terburu-buru seperti itu?" ujar Oh pil sun bertanya pada dirinya sendiri setelah melihat Or ji oh pergi, dan kembali mengelus kucingnya.
Namun karena sedikit kepo ia pun segera masuk keruang kerjanya, dan mengintip Or ji oh dari kaca jendela yang berada dibelakang meja kerjanya. Awalnya Oh pil sun terlihat biasa namun perlahan keningnya mulai mengernyit karena ia tidak bisa melihat apa-apa, selain hanya melihat Or ji oh yang berjalan, lalu masuk kedalam mobil warna hitam miliknya. "hmm, kenapa dia pakai mobil yang itu? Kenapa dia tidak memakai mobilnya sendiri?" gumam Oh pil sun pada dirinya sendiri, karena mobil warna hitam itu adalah milik Oh pil sun dan yang merah hati adalah punya Or ji oh.
Ia sedikit perhitungan dalam hal ini, padahal selama ini ia sendiri selalu memakai mobil Or ji oh. "tidak bisa!" katanya dan bergegas turun, padahal sebenarnya hanya mencari alasan untuk bertengkar dengan Or ji oh. "kenapa tidak memakai mobil mu sendiri?" tanyanya kepada Or ji oh begitu sampai dihalaman dan berdiri disamping mobilnya, karena Or ji oh memang belum pergi dan sedang memanaskan mobilnya.
"kenapa?! Bukankah kau juga selalu memakai mobilku?" Ujar Or ji oh balik bertanya dengan nada dingin dan melihat kearah Oh pil sun, meski ia tidak ada, ia tahu Oh pil sun selalu memakai mobilnya. "itu karena kau tidak ada! Lagi pula jika aku tidak memakainya bukankah itu akan menjadi barang tidak berguna" ujar Oh pil sun menjawab dengan seenak hatinya, membuat Or ji oh langsung melihat kearah nya, "lalu?!" kata Or ji oh cuek dengan mengangkat sebelah alisnya, karena Oh pil sun terlihat begitu picik.
"hari ini aku ingin memakai mobil ini!" kata Oh pil sun akhirnya dengan nada tegas seolah tidak bisa ditawar, "kalau begitu tunggu aku pulang!" jawab Or ji oh cuek tidak peduli dan bergegas pergi dengan mengendarai mobil Oh pil sun. "menunggu mu pulang?!" kata Oh pil sun tidak terima karena masih belum jelas jam berapa Or ji oh akan pulang, namun mobilnya sudah jalan, "memangnya kapan kau akan pulang?!" Tanya Oh pil sun akhirnya dengan sedikit berteriak agar Or ji oh dapat mendengarnya.
Namun meskipun mendengarnya Or ji oh tetap tidak menjawab, kini Oh pil sun tidak punya pilihan selain kembali ke dalam. "apa Or ji oh sudah pergi?" tanya Yin pada Oh pil sun, begitu ia melihat Oh pil sun masuk, "hmm" jawab Oh pil sun hanya dengan mengangguk kepalanya, "apa dia bilang kemana dia akan pergi?" tanya Yin lagi, karena ia juga tidak sempat bertanya sebab Or ji oh pergi dengan terburu-buru.
"tidak" jawab Oh pil sun singkat dan meletakkan kucingnya, "pergilah!" katanya pada kucing itu setelah menepuk kepala kucing itu lembut, membuat Yin yang melihatnya langsung menarik nafas, huft! Ia tidak mengerti sejak kapan putranya itu jadi sangat menyayangi kucing. "dari pada membesarkan kucing lebih baik memiliki anak" ujar ibu pimpinan yang sejak tadi sedang duduk membaca koran, saat ia melihat apa yang Oh pil sun lakukan itu, karena ia juga tidak suka melihat Oh pil sun yang begitu menyayangi kucing itu.