NovelToon NovelToon
Finding True Love

Finding True Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Pembantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aldiantt

Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.

Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.

Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Tentang Yuda

Se perginya Yuda.

"Vincent?" lirih wanita itu kala Vincent menatap datar ke arahnya. Alina menggerakkan kedua tangannya guna menyangga tubuh. Berniat untuk duduk. Namun...

"Jangan banyak gerak!" ucap Vincent tegas. Membuat Alina terdiam dan mengurungkan niatnya. Laki-laki itu mendekat. Melihat ke arah lutut yang diperban serta luka memar dan lecet di area lengan sebelah kanan.

Vincent menarik satu kursi di sana dan mendudukkan tubuhnya tepat di samping ranjang. Sorot matanya tak berubah. Datar namun terasa mengerikan di mata Alina.

"Sebenarnya apa maumu? Bukannya aku udah melarang kamu pergi jauh? Dilarang pergi kamu ngeyel, di izinin malah jadi kayak gini! Kurang jauh kamu perginya! Kurang lagi itu cerobohnya! Sadar nggak kamu kalau di dalam perutmu itu ada bayi kita? Kalau sampai terjadi apa-apa gimana?!" Ucap Vincent jengkel.

Alina tak menjawab. Ia hanya menunduk. Membuat Vincent membuang nafas kasar seraya memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia tak mau memarahi Alina. Tapi perempuan itu memang terlalu ceroboh. Ia juga sudah panik sejak dari apartemen. Eh, sampai rumah sakit malah melihat wanita itu berduaan dengan laki-laki. Makin panas kan dia.

"Jawab jika aku bertanya, Alina! Jangan diam aja!"

Wanita itu mengangguk pelan. "Iya. Maaf, aku yang salah," ucapnya.

"Aku cuma pengen keluar tadi. Aku nggak tahu kalau ada mobil yang tiba-tiba nyelonong motong jalan."

Vincent membuang nafas kasar.

"Maaf! Selalu itu yang kamu ucapkan! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi itu. Kamu bisa apa? Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu sendiri? Gimana? Untung ada yang kenal kamu. Untung lukamu nggak parah. Kalau lebih dari itu? Kemana aku harus nyari kamu?! Bisa nggak, jangan bikin jengkel mulu?!"

Wanita itu tak menjawab. Ia hanya menunduk, dengan raut wajah sedih. Ya, mungkin ia menyadari kesalahannya.

Vincent diam menatap wanita itu. Lagi, ia menghela nafas kasar. Memalingkan wajahnya mencoba meredam emosinya sendiri. Laki-laki itu kemudian meraih segelas air putih di atas meja, entah milik siapa, lalu menenggaknya hingga habis.

Suasana hening sejenak. Alina hanya menunduk sambil memilin selimut pasien yang menutupi tubuhnya. Sedangkan Vincent beberapa kali menarik nafs mencoba mengatur emosinya.

"Maaf, jika kata-kataku terlalu keras," ucapnya kemudian.

"Enggak, kok. Kamu benar," jawab Alina tanpa mengangkat kepalanya.

Vincent diam. Ia menatap Alina dengan sorot mata yang lebih teduh.

"Kamu nggak tahu gimana paniknya aku nyariin kamu tadi," ucap laki-laki itu.

Alina menoleh. Vincent panik? Ah, jelas. Karena ada calon anaknya di rahim Alina. Ia mengkhawatirkan anaknya, bukan Alina.

"Aku minta maaf. Lupain semua kata kata aku. Aku cuma emosi," ucap Vincent lagi.

"Ini terakhir kali, ya, kamu masuk rumah sakit karena kecerobohan kamu. Aku nggak mau ini terulang lagi."

Alina hanya mengangguk. Vincent tersenyum. Ia menarik kursinya lagi agar lebih dekat lada ranjang. Tangannya bergerak. Disentuhnya lembut perut itu, lalu mengusap-usapnya.

"Bagaimana keadaan dia?" tanya Vincent menanyakan kondisi calon anaknya.

"Dokter bilang nggak apa-apa, kok. Semua aman. Aku pingsan cuma karena kaget aja," jawab Alina.

"Kamu sendiri? Ada yang sakit?"

Alina menggelengkan kepalanya. Vincent hanya tersenyum sambil tak henti mengusap-usap perut yang masih rata itu.

"Maaf, udah bikin kamu khawatir," ucap Alina kemudian.

Vincent diam. Menatap wajah gadis polos itu untuk beberapa saat dengan perasaan teduh dan tenang. Entah mengapa akhir-akhir ini ada kenyamanan yang tak bisa dijelaskan melalui kata-kata. Semakin lama, semakin sering ia menghabiskan waktu bersama Alina, semakin sering ia menatap wajahnya, semakin sering ia mendengar tawanya, semakin sering ia bercanda dengannya, semakin nyaman dan tenang rasa hati Vincent tiap kali bersanding dengannya.

Gadis ini tidak istimewa. Tidak begitu cantik jika dibandingkan dengan mantan pacar Vincent yang mulus luar dalam karena perawatan. Gadis ini tidak kaya, tidak terpandang, tidak pintar, tidak berpendidikan, tidak dijamin memiliki masa depan yang cerah. Tapi, ia datang di saat yang tepat. Di saat Vincent sedang berduka. Di saat Vincent terpuruk dan merasakan kesepian. Alina datang dengan segala kepolosan dan kebodohannya. Ia datang dengan lukanya. Ia datang dengan beban kehidupan yang dipikulnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, luka Alina dan duka Vincent perlahan melebur. Berbaur. Bukan makin menjadi melainkan makin mengikis karena keduanya saling berbagi. Obrolan ringan, aktivitas receh, camilan seadanya, tontonan di layar TV yang bahkan sudah berkali-kali mereka tonton tapi masih sering mereka ulangi, adalah sebuah momen yang tanpa mereka sadari menjadi jembatan kedekatan diantara mereka.

Sadar atau tidak, keduanya perlahan mulai bangkit dari kisah masing-masing. Berdiri, berjalan melanjutkan hidup meskipun belum jelas ke depannya akan seperti apa. Tidak ada status di antara mereka. Tidak ada ikatan di antara mereka. Bahkan tidak ada satupun orang terdekat Vincent yang mengenal Alina.

Gadis itu masih tersembunyi. Janin itu masih dirahasiakan. Sedangkan Vincent bukan sebatang kara. Ia punya ayah, ia punya ibu, ia punya keluarga besar, dan ia punya karir dan nama baik yang harus dijaga.

Entah bagaimana akhir kisah ini. Entah bagaimana cara Vincent menjelaskan semua yang terjadi. Hingga detik ini, Vincent sama sekali belum memikirkan hal itu. (Begitupun author 😩)

Vincent masih asyik menikmati kebersamaan nya dengan Alina. Ia masih asyik merangkai kisah dan tawa dengan wanita itu. Apa yang akan terjadi nanti, biarlah semua berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Sementara itu di tempat terpisah...

Motor matic hitam itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana perkampungan padat penduduk itu. Yuda melepaskan jaket ojol nya, menyampirkan nya di stang motor beserta helm nya.

Laki-laki itu lantas menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi bambu yang berada di teras itu. Hembusan nafas kasar terbuang dari lubang hidungnya. Matanya menatap anak anak kampung yang nampak lari larian bermain di jalanan kampung.

"Yud, tumben jam segini udah pulang!" Suara itu berhasil membuat Yuda menoleh. Seorang wanita paruh baya dengan daster sederhana yang nampak bolong di beberapa bagian muncul dari dalam rumah.

"Iya, Mak. Lagi sepi. Yuda juga ngantuk, mau istirahat dulu," ucapnya dengan wajah yang terlihat lesu.

"Mau Emak bikinin kopi?" tanya wanita yang diketahui bernama Halimah itu.

"Boleh," jawabnya sambil melepas sepatunya.

Bu Halimah masuk ke dalam rumah. Yuda menyalakan rokoknya dan kembali melamun di tempatnya setelah meletakkan sepatu di atas rak sepatu di sana.

"Terimakasih, ya. Sudah menolong istri dan calon anak saya."

Kalimat itu menari nari di pikirannya. Yuda menghela nafas panjang. Sepertinya kali ini ia sudah harus merasakan patah hati sebelum jadian. Wanita itu, baru saja jadi incarannya, eh, ternyata suda hamil.

Kecewa rasanya. Ia pikir Alina adalah gadis lajang yang sederajat dengannya. Mengingat wanita itu pernah bilang bahwa ia hanyalah pembantu di rumah itu. Ia pikir, itu sinyal hijau. Yang menandakan ia pantas untuk mengejar wanita itu.

Eh, ternyata wanita itu bohong. Ia bukan pembantu. Ia tak sederajat dengan Yuda. Ia istri orang. Istri seorang pria kaya raya dan tampan. Sangat jauh berbeda dengan Yuda yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sangat tidak mungkin untuk disaingi.

Eh, tapi tunggu...! Kalau memang Alina adalah istri dari pria kaya itu, lantas mengapa selama ini ia mengaku sebagai pembantu? Kenapa ia melakukan itu? Apa ia sengaja ingin mencari perhatian Yuda? Tapi sepertinya Alina bukan tipe wanita seperti itu.

Yuda asyik dengan pikirannya, hingga tiba-tiba sang ibu muncul dengan secangkir kopi, membuyarkan lamunannya.

"Kalau capek istirahat, Yud. Jangan dipaksain," ucap wanita itu seraya meletakkan kopi di atas meja kayu itu.

Yuda tak menjawab. Ia kembali menyesap rokoknya.

"Emi mana, Mak?" tanya Yuda.

"Emak borgol lagi," ucap wanita itu lesu.

Yuda menoleh. "Kenapa lagi?"

"Adik lu itu tadi pagi ngamuk lagi. Dia histeris sampe pecahin kaca di kamarnya. Emak nggak tahu dia dapat dari mana, tiba-tiba udah pegang foto ba ji ngan itu. Padahal seingat Emak semua foto laki-laki itu udah Emak bakar," ucap Halimah.

"Hati-hati lah, Mak. Kan Yuda udah bilang, buang semua barang yang berhubungan sama si ba ng s at itu!"

"Udah Emak buang, Yud. Udah Emak bersihin semuanya. Tapi Emak nggak tahu kenapa masih ada aja foto itu laki! Mungkin keselip atau gimana!" jawab Bu Halimah menjelaskan.

Yuda membuang nafas kasar. Ia mengusap wajahnya hingga ke belakang kepala seolah stress dengan kisah adiknya.

"Yuda janji, Yuda akan cari laki-laki itu sampai ketemu. Dia harus bertanggung jawab atas semua yang udah dia lakuin ke Emi sampai kayak gini!" ucap laki-laki itu penuh dendam.

"Minggu depan kita bawa Emi ke dokter jiwa lagi, Mak. Yuda khawatir sama bayi dalam kandungannya. Takutnya Emi melakukan hal yang enggak-enggak ke calon anaknya," ucap laki-laki itu.

"Dua minggu lagi? Duit dari mana, Yud? Lu udah pegang duit?" tanya Halimah pesimis.

Yuda menggelengkan kepalanya. "Emang belum ada, Mak. Tapi Yuda akan tetap cari duit itu entah darimana aja. Yuda akan selalu usahain demi kesembuhan Emi. Dan keselamatan calon ponakan Yuda," ucap pemuda itu yakin. Bu Halimah tak menjawab. Ia menghela nafas panjang menatap anak sulung yang kini mengambil alih peran sebagai tulang punggung usai kepergian ayahnya itu.

Ya, namanya Yuda. Pemuda dua puluh empat tahun anak kandung dari janda tua, Halimah. Ia lahir, tumbuh, dan hidup di gang sempit pemukiman padat penduduk di pinggir kota metropolitan itu bersama ibu dan kedua adiknya.

Adik pertamanya bernama Emi, ia berusia sembilan belas tahun. Sedangkan adik bungsunya bernama Zafran. Ia masih duduk di bangku SMP. Ayahnya sudah meninggal sejak usianya lima belas tahun. Atau sekitar sembilan tahun yang lalu.

Sejak saat itu, ia mengambil peran mencari nafkah dan menghidupi anggota keluarganya. Dulu, ibunya masih membantu cari uang. Kerja serabutan mulai dari jualan kue, bersih bersih rumah tetangga, serta buruh cuci dan setrika. Namun seiring pertambahan usia dan kondisi fisik si ibu yang mulai lemah, Yuda melarang sang ibu untuk bekerja. Semua beban keluarga pun kini beralih ke pundaknya.

Dulu, masih ada adiknya, Emi, sang adik yang ikut cari uang setelah lulus SMA. Wanita itu sempat bekerja di sebuah rumah makan di kota itu. Namun semua berakhir setelah gadis itu mengalami musibah fatal yang menyisakan trauma hingga sekarang.

Sepulang bekerja gadis itu di ru da pa ksa oleh kekasih yang kala itu berdalih ingin menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan. Be ja t nya lagi, laki-laki yang belum lama dikenal Emi itu melakukan aksi tak terpujinya bukan hanya seorang diri, namun bersama teman teman seprofesinya. Salah satu diantara mereka adalah seorang pria dewasa.

Laki-laki itu adalah pacar Emi. Ia mengaku bernama Alfi. Dia bukan warga asli kota ini. Ia berasal dari luar kota. Ia tinggal di kota itu rupanya belum lama. Hanya sebatas pekerja panggilan di sebuah proyek perumahan. Namun karena kebodohan dan kepolosan Emi kala itu, ia percaya saja saat Alfi mengaku adalah warga asli kota itu dan suda memiliki pekerjaan tetap.

Insiden itu saat menyakitkan. Tubuh suci itu dijamah berjamaah oleh pria pria asing yang tak ia kenal. Akibat kejadian itu, Emi mengalami guncangan hebat. Ia stress, depresi, terlebih lagi saat ia mengetahui bahwa ada janin yang tumbuh di rahimnya. Hasil perbuatan bi a da p para pria terkutuuk itu.

Orang orang menyebut Emi gila. Yuda sang kakak dan Halimah, ibunya, mati-matian banting tulang demi bisa memberikan pengobatan yang layak untuk gadis itu. Harap-harap ia bisa sembuh dan hidup normal seperti gadis seusianya.

Namun rupanya menyembuhkan seseorang dengan trauma hebat memanglah tak semudah itu. Butuh biaya yang tak sedikit, kesabaran yang tanpa batas, dan doa yang tanpa putus.

Yuda juga tak putus asa. Pria itu terus berusaha mencari keberadaan para pelaku pemer ko sa an adiknya itu dengan segala kemampuannya. Dendamnya tak terbendung. Ia bersumpah, akan menghabisi laki-laki bi a dap yang tak punya hati nurani itu. Laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan adiknya. Dan membuat sang adik menjadi seperti sekarang ini.

1
Don't Call Me Mbak💅
lanjuttt
Don't Call Me Mbak💅
lah🤦🤦
Don't Call Me Mbak💅
🤣🤣🤣
Don't Call Me Mbak💅
najisss🤮
Don't Call Me Mbak💅
kebanyakan makan camilan sih😹
Radya Arynda
sabar Alina💪💪💪💪
Radya Arynda
kok ngak punya pendirian sih kamu cen vincen,,,,kasihan,,,alina ,,,mau di apakan dia,,,kenapa ngak nikah diam2 dulu,,,
Desyi Alawiyah
Cucu???

Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Desyi Alawiyah
Dan pacarnya Alicia adalah Dion.. sahabatmu sendiri Vincent.. 😭
Desyi Alawiyah
Putramu itu hatinya sedang berbunga-bunga, mama Theresa 🤭
Georgia🤑
bener bener lu ya🙄
Desyi Alawiyah: Bener-bener anak durhakim tuh si Vincent 🤭🤣
total 1 replies
whiteblack✴️
pake kata itu..biar semakin jatuh cinta/Proud/
Don't Call Me Mbak💅
lanjut
Don't Call Me Mbak💅
waduh.aku ketinggalan banyak😱
Georgia🤑
entah kenapa aku terbayang bayang ibu ibu rambut mongkrok yang jualan rumah yang hanya dengam satu milyar saja....ituloh🤣🤣🤣🤣
Georgia🤑
istr jdman😊suport kerjaan suami🤗
Desyi Alawiyah
Tenang Kak, aku nggak akan kabur kok.. 🤣

Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/
Desyi Alawiyah
Semoga mamanya Vincent baik yah.. Nggak seperti orang kaya yang kebanyakkan.. 🤭
whiteblack✴️
kalau gitu nikahin lah...sampai kapan di simpan terus..dia itu bukan pajangan😒...
Radya Arynda
ternyata ke banggan vincen tidak lebih seperti pelacur,,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!