Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Pelanggan Pertama
Delapan tahun telah berlalu.
Delapan tahun sejak hari ketika seorang eksistensi yang berdiri di atas segala hukum semesta menyatakan sesuatu yang membuat seluruh Dunia Atas terguncang.
Ia pensiun.
Tak ada perang besar setelah itu.
Tak ada perebutan kekuasaan.
Namun bagi mereka yang mengetahui kebenaran, keputusan itu jauh lebih mengejutkan daripada kehancuran seribu dunia.
Dan kini—
Di tempat yang sangat jauh dari surga.
Di ujung barat Benua Tianhuang, terdapat sebuah wilayah kecil bernama Provinsi Qingmu.
Wilayah itu seperti noda di peta kekaisaran.
Terletak di antara hutan liar yang tak terjamah dan pegunungan tandus yang hampir tak memiliki kehidupan. Tanahnya keras. Hujan jarang turun. Sungai-sungainya semakin mengering dari tahun ke tahun.
Wilayah ini juga terlalu jauh dari pusat kekuasaan Kekaisaran Canglan.
Jauh hingga hampir dilupakan.
Di tengah provinsi itu berdiri sebuah kota kecil bernama Pingxi.
Kota terpencil dengan tembok rendah yang sudah retak di sana-sini. Jalanan tanahnya dipenuhi debu yang beterbangan ketika angin kering bertiup.
Penduduknya sekitar tiga puluh ribu jiwa.
Namun sebagian besar hidup dalam kesulitan.
Kemarau panjang menghancurkan ladang mereka.
Tanah tidak lagi subur.
Panen gagal berulang kali.
Dan pajak…
Pajak justru terus meningkat.
Pagi itu, pintu sebuah gubuk reyot terbuka perlahan.
Seorang gadis kecil keluar.
Usianya sekitar sepuluh tahun. Rambutnya kusam dan terikat seadanya. Pakaian yang ia kenakan sudah compang-camping di beberapa bagian.
Ia membawa tas anyaman di punggungnya.
Di dalam tas itu terdapat beberapa topi jerami buatan tangan.
Satu-satunya barang yang bisa ia jual.
Tubuhnya kurus. Tulang bahunya terlihat jelas di balik kain tipis yang sudah lusuh. Wajahnya pucat, namun matanya tetap hidup.
Saat ia melangkah keluar—
Perutnya berbunyi.
Krrrkk…
Gadis itu menggigit bibir bawahnya.
Ia menahan lapar yang menusuk seperti jarum.
Sudah beberapa hari sejak ia terakhir makan sesuatu yang layak disebut makanan.
Air sumur keruh menjadi satu-satunya cara menipu perutnya.
Saat ia hendak melangkah pergi, suara kecil terdengar dari dalam gubuk.
“Kakak…?”
Gadis itu berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Dua wajah kecil mengintip dari balik pintu yang hampir roboh.
Dua anak laki-laki.
Yang satu mungkin berusia tujuh tahun. Yang lain tidak lebih dari lima.
Tubuh mereka bahkan lebih kurus.
Mata mereka besar… dan lapar.
“Kakak,” tanya si kecil dengan suara lirih, “apakah kita akan tidur kelaparan lagi hari ini?”
Pertanyaan itu seperti pisau.
Menusuk dada gadis itu tanpa ampun.
Ia tertegun.
Namun hanya sesaat.
Detik berikutnya—
Ia tersenyum lebar.
Senyum yang terlalu cerah untuk seseorang yang kelaparan.
Ia berjalan kembali dan mengusap kepala kedua adiknya dengan lembut.
“Jangan khawatir.”
Suaranya hangat.
“Kakak akan bekerja keras hari ini.”
Ia menepuk tas anyaman di punggungnya.
“Kalau semua topi ini terjual… kita bisa membeli bakpao isi daging!”
Mata kedua anak itu langsung berbinar.
“Benarkah!?”
“Kakak janji!?”
Gadis itu membuka mulut untuk menjawab.
Namun anak yang lebih besar tiba-tiba menundukkan kepala.
“Jangan berjanji lagi…”
Suaranya kecil.
Sedih.
“Kalau kakak tidak bisa menepatinya lagi… kami akan lebih sedih.”
Senyum gadis itu membeku.
Kata-kata itu seperti batu yang jatuh ke dalam hatinya.
Ia ingin menjawab.
Ingin mengatakan bahwa kali ini pasti berhasil.
Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.
Akhirnya ia menarik napas panjang.
Lalu bangkit dengan penuh semangat.
“Baiklah!”
Ia menepuk bahu kedua adiknya.
“Kalian harus jadi anak baik dan tinggal di rumah, ya?”
“Aku pergi jualan dulu.”
Kedua anak itu mengangguk pelan.
Gadis itu melangkah pergi.
Namun begitu punggungnya membelakangi mereka—
Senyumnya perlahan memudar.
Digantikan oleh kesedihan yang berat.
Kota Pingxi sudah ramai ketika ia tiba.
Namun keramaian itu bukan keramaian yang bahagia.
Orang-orang berjalan dengan wajah lelah.
Beberapa membawa keranjang kosong.
Beberapa lagi duduk di pinggir jalan dengan tatapan putus asa.
Keluhan terdengar di mana-mana.
“Panen kali ini gagal lagi…”
“Tanahnya sudah mati.”
“Kemarau ini tidak masuk akal.”
“Dan pajak akan naik bulan depan…”
“Bagaimana kita bisa membayar?”
“Pajak sebelumnya saja belum lunas!”
“Walikota itu tidak pernah mendengar kita!”
“Dia hanya memeras rakyat sampai kering!”
“Kalau begini terus… kita semua akan mati kelaparan.”
Gadis kecil itu mendengar semuanya.
Setiap kata seperti menekan dadanya.
Namun ia tetap berjalan.
Tetap tersenyum.
Ia berhenti di dekat seorang pria tua.
“Paman,” katanya pelan, “apakah paman ingin membeli topi jerami?”
“Murah sekali. Hanya dua tael perunggu.”
Pria tua itu menatap topi itu lama.
Matanya menunjukkan keinginan.
Namun akhirnya ia menghela napas.
“Maafkan paman, Nak…”
“Aku bahkan tidak punya uang untuk membeli makanan.”
Ia menunduk.
“Kalau paman mampu, paman pasti akan membelinya.”
Gadis itu tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ia membungkuk kecil.
“Semoga paman mendapat hari yang baik.”
Ia berjalan lagi.
Menawarkan topinya ke orang lain.
Namun jawaban yang ia terima hampir selalu sama.
Penolakan.
Bukan karena mereka tidak mau.
Melainkan karena mereka juga tidak mampu.
Waktu berlalu.
Matahari naik tinggi.
Perutnya semakin sakit.
Sudah beberapa hari ia tidak makan.
Ia hanya meminum air sumur yang keruh dan hampir kering.
“Bertahanlah…”
Ia menggenggam bajunya.
“Aku harus menepati janjiku kali ini.”
“Aku harus membeli bakpao untuk mereka.”
Ia terus berjalan.
Terus menawarkan.
Namun tubuhnya perlahan mencapai batas.
Dunia mulai berputar.
Langkahnya goyah.
“Aku… harus… bertahan…”
Ia mencoba melangkah lagi.
Namun tiba-tiba—
Kakinya kehilangan kekuatan.
Ia hampir jatuh.
Dengan susah payah ia duduk di pinggir jalan.
Tubuhnya lemas.
Kepalanya pusing.
Ia memegang perutnya erat.
Air mata hampir keluar.
“Aku… tidak boleh mati…”
Ia menunduk.
Bibirnya gemetar.
“Oh dewa…”
“Jika kau mendengar ini…”
“Jangan ambil nyawaku dulu…”
“Setidaknya… sampai aku bisa membuat adik-adikku kenyang.”
Angin kering berhembus.
Jalanan tetap sibuk.
Namun tak ada yang benar-benar memperhatikannya.
Gadis kecil yang kelaparan di kota miskin bukan pemandangan langka.
Ia menatap tas anyamannya.
Topi-topi jerami itu masih utuh.
Tak satu pun terjual.
Matanya perlahan berkabut.
Namun saat itulah—
Hidungnya bergerak.
Sebuah aroma tercium.
Hangat.
Harum.
Aroma tumisan yang menggoda.
Perutnya langsung berbunyi keras.
Matanya membelalak.
Ia berdiri dengan susah payah.
Lalu tanpa sadar—
Mengikuti aroma itu.
Langkahnya pelan.
Seperti orang yang tersihir.
Aroma itu semakin kuat.
Semakin kaya.
Semakin membuat air liurnya mengalir.
Akhirnya ia berhenti.
Di depan sebuah kedai kecil.
Bangunan itu sederhana.
Kayu tua.
Pintu geser.
Di atas pintu tergantung papan nama.
Tulisan sederhana terukir di sana.
Kedai Satu Mangkok.
Gadis itu menatap papan itu lama.
“Apakah… kedai ini selalu ada di sini?”
Ia mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya…”
Perutnya kembali berbunyi.
Ia menelan ludah.
Tangannya perlahan terangkat ke arah pintu.
Namun berhenti.
Ragu.
Pakaian compang-camping.
Tubuh kotor.
Ia merasa tidak pantas masuk.
Saat ia masih bimbang—
Pintu itu tiba-tiba terbuka.
Seorang wanita berdiri di sana.
Cantik.
Wajahnya lembut dan menenangkan seperti angin musim semi.
Matanya hangat.
Ia tersenyum ketika melihat gadis kecil itu.
“Oh?”
“Apakah kamu pelanggan pertama kami?”
Gadis itu tertegun.
“A-aku…”
Sebelum ia sempat menjawab—
Wanita itu sudah membuka pintu lebih lebar.
“Silakan masuk.”
Nada suaranya lembut.
Ia mempersilakan gadis itu masuk dengan sopan, lalu mengarahkannya ke meja kecil yang sudah bersih.
Gadis itu duduk kaku.
Tangannya menggenggam tas anyaman.
Ia merasa seperti berada di tempat yang bukan miliknya.
“Aku… tidak punya uang…”
Ia akhirnya berbisik.
Namun wanita itu sudah tahu apa yang ingin ia katakan.
Ia tersenyum lebih lembut.
“Semua orang diterima di sini.”
“Tidak ada yang berbeda.”
Ia menatap gadis itu dengan hangat.
“Karena pelanggan adalah pelanggan.”
“Kamu tidak perlu khawatir.”
“Duduklah dengan tenang… dan nikmati makananmu.”
Gadis itu terdiam.
Hatinya bergetar.
Aroma tumisan kembali menyerbu hidungnya.
Perutnya berbunyi keras.
Wanita itu menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
“Ara…”
“Kamu sepertinya sudah tidak sabar.”
“Sebentar ya.”
Ia menoleh ke dapur.
Lalu memanggil dengan suara ceria.
“Sayang!”
“Kita kedatangan pelanggan pertama!”
Dari dalam dapur terdengar suara langkah.
Beberapa detik kemudian—
Seorang pria keluar.
Wajahnya tampan dengan aura yang menenangkan. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang. Ia mengenakan celemek dapur sederhana.
Di tangannya ada nampan.
Aroma makanan hangat mengepul dari sana.
Ia tersenyum ramah.
Tatapannya lembut seperti seseorang yang telah melihat terlalu banyak dunia… namun memilih untuk hidup sederhana.
Ia meletakkan nampan itu di meja.
Lalu berkata dengan hangat.
“Selamat datang di kedai sederhana kami, pelanggan.”