Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
“Siapa mereka?”
“Kenapa datang sama Dita?”
Bisik-bisik itu semakin ramai saat Dita berdiri kaku di depan rumah yang begitu ia kenal—dan begitu ingin ia lupakan.
Tangan Dita sedikit gemetar. Ia menatap halaman luas itu, tanah yang dulu sering ia sapu setiap pagi, tempat ia dulu berlari kecil membantu neneknya… sebelum semua berubah.
“Dit…” suara Tama pelan di sampingnya.
Dita menoleh, mencoba tersenyum. “Aku… tidak apa-apa.”
Padahal jelas-jelas ia tidak baik-baik saja.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, pintu rumah itu terbuka.
Seorang wanita tua keluar dengan langkah pelan, matanya menyipit mencoba mengenali sosok di depannya.
“Assalamu’alaikum…”
Suara itu serak, tapi hangat.
Dita langsung menunduk. “Wa’alaikumsalam…”
“Nek…” suaranya bergetar.
Wanita tua itu membeku.
Matanya melebar.
“Dita…?”
Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Dita. “Iya, Nek…”
Nenek Supinah berjalan mendekat dengan langkah terburu-buru yang tertatih. Tangannya langsung meraih wajah Dita, memastikan.
“Ya Allah… kamu… kamu benar Dita…” suaranya pecah. “Kamu pulang, Nak…”
Dita tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia memeluk neneknya erat.
“Maaf, Nek… aku baru pulang…”
Nenek mengelus punggungnya berkali-kali. “Tidak apa-apa… tidak apa-apa… yang penting kamu pulang…”
Namun beberapa detik kemudian, nenek mulai sadar.
Ia menoleh ke belakang Dita.
Melihat Tama.
Melihat Bu Diana.
Alisnya berkerut bingung.
“Ini… siapa, Nak?”
Dita langsung melepaskan pelukan, sedikit gugup. “Nek… ini… ini Tuan Tama… dan ini Ibu Diana…”
Bu Diana tersenyum lembut, lalu menangkupkan tangan sopan. “Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumsalam…” jawab nenek, masih terlihat bingung. “Silakan… silakan masuk dulu…”
Di dalam rumah, suasana terasa canggung.
Nenek Supinah duduk di kursi kayu tua, sementara Dita berdiri di sampingnya. Tama dan Bu Diana duduk berhadapan dengan sikap tenang, sangat kontras dengan suasana sederhana rumah itu.
“Maaf… rumahnya sederhana…” ucap nenek pelan.
Bu Diana menggeleng cepat. “Justru hangat sekali, Bu.”
Dita menunduk, hatinya semakin tidak karuan.
Belum sempat percakapan berlanjut—
Suara langkah kaki terdengar dari dalam.
“Siapa sih, Nek, rame banget di depan?”
Seorang wanita muda keluar sambil memegang perutnya yang sudah membuncit.
Langkahnya terhenti begitu melihat Dita.
“Loh…”
Matanya menyipit.
“Dita?”
Nada suaranya tidak hangat. Justru… tajam.
Dita menegang, tapi ia hanya mengangguk pelan. “Iya, Mbak Sari…”
Sari tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Tumben pulang…” katanya sinis. “Aku kira sudah lupa jalan ke sini.”
Dita diam.
Ia memilih menunduk.
Namun dari dalam, seorang pria ikut keluar.
Dan saat mata mereka bertemu—
Waktu seolah berhenti.
Bakri.
Wajah itu… masih sama.
Tapi kini berdiri sebagai suami dari sepupunya sendiri.
Bakri membeku. “Dita…”
Suara itu pelan, penuh keterkejutan… dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Dita langsung memalingkan wajah.
Ia tidak ingin melihat lebih lama.
Tidak ingin mengingat.
“Siapa itu?” tanya Sari, melirik ke arah Tama dan Bu Diana.
Nada suaranya berubah penasaran.
Bahkan sedikit… tertarik.
Nenek Supinah ikut bingung. “Iya, Nak… kamu belum jelaskan…”
Suasana kembali hening.
Dita menggenggam tangannya sendiri.
Namun Tama tiba-tiba berdiri.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Pria itu berdiri tegap, rapi, dengan aura yang sulit diabaikan.
“Saya Tama,” ucapnya tenang. “Dan ini Mama saya, Ibu Diana.”
Sari langsung melirik dari atas ke bawah.
Tatapan matanya berubah.
“Dari kota ya?” gumamnya.
Bu Diana tersenyum tipis. “Iya.”
Bakri masih diam, tapi matanya tak lepas dari Dita.
Seolah tak percaya melihat wanita itu kembali… dengan cara seperti ini.
Tama melanjutkan,
“Kami datang ke sini… bukan hanya untuk mengantar Dita pulang.”
Semua orang mulai fokus.
Nenek menggenggam ujung bajunya.
“Ada… keperluan apa, Nak?”
Tama menoleh sekilas ke Dita.
Dita terlihat tegang.
Namun pria itu tetap melanjutkan, suaranya tegas—
“Kami datang untuk melamar Dita.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Seolah udara di ruangan itu menghilang.
“Apa…?” suara Sari paling dulu terdengar.
Matanya membelalak.
“Melamar?”
Nenek Supinah menatap Dita, lalu ke Tama, lalu kembali ke Dita.
“Ini… benar, Dit?” suaranya bergetar.
Dita mengangkat wajahnya perlahan.
Ia menatap neneknya.
Lalu mengangguk.
“Iya, Nek…”
Air mata nenek langsung jatuh.
“Ya Allah…” tangannya gemetar. “Benarkah ini…?”
Bu Diana tersenyum hangat. “Kami datang dengan niat baik, Bu. Kami ingin meminang Dita secara resmi.”
Sari tertawa kecil—tapi nadanya terdengar dipaksakan.
“Wah… hebat ya…” katanya. “Dita sekarang… dilamar orang kota…”
Tatapannya tajam.
Menusuk.
“Tapi… yakin?” lanjutnya sinis. “Mau nikah sama Dita? Bakri aja lebih milih ak...”
“Dia bukan lebih milih kamu. Itu karena kamu hamil duluan. Jelas kan? Bagaimana sifat kamu sejak awal? Dan bagaimana lelaki itu? Kalian sama!”
Dita akhirnya bicara.
Suaranya pelan… tapi tegas.
Sari terdiam sesaat.
"Kurang ajar!"
.
bener dita, jangan menye2.. masa sama jalang aja takut2!!!! di samping mu noh calon camer dan suami mu, pasti bakal bantuin dan lindungi kamu!! jadi jangan takut... lawan aja perempuan gk tau diri dan cowok murahan mantan km itu!!