Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Lampu putih di ruang ICU berpendar dingin, memantul di permukaan alat-alat medis yang berdengung pelan. Aroma antiseptik memenuhi udara, tajam dan menusuk, seolah menjadi pengingat bahwa hidup dan mati hanya dipisahkan oleh garis tipis di ruangan ini.
Tubuh Kael terbaring kaku di atas ranjang, selang infus menancap di tangannya, dan perban melilit kepalanya. Monitor jantung di sampingnya berdetak stabil—bip… bip… bip… Suara itu monoton, tapi bagi seseorang di ruangan itu, suara itu adalah harapan.
Quinn duduk di kursi kecil di samping ranjang, jemarinya menggenggam tangan Kael dengan erat. Matanya sembab, jelas ia sudah terlalu lama menangis. Rambutnya berantakan, bahkan ia tidak peduli pada penampilannya.
Di sisi lain ruangan, Selena berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam, menatap wajah Kael dengan mata yang penuh kerinduan yang tak terucapkan. Armand berdiri di sampingnya, tetap tegak, tapi rahangnya mengeras—menahan emosi yang ia simpan selama bertahun-tahun.
Beberapa hari lalu, jemari Kael sempat bergerak.
Pergerakan kecil itu—hanya sekilas, hampir tak terlihat—namun cukup untuk memicu harapan yang begitu besar di mata keluarga yang menunggu di sisinya. Quinn yang saat itu berjaga bahkan langsung memanggil dokter dengan suara bergetar.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, harapan itu harus ditahan.
Dokter yang menangani Kael, seorang spesialis neurologi dengan pengalaman bertahun-tahun, berdiri di depan keluarga dengan wajah tenang namun serius. Ia memegang tablet berisi data rekam medis Kael, grafik aktivitas otak, serta hasil observasi terakhir.
“Pergerakan yang terjadi pada jari pasien,” jelasnya dengan suara profesional dan terukur, “kemungkinan besar merupakan refleks neuromuskular, bukan respons sadar.”
Quinn mengernyit. “Maksudnya… dia nggak sadar?”
Dokter mengangguk pelan. “Dalam kondisi koma, tubuh masih bisa menunjukkan respons tertentu terhadap rangsangan, baik itu sentuhan, suara, atau bahkan aktivitas internal sistem saraf. Namun, itu tidak selalu menandakan adanya kesadaran.”
Ia menunjuk grafik pada layar. “Kami tidak menemukan peningkatan signifikan pada aktivitas korteks serebral—bagian otak yang berperan dalam kesadaran dan pemrosesan kognitif. Artinya, secara medis, pasien masih berada dalam kondisi tidak sadar.”
Armand menatap Kael nanar. “Jadi… itu bukan tanda dia mau bangun…?”
Dokter menarik napas pendek, lalu menjawab dengan hati-hati. “Kami tidak bisa sepenuhnya menutup kemungkinan adanya perkembangan. Namun untuk saat ini, kami harus bersikap objektif berdasarkan data yang ada.”
Armand menatap dokter itu serius. “Apa yang harus kami lakukan?”
Dokter menatap mereka satu per satu, memastikan setiap kata yang ia ucapkan dapat dipahami dengan jelas.
“Yang paling penting saat ini adalah menjaga kondisi tubuh pasien tetap stabil. Nutrisi, sirkulasi, serta pencegahan komplikasi seperti infeksi atau luka tekan harus menjadi prioritas.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sedikit lebih lembut, meski tetap profesional.
“Selain itu… stimulasi eksternal juga dapat membantu. Berbicara pada pasien, memutar suara yang familiar, atau sentuhan dari orang terdekat dapat memberikan rangsangan positif, meskipun responsnya belum terlihat secara langsung.”
Quinn menunduk, jemarinya saling menggenggam erat. “Jadi… dia bisa denger kita?”
Dokter tidak langsung mengiyakan, namun juga tidak menolak. “Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien dalam kondisi koma masih memiliki kemungkinan untuk memproses suara pada tingkat tertentu. Karena itu, kami biasanya menganjurkan keluarga untuk tetap berinteraksi.”
Armand mengangguk pelan. “Kami akan terus bicara padanya…”
Dokter menutup tablet di tangannya. “Kami akan terus memantau perkembangan pasien setiap hari. Jika ada perubahan signifikan, kami akan segera menginformasikan.”
Ia sedikit menunduk sebagai bentuk empati, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Keheningan kembali menyelimuti ICU.
Namun kali ini, keheningan itu tidak hanya berisi harapan—
melainkan juga realita yang harus diterima dengan perlahan.
Kembali ke saat ini...
Quinn tersentak saat tiba-tiba jari Kael bergerak.
Quinn langsung menegang. “Kak Kael…?”
Kelopak mata Kael perlahan bergetar, lalu terbuka sedikit. Pandangannya buram, cahaya terasa menyakitkan.
“…ugh…”
“Kak Kael!” Quinn berdiri cepat, suaranya bergetar. “Lo sadar? Kak, lo denger gue?”
Kael mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Wajah pertama yang ia lihat adalah Quinn. Wajah yang… ia kenal.
Tapi kenapa… ada rasa aneh di dadanya?
“Quinn…?” suaranya serak.
Quinn hampir menangis lagi. “Iya, gue di sini. Lo… lo bikin gue takut, bego…”
Kael mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. “Apa yang… terjadi…?”
Belum sempat Quinn menjawab, suara lain terdengar.
“Kael, sayang… akhirnya kamu sadar.”
Kael menoleh.
Matanya bertemu dengan seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya lembut, tapi matanya dipenuhi air mata yang tertahan.
Kael mengernyit. “Siapa… Tante?”
Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk hati Selena.
Namun ia tetap tersenyum, walau suaranya bergetar. “Mama… Kael. Aku ibumu.”
Ruangan mendadak terasa hening.
Quinn menunduk, tangannya masih menggenggam tangan Kael, tapi kini terasa dingin.
Kael menatap Selena, lalu Armand, lalu kembali ke Quinn.
“…ini apaan?”
Nada suaranya berubah dingin. Bingung. Curiga.
Armand maju selangkah, suaranya tenang tapi tegas. “Kami tahu ini sulit untuk kamu terima. Tapi ini kenyataannya.”
Kael menatapnya tajam. “Jangan bercanda. Aku nggak punya keluarga kayak kalian.”
“Dulu tidak,” jawab Armand. “Karena kamu hilang.”
Kael terdiam.
Quinn perlahan melepaskan tangannya.
Armand menghela napas, lalu mengambil sebuah map dari meja kecil di dekatnya. Ia membuka map itu dan mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Hasil tes DNA,” katanya, lalu menyerahkannya pada Kael. “Kami tidak ingin memaksamu percaya tanpa bukti.”
Kael menatap kertas itu. Tangannya gemetar saat mengambilnya.
Matanya membaca… satu per satu… baris demi baris.
Dan dunia seolah berhenti.
“…nggak mungkin…”
Suara itu hampir seperti bisikan.
Quinn menggigit bibirnya. Ia tak berani menatap Kael.
Kael menoleh padanya. “Ini… bercanda, kan?”
Quinn menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Gue juga awalnya nggak percaya…”
“Terus kenapa lo diem aja?!” suara Kael meninggi, emosinya meledak. “Kenapa lo nggak bilang dari awal?!”
“Karena gue juga baru tahu!” balas Quinn, air matanya jatuh. “Dan gue takut! Takut lo… benci gue!”
Kael membeku.
Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul.
Balapan malam itu.
Tawa sinisnya.
Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri—
"Kalau gue menang, lo serahin Quinn buat gue. Dia bakal ikut gue pulang malam ini."
Wajahnya pucat.
Tangannya mencengkeram seprai ranjang dengan kuat.
“Gue…” suaranya serak. “Gue ngelakuin itu ke… adik gue sendiri…?”
Tak ada yang menjawab.
Karena jawaban itu terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Kael menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya…
Ia terlihat hancur.
—
Di markas Ravenix, suara pukulan bergema keras di dalam ruangan.
BUK!
BUK!
BUK!
Ryuga memukul punching bag tanpa henti. Keringat membasahi tubuhnya, napasnya berat, tapi ia tidak berhenti.
Seolah jika ia berhenti… semua emosi yang ia tahan akan meledak.
“Oi, kalau lo hajar itu terus, yang rusak bukan cuma samsaknya.” komentar Keano santai, bersandar di dinding.
Ryuga tak menjawab.
BUK!
Zayden menyeringai kecil. “Gila. Ini bukan latihan lagi, ini pelampiasan.”
Elric, yang berdiri dengan tangan di saku, menatap Ryuga dingin. “Cemburu?”
Ryuga berhenti.
Seketika.
Ia menoleh pelan. Tatapannya tajam. “Ngomong apa lo?”
Elric mengangkat bahu. “Sejak Kael koma, Quinn selalu di rumah sakit. Lo ditinggal. Simpel.”
“Dia jagain orang yang lagi sekarat,” Ryuga mendesis. “Normal.”
Zayden mendekat. “Tapi sekarang beda. Kael itu kakaknya.”
Ryuga terdiam.
Keano menghela napas. “Bro… itu keluarga dia. Lo nggak bisa saingan sama itu.”
Ryuga mengepalkan tangannya. “Gue nggak saingan.”
“Terus?” tanya Zayden.
Ryuga menatap lantai.
“…gue cuma nggak suka dia jauh dari gue.”
Nada suaranya lebih pelan sekarang.
Lebih jujur.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Nama yang muncul: MOMMY.
Ryuga mengangkat panggilan. “Ya, Mom?”
“RYUGAAA! MALAM INI KAMU HARUS PULANG!”
Ryuga meringis, menjauhkan ponsel dari telinganya. “Ngapain?”
“NGAPAIN?! ASTAGA... INI PENTING! Kakek kamu datang dari luar negeri! Ada pesta penyambutan!”
Ryuga menghela napas. “Aku lagi—”
“POKOKNYA PULANG! JANGAN MACEM-MACEM!”
Tut.
Telepon ditutup sepihak.
Ryuga menatap layar ponselnya datar.
Keano terkekeh. “Nyokap lo nggak berubah.”
Zayden menyeringai. “Good luck, bro.”
Ryuga mendengus pelan.
Hari ini benar-benar menyebalkan.
—
Sore harinya, langit mulai berubah jingga.
Quinn berdiri di taman rumah sakit, menatap kosong ke arah langit.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
“Kamu kabur ke sini?”
Suara Ryuga.
Quinn tersenyum tipis. “Cuma butuh udara seger aja.”
Ryuga berdiri di sampingnya. “Dia gimana?”
“Masih syok.”
Ryuga terdiam sejenak. “Kamu?”
Quinn menghela napas. “Lebih parah.”
Hening.
Lalu tiba-tiba—
Ryuga menarik Quinn ke dalam pelukannya.
Quinn terkejut. “Ryuga—”
“Diam.”
Nada suaranya rendah, tapi lembut.
Quinn membeku, lalu perlahan membalas pelukannya.
Ryuga mengubur wajahnya di rambut Quinn. “Aku kangen.”
Suara itu nyaris tak terdengar.
Quinn menutup matanya. “Baru juga beberapa hari…”
“Lama buat aku.”
Quinn tersenyum kecil, tapi matanya berkaca-kaca.
Ryuga sedikit menjauh, menatap wajahnya. “Jangan jauh-jauh lagi.”
Quinn menatapnya. “Aku nggak ninggalin kamu.”
“Rasanya kayak gitu.”
Quinn terdiam.
Ryuga mengusap pipinya pelan. “Apapun yang terjadi… kamu tetap punya aku. Paham?”
Quinn mengangguk pelan.
Dan untuk sesaat…
Dunia terasa lebih ringan.
—
Malam hari, hotel bintang lima nan mewah itu dipenuhi cahaya gemerlap.
Lampu kristal menggantung megah, musik klasik mengalun lembut. Para tamu berpakaian elegan, berbincang dengan senyum sopan.
Ryuga melangkah masuk dengan setelan hitam, wajahnya dingin seperti biasa.
“Ryuga!”
Adriana langsung menariknya. “Akhirnya kamu datang juga!”
“Kalau nggak datang, Mommy bakal ngeledakin rumah.” jawab Ryuga datar.
Adriana terkekeh. “Pinter.”
Kenshiro datang, menepuk bahu Ryuga. “Jaga sikap.”
Ryuga mengangguk singkat.
Ia berjalan menyusuri ruangan, menyapa beberapa keluarga.
Sampai—
Ia berhenti.
Naomi.
Gadis itu berdiri anggun dengan gaun lembut, senyumnya manis. Di sampingnya, kedua orang tuanya.
Ryuga mengernyit. “Lo ngapain di sini?”
Naomi tersenyum. “Undangan.”
Ryuga menatapnya curiga.
Dan saat itu—
Seorang pria tua melangkah ke tengah ruangan.
Kaito.
Aura wibawanya langsung membuat semua orang diam.
“Terima kasih sudah datang,” suaranya berat dan tegas. “Hari ini, saya ingin mengumumkan sesuatu yang penting.”
Ryuga punya firasat buruk.
“Sebagai bentuk mempererat hubungan keluarga… saya telah memutuskan untuk menjodohkan cucu saya, Ryuga…”
Jantung Ryuga berdetak lebih cepat.
“…dengan Naomi.”
Sunyi.
Lalu bisik-bisik mulai terdengar.
Ryuga membeku.
“…apa?”
Adriana menatap Kenshiro. “Ini—”
Kenshiro menggeleng. “Aku tidak tahu.”
Ryuga melangkah maju. “Aku nggak mau.”
Semua orang terdiam.
Kaito menatapnya tajam. “Ini bukan permintaan.”
Ryuga tersenyum sinis. “Dan aku bukan boneka.”
Naomi menatap Ryuga, wajahnya mulai berubah.
“Kakek,” suara Ryuga dingin. “Aku udah punya pacar.”
Kaito mengerutkan kening. “Itu tidak penting.”
“Tapi penting buat aku.”
Suasana memanas.
Kenshiro maju. “Ayah, ini terlalu jauh.”
Kaito menatapnya tajam. “Kau menentangku?”
“Aku mendukung anakku.”
Adriana mengangguk. “Kami sudah punya rencana sendiri.”
Kaito mengepalkan tangannya. “Kalian semua—”
“Terserah kakek mau marah,” potong Ryuga. “Tapi aku nggak bakal nikah sama dia.”
Ia menoleh pada Naomi. “Sorry. Tapi gue nggak pernah lihat lo lebih dari itu.”
Naomi membeku.
Matanya berkaca-kaca—tapi bukan karena sedih.
Karena marah.
Ryuga berbalik, lalu pergi.
Kenshiro dan Adriana segera menyusul.
Meninggalkan ruangan yang penuh ketegangan.
Kaito berdiri diam, wajahnya gelap oleh amarah.
Naomi menatap ke arah pintu.
Tangannya mengepal.
Quinn…
Nama itu terlintas di kepalanya.
Dan senyum tipis muncul di bibirnya.
“Kalau dia yang jadi penghalang…” bisiknya pelan.
Matanya berubah dingin.
“…akan aku singkirin.”
...****************...
naomi pasti terbang ini
sikap ryuga ini boleh dingin, tapi haruslah menghormati orngtua jugaa karna dia hidup maih dengan uang orngtuanya😌