NovelToon NovelToon
MANTAN ISTRI SATU MILIAR

MANTAN ISTRI SATU MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
​Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
​Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
​Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taruhan

"Aliya, maafkan sikap Ibas, ya!" ucap Saraswati sambil mengusap air matanya. "Bunda juga nggak tahu kenapa Ibas bisa berubah jadi kayak gini. Padahal, dulu Ibas anaknya sangat baik. Dia juga sangat bertanggungjawab. Tapi... semenjak dia kecelakaan dan kehilangan ingatannya tiga tahun yang lalu, Bunda tiba-tiba kehilangan sosok anak baik yang dulu Bunda miliki."

"Mas Ibas pernah kecelakaan?" lirih Aliya tak percaya.

"Iya," angguk Saraswati. "Dia pernah tertabrak mobil dan koma selama hampir satu bulan. Begitu dia bangun, sikapnya langsung berubah drastis. Dia bahkan lupa sama Ayah dan Bunda. Dan, satu-satunya orang yang dia ingat cuma Nadia. Mungkin karena hal itu, makanya Ibas begitu terobsesi sama Nadia. Perempuan ular itu benar-benar sudah mencuci otak Ibas."

Kini, Aliya mendapatkan jawaban kenapa sikap Ibas bisa begitu kejam terhadap dirinya. Ibas bahkan tidak mengingat dirinya sama sekali.

Ternyata, Ibas sejak awal memang tidak pernah mengenalinya karena amnesia yang dia derita.

"Aliya, Ayah minta tolong sama kamu!" kata sang Ayah mertua. "Apapun yang terjadi, tolong jangan tinggalkan Ibas! Dia sebenarnya anak yang baik. Hanya saja, sekarang dia sedang kehilangan arah. Kami butuh seseorang yang bisa membantu Ibas untuk menemukan arahnya kembali. Dan, orang itu adalah kamu."

"Apa Aliya bisa?" tanya Aliya terdengar ragu.

"Kamu pasti bisa," jawab Saraswati cepat. Digenggamnya tangan Aliya dengan erat. "Kamu anak yang sangat baik. Bunda dan Ayah percaya, kelak... dengan kebaikan kamu, Ibas pasti akan kembali menjadi Ibas yang dulu."

Harapan yang diletakkan di pundak Aliya terlalu besar. Gadis itu bahkan tidak tahu apakah dia mampu memikulnya atau tidak. Namun, karena tak tega melihat ekspresi wajah kedua mertuanya, ia pun reflek menganggukkan kepalanya.

"Aliya akan coba," lirihnya tanpa rasa percaya diri.

.....

Hari-hari terus berlalu. Aliya berusaha memenuhi perannya dengan baik meski tak pernah mendapatkan apresiasi dari sang suami.

Segala hal tentang Ibas dia urus dengan sempurna. Namun, tetap saja, Ibas masih sama. Dia tak berubah sedikit pun.

"Mas, aku udah siapin baju kerja kamu. Di meja makan juga udah ada bubur ayam kesukaan kamu," kata Aliya saat Ibas baru saja keluar dari kamar mandi.

"Ehm, makasih ya, babu!" sahut Ibas dengan senyum mengejek.

Aliya tak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum lalu keluar dari dalam kamar sebelum Ibas sendiri yang mengusirnya.

"Tumben di ejek nggak nangis?" gumam Ibas sambil mengedikkan bahunya heran.

Sebenarnya, akhir-akhir ini Ibas cukup puas dengan Aliya. Perempuan itu benar-benar mengerti dirinya. Hanya dalam hitungan hari, Aliya sudah mampu menghafal semua hal yang dia sukai dan hal yang tidak dia sukai.

Bahkan, dalam detail terkecil pun, Aliya juga tahu bagaimana selera Ibas. Contohnya, dasi dan jam tangan yang sudah Aliya siapkan disamping setelan jas yang akan dikenakan Ibas ke kantor pagi ini. Semuanya sesuai estetika yang Ibas mau.

"Mas, buburnya enak, nggak?" tanya Aliya antusias saat Ibas memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.

"Lumayan," jawab Ibas singkat.

"Itu... Aku yang masak sendiri, loh!"

Ibas pun menoleh dengan sinis. Dengan cepat, dia mengubah pendapatnya. "Nggak enak. Rasanya terlalu asin."

Wajah Aliya pun seketika jadi cemberut. "Tadi, katanya lumayan."

Pria itu sedikit salah tingkah. "Kamu mungkin cuma salah dengar. Udah ya, aku mau ke kantor dulu! Bye!"

"Assalamualaikum, Mas!" kata Aliya dengan lembut.

Ibas menoleh sambil memutar bola matanya malas. "Waalaikumsalam," jawabnya lalu melangkah cepat meninggalkan Aliya sendirian.

"Kayaknya, Mas Ibas udah mulai nerima aku, deh!" gumam Aliya sambil tersenyum kecil.

Meski, kata-kata Ibas masih terkadang pedas, tapi setidaknya Ibas tak lagi menolak keberadaannya.

Pria itu sudah mau memakan makanan yang dia masak. Pria itu sudah mau duduk disampingnya. Pria itu juga terkadang mulai mengajaknya berbicara lebih dulu jika memerlukan sesuatu.

.....

Pulang dari bekerja, Ibas tak lantas langsung pulang ke rumah. Pria itu janjian dengan teman-temannya untuk kumpul-kumpul di sebuah tempat karaoke.

"Bas, gimana rasanya nikah?" tanya seorang teman kepada Ibas.

"Nggak enak," jawab Ibas singkat.

"Kok, nggak enak? Kenapa?"

"Ya, Lo pikir aja sendiri!" balas Ibas. "Ya kali, gue bakal senang gara-gara dipaksa nikah sama perempuan kampung kayak si Aliya."

"Tapi, dia lumayan cantik juga loh, Bas!"

Ibas tampak tersenyum miring. "Cantik kalau nggak punya harga diri, buat apa? Asal Lo tahu aja, dia itu nikah sama gue pasti cuma mau ngincer harta orangtua gue aja."

"Tapi, tampang dia kayak cewek baik-baik kok, Bas!" Teman yang lain terlihat masih membela Aliya.

"Cewek baik-baik? Heh, mana mungkin!" balas Ibas sambil tertawa meremehkan. "Kalian belum tahu aja gimana sikapnya. Masa' gue baru nikah dua hari sama dia, dia udah berani minta gelang berlian punya nyokap gue? Kalau memang perempuan baik-baik, kenapa dia sampai ngelakuin hal itu, hah?"

Teman-teman Ibas tampak mengangguk mengerti.

"Yaaaaa... memang Ibas cocoknya sama Nadia, sih," celetuk yang lain.

"Ya, Lo benar. Ibas memang lebih cocok sama Nadia. Mereka benar-benar pasangan yang ideal."

Mendengar itu, Ibas tampak begitu puas. Ya, di dunia ini, memang hanya Nadia yang cocok untuk dirinya. Tak ada perempuan lain lagi.

"Kalau memang dia perempuan yang hanya mengejar uang, dia pasti rela ngelakuin apa aja, kan?" celetuk salah satu teman Ibas lagi.

"Of course," angguk Ibas.

"Kalau gitu, Lo panggil dia ke sini dalam waktu 30 menit, bisa nggak?" tantang pria itu.

"Oke," angguk Ibas. "Kalau memang bisa, Lo mau ngasih apa ke gue, hah?"

"Lo minta apa?"

"Jam tangan Lo," jawab Ibas.

"Oke. Deal!"

Ibas pun lekas menghubungi Aliya. Dia meminta sang istri segera menjemputnya dengan alasan bahwa dia sedang tidak enak badan. Kepalanya sangat sakit seperti hendak meledak.

Aliya yang mendengar jika Ibas sedang sakit pun, langsung tergesa-gesa meminta tolong pada supir untuk mengantarnya pergi.

Lokasi tempat karaoke itu tidak terlalu jauh dari rumah. Namun, perjalanan ke sana bisa memakan waktu cukup lama karena arus lalu lintas yang selalu padat. Dan, sialnya... mobil yang ditumpangi Aliya malam ini juga harus terjebak macet.

"Pak, sisa 15 menit. Saya harus sampai ke sana tepat waktu," kata Aliya dengan panik.

"Tapi, jalanan lagi macet banget, Non. Kita nggak bisa lewat."

Aliya berhitung cepat dengan situasi. Dia pun memutuskan untuk turun dari mobil.

"Non, mau kemana?" teriak sang supir.

"Saya lari aja, Pak," sahut Aliya.

"Tapi, diluar lagi hujan, Non. Kalau Non Aliya lari, nanti bisa basah kuyup."

"Nggak apa-apa, Pak. Nanti, Bapak nyusul saya aja, ya! Saya pergi duluan. Takutnya, Mas Ibas benar-benar butuh saya di sana."

Tak ada yang bisa dilakukan oleh sang supir. Dia hanya bisa menghela napas pasrah saat Aliya berlari kencang menerobos hujan yang mulai deras.

Saat sampai di tempat karaoke, seluruh tubuh Aliya benar-benar basah kuyup. Ia bahkan sedikit menggigil karena rasa dingin yang semakin menyergap akibat embusan AC.

Begitu tiba di depan ruangan yang disewa Ibas dan teman-temannya, Aliya pun segera membuka pintu itu dengan tergesa-gesa.

Namun, pemandangan yang dia lihat begitu pintu terbuka sontak membuat Aliya tertegun lama. Jelas-jelas, Ibas bilang jika kepalanya sangat sakit hingga tak sanggup untuk berdiri.

Tapi, apa yang Aliya lihat sekarang, sangat berbanding terbalik dengan ucapan Ibas di telepon tadi.

Jelas-jelas, pria itu sangat sehat. Jelas-jelas, Ibas bisa berjoget dengan senang bahkan sampai melompat-lompat.

"Eh, ada yang datang!" seru seorang teman Ibas sambil mematikan musik.

Ibas pun menoleh lalu tersenyum lebar. "See?" Dia menyenggol bahu teman yang bertaruh dengannya tadi.

"Gue menang. Jam tangan Lo resmi jadi milik gue."

Pria itu berdecak kesal. Dengan terpaksa, dia memberikan jam tangannya kepada Ibas.

"Nih, ambil!" katanya tak rela.

Dan, Ibas langsung tertawa puas. Kemudian, dia menoleh ke arah Aliya yang terlihat seperti anak kucing yang terlantar. Penampilannya sangatlah berantakan.

"Sekarang, kamu udah nggak ada gunanya lagi di sini. Pulang, sana!" usir Ibas begitu saja terhadap Aliya. "Jangan rusak pemandangan di sini dengan penampilan kamu yang kayak gembel itu. Bikin sakit mata aja."

1
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus marah dengan kepergian Alya? bukannya ini semua keinginan kamu?
Ilfa Yarni
mampus syukurin nangis Bombay deh km bas km jahat sih rasain alya udah pergi keinginan km udah terpenuhi km kan maunya nadia ya sudah nikah sono sama nadia
RaDja
terima kasih
Kar Genjreng
mantan mertua sangat bijak mana orang tua yang tega anak perempuan di sakiti oleh laki laki yang menamakan suami,,,maka walupun hanya anak menantu ada ko mertua yang baik.jadi mau menang sendiri untuk melepas wanita yang pernah menjadi menantu,,,karena memang baik si
Ilfa Yarni
kemana Alta pergi ya semoga kedepannya km bahagia ya alya
Ilfa Yarni
bagus
mariammarife
pergilah Aliya carilah kebahagiaan mu sendiri
Aidil Kenzie Zie
Jalang tetiak jalang
pelacur teriak pelacur
Kar Genjreng
jadi mau kejar Aliya sampai ke ujung Dunia Bas. nah coba sadar dari bulan bulan yang lalu sebelum memberi talak malah selalu memanas manasin dengan nadia coba lihat beruntung orang tua Lo masih ada Semua,,,dan coba orang tua mu ga mau punya menantu tukang tipu alias ngibul. yang hanya menginginkan uangnya Ibas saja,,,jangan jangan sengaja ayah pindahin Ibas kerja di luar kota ,,,sedangkan Aliya masih di rumah orang tua Ibas

👍
Ilfa Yarni
dbagualah km cepat sadar berarti kmrn2 km salah orang mengira pacar osetama km nadia tp ternyata naqiya atau alya ya udah km hrs semangat kejar alya lg
Ilfa Yarni
mah lo iBas ternyata aliya perempuan yg km cinta knp ingatan lama banget kembalinya
Kar Genjreng
kejang Lo basss!!! ternyata Ibas pernah kecelakaan dan ketika SMA justru naksir nya Aliya tetapi ga tau nya salah ejaan huruf
mariammarife
lebih baik kalian cerei aku lebih setuju Aliya sama Aufar
Kar Genjreng
nadia juga takut kehilangan ATM berjalan' nya ,,,,kan itu cita cita Nadia bersedia jadi kekasihmu bas ,,,bahkan rela kencan buta perempuan ,L**<***** nat itu baru calon istri idaman Ibas berkelas orang kota ga taunya kotak kotak otaknya ,,,,mana ada calon menantu memaki calonertua h
Ilfa Yarni
perempuan seperti itu yg ibad cinta lihat apa yg dia lakukan pd orang tuamu kolabs kam
Kar Genjreng
jadi Aufar tau siapa Aliya yang telah menolong Ibas,,,Ibas pernah. Oneng kah ahemm ya 😁 kasian Aliya sekarang pergi jauh biar Ibas sadar sesadar nya,,,, sekarang baru rasa tu kekasihl Lo yang mulutnya jahat juga yang berpura pura naik manis tetapi manis ya gula biang jadi semu pait,,,dan bila sampai Mama mu tau Aliya kabur dan membawa luka tak berdarah alamat. menjadi anak yang di buang oleh orang tua Lo bas
Ilfa Yarni
semakin penasaran dgn ceritanya lanjut thor
Kar Genjreng
Aufar kenal Aliya berarti teman nya juga kah ketika SMA kayanya di masa lalu sudah menaruh hati terhadap gadis cantik Aliya cuma belum ada kesempatan mungkin ya,,,,semoga Aufar berbeda dari yang lain,, suka menghina dan membully
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
Ilfa Yarni
kokaufar kaget iBas sebut nama aliya siapa aufar
Kar Genjreng
Afar ahhh pria yang baik ya beda sama yang lain suka ngebully dan suka menghina orang kampung,,,,justru orang kota malah kampungan Ibas nyawamu di ujung jari Aliya ya Lo juga harus maklum dengan teman Lo bas,,,, karena mereka kan didikan lo semua kan bermuka dari lo
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!