Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Pagi hari menyapa kamar rawat VIP dengan pendaran cahaya matahari yang hangat dan menenangkan. Suasana canggung sisa semalam perlahan mencair saat seorang perawat mengantarkan nampan berisi menu sarapan khusus rumah sakit berupa bubur ayam halus, buah potong, dan beberapa butir obat yang terletak di dalam wadah plastik kecil.
Kelvin, yang sudah berganti pakaian dengan kemeja kasual yang rapi berkat pakaian ganti yang dibawakan oleh sopirnya subuh tadi, menarik kursinya mendekat ke ranjang. Ia meraih mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis.
"Duduklah yang benar. Aku akan menyuapimu," perintah Kelvin datar, namun ada nada kelembutan yang tersembunyi di balik suara beratnya.
Nada menurut tanpa membantah. Ia mencoba bersandar pada tumpukan bantal dengan bantuan Kelvin yang menyangga punggungnya dengan teramat hati-hati, seolah-olah Nada adalah barang porselen yang sangat rapuh. Kelvin meniup sesendok bubur dengan perlahan sebelum mengarahkannya ke depan bibir ranum Nada.
"Buka mulutmu," ucap Kelvin.
Nada menerima suapan itu dengan senyuman manis. Proses sarapan itu berlangsung dalam keheningan yang cukup intim. Kelvin menyuapi istrinya dengan ketelatenan yang luar biasa—sebuah pemandangan yang pasti akan membuat seluruh karyawan Alexander Group syok jika melihat CEO mereka yang kejam berubah menjadi begitu penurut.
Namun, ketenangan itu langsung buyar saat mangkuk bubur telah kosong. Kelvin meletakkan mangkuk tersebut, lalu mengambil wadah plastik kecil berisi tiga butir pil obat berukuran cukup besar beserta segelas air putih hangat.
"Sekarang, minum obatmu agar lukamu cepat kering," ujar Kelvin, menyodorkan obat-obatan itu ke hadapan Nada.
Seketika itu juga, raut wajah Nada berubah drastis. Senyuman manisnya lenyap, digantikan oleh ekspresi ngeri. Ia langsung memundurkan kepalanya, merapatkan tubuhnya ke kepala ranjang, dan melipat kedua tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan mutlak.
"Tidak mau. Singkirkan obat-obat itu, Mas," tolak Nada cepat dengan dahi berkerut dalam.
Kelvin mengernyitkan alisnya, menatap Nada dengan pandangan heran sekaligus tidak percaya. "Apa maksudmu tidak mau? Ini obat antibiotik dan pereda nyeri dari dokter spesialis. Kau harus meminumnya agar kondisimu stabil."
"Aku tidak mau, Mas Kelvin! Aku tidak mau minum pil-pil besar itu," keukeuh Nada, memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak melihat obat di tangan Kelvin.
Melihat keras kepalanya Nada, Kelvin mengembuskan napas panjang, menahan rasa gemas yang mulai menggelitik dadanya. Ia memajukan tubuhnya, menatap Nada dengan tatapan menyelidik yang penuh keheranan.
"Denada, dengar. Kau ini seorang dokter, bukan? Kau yang setiap hari merawat orang sakit di desa, kau yang kemarin menasihati pekerja proyek panjang lebar soal kesehatan, dan kau juga yang meracik teh herbal untuk Eyang," cecar Kelvin, suaranya naik satu oktav karena benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib istrinya. "Bagaimana bisa seorang dokter yang tahu persis fungsi medis dari obat-obatan, justru menolak minum obat saat dirinya sendiri sedang sakit kritis?!"
Nada melirik Kelvin dengan sudut matanya, lalu mengerucutkan bibirnya dengan sangat manja sekaligus sebal.
"Lagipula... obat itu rasanya sangat pahit, Mas!" gerutu Nada dengan suara lirih namun terdengar sangat polos, seolah ia adalah anak kecil berusia lima tahun yang sedang mogok makan. "Rasanya tidak enak di lidah. Aku benci rasa pahit."
Deg.
Kelvin seketika bungkam, tertohok melongo di tempatnya duduk. Tangannya yang memegang wadah obat sempat membeku di udara. Pria itu menatap Nada dengan tatapan kosong, mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari bibir seorang sarjana kedokteran lulusan universitas ternama.
Hening beberapa detik, sebelum akhirnya Kelvin memijat pelipisnya sendiri yang mendadak terasa berdenyut ngeri. Rasa ingin marah, kesal, dan geli bercampur aduk menjadi satu di dalam benaknya.
"Jadi... alasanmu menolak obat ini hanya karena rasanya pahit?" tanya Kelvin, suaranya terdengar sangat tidak percaya hingga ia ingin tertawa saking konyolnya situasi ini. "Kau seorang dokter, Denada! Di dunia ini tidak ada obat yang rasanya manis seperti permen!"
"Ada! Obat sirup anak-anak rasanya manis!" bantah Nada tidak mau kalah, menatap Kelvin dengan binar mata menantang yang terlihat sangat lucu di wajah pucatnya. "Pokoknya aku tidak mau minum. Kalau Mas Kelvin memaksa, aku akan mengadukanmu pada Eyang kalau kau sudah menyiksaku di rumah sakit!"
Kelvin hanya bisa geleng-geleng kepala, menatap pil di tangannya lalu beralih pada istrinya yang sedang merajuk. Tampaknya, menghadapi Denada yang sedang takut obat jauh lebih menguras emosi dan energinya daripada menegosiasikan kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah dengan klien asing.