NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Suasana di toilet lantai eksekutif itu mendadak terasa mencekam. Bunyi tetesan air dari wastafel seolah menjadi satu-satunya latar belakang suara bagi dua wanita yang kini berdiri berhadapan. Arunika, yang baru saja merapikan blazernya di depan cermin, tersentak hebat hingga jantungnya hampir melompat keluar saat membalikkan badan.

Aletta berdiri tepat di depannya. Gadis itu meletakkan kedua tangan di dada dengan gaya angkuh, matanya yang tajam menatap Arunika dengan tatapan penuh permusuhan.

"Eh, Aletta? Kamu... cari Marcell ya? Ruangannya bukan di sini," tanya Arunika, mencoba bersikap normal meski ia merasa sangat tidak nyaman.

Aletta mendengus sinis. "Nggak. Gue nggak cari Marcell. Gue sengaja nungguin Lo di sini karena gue cuma mau ngomong sama Lo."

Arunika menaikkan sebelah alisnya. "Ngomong apa?"

"Tolong ya, Arunika," Aletta melangkah maju satu tindak, mempersempit jarak mereka. "Lo udah dapet kakaknya Marcell, lo udah dapet posisi sebagai nyonya besar di keluarga Adiputra, jadi gue mohon banget... stop bersikap seolah-olah lo masih butuh perhatian Marcell. Jangan kasih harapan apapun lagi ke dia!"

Arunika tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang sarat akan rasa jengah keluar dari bibirnya. "Harapan? Aletta, aku nggak pernah kasih dia harapan apapun. Soal dia yang belakangan ini ngejar-ngejar aku, datang ke parkiran, bahkan sampai bikin keributan di depan lift... ya itu bukan urusan aku. Itu masalah kamu sama pacar kamu."

Wajah Aletta memerah menahan amarah. "Lo... pede banget lo ya?!"

"Bukan pede, Aletta. Tapi realistis," sahut Arunika tenang.

Aletta tiba-tiba mengangkat tangannya, wajahnya tampak ingin sekali meluapkan kekesalannya secara fisik. Namun, Arunika tidak mundur satu inci pun. Ia justru memajukan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Aletta tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Apa?! Mau nampar?" tantang Arunika, suaranya naik satu oktav namun tetap terkontrol. "Silakan. Tampar kalau itu bisa bikin kamu sadar. Tapi dengerin aku baik-baik, Aletta. Aku nggak pernah takut sama kamu."

Arunika menarik napas panjang, tatapannya kini berubah menjadi sangat dingin. "Dulu... iya, aku akui aku bego. Aku cewek tolol yang ngejar-ngejar Marcell sampai nggak punya harga diri, padahal aku jelas-jelas tahu dia milih kamu. Aku dulu yang nangis-nangis di pojokan kalau liat kalian jalan bareng."

Arunika tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan. "Tapi itu dulu. Sekarang aku udah dapet Mas Thomas. Dan asal kamu tahu, Mas Thomas itu jauh lebih gentleman, jauh lebih dewasa, dan jauh lebih menghargai aku dibanding pacar kamu yang emosian itu."

"Lo cuma pelarian Kak Thomas!" bentak Aletta.

"Pelarian?" Arunika tertawa lebih keras. "Aletta, kalau aku pelarian, dia nggak akan nikahin aku secara sah. Dia nggak akan manjain aku di depan orang tuanya. Dan dia nggak akan pernah mukul adiknya sendiri cuma buat belain aku."

Arunika melangkah mendekat, membuat Aletta terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh wastafel yang dingin.

"Jadi tolong ya, Aletta," bisik Arunika tepat di depan wajah Aletta. "Daripada kamu sibuk labrak aku di toilet kayak anak SMA, mending kamu simpen tenaga kamu buat ikat pacar kamu itu baik-baik. Bilang sama Marcell, stop ganggu hidup aku. Bilang sama dia kalau aku udah bahagia, dan aku muak setiap kali liat muka dia."

Aletta mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya bergeletuk. "Lo bakal nyesel udah sombong begini, Arunika!"

"Aku nggak akan nyesel karena udah punya harga diri sekarang," balas Arunika tajam. Ia merapikan sedikit kerah baju Aletta yang tampak agak berantakan karena emosi. "Oh, satu lagi. Jangan pernah sebut namaku lagi di depan Marcell seolah aku ini ancaman buat kamu. Karena jujur, bagiku Marcell itu cuma sampah masa lalu yang udah lama aku buang ke tempatnya."

Tanpa menunggu balasan lagi dari Aletta, Arunika berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang mantap. Heels-nya berbunyi tuk... tuk... tuk... dengan ritme yang penuh percaya diri.

Begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Arunika menyandarkan punggungnya di dinding koridor. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena ia merasa baru saja memenangkan peperangan besar melawan masa lalunya.

"Nika?"

Arunika tersentak. Di ujung koridor, Thomas sudah berdiri dengan tangan yang memegang beberapa dokumen. Wajahnya tampak khawatir.

"Kamu lama sekali di dalam. Aku hampir panggil satpam buat dobrak pintunya," ujar Thomas sambil berjalan menghampiri istrinya.

Arunika tersenyum manis, senyum paling tulus yang ia miliki. Ia langsung menggandeng lengan Thomas erat-erat. "Nggak apa-apa, Mas. Tadi cuma ada gangguan kecil di dalam. Semacam... hama yang perlu disemprot."

Thomas mengerutkan kening, ia melirik ke arah pintu toilet wanita dan melihat Aletta keluar dengan wajah pucat dan mata yang sembab. Thomas seolah paham apa yang terjadi.

"Dia ganggu kamu?" tanya Thomas, suaranya mendadak berat dan dingin.

"Nggak, Mas. Malah aku yang kasih dia 'pelajaran' singkat tentang cara menghargai orang lain," sahut Arunika jahil. ia mendongak menatap Thomas. "Mas... makasih ya."

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya. Karena udah jadi 'Mas Thomas' yang lebih hebat dari siapapun. Aku bangga banget punya Mas."

Thomas tersenyum tipis, ia merangkul bahu Arunika dan mengecup puncak kepalanya. "Dan aku lebih bangga karena istriku sudah bukan lagi gadis kecil yang bisa ditindas siapapun. Ayo kembali ke ruangan, Ardi sudah nungguin buat makan siang."

Mereka berdua berjalan menjauh, meninggalkan Aletta yang masih terpaku di depan toilet dengan rasa malu yang luar biasa. Pagi itu, Arunika tidak hanya berhasil keluar dari toilet, tapi ia benar-benar keluar dari bayang-bayang Marcell yang selama bertahun-tahun mengurungnya dalam rasa rendah diri. Kini, ia adalah Arunika yang baru—istri dari Thomas Adiputra yang sudah tahu betul di mana tempat ia berpijak.

***

Pintu ruangan CEO terbuka, dan aroma mentega yang dipanggang gurih langsung menyergap indra penciuman. Di atas meja kerja Arunika, sudah bertengger sebuah kotak take-out berbahan ramah lingkungan yang alasnya dilapisi kertas motif kotak-kotak merah putih yang menggemaskan. Di dalamnya, empat buah kue bulat kecokelatan yang tampak berkilau karena olesan mentega dan taburan garam kasar terlihat sangat menggoda.

"Nah, ini dia! Sampai juga!" seru Arunika girang. Ia hampir berlari menuju mejanya, matanya berbinar melihat camilan yang sudah ia idam-idamkan sejak tadi pagi.

Thomas mengikutinya dari belakang, mengerutkan dahi sambil menatap kotak itu dengan penuh selidik. Ia mendekat, berdiri tepat di samping Arunika.

"Itu apa?" tanya Thomas datar. Suara baritonnya terdengar kontras dengan keceriaan Arunika.

"Ini namanya Butter Tteok, Mas! Lagi viral banget di Korea, terus sekarang masuk ke Jakarta. Bentuknya lucu ya kayak bunga atau madeleine, tapi ini teksturnya kenyal kayak kue beras," jelas Arunika penuh semangat. Ia membuka wadah kecil berisi saus cocolan berwarna kuning pucat di sampingnya. "Cobain deh, ini perpaduan manis gurihnya pas banget."

Ardi, yang sejak tadi duduk di sofa sudut ruangan sambil membolak-balik majalah bisnis, berdehem sangat keras. Ia melirik pasangan suami istri itu dengan tatapan malas.

"Ehem! Permisi... ada orang di sini. Bukan patung manekin kantor," sindir Ardi. "Gue dari tadi nungguin kalian balik cuma buat ngeliat kalian pamer makanan viral? Gue laper lho, Tom."

Thomas tidak menoleh sedikit pun ke arah Ardi. Tatapannya masih terkunci pada potongan tteok yang dipegang Arunika.

"Suapin."

Satu kata itu keluar dari mulut Thomas begitu saja, rendah dan penuh otoritas.

Arunika tersentak, sumpitnya hampir jatuh. Ia melirik Ardi yang kini matanya membelalak kaget, lalu beralih menatap suaminya yang wajahnya masih terlihat lempeng seperti tanpa dosa.

"Hah? Ada Kak Ardi, Mas... malu ih!" bisik Arunika sambil menyenggol lengan Thomas dengan sikutnya.

"Lalu kenapa kalau ada dia? Dia punya mata untuk melihat, biarkan saja dia melihat," balas Thomas santai. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke arah Arunika, membuka mulutnya sedikit, menanti suapan istrinya. "Ayo, Nika. Mas mau coba. Katanya enak."

Ardi melempar majalahnya ke meja kopi dengan bunyi plak yang nyaring. "Gila ya lo, Tom! Sejak kapan lo jadi manja begini? Biasanya makan sendiri pake garpu perak aja lo sok jaim, sekarang minta disuapin depan gue?"

Thomas akhirnya melirik Ardi dengan sudut matanya yang tajam. "Kalau lo merasa terganggu, pintunya ada di sana, Di. Nggak ada yang maksa lo jadi penonton di sini."

"Sialan lo! Gue ini tamu VIP!" gerutu Ardi, namun ia tetap diam di tempatnya, penasaran dengan kelanjutan drama "bucin" sang CEO.

Arunika menelan ludah. Wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga. Namun, melihat tatapan Thomas yang seolah tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keinginannya, Arunika akhirnya menusuk satu butir Butter Tteok yang paling mengkilap. Ia mencocolnya sedikit ke dalam saus mentega, lalu mengarahkannya ke mulut Thomas.

"A-Aaa..." ucap Arunika lirih, suaranya hampir hilang karena malu.

Thomas menerima suapan itu dengan gerakan mantap. Ia mengunyah pelan, merasakan tekstur kenyal dari kue beras yang berpadu dengan gurihnya mentega berkualitas tinggi dan sentuhan rasa asin yang pas.

"Enak?" tanya Arunika dengan nada cemas.

Thomas menelan makanannya, lalu menjilat sedikit bibirnya yang terkena sisa saus mentega—sebuah gerakan yang membuat Arunika hampir jantungan. "Manis. Tapi sepertinya suapan berikutnya akan terasa lebih enak kalau Ardi keluar dari ruangan ini."

"OKEE! GUE PERGI! GUE NYERAH!" Ardi berdiri dengan cepat, menyambar kunci mobilnya di atas meja. "Gue nggak tahan liat kadar gula di ruangan ini! Bisa-bisa gue kena diabetes mendadak cuma gara-gara liat lo berdua!"

Ardi berjalan cepat menuju pintu dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Namun sebelum keluar, ia menoleh lagi. "Nik! Kasih tahu suami lo, jangan terlalu agresif di kantor! Kasihan staf yang lain kalau liat bosnya mendadak jadi pemeran utama drama Korea yang haus perhatian!"

BAM!

Pintu tertutup dengan suara yang cukup keras. Arunika langsung mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Ia merosot di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Mas Thomas ih! Kenapa sih sengaja banget depan Kak Ardi?!" keluh Arunika.

Thomas justru terkekeh pelan. Ia menarik kursi Arunika agar menghadap ke arahnya, lalu berlutut dengan satu kaki di depan istrinya. Ia menurunkan tangan Arunika yang menutupi wajah cantiknya.

"Supaya dia tahu batasannya, Nika. Dia sering sekali menganggap kita ini masih 'kontrak' dan seenaknya masuk-keluar ruangan," ujar Thomas lembut. Ia mengambil sumpit dari tangan Arunika, lalu menusuk butir Butter Tteok yang kedua. "Sekarang giliranku."

"Eh?"

"Ayo, buka mulutmu. Kamu tadi sibuk suapin aku, kamu sendiri belum coba kan?" Thomas mengarahkan kue itu ke bibir Arunika.

Arunika tersipu, namun ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Thomas. Rasa gurih dan manis itu meledak di mulutnya, namun kehangatan dari tatapan Thomas terasa jauh lebih mengenyangkan.

"Mas..." panggil Arunika di sela kunyahannya.

"Hm?"

"Tadi... di toilet... Aletta tiba-tiba muncul. Dia bilang aku jangan kasih harapan lagi ke Marcell." Arunika menunduk, memainkan ujung blazernya.

Tatapan Thomas seketika berubah dingin begitu mendengar nama adiknya disebut. Ia meletakkan sumpit di atas kotak makanan. "Lalu kamu bilang apa?"

"Aku bilang aku nggak pernah kasih harapan. Aku bilang aku udah dapet Mas Thomas yang jauh lebih gentleman dibanding pacarnya itu," ucap Arunika sambil mendongak, mencari pengakuan di mata suaminya.

Thomas terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis yang tulus terukir di wajahnya. Ia mengusap pipi Arunika dengan ibu jarinya. "Jawaban yang bagus. Kamu tidak perlu takut pada siapa pun lagi, Nika. Selama ada aku, tidak ada yang bisa menginjak-injak harga dirimu lagi. Mengerti?"

Arunika mengangguk mantap. Ia merasa sangat terlindungi. "Aku bangga banget jadi istrinya Mas Thomas."

"Dan aku lebih bangga memiliki istri yang seleranya... unik," Thomas melirik kotak Butter Tteok itu lagi. "Meskipun aku lebih suka rasa yang ada di bibirmu daripada rasa mentega ini."

"MAS THOMAS!" Arunika memukul bahu Thomas pelan, wajahnya kembali merona hebat.

Thomas tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang sekali terdengar oleh staf kantor, namun kini menjadi musik favorit di telinga Arunika. Pagi itu, di tengah aroma mentega dan sisa-sisa ejekan Ardi, mereka berdua menyadari bahwa kebahagiaan mereka tidak lagi membutuhkan kertas kontrak. Cukup ada satu sama lain, sedikit makanan viral untuk dinikmati bersama, dan keberanian untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka memang sudah benar-benar "pecah telur"—baik secara status, maupun perasaan.

"Ayo habiskan, setelah ini kita ada rapat," ajak Thomas sambil kembali duduk di kursinya, namun tangannya tetap menggenggam tangan Arunika di bawah meja.

"Siap, Mas CEO!" sahut Arunika ceria, kembali menikmati camilan viralnya dengan hati yang jauh lebih tenang.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak 😘♥️

1
Kusii Yaati
gemas nggak sih kalau ketemu cewek kayak arunika...di getok dulu kepalanya baru peka😂
Kusii Yaati
pasti nanti Marcel akan merasa kehilangan arunika udah nggak ngejar" dia lagi... biasa kalau udah kehilangan baru terasa, bahwa hanya arunika yang tulus mencintainya,BASI cel😒
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!