*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Gagal Pertama.
Selama 2 minggu, Junee melewati hari - harinya dengan begitu santai. Hanya bekerja dari penthouse. Dan sesekali menemui anak - anak di panti asuhan pusat.
Panti asuhan cabang Bekasi, di pantau melalui panggilan video. Karena Ben melarang dirinya untuk melakukan perjalanan jauh.
Dan, Hari keempat belas setelah transfer embrio itu pun tiba.
Ben tidak bisa tidur lebih dari tiga jam malam sebelumnya.
Setiap kali Ben memejamkan mata, yang terbayang hanya dua kemungkinan, garis satu atau garis dua.
Dan mereka akan mengetahui hasilnya hari ini.
Junee kembali duduk di ruang periksa, tangannya berkeringat dingin. Saling bertaut dengan tangan Ben di atas lututnya.
Ben ada di sebelahnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya megenggam tangan Junee dengan erat.
Dokter Wina masuk. Wajahnya terlihat datar. Terlalu datar, tanpa senyuman.
Junee sudah bisa menebak hasilnya sebelum dokter buka mulut.
“Ny. Pratama, maaf ya Bu. Hasil HCG-nya negatif. Embrio tidak menempel.” Ucap dokter Wina dengan raut wajah prihatin.
Negatif.
Satu kata yang rasanya menusuk sampai ke hulu hati.
Junee tidak menangis.
Ia hanya mengangguk pelan. “Baik, Dok. Terima kasih.”
Suaranya terdengar datar sekali.
Tanpa eksperesi, membuat Ben menjadi takut.
Keluar dari klinik, baik Ben maupun Junee tidak mengatakan apapun selama dua puluh menit hingga mereka berada di dalam mobil.
Ben menyimpan hasil pemeriksaan di dalam tas kerjanya yang ada di bangku belakang mobil.
AC menyala. Tapi junee tidak merasa kedinginan. Wajahnya terasa begitu panas.
Sampai di penthouse, hal pertama yang Junee lakukan adalah masuk dalam kamar mandi, di kamar utama.
Ia mengunci pintu dari dalam.
“Junee?” Panggil Ben dari luar.
Tidak ada jawaban.
“Junee, buka pintunya. Aku di sini.” Ucap pria itu.
Namun Junee masih bungkam. Hening. Tak terdengar suara apapun.
Ben duduk di lantai. Punggungnya menempel pada pintu.
Kemudain terdengar suara Junee tertawa kecil dari dalam sana.
Namun Ben tau, itu bukan tawa bahagia. Itu adalah tawa kehancuran.
“Aku gagal lagi, Ben.” Ucap Junee kemudian. Suaranya tembus melalui pintu.
“Aku lelah. Lelah sekali menjadi bahan percobaan. Lelah ditusuk-tusuk jarum. Lelah menunggu. Dan yang paling melelahkan adalah berharap.” Imbuh wanita itu.
Ben menutup matanya.
Ia teringat 3 minggu terakhir ini, suntik hormon setiap malam.
Ingat bagaimana Junee menahan sakit tetapi tidak mengeluh.
Ingat bagaimana Ben sudah mulai mencari nama, jika yang menempel itu anak laki-laki.
Semua itu… nihil. Usaha pertama mereka telah gagal.
Di dalam kamar mandi, Junee juga duduk di atas lantai. Ia sudah sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Namun, pada akhirnya tangis itu pecah juga.
“Aku ini apa sih, Ben?” Tanya Junee dari dalam.
“Kenapa badan aku tidak bisa melakukan hal paling dasar untuk para wanita?”
Ben tidak menjawab.
Karena ia juga tidak tau lagi harus menjawab apa?
Jawaban ‘tidak apa - apa.’ Sudah lagi tak ada artinya untuk Junee.
Lima belas menit berlalu.
Junee membuka pintu.
Matanya terlihat sembab, rambutnya berantakan. Ia melewati Ben begitu saja, tidak mau menatap pria itu.
Namun, Ben dengan cepat berdiri. Lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
“Jangan peluk aku, Ben.” berontak Junee.
“Aku sangat menyebalkan. Aku selalu saja gagal.” Imbuhnya.
“Aku tidak perduli, Junee.” Jawab Ben. Suaranya terdengar serak.
“Aku tidak perduli kamu gagal atau tidak. Aku cuma perduli kamu masih di sini, Junee.”
Junee kembali memberontak pelan. Karena tenaganya telah habis untuk menangis.
Akhirnya Junee pun menyerah. Ia memilih kembali menangis di pelukan sang suami.
Ben tidak mengatakan ‘sabar ya’. Karena itu tidak akan di dengar oleh sang istri.
“Aku ada disini, Junee. Aku tidak akan ke mana-mana.” Ucap pria itu kemudian.
Ben dan Junee berpelukan di depan pintu kamar mandi selama dua puluh menit.
Tidak ada pembicaraan apapun lagi.
Hanya pelukan yang saling menguatkan.
Pelukan itu terasa begitu menyesakkan setelah tiga minggu dingin karena proses IVF.
Dan rasanya seperti pertama kali mereka melakukannya.
“Sekarang bersihkan diri kamu dulu, ya. Biar aku siapkan baju ganti.” Ucap Ben.
Junee menggeleng pelan. Rasanya sudah tidak ada tenaga lagi untuk kembali.
“Nanti saja. Aku mau tidur dulu.” Ucap Junee pelan.
Ben menghela nafas kasar. Ia kemudian menggendong sang istri menuju tempat tidur.
“Kamu tidak kembali ke kantor?” Tanya Junee saat Ben ikut merebah di sampingnya.
“Aku mau disini menemani kamu.” Ucap pria itu kemudian menarik tubuh sang istri untuk menempel padanya.
---
Keesokan harinya, Junee memilih untuk menyibukkan diri dengan kembali ke panti asuhan.
Ia tidak ingin meratap terlalu lama. Karena sudah terlalu sering merasa kecewa pada hasil yang di berikan oleh tubuhnya.
“Kamu yakin mau ke panti?” Tanya Ben sekali lagi, setelah mereka selesai sarapan.
Junee mengangguk pelan. “Kalau kamu tidak bisa mengantar, biar aku naik taksi saja.” Ucap wanita itu.
Ben menggelengkan kepalanya. Bukan karena tidak bisa mengantar, tetapi ia tidak yakin dengan kepergian sang istri.
Kemarin wanita itu begitu rapuh. Namun, saat ini terlihat seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
“Ayo kita pergi sekarang.” Ben mengulurkan tangannya. Junee pun menyambutnya.
Jarak panti asuhan dari gedung Ben Holding tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu selama 20 menit.
Tiba di panti asuhan, Ben pun ikut turun. Junee pergi menemui anak - anak.
“Bagaimana hasilnya, nak Ben?” Tanya Bu Patricia pada Ben yang tertinggal di depan pintu ruangan.
Ben mengelengkan kepalanya pelan. “Kami gagal, bu.”
Bu Patricia terkejut sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Saya titipkan Junee disini, Bu. Dia sedang tidak baik - baik saja saat ini. Namun, dia berusaha untuk menutupinya.” Ucap Ben.
“Ibu akan meminta anak - anak untuk menghibur Junee. Nak Ben tidak perlu khawatir. Dia akan baik - baik saja disini.” Ucap Bu Patricia.
Ben menganggukkan kepalanya. Sebelum ia pergi kembali ke kantor, pria itu menyempatkan untuk melihat Junee di dalam ruangan bersama anak - anak.
“Ayah.” Panggil Dika saat Ben melangkah menuju mobilnya.
“Kamu tidak sekolah?” Tanya Ben.
“Libur, Yah. Kelas 6 sedang ujian.” Ucap Dika.
Ben menganggukkan kepalanya. “Ayah titip ibu, ya. Kamu ajak adik - adik untuk menghibur dia.” Ucap pria itu.
“Apa ibu sedang bersedih?” Tanya bocah itu.
Ben menganggukkan kepalanya.
“Kami gagal membawa adik Dika pulang. Jadi, ibu sedang bersedih. Tetapi, kamu janji sama ayah, jangan menyinggung tentang adik bayi saat bersama ibu.”
Dika mengangguk paham. “Baik, Ayah. Aku akan menghibur ibu, tanpa mengatakan tentang adik bayi lagi.”
Ben mengusap kepala bocah itu. Dika pun berlari ke tempat Junee berada.
Pria itu kemudian masuk ke dalam mobilnya.
pesan 1 kak