Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
"Masa istrinya kelihatan pas-pasan dan ndeso gini? Nanti malu-maluin nama besar keluarga Praditya, tahu nggak sih?"
Aira yang duduk di sana merasa tubuhnya kaku dan dingin seketika. Setiap kata yang keluar dari mulut Tante Rina itu bagaikan pisau tajam yang ditusukkan berulang-ulang ke dalam dadanya yang lembut.
Ia mencoba untuk tetap kuat, mencoba untuk tidak menangis, dan mencoba untuk berpikir positif bahwa wanita itu hanya tidak mengenalnya saja. Namun, semakin lama Tante Rina bicara, semakin pedas dan semakin menyakitkan ucapan-ucapan itu.
"Jujur ya, El, sama Tante." Tante Rina bersandar malas di kursi, lalu menatap Aira dengan tatapan merendahkan yang paling menyakitkan. "Kalau dilihat-lihat lagi nih ya, dia itu cocoknya jadi pembantu di rumah ini aja lho! Beneran deh!"
BUKK!!!
Seakan ada palu besar yang memukul keras kepala dan hati Aira saat mendengar kalimat itu.
"Cocoknya jadi pembantu aja."
Kata-kata itu bergema keras dan nyaring di dalam telinga dan pikirannya. Dadanya terasa sesak sekali, napasnya terasa berat dan sulit ditarik. Matanya mulai terasa panas dan berkaca-kaca. Ia cepat-cepat menundukkan wajahnya dalam-dalam agar air matanya tidak jatuh di depan orang lain.
Tante Rina sepertinya sangat menikmati efek dari ucapan jahatnya itu. Ia justru tertawa kecil dan melanjutkan omelannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Iya beneran lho! Lihat tuh bajunya polos banget, rambutnya dikuncir biasa aja, wajahnya juga polos tanpa riasan tebal. Cocok banget kan kalau nyapu, ngepel, masak, ngambilin barang, atau ngelayanin kamu, El? Daripada jadi istri sah yang harus dihargai dan dimuliakan gitu, mending jadi pembantu aja kan pas dan cocok banget sama penampilan dan gayanya?" ledek Tante Rina lagi dengan tawa sinis yang sangat menyakitkan.
"Terus mana pantas coba dia jadi Nyonya Besar di rumah sebesar dan semewah ini? Mana sanggup dia mengurus rumah sebesar ini? Mana bisa dia bersosialisasi sama teman-teman elit kamu, El? Pasti malu-maluin dan bikin ilfeel semua orang kalau dia yang nemenin kamu ke acara-acara penting!"
"Tante!!!" kali ini Elvano membentak cukup keras. Suaranya penuh dengan amarah yang tertahan. Wajahnya memerah menahan emosi yang sudah memuncak melihat bibinya sendiri berani menghina dan merendahkan istrinya sedemikian rupa. "Cukup! Jangan berlebihan bicara di sini! Aira itu istri saya, dan saya minta Tante menghargai dia sebagaimana mestinya!"
Elvano sangat marah. Ia ingin sekali mengusir wanita itu keluar dari rumahnya saat itu juga, tapi karena masih ada rasa hormat sebagai keluarga, ia menahannya sekuat tenaga.
Tapi Tante Rina malah tersenyum mengejek.
"Yahhh... marah dong. Tante kan cuma ngomong fakta doang kok. Jangan tersinggung gitu dong, El. Lagian kan emang bener apa kata Tante? Dia itu kelihatannya lemah lembut, penurut, dan apa adanya banget, cocok banget jadi pembantu atau asisten rumah tangga daripada jadi istri orang yang sukses dan kaya kamu. Mana pantas dibandingin sama mantan kamu si Natasha kan? Cantik, modis, pinter ngomong, keren!"
Mendengar nama Natasha disebut, dan mendengar perbandingan yang begitu menyakitkan itu, hati Aira yang sudah hancur lebur itu rasanya ingin pecah berkeping-keping saat itu juga.
Air matanya akhirnya tidak bisa dibendung lagi.
Tetes...
Satu butir air mata jatuh membasahi punggung tangannya yang saling memilin kuat di bawah meja.
Aira merasa sangat kecil, merasa sangat tidak berharga, dan merasa sangat tidak pantas berada di tempat ini. Kata-kata Tante Rina itu benar-benar menohok harga dirinya yang paling dalam.
Benarkah aku memang hanya pantas jadi pembantu? Benarkah aku tidak pantas jadi istri Mas Elvano? batin Aira hancur lebur, pikirannya kacau balau.
Ia merasa tidak betah lagi berada di ruangan itu. Rasanya sesak, rasanya sakit, rasanya ingin lari menjauh dari sana secepat mungkin.
Dengan tangan yang gemetar dan tubuh yang terasa lemas, Aira perlahan berdiri dari kursinya. Suaranya terdengar bergetar parau menahan isak tangis.
"Pe... permisi dulu ya, Mas... Tante... Aira... Aira mau ke kamar sebentar." ucap Aira terbata-bata, tidak berani menatap mata siapa pun.
Tanpa menunggu jawaban, Aira langsung berbalik badan dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruang makan itu, meninggalkan Elvano yang masih menahan amarah dan Tante Rina yang tersenyum puas melihat hasil perbuatannya.
Sesampainya di kamar tidur utama di lantai dua, pintu ditutup rapat dan dikunci kuat dari dalam.
Saat itu juga, pertahanan diri Aira runtuh sepenuhnya.
Hikss... hiksss... huuuuu...
Aira menjatuhkan dirinya ke atas kasur yang empuk itu, lalu membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya. Tangisannya pecah, penuh dengan kesedihan, kekecewaan, dan rasa sakit hati yang luar biasa mendalam.
"Huwaaaaaa... sakit banget... hikss... sakit banget dibilang gitu." isak Aira di dalam bantal, bahunya terguncang hebat karena tangisnya yang tertahan.
Kata-kata Tante Rina terus berputar-putar di kepalanya tanpa henti bagai kaset rusak.
"Cocoknya jadi pembantu aja."
"Ndeso."
"Biasa aja."
"Malu-maluin."
Kalimat-kalimat itu terus bergaung, membuat dadanya terasa sesak dan sakit luar biasa. Rasanya seperti ada batu besar yang menindih dadanya, membuatnya sulit bernapas.
"Hu... huwaaaaaa...!" Aira menangis semakin keras, memukul-mukul bantal dengan lembut karena rasa frustrasi dan sakit hati yang meluap-luap.
Kenapa Tante itu jahat banget sih sama aku? Apa salah aku? Aku kan cuma mau bersikap sopan dan baik. Kenapa dia harus ngomong seburuk itu? batin Aira menjerit kesal dan sedih.
Ingatannya kembali melayang ke wajah Tante Rina yang sombong dan angkuh itu. Ingatan tentang tatapan mata yang meremehkan, cara bicara yang ketus, dan cara dia membanding-bandingkan Aira dengan Natasha.
"Mana pantas dibandingin sama Natasha."
Hati Aira terasa perih sekali mendengar kalimat itu lagi di ingatannya.
Benarkah dia memang seburuk itu? Benarkah dia memang tidak pantas berdiri di samping Elvano? Benarkah dia hanya pantas menjadi pelayan di rumah mewah ini?
Rasa percaya diri Aira yang baru saja mulai tumbuh sedikit demi sedikit karena perlakuan manis Elvano beberapa hari ini, kini hancur lebur berkeping-keping seolah dihantam badai besar. Ia merasa kembali menjadi Aira yang kecil, rendah diri, dan tidak berharga seperti dulu lagi.
"Aku... aku nggak pantas ya jadi istri Mas Elvano." isak Aira pelan di antara isak tangisnya. "Mungkin bener kata Tante Rina, aku cuma cocok jadi pembantu, soalnya aku emang orangnya biasa aja, nggak cantik, nggak kaya, nggak keren kayak Natasha."
Air mata Aira mengalir deras tanpa henti membasahi bantal dan sprei kasur yang empuk itu. Matanya sudah merah dan bengkak, hidungnya pun ikut memerah karena menangis terlalu lama. Rasanya lelah sekali, lelah hati dan lelah pikiran.
Di lantai bawah, suasana di ruang makan kini berubah menjadi sangat mencekam dan dingin. Suhu ruangan seakan turun drastis karena aura mematikan yang dipancarkan oleh Elvano.
Setelah kepergian Aira yang terlihat sangat terpukul dan menangis itu, amarah Elvano benar-benar sudah memuncak di ubun-ubun. Tatapan matanya yang tadinya tenang kini berubah menjadi tajam, gelap, dan sangat mengerikan, ia menatap Tante Rina yang masih duduk santai dengan wajah tak tahu malu itu.
Suasana menjadi hening total. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak tik... tok... tik... tok... yang terdengar sangat menegangkan dan mencekam.
"Tante." suara Elvano memecahkan keheningan itu. Suaranya rendah, pelan, tapi sangat berat dan penuh dengan ancaman yang nyata. "Apa Tante senang sekarang?"
Tante Rina yang tadinya masih tersenyum-senyum sinis kini menoleh kaget mendengar nada bicara keponakannya itu. Ia bisa merasakan bahaya yang mengintai dari tatapan mata Elvano saat ini.
"Maksud kamu apa sih, El? Tante kan cuma ngomong yang bener-bener terjadi doang kok," jawab Tante Rina berusaha terlihat tenang, meski sebenarnya jantungnya mulai berdegup tidak karuan.
"Bener?" Elvano berdiri perlahan dari kursinya. Tubuhnya yang tinggi besar dan gagah itu membuatnya terlihat sangat mengintimidasi dan menakutkan. "Tante bilang itu bener? Menghina orang, merendahkan martabat orang, dan nyakitin hati orang seenak jidat Tante sendiri, itu yang Tante sebut bener?"
"Ya elah, masa iya segitunya." Tante Rina mulai gelagapan, tangannya mulai berkeringat dingin. "Kan Tante cuma bercanda doang kok. Lagian kan emang kenyataan kalau dia itu kelihatannya ndeso dan pas-pasan gitu. Masa istri CEO penampilannya kayak pembantu gitu?"
BRUKKK!!!
Elvano membenturkan tangannya ke meja makan dengan sangat keras, hingga piring dan gelas di atasnya bergetar hebat dan berbunyi nyaring, membuat Tante Rina terlonjak kaget hingga hampir jatuh dari kursinya.
"Diam Tante!!!" bentak Elvano dengan suara yang sangat besar dan garang, menggema di seluruh ruangan.
"Dengerin aku baik-baik!" Elvano menatap tajam tepat ke manik mata Tante Rina, tidak memberi celah sedikitpun untuk beralih. "Aira itu istri saya! Dia wanita yang sudah sah saya nikahi, yang sudah saya bawa ke altar pernikahan, yang saya jaga dan saya sayangi! Jadi siapapun nggak ada hak buat ngomongin dia sembarangan apalagi merendahin dia seburuk itu!"
"Tapi El.."
"Gak Ada tapi-tapian!" potong Elvano cepat tak memberi kesempatan sedikitpun. "Selama ini Tante tinggal dengan tenang, saya hormati sebagai keluarga. Tapi kalau Tante berani nyakitin hati Aira lagi kayak gini, saya nggak akan segan-segan ngusir Tante keluar dari rumah ini dan nggak akan pernah saya izinin Tante injakkan kaki lagi ke sini! Ngerti?!"
Elvano menghembuskan napasnya kasar, dadanya naik turun menahan amarah yang masih membara hebat.
"Dia itu wanita baik-baik, lembut, sopan, dan hatinya sebersih salju. Jangan sampe Tante kotori pikiran Tante yang jahat itu ke dia. Dan inget satu hal lagi..." Elvano mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Tante Rina, suaranya turun menjadi bisikan yang sangat dingin. "Cantik atau tidak, kaya atau tidak, gaya atau tidak, yang penting dia jujur dan tulus. Itu jauh lebih mahal harganya daripada mulut Tante yang tajam tapi isinya cuma racun!"
Tante Rina terdiam kaku, wajahnya memerah padam karena malu dan juga takut setengah mati. Ia tidak menyangka Elvano akan membela Aira sekeras ini dan seganas ini. Baru kali ini ia melihat sisi dingin dan menyeramkan dari keponakannya itu yang selama ini ia tahu selalu tenang dan dingin.
"Si.. siap El... Tante... Tante ngerti kok." jawab Tante Rina terbata-bata, sudah tidak berani menyahut atau membantah lagi.
"Kalau gitu Tante bisa pulang sekarang. Saya lagi nggak enak hati dan nggak punya waktu buat nemenin Tante ngobrol," kata Elvano dingin dan ketus. "Bibi Asih! Anterin Tante keluar!"
Bibi Asih yang dari tadi berdiri mematung di sudut dapur dan merasa lega sekali melihat majikannya membela Nona Aira dengan gagah berani, segera menyahut dengan cepat.
"I... iya Tuan! Mari saya antar Tante!"
Dengan wajah yang kesal, malu, dan ketakutan yang luar biasa, Tante Rina pun akhirnya bangkit dari kursinya dan berjalan cepat keluar dari rumah itu tanpa pamit lagi. Mobilnya pun segera melaju kencang meninggalkan halaman rumah besar itu seolah-olah dikejar hantu.
Setelah memastikan Tante Rina benar-benar pergi dan hilang dari pandangan, Elvano menghela napas panjang sekali, mencoba menenangkan emosinya yang masih memuncak dan bergejolak.
Ia merasa sangat kesal, sangat marah, dan juga sangat khawatir pada istrinya. Ia tahu betapa sakitnya ucapan-ucapan tadi. Ia tahu betapa rapuhnya hati Aira saat ini, apalagi Aira adalah tipe wanita yang sangat sensitif dan mudah tersinggung jika hatinya disakiti.
"Aira..." gumam Elvano pelan, wajahnya seketika berubah menjadi cemas dan lembut saat mengingat wajah istrinya yang menangis tadi. Wajah yang biasanya ceria dan penuh senyum itu, kini pasti berubah menjadi sangat menyedihkan.
Tanpa membuang waktu lagi, Elvano segera berjalan dengan cepat menaiki tangga menuju kamar tidur utama mereka di lantai dua. Langkah kakinya terdengar cepat dan terburu-buru, penuh dengan kekhawatiran.
Sampai di depan pintu kamar, ia mencoba memutar gagang pintu pelan-pelan.
Terkunci.
Hati Elvano mencelos seketika. Ia tahu persis, Aira pasti sedang menangis tersedu-sedu di dalam sana, mengunci diri karena merasa sedih dan malu.
"Aira... Aira sayang... buka pintunya dong." panggil Elvano pelan namun lembut di balik pintu kayu tebal itu. "Ini aku, Mas Elvano. Buka ya... Mas mau masuk."
Di dalam kamar, Aira yang sedang meringkuk di kasur mendengar suara suaminya memanggil-manggil. Suara itu terdengar begitu dekat dan penuh perhatian.
"Mas..." isak Aira pelan. Ia ingin sekali membuka pintu dan berlari ke pelukan suaminya, tapi rasa malu, rasa sedih, dan rasa rendah diri itu justru membuatnya ingin bersembunyi saja. Ia merasa tidak pantas untuk didekati, ia merasa dirinya hina seperti kata orang.
"Aira... aku tahu kamu di dalam dan lagi nangis kan?" suara Elvano terdengar lagi, kali ini terdengar sangat lembut, penuh rasa bersalah dan keprihatinan. "Maafin aku ya... maafin aku karena nggak bisa jagain kamu dari omongan jahat Tante tadi. Maafin aku..."
Mendengar suara permintaan maaf yang tulus itu, air mata Aira justru mengalir semakin deras. Rasanya ingin sekali meluapkan semuanya.
"Hu... huuu..."
"Aira... tolong buka pintunya... aku khawatir banget sama kamu. Jangan dikunci gitu dong, aku jadi nggak tenang di luar sini," bujuk Elvano lagi, suaranya terdengar sangat memohon dan lembut.