Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan
Besok paginya, Ibas dikejutkan dengan kedatangan Nadia di rumahnya. Kali ini, perempuan itu diterima dengan baik oleh kedua orangtuanya. Walaupun, jelas sekali jika kedua orangtuanya sebenarnya hanya menahan diri untuk tidak berkata kasar di depan Nadia.
"Itu Ibas," kata Saraswati sembari menunjuk ke arah Ibas yang masih berdiri di anak tangga terakhir.
"Ibas, selamat pagi," sapa Nadia dengan senyum manisnya.
Biasanya, Ibas akan sangat bahagia saat melihat Nadia tersenyum seperti itu. Akan tetapi, pagi ini terasa berbeda. Tak ada getaran lagi yang muncul di hati Ibas. Semuanya terasa sunyi. Ruang di hatinya hampa tanpa kesan apapun.
"Tante ke belakang dulu ya, Nadia. Kamu ngobrol sama Ibas aja," pamit Saraswati.
"Oh, iya, Tante. Makasih."
Dan, Saraswati hanya mengangguk sambil tersenyum singkat. Sekadar formalitas dalam adab menghargai tamu.
"Bun... Bunda..." panggil Ibas. Dia tak mau berdua saja dengan Nadia. Dia ingin sang Ibu juga ada di sana untuk mengawasi mereka.
Akan tetapi, Saraswati memilih menulikan telinganya. Nadia adalah pilihan Ibas. Dan, Saraswati tak akan keberatan lagi dengan keberadaan Nadia.
Mau Ibas menikahi Nadia, itu sudah menjadi keputusan mutlak yang ia serahkan ke tangan Ibas.
"Bas... sini deh!" panggil Nadia.
Ibas mendengkus kesal. Meski begitu, dia tetap melangkah menuju ke arah Nadia. Dia ingin tahu, apa mau perempuan itu datang ke rumahnya.
"Bas, Aku bawain sarapan buat kamu," kata Nadia. Antusias, dia menggandeng Ibas dan menuntun pria itu untuk duduk di sofa.
"Kamu cobain deh! Aku sendiri loh yang masak," lanjut Nadia.
Dia membuka kotak makanan didepannya. Didalamnya, ada nasi goreng seafood yang masih hangat.
"Bas, aku suapin, ya!" kata Nadia. Tanpa menunggu persetujuan Ibas, dia mengambil sendok untuk menyuap Ibas.
"Buka mulut kamu! Aaaa...."
"Udahlah, Nad! Nggak usah pura-pura kayak gini."
Ibas menepis suapan Nadia. Demi apapun, dia sudah lelah menghadapi wanita ini. Tidak bisakah Nadia membiarkan dia sendiri?
Diantara mereka, tak ada hubungan apapun yang bisa dipertahankan lagi.
Baik itu cinta maupun pertemanan.
"Maksud kamu, apa Bas?" tanya Nadia. Matanya kembali berkaca-kaca. Jurus yang akhir-akhir ini selalu gagal dia perankan.
"Kita udah putus. Tolong hargai keputusan aku."
"Bas... Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, ya! Aku janji, aku nggak akan kayak gitu lagi. Aku janji, aku akan ambil hati kedua orangtua kamu dengan cara baik-baik."
Ibas berdiri dari duduknya. Masih pagi dan moodnya sudah hancur gara-gara kedatangan Nadia.
"Aku udah bilang kalau semua itu nggak perlu lagi, Nadia. Kita udah selesai, oke? Kamu ngerti bahasa manusia, nggak, sih?"
"IBAS!!!" Nadia meneriakkan nama itu keras sekali sampai-sampai tubuhnya jadi bergetar.
Perempuan itu menatap Ibas nanar. Dia menggigit bibir bawahnya. Berusaha mengalihkan rasa sakit yang saat ini sedang menggerogoti hatinya.
"Kamu dulu pernah janji kalau kamu nggak akan pernah jatuh cinta sama perempuan itu. Tapi, sekarang apa?" Nadia menjeda. Ia menghirup oksigen dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya yang mulai terasa sempit.
"Kamu tinggalin aku bukan karena perbuatan aku ke orang tua kamu. Kamu tinggalin aku sebenarnya untuk perempuan itu, kan?" lanjutnya.
"Jangan bawa-bawa Aliya dalam masalah kita, Nad! Dia nggak bersalah sama sekali."
Nadia mundur selangkah. Air matanya mulai membasahi pipinya.
"Lihat, kan?" cicitnya. "Kamu lebih belain dia dibanding aku."
Ibas tak tahan lagi. Dia menyeret Nadia dengan kasar hingga ke pintu keluar.
"Bas, kamu mau ngusir aku!?"
"Ya," angguk Ibas.
"Kamu... tega?"
"Ya, aku tega. Aku bahkan bisa berbuat lebih jauh lagi kalau kamu masih keras kepala kayak gini."
"Ibas..."
"Sekarang, aku udah nggak punya apa-apa lagi, Nadia. Semua fasilitas ku udah ditarik sama Ayah. Pun, dengan uang bulanan. Sekarang, aku hidup cuma ngandelin gaji aku aja di perusahaan. Jadi, kalau kamu berpikir bahwa dengan bertahan sama aku, kamu bisa foya-foya kayak dulu, kamu salah! Aku udah miskin, Nadia. Nggak ada duit yang bisa kamu poroti lagi dari aku."
"Bas..."
"Sana, pulang! Jangan bikin aku makin jijik sama kamu!"
Brak!
Ibas menutup pintu rumahnya dengan keras. Dia tak pernah merasa sebenci ini pada Nadia. Wanita itu masih saja mengganggunya padahal Ibas tak mau lagi berurusan dengannya.
"Ibas, buka pintunya!!" teriak Nadia.
Tak ada jawaban. Ibas bahkan sengaja mengunci pintu rumah agar Nadia tak bisa masuk lagi.
"Walaupun kamu nggak punya apa-apa lagi, aku tetap mau sama kamu, Bas!!"
Suara Nadia masih terdengar. Seketika, Ibas menyeringai sinis.
"Jelas, kamu masih mau sama aku. Itu semua karena kamu tahu persis kalau Ayah cuma punya aku sebagai pewaris satu-satunya. Kamu nggak pernah tulus sama aku, Nadia! Kamu mau sama aku karena kamu mau dapetin harta aku aja, kan? Aku tahu. Hanya saja, aku berpura-pura bodoh selama ini karena aku cinta sama kamu."
Degh!
Tangan Nadia mengambang di udara. Dia urung untuk mengetuk pintu lagi. Kata-kata Ibas semakin menusuk. Membuat hatinya semakin perih.
Sepasang tungkai Nadia mulai lemas. Dia sadar bahwa dulu dia memang hanya ingin memanfaatkan Ibas saja. Tapi, sekarang semua sudah berbeda.
Saat Ibas memutuskan hubungan mereka secara sepihak, saat itu pula Nadia sadar bahwa dirinya menginginkan semua hal tentang Ibas. Tak hanya hartanya, tapi juga orangnya.
Namun, cinta yang terlambat disadari sudah tak berarti lagi. semuanya sudah selesai.
******
"Kamu ngusir Nadia, Bas?"
Ibas reflek berbalik menatap ke arah sang Ibu yang sedang berdiri dengan tatapan heran.
"Iya, Bun," jawab Ibas sedikit segan.
"Kenapa?" tanya Saraswati penasaran.
Ibas menggeleng. "Kami udah putus," jawabnya dengan senyuman getir.
"Bukannya, Nadia itu cinta sejati kamu? Kenapa malah putus? Kalau alasannya karena Ayah dan Bunda, kamu nggak perlu sampai lakuin hal itu, Bas. Seperti yang selalu Bunda bilang akhir-akhir ini... Bunda sama Ayah sudah merestui kamu dan Nadia untuk bersama."
"Bun..." tegur Ibas dengan ekspresi keberatan. "Tolong jangan bilang kayak gitu! Aku beneran udah nggak mau lagi sama Nadia. Dan, alasannya bukan karena Bunda dan Ayah. Ibas putusin dia... murni karena pertimbangan Ibas sendiri."
"Terserah kamu ajalah, Bas!" Saraswati mengedikkan bahunya. "Bunda udah nggak mau terlibat dalam urusan asmara kamu."
Saraswati hendak menuju dapur.
"Bun?"
Saraswati berbalik lagi ke arah sang putra.
"Ya?"
"Kira-kira... aku masih punya kesempatan buat dapetin hatinya Aliya lagi, nggak?"
Saraswati terdiam sesaat. Dia berpikir cukup lama.
"Kayaknya... enggak," jawabnya.
"Bunnn!!"
"Aliya itu anak yang cantik dan baik. Laki-laki yang antre buat dapetin dia pasti banyak. Jadi, kenapa dia harus kembali sama laki-laki kayak kamu kalau banyak laki-laki lain yang masih bisa dijadikan pilihan?"
coba Lo nyesel setengah Modarrrr kan Lo
bas ya begitulah hukuman buat laki laki yang suka menyepelekan cinta wanita ,,,,,padahal Aliya kurang apa berpendidikan juga cantik,,,, berdoalah semoga Alisa mau membukan hati nya buat mu❤️,,,
. walau pernah kecelakaan namun hati kalau sudah terpaut sukar berpaling,namun Ibas tidak.Berarti mereka tidak berjodoh.
sedikit melawan lah ini belum malah sudah memaki,,,sedang menantu nya baik dan sayang sama kedua orang tua suaminya,