ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT V—{Chapter1}: Gudang 2X
[2 Hari berikutnya: Senin, 05 November]
Angin sepoi berembus masuk melalui celah jendela yang dibiarkan sedikit terbuka. Bukan membawa aroma basah khas tanah rerumputan atau embun pagi, melainkan udara dingin yang terasa menusuk walaupun temperatur suhu menunjukkan kondisi hangat. Papan nama kelas 11-2 terbuat dari ukiran kayu, menempel pada sisi kiri kusen pintu dengan siku besi yang kokoh menahan beratnya. Dari sanalah ... atmosfer menegangkan berasal. Ketegangan seolah menggantung di udara, merayap di langit-langit seolah memenuhi segala sudutnya seperti asap rokok yang menekan dada. Suara detik jam dinding terdengar seperti bunyi yang monoton, berpadu dengan helaan napas yang dapat didengar oleh telinga sendiri. Tak ada yang berani saling pandang, lebih-lebih lagi membuka mulut. Semua kepala hanya bisa tertunduk menatap permukaan meja yang terasa semakin dingin setiap kali telapak tangan mengusapnya.
Sedari lima belas menit lalu, Pak Edwin tidak juga bergerak meninggalkan meja guru, bahkan untuk sekadar mengubah posisi tubuhnya agar tidak kesemutan. Setelah melewatkan banyak waktu dengan diam menatap ke sembarang arah, kini dia mulai membuka mulut, berbicara dengan nada tidak bersahabat khas dirinya. “Kalian yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi hari ini?” Dia melipat kedua tangannya ke dada, menatap satu per satu kelima gadis yang berdiri berdampingan di depan podium; Fally, Erica, Irene, Widya, dan Vira.
“Kalian berlima adalah tim piket hari ini. Lantas bagaimana bisa kalian melewatkan laci meja guru dalam keadaan berantakan? Lihat, semua sampah-sampah kertas yang seharusnya kalian buang ke tempat sampah, kalian biarkan berada di dalam laci meja guru. Kalian sengaja melakukannya? Apa kalian ingin para guru yang membersihkannya sendiri, begitu?”
Sejak awal kelima gadis tersebut diberi banyak pertanyaan, kepala mereka tetap dalam keadaan tertunduk. Bahkan sekalipun memiliki keinginan untuk menjawab, mereka lebih memilih menjawabnya dalam hati sambil melirik satu sama lain melalui sudut mata.
“..Tidak, bukan begitu, pak.” Tiba-tiba Erica berujar. Di tengah keheningan kelas, gelombang suara yang dipantulkan oleh dinding menjadi lebih besar. Hal tersebut sukses memicu keempat anggota tim piketnya menolehkan kepala, kompak memberi isyarat kepadanya supaya tidak membantah dan tutup mulut. Namun alih-alih menurut atau mempertimbangkan akan tindakannya lagi, Erica malah lanjut berkata, “Kami sudah membersihkannya bahkan lebih awal, pak.”
Pak Edwin mengangguk-angguk, menunjukkan reaksi sarkas dengan mengetuk penggaris kayu ke laci meja guru. Sampah berupa bola-bola kertas, sobekan kertas, dan kemasan makanan jatuh berhamburan ke lantai. Kelima gadis itu jelas paham apa yang dimaksudnya. Maka kemudian mereka pun semakin menundukkan kepala, sembari diam-diam mencolek rok Erica agar tidak lagi mengucapkan sesuatu yang tidak berguna.
“Aneh, padahal aku sendiri yang mengganti taplak meja. Bagaimana aku bisa tidak menyadari laci meja guru yang berantakan, ya?”
Mendengar gelombang suara seseorang berasal dari dekatnya, keempat tim anggotanya lantas menoleh secara serempak. Yang melakukannya lagi-lagi ternyata adalah Erica. Bahkan dalam situasi seperti ini pun dia malah memandangi taplak meja kotor di tangannya, bukan wajah Pak Edwin yang makin tampak menegang menahan amarah. Anggota tim piketnya hanya bisa menghela napas sambil berdoa dalam hati, meminta keajaiban pada Tuhan supaya masalah ini dapat terselesaikan dengan cepat.
“Erica, angkat kepalamu. Katakan lebih jelas, apa maksudmu bicara begitu?”
Nada suara Pak Edwin terdengar agak dalam dari sebelumnya, seperti disertai oleh aura gelap yang mencekam. Tahu kemungkinan terbesarnya mereka akan mendapat masalah, Irene yang berdiri tepat di sebelah Erica segera mencolek jari tangannya, memberi kode. Namun lagi-lagi dia malah tersenyum ganjil, lalu menarik pergelangan tangan Irene untuk digenggamnya agar si sobatnya itu tidak perlu mencemaskan dirinya. Erica membungkukkan badan, lalu berkata, “Aku minta maaf jika kata-kataku kurang sopan, pak. Kami siap menerima hukuman atas kelalaian kami. Tetapi sebelum itu, perlu Bapak ketahui satu hal. Bagaimanapun kami membersihkannya, pekerjaan kami tidak akan pernah selesai karena seseorang terus berbuat jahil kepada kami. Setiap kali kami mengeluarkan sampah-sampah itu, dia selalu memasukkannya kembali ke dalam laci. Dan kejadian itu terus berlangsung hingga bel berbunyi.”
Pak Edwin akhirnya bangkit dari meja guru, kemudian berpindah posisi dengan berjalan mendekati podium. “Seseorang melakukannya? Kalau kau sedang berusaha melempar kesalahan kepada orang lain, mengapa kau tidak melakukannya kepada anggotamu sendiri?”
Fally, Vira, dan Widya merasakan otot kaki mereka mendadak lemas, nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri. Dada mereka serasa dihantam batu besar saat mendengar ucapan Pak Edwin. Sedih, karena itu jelas menyakiti hati lembut mereka.
“Aku tidak bisa berbuat begitu, pak. Kami hanya bersedia bertanggung jawab atas kelalaian kami, bukan bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak kami lakukan.”
Cukup—Jari Fally menarik-narik jas seragam Erica, mengisyaratkan bahwa ia mewakili anggotanya yang lain untuk memintanya segera berhenti bicara. Dia tidak sanggup lagi mendengar balasan Pak Edwin. Dia tahu betul guru Fisika itu telah menahan amarah cukup lama. Bisa-bisa mereka akan sungguhan berada dalam masalah bila diteruskan.
“Siapakah orang itu?” Pak Edwin mengambil beberapa langkah, semakin mendekatkan jaraknya dengan anggota tim piket. “Dan kau mau apa setelah menyebutkan namanya?”
Tepat di langkah terakhir Pak Edwin, Widya buru-buru menarik tubuh Fally, memindahkan tubuhnya untuk mereka bertukar tempat. “Erica, apa otakmu terguncang saat kepalamu terhantam tongkat sapu?” Dia bertanya dengan lirih, berbisik-bisik. “Oke, aku tidak sengaja melakukannya, jadi maafkan aku. Sekarang bisakah kau kembali pada dirimu semula? Jangan seperti ini. Aku takut. Ya?”
“Erica,” panggil Pak Edwin. Suaranya terasa bagaikan lapisan es yang bergerak cepat menutupi hamparan laut—dingin, dan kejam.
Erica menepuk lengan Widya dahulu, baru kemudian dia menundukkan kepala dan menyebutkan satu nama. “Giselle.”
“Dia yang melakukannya?”
Erica mengangguk, memantapkan jawabannya tanpa keraguan sedikit pun. Brak..! Seorang gadis di meja terujung bangkit dengan gerakan kasar, membuat kursi yang didudukinya berderit keras, memecah keheningan.
“Beraninya kau melemparkan kesalahan tim piket kalian padaku!” Giselle menyalak galak, memukul meja sambil melotot saat ia bertemu mata dengan Erica. “Tidak tahu malu! Kau bahkan menuduhku tanpa bukti! Dasar—”
“Jika kau tidak mau mengakuinya, lantas buat apa kau melakukannya?” Erica menyela dengan intonasi datar, tidak lantang, juga tidak kasar, tetapi berhasil membuat seisi kelas terpukau dengan keberaniannya. Diam-diam mereka bersorak lirih sambil saling lirik satu sama lain, memprovokasi supaya Giselle semakin kesal.
“Aku tidak melakukan apa pun, sialan!” Sekali lagi, Giselle tanpa sadar memukul meja. Tampak kepalan tangannya gemetar menahan amarah, bukan hanya kepada Erica, tetapi juga kepada teman-temannya dan Pak Edwin yang menatapnya.
“Giselle, cukup. Kau belum diperbolehkan untuk berbicara.” Pak Edwin mengangkat telapak tangannya ke udara, isyarat membungkam suara Giselle. Para siswi yang menyaksikan hal tersebut menghela napas bersamaan, lalu kembali menundukkan kepala dengan khidmat. Mereka tahu betul bagaimana mereka harus patuh saat Pak Edwin mencabut hak berbicara seseorang. Karena kalau sampai berani menentang, risiko yang akan diterima tidaklah lain adalah nilai nol sebesar telur dinosaurus untuk mata pelajaran Fisika sampai satu semester. Itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri; cari mati.
Erica tersenyum puas melihat bagaimana Giselle langsung kembali duduk ke kursinya. Dia amat tahu, jantungnya pasti hampir terjun ke perut.
Pak Edwin membalikkan badan, menghadap kelima anggota tim piket. “Erica, Bapak menghargai jawabanmu. Tetapi dengan sedikit informasi yang kau berikan, Bapak tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa kau benar dan Giselle salah. Jadi setelah kau menyebutkan namanya, kau mau melakukan apa dengan itu?”
“Aku tidak mau melakukan apa-apa. Aku hanya mengatakan yang seharusnya kukatakan. Lagi pula kami memang harus menanggung hukuman karena telah lalai dan membiarkan hal ini terus terjadi.”
Pak Edwin melipat kedua tangannya ke dada, lalu mengambil satu langkahnya sambil berkata, “Kalau begitu, pegang ucapanmu dan jangan biarkan hal seperti ini terulang lagi ke depannya. Jika tidak, maka tidak ada gunanya kau menyebut nama Giselle.”
“Baik, pak.” Erica mengangguk, kemudian membungkukkan badan diikuti oleh keempat anggota tim piketnya.
“Sekarang, pergilah kalian ke gudang 2X di lantai tiga.” Pak Edwin yang saat itu sudah tidak lagi menyebarkan atmosfer menegangkan akhirnya mulai dapat bersikap layaknya seorang guru. Dia membuka tas jinjingnya, lalu mengeluarkan setumpuk lembar kertas berwarna putih yang sepertinya adalah latihan soal Fisika. Sembari dia menyortir lembar kertas tersebut menjadi tiga tingkat kesulitan, dia melanjutkan ucapannya. “Hukuman kalian adalah mengumpulkan bola-bola kasti yang telah rusak lalu membawanya ke belakang gedung sekolah. Letakkan saja di sana, biar petugas kebersihan yang membakarnya.”
Tersebut nama gudang 2X, para siswi yang mendengarnya secara spontan mengangkat kepala, kemudian membeku selama beberapa saat. Pikir mereka mungkin salah dengar, tetapi gadis di sebelah dan di belakang mereka juga bereaksi serupa. Ah, tidak salah lagi, sudah pasti gudang menyeramkan itu. Mereka bergidik ngeri, tahu-tahu saja udara dingin berembus di belakang leher dan menjalarkan sensasi merinding di seluruh permukaan kulit. Kelima anggota tim piket yang dibebani hukuman mengerikan itu juga saling bersitatap satu sama lain, menegak ludah.
“Ada pertanyaan?” Pak Edwin bertanya dengan nada hangat, yang kemudian secepat kilat langsung disambut oleh lima tangan terangkat.
“Um, bagaimana dengan hukuman lainnya, pak?” Kali ini Vira yang membuka mulut mewakili tim.
Tanpa menoleh pada kelima gadis tersebut, Pak Edwin menanggapi dengan santai. “Kebetulan pekan kemarin Kantor Pendidikan telah menetapkan Program Literasi bukan hanya untuk anggota klub sastra, tetapi mulai berlaku juga bagi semua siswi. Jadi kami membutuhkan stok buku lebih banyak. Kalian ingin membantu menata buku-buku ke dalam rak? Kebetulan sejak seminggu lalu pekerjaan itu belum juga selesai.”
Belum keluar suara Fally, Vira dan Widya untuk menjawab, Erica lebih dulu mengangkat tangan sambil berkata, “Tidak, kami akan mengambil hukuman yang pertama.”
Widya di sebelahnya langsung menyikut lengan Erica, berbisik tentang gudang itu sudah lama ditelantarkan. Ada hantu wanita yang merangkak terbalik dan mengejar siapa saja yang nekat memasukinya. “Kau bukan kucing, Erica. Kalau kau mati sekarang, kau tidak bisa terlahir kembali. Kau cuma punya satu nyawa, jadi sayangilah dirimu lebih banyak, oke?”
Erica menoleh pada gadis berambut pendek itu, memasang wajah datar seakan berkata, Apa, sih?
Fally ikut menyahut, “Kau, kan sudah dengar ceritanya di Permainan Kelompok Asrama. Apa kau masih berpikir itu hanya rumor belaka?”
Erica menganggukan kepala dengan mantap, yakin sepenuhnya bahwa cerita itu hanyalah rumor yang dilebih-lebihkan. Meskipun dia sudah banyak mendengar dari pengalaman beberapa gadis yang mengalaminya, dia tetap tidak bisa percaya dengan mudah. Dia sangat mempercayai hal-hal yang dapat dijelaskan secara logis, jadi pikirnya pasti ada campur tangan manusia dalam cerita gudang itu. Mulut manusia juga berperan penting dalam menyebarkan cerita, entah bumbu apa yang selalu ditambahkan setiap kali berganti pendengar.
“Omong-omong, Erica, sepertinya hari ini kau kelihatan lebih mencolok.” Pak Edwin kembali menatap kelima anggota tim piket setelah ia menyerahkan lembar latihan soal tersebut kepada ketua kelas untuk dibagikan kepada teman-temannya. “Kau tidak merasa bersalah telah membuat tim piketmu menerima hukuman?”
“Tidak.” Jawaban singkat yang dikeluarkannya dengan percaya diri dan senyum penuh ketulusan, sukses membuat keempat anggotanya menoleh serempak. “Kita semua (tim piket) tahu bahwa selama ini Irene tidak melakukan apa pun untuk mengacaukan kelas, tapi dia selalu mengaku kalau dialah yang melakukannya. Itu karena dia tidak menginginkan siapa pun terseret ke dalam masalahnya.”
Erica merasakan jari-jarinya digenggam oleh seseorang. Tak lain dan tak bukan itu adalah Irene yang sedang mencoba menghentikannya berbicara.
“Masalah apa yang kau maksud? Kenapa kali ini kau membawa nama Irene?” Pak Edwin kembali melontarkan pertanyaan, tampak mulai tertarik untuk mengetahui seberapa rumit masalah yang mulanya terlihat sederhana itu.
“Karena semua ini ada hubungannya dengan Giselle.”
“Giselle?”
Fally, Widya, dan Vira kompak bereaksi menutup mulut, lalu bertepuk tangan tanpa suara. Mereka kagum akan tindakan berani Erica yang memanfaatkan situasi untuk angkat suara. Padahal selama ini Karina selaku ketua kelas selalu menahan diri untuk tidak melakukannya. Dia berpikir bahwa terlalu buru-buru akan berimbas lebih banyak kepada Irene, maka itu dia merasa harus mempertimbangkan seribu langkah untuk ke depannya. Namun siapa sangka, Erica akan mengambil risiko besar itu semata-mata demi membebaskan sobatnya dari belenggu kesalahan yang tak pernah diperbuatnya.
“Apa yang dia lakukan padanya?” Pak Edwin yang tadinya berniat duduk di kursi langsung mengurungkan niat. Dia memilih bangkit dan bersandar pada bagian pinggir meja untuk mendengarkan.
“Jangan mengatakan omong kosong! Jaga mulutmu, Erica!” Tiba-tiba dari arah meja terujung, Giselle meledakkan suaranya dengan lantang, seolah membelah udara yang tengah bertiup dengan damai.
“Erica, apa kau tipe orang yang membuat orang bertanya dua kali?” Intonasi suara Pak Edwin meningkat drastis. Wajahnya tampak tidak bersahabat oleh otot-otot lehernya yang menegang, tak sabaran menunggu jawaban.
“Proyek individu, praktikum optika lensa cembung. Giselle meminta Irene untuk mengerjakannya.”
Padahal hanya dua kalimat pendek yang keluar dari mulut Erica, namun gaungnya seolah menyapu ruang kelas seperti badai besar. Anggota tim piket yang berdiri di sampingnya masih menundukkan kepala, berpikir bahwa lebih aman bila berpura-pura tak mendengar. Sementara itu, teman-temannya yang duduk di kursi masing-masing juga hanya diam membisu tanpa bereaksi apa-apa, menahan napas seolah memusatkan seluruh perhatian kepada dua gadis yang sedang saling bersitatap itu.
Di tengah ketegangan, hanya satu orang yang tampak benar-benar tersulut amarah; Pak Edwin. Wajahnya menggelap oleh bayangan tak kasat mata, membuat tulang pipinya tampak makin mengeras. Semua orang tahu, tidak ada yang lebih dibencinya daripada siswi yang mencoba mengakali aturan untuk keuntungan pribadi, apalagi semata-mata demi nilai. Baginya, kecurangan adalah noda yang pantang dimaafkan. Reputasinya sebagai guru garang dan kejam sudah lama beredar—ia bukan hanya tak segan menegur di depan umum, tetapi juga dapat dengan mudah menjatuhkan poin minus tertinggi, serta mempermalukan pelanggar aturan supaya dapat terus diingat.
“Sial, kau, Erica! Aku tidak melakukannya!” Giselle bangkit dengan gerakan kasar, mengentakkan kakinya ke lantai. Dia mengepalkan tangannya dengan geram, menahan diri karena tidak bisa memukul meja seperti sebelumnya—Pak Edwin tidak menyukai tindakannya.
“Ya, aku memang bilang Irene yang mengerjakannya, bukan kau.”
“Erica! Kukatakan sekali lagi untuk jangan mengatakan omong kosong! Kau—”
“Boneka akrilik berbentuk paus biru, kan?”
“Apa?”
Erica melipat kedua tangannya ke dada, memasang seringai tipis di sudut bibirnya. “Benda yang kau gunakan dalam praktikum. Boneka akrilik berbentuk paus biru. Aku mengetahuinya karena aku ada di sana saat Irene mengerjakannya. Ah, tidak. Lebih tepatnya aku tahu karena aku adalah yang paling mengenal Irene. Dia sangat menyukai paus biru.”
Diam-diam, para gadis yang sedari awal duduk di kursi bersorak, “Huuuu~” dengan lirih, memprovokasi seolah menyertakan diri berada di barisan Erica.
Pak Edwin menatap sang ketua kelas, segera Karina pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi menghampiri Giselle. Tanpa berbicara apa-apa atau mengucapkan kata ‘permisi’ dengan gestur tubuh, dia langsung bergerak merogoh kolong mejanya, mengambil berkas laporan praktikum. Mulanya Giselle ingin menarik paksa benda tersebut dari tangan Karina, namun akhirnya pasrah saja karena dari kejauhan ia melihat Pak Edwin sudah memasang mata tajam ke arahnya.
“Irene.” Nada suara Pak Edwin terdengar dalam, selaras dengan semburat gelap di wajahnya. Kini berkas laporan yang tadi diambil Karina telah berpindah tangan ke tangannya. Dia hanya menatap sekilas, lalu mengangkat kepalanya karena merasa waktu telah berlalu cukup lama setelah ia memanggil nama Irene tetapi tak kunjung juga mendapatkan respons.
Irene mengambil dua langkah maju ke depan, berdiri berdampingan dengan Erica.
“Sekarang, katakan semua yang kau tahu.”
“....?” Irene yang biasanya cepat tanggap saat berhadapan dengan lawan bicaranya, kini secara langka hanya membalas dengan mulut terbuka. Dia menoleh ke seluruh teman sekelasnya, termasuk Karina yang baru saja kembali ke kursinya. Mereka semua tak mengatakan apa-apa, hanya diam menatapnya dengan pandangan sama. Kemudian ia pun menoleh pada Erica, meminta tangannya digenggam untuk dituntun ke mana ia harus berjalan. Saat ini ia sedang kebingungan. Jantungnya berdetak lebih cepat karena otaknya masih memproses jawaban dengan keras.
“Irene,”
Bahu Irene tersentak, kepalang panik saat mendengar Pak Edwin memanggil namanya sekali lagi.
Seperti seorang anak kecil yang terpisah dari genggaman tangan ibunya, tanpa sadar berakhir di suatu tempat ramai yang asing. Dia tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa memutuskan mana jawaban yang tepat antara ia harus pergi mencari ibunya atau duduk diam di sana sampai ibunya datang mencari. Bukan warna hitam atau putih yang dilihatnya, melainkan rona abu-abu samar yang tak berarti. Ketidakpastian membuatnya bingung. Maka satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah terus berharap seseorang akan menghampirinya dan bertanya. Pada saat itu tiba, anak kecil itu akhirnya dapat tersenyum, menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Ada seseorang di sebelahnya, yang kemudian menuntun tangannya keluar dari keramaian. Perasaannya membuncah hebat sampai-sampai tak bisa diungkapkan melalui lisan, tak sadar air menetes dari matanya. Dia sangat gembira saat melihat cahaya di ujung lorong. Kini akhirnya dia bisa melihat warna sesungguhnya, jawaban atas rasa bimbangnya.
Irene melirik lagi pada Pak Edwin, tampak pria tua itu juga sedang menatapnya, dengan dingin. Maka sekali lagi ia pun menoleh pada Erica, dan kali kedua itu ia akhirnya mendapatkan satu anggukan kepala beserta senyum hangat khasnya. Dengan ini cukup sudah baginya untuk memiliki keberanian membuka mulut. Dia mulai menjelaskan, “Jarak benda (boneka akrilik paus) (do) \= 45,0 cm. Jarak bayangan (di) \= 22,5 cm. Masukkan ke dalam rumus fokus lensa, yaitu 1 per f \= 0.0222 + 0.0444, hasilnya 0.0666 per cm. Maka f \= 1 per 0.0666, hasilnya 15 cm. Kemudian terakhir hitung pembesarannya, m \= minus di per do. Jadi minus 22,5 per 45,0 \= -0,5. Artinya bayangan terbalik dan lebih kecil (setengah ukuran) dari bentuk aslinya.”