Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah insiden tabrakan bibir itu ,Arka dan Aruna menjadi benar-benar canggung. Bahkan saking canggungnya, kedua manusia asing yang di paksakan bersama itu memilih untuk di kamar masing-masing, rumah yang cukup besar itu tampak begitu sepi dan seolah tak berpenghuni.
“Sial, mau minta maaf aja susah.“Gerutu Arka seraya menghela nafas panjang dan meraup wajahnya frustasi. Dia sudah mendapatkan pencerahan dari sahabatnya, Ari. Terlihat sekilas mudah memang. Tapi untuk di lakukan kenapa terasa sulit sekali.
Tunggu... Bukankah Arka dan Aruna suami istri? Dan seharusnya hanya sekedar ciuman saja bukanlah sebuah masalah besar, bukan? Tapi kan...
“ARGHHHHHHH... Kenapa seribet ini sih.“Tukasnya seraya berdiri dari atas ranjang, tubuhnya membatu di dekat pintu keluar. Menimbang antara keluar dan minta maaf atau tetap di dalam kamar dan menjadi pengecut. Ck!!!
Dan pada akhirnya Arka pun keluar, meski masih bingung dengan seperti apa kalimat yang akan ia sampaikan.
“Run, saya minta maaf.“Ucapnya, namun beberapa detik kemudian kepalanya menggeleng keras, Arka merasa kalimat itu klasik.
“Run, saya tahu tindakan saya__Arggghhh..“Dia berteriak frustasi, rasa-rasanya tidak ada kalimat yang terasa pantas dan kedua bola matanya membesar dan seakan mau keluar begitu saja, tatkala ia menangkap sosok Aruna yang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas lutut saja, rambut panjangnya yang tergerai dan setengah basah, lalu bagian leher ke bawah dan menampilkan kulitnya yang putih bersih serta mulus, belum lagi kakinya yang juga terawat..ckk
Arka menelan ludahnya kesusahan dengan tatapan mata yang masih membingkai keindahan sang istri yang untuk pertama kalinya terekspos di depan matanya.
PLUKKKK
Pria itu meringis nyeri tatkala sebuah pukulan di layangkan oleh wanita di depannya yang kini menatapnya tajam.
“Mas Arka, ngapain ke kamar aku???.“Tanyanya, sepasang tangan itu sudah dengan sempurna menyilang di depan dadanya dan seolah melindungi sepasang benda kembar yang sejak tadi mencuri perhatian Arka.
Seketika wajah Arka menjadi blusing dan rasa gugup itu kembali di rasakannya.
Malam-malam, berada di tempat yang cukup dan hanya berdua dengan istrinya.. astaga, bisa-bisanya otaknya yang bersih dan suci ini harus tercemar, ohhh.
“Keluar mas!!.“Sentak Aruna dan kini sudah mendorong tubuh Arka yang sebesar gapura kabupaten itu, tentu saja tidak seimbang dan tidak akan bisa, logisnya tubuh sekecil tutup botol yakult vs. Gapura kabupaten dan pada akhirnya Aruna pun harus terpekik tatkala tubuhnya terdorong ke depan dan berakhir di atas tubuh Arka.
Untuk sesaat, udara di sekitar mereka terasa begitu kosong, waktu seakan berhenti dan keduanya sama-sama terdiam dengan saling memandang, menyelami tatapan masing-masing.
Jantung mereka jangan tanya bagaimana keadaannya, sebab hanya terdengar berdebar cukup kencang dan hampir-hampir meledak mungkin, kedua pipi mereka menghangat dan ada rona kemerah-merahan di sana.
Mereka tidak saling bicara dan tidak saling berkata apapun, tahu-tahu keduanya sudah saling mendekatkan wajah mereka__dan terjadi kejadian yang sempat membuatnya gugup. Yaitu pertemuan kedua bibir mereka, kali ini bukan hanya sebuah kecupan saja, tetapi saling mengeksplor dan saling merasai denga segenap perasaan dan rasa penasaran mungkin.
****
Keduanya sama-sama memunggungi, sama-sama menarik nafas berkali-kali dan sama-sama tidam tahu harus mengatakan apa.
Kejadiannya begitu cepat, suasana mendukung dan keduanya sama-sama tidak bisa mengontrol dirinya. Untuk yang kedua, harus di akui bukan hanya salah Arka saja, tetapi ada Aruna yang ikut andil juga.
“Mas Arka.“
“Aruna.“
Keduanya sama-sama saling memanggil dan sama-sama merasakan kecanggungan hingga membuat mereka terkekeuh geli setelahnya.
“Mas Arka duluan.“
“Ladies firts.“
Sebelum mengatakannya, Aruna menghela nafasnya panjang.
“Eum soal tadi “Ucapnya seraya tertunduk, kedua tangannya saling tertaut erat di atas pangkuan, dan wajahnya sumpah demi apapun masih terasa panas, tentu bukan karena efek dia demam, lebih ke malu dan gugup bercampur menjadi satu sih.
“Lupakan aja, tadi khilaf.“Ujarnya seraya mengeratkan tangannya pada pakaian yang di pakainya. Aruna merutuki sikapnya yang sempat hilang arah itu, bisa-bisanya dia terbuai oleh situasi dan malah beradu bibir dengan Arka__ya, Aruna mengakui kalau tadi itu cukup berkesan, apalagi ternyata Arka jago sekali untuk membuat suasana hidup dan dirinya semakin hilang arah, namun Aruna juga mengakui kalau itu kesalahan nikmat yang ia lakukan di hidupnya.
Arka terkekeuh sinis”Lupakan?.“Ulangnya, dan di saat itulah Aruna mengangkat wajahnya lalu mata mereka saling beradu pandang untuk beberapa detik, karena beberapa detik kemudian Aruna menyudahi tatapan itu.
“Bukan cuman saya yang mau, kamu juga Aruna.“Ujar Arka mengingatkan dan seolah memukul telak rasa malu pada dirinya.
Memang Aruna sialan, dia benar-benar hilang arah, padahal jelas pernikahan ini hanya sementara dan ia terbuai untuk berciuman dengan suaminya, arghhh kini bibirnya sudah tidak perawan lagi.
Aruna menggelengkan kepalanya”Iya, anggap saja karena suasana yang mendukung.“Cetusnya, hati Arka seakan terluka entah karena apa, ucapan Aruna terasa menyinggungnya.
“Oh ya?.“
“Iya mas dan untuk ke depannya ada baiknya jika Mas Arka tidak sembarangan masuk ke kamar ini.“
“Kamar yang kamu sebut adalah kamar saya!.“Tekan Arka seolah mengingatkan kalau Aruna hanya numpang di rumahnya.
Aruna mengulas senyumnya getir”Memang, tapi perjanjian kita__.“
“Aruna, saya bisa tambahkan uang bulanan jika...“Lidah Arka terasa kelu untuk mengatakannya bersamaan dengan irama jantungnya yang meningkat pesat, sesuatu terasa menggelitik dan membuat hormon yang selama ini di tahannya terasa mulai muncul dan mulai membesar seiring Arka melihat Aruna mondar-mandir di rumah ini, c'mon Arka pria normal bagaimana pun, dan jelas keberadaan Aruna di rumah ini adalab sebuah ujian yang pada akhirnya membuat tembok yang di bangunnya mulai runtuh.
“Jika kita melakukan hal itu lagi.“Pada akhirnya Arka memutuskan untuk merobohkan tembok itu lagi, dia memang penjilat ulung. Ah salahkan saja bibir Aruna yang terasa nikmat dan membuatnya candu huh.
“Tapi pernikahan kita hanya dua tahun dan perjanjian itu...“Ucap Aruna seakan mengingatkan apa yang pernah Arka katakan padanya.
“Memang dan untuk itulah saya berani bayar kamu lebih.“
Aruna membelalak tak percaya”Kenapa mas Arka berubah?.“Tanya Aruna penasaran.
“Manusia seringkali berubah, Aruna.“
“Mas Arka, kita ini__.“
“Kamu istri saya Aruna, bagaimana pun.“
Kepala Aruna menggeleng”Sementara Mas Arka.“Tekannya seolah menyentil kepingan-kepingan yang mulai goyah itu, tanpa di duga dalam beberapa detik kemudian, entah bagaimana caranya yang jelas Aruna sudah berada di dalam dekapan Arka dan di kuasai sepenuhnya oleh pria itu.
Jarak mereka begitu dekat sekali, sampai-sampai keduanya sama-sama bisa menghirup aroma nafas masing-masing, tatapan Arka lekat dan jelas ada sesuatu yang berbeda di sana, senyum kecil terlihat di bibirnya.
Dan lagi bibir itu mendarat di bibir Aruna begitu saja. Yang lebih anehnya Aruna sama sekali tidak menghindar dan malah mengikuti arus yang Arka ciptakan.