Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Embun di pucuk salsabila
Pagi pertama setelah badai besar itu berlalu terasa begitu asing namun menenangkan. Sinar matahari merayap masuk melalui celah-celah jendela jati ndalem, menyentuh lantai marmer yang kini bersih dari debu perselisihan. Pesantren Al-Husayn kini telah resmi bertransformasi menjadi Pesantren Salsabila. Nama itu bukan sekadar papan nama baru di gerbang depan, melainkan sebuah janji akan kesucian dan kejujuran yang baru saja ditegakkan.
Aira terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di sampingnya, sisi tempat tidur sudah kosong, namun ia bisa mencium aroma kayu cendana yang tertinggal di bantal—arama khas Ghibran. Ia tersenyum kecil, sebuah lengkungan bibir yang tulus, yang sudah lama tidak ia miliki. Rasa takut akan dosa besar yang kemarin menghantuinya kini telah sirna, digantikan oleh kehangatan yang perlahan mulai menyusup ke palung hatinya.
Saat ia turun ke lantai bawah, ia menemukan Ghibran sedang berdiri di depan beranda, menatap para santri yang mulai beraktivitas kembali. Ghibran tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya kemeja katun biru langit dengan lengan yang digulung hingga siku. Sosoknya yang dulu selalu tampak seperti gunung es yang angkuh, kini terlihat lebih manusiawi di mata Aira.
"Sudah bangun?" tanya Ghibran tanpa menoleh, seolah ia memiliki indra keenam untuk merasakan kehadiran Aira.
"Iya, Kak," sahut Aira pelan sambil berjalan mendekat. "Kenapa tidak membangunkanku? Aku seharusnya menyiapkan sarapan."
Ghibran berbalik, menatap Aira dengan pandangan yang tidak lagi dingin. Ada binar lembut yang mulai menetap di sana. "Kamu butuh istirahat, Aira. Lagipula, Azka sudah membawakan sarapan dari dapur pusat. Hari ini adalah hari pertama transisi kepengurusan. Aku ingin kamu santai sejenak sebelum kita mulai membedah administrasi yayasan."
Aira berdiri di samping Ghibran, ikut menatap halaman pesantren. "Terasa berbeda ya, Kak? Seperti udaranya lebih bersih."
"Karena tidak ada lagi rahasia yang menyesakkan dada," balas Ghibran singkat namun padat. Ia kemudian melirik ke arah Aira, tangannya bergerak ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menggenggam jemari Aira. "Terima kasih, Salsabila. Terima kasih karena tidak menyerah padaku saat aku hampir menyerah pada diriku sendiri."
Sentuhan itu membuat jantung Aira berdegup dua kali lebih cepat. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia membalas genggaman itu dengan remasan lembut. "Kita melakukannya bersama, Kak."
Rahasia di Balik Tangis Bayi Zivanna
Di tengah suasana yang mulai menghangat, langkah kaki terburu-buru memecah kesunyian. Zivanna datang dengan wajah yang masih sembab, menggendong bayi kecilnya yang sedang tertidur lelap. Sejak Bunda Aminah ditahan, Zivanna memilih untuk tinggal di paviliun belakang, menjauh dari ingar-bingar konflik utama.
"Mbak Aira... Mas Ghibran..." panggil Zivanna lirih.
Aira segera menghampiri adik angkatnya—yang kini ia ketahui sebagai putri kandung Aminah yang malang. "Ada apa, Zivanna? Bayimu sakit?"
Zivanna menggeleng, ia menatap bayinya dengan pandangan yang campur aduk antara cinta dan trauma. "Bunda Aminah... dia mengirim pesan lewat pengacaranya pagi ini. Dia memintaku untuk memberikan bayi ini kepada keluarga Kencana. Dia bilang, pria itu menagih janjinya."
Ghibran mengerutkan kening, aura otoritasnya kembali muncul. "Keluarga Kencana? Pria yang mana?"
Zivanna menarik napas panjang, ia tampak sangat ketakutan. "Bayi ini... dia bukan anak dari hubungan gelap Bunda dengan asatidz seperti yang dikira orang-orang. Bunda Aminah membohongi semua orang. Bayi ini adalah anak hasil kesepakatan Bunda dengan Abrisam."
Aira terkesiap. "Maksudmu, Abrisam adalah ayah dari bayimu?"
"Bukan, Mbak," Zivanna menunduk, air matanya jatuh. "Abrisam hanyalah perantara. Bunda Aminah sengaja 'menjual' kesuburanku kepada seorang pengusaha dari keluarga Kencana yang tidak bisa memiliki keturunan. Pria itu adalah donatur terbesar butik Bunda. Bayi ini... dia adalah hasil dari prosedur medis yang dipaksakan padaku setahun lalu. Bunda Aminah menggunakan rahimku sebagai jaminan agar butiknya tidak bangkrut dan hutangnya pada Abrisam lunas."
Dunia seolah berhenti sejenak bagi Aira. Ia tidak menyangka kekejaman Aminah bisa mencapai tingkat serendah itu. Menjadikan anak kandungnya sendiri sebagai mesin penghasil bayi demi melunasi hutang dan ambisi bisnis.
"Jadi, Abrisam membantu Bunda Aminah bukan cuma karena ingin menguasai pesantren, tapi karena dia yang mengatur 'transaksi' bayi ini?" tanya Ghibran dengan suara yang bergetar karena geram.
"Iya, Mas," tangis Zivanna pecah. "Sekarang pria itu menuntut bayinya. Aku tidak mau kehilangan dia, Mbak. Meski dia lahir dari cara yang menyakitkan, dia tetap anakku."
Aira langsung memeluk Zivanna dengan erat. "Tidak akan, Zivanna. Tidak ada yang akan mengambil bayi ini darimu. Kak Ghibran akan melindungimu."
Ghibran mengangguk mantap. "Azka! Hubungi tim hukum kita. Batalkan semua perjanjian yang dibuat Aminah atas nama Zivanna. Jika pria Kencana itu berani menginjakkan kaki di Salsabila, dia akan berurusan dengan hukum perdagangan manusia."
Percikan yang Mulai Membara
Sore harinya, setelah urusan Zivanna mulai ditangani oleh tim hukum, Ghibran mengajak Aira untuk berjalan-jalan di area perkebunan jati yang terletak di belakang pesantren. Ini adalah momen pertama mereka benar-benar berdua tanpa ada gangguan dari staf atau santri.
Jalanan setapak itu tertutup oleh guguran daun kering yang berderik setiap kali diinjak. Cahaya matahari senja yang berwarna keemasan menyusup di antara batang-batang pohon yang menjulang tinggi, menciptakan pemandangan yang sangat puitis.
"Dulu, Azlan sering membawaku ke sini," ujar Aira pelan, mencoba mengenang adiknya tanpa rasa sakit yang terlalu dalam.
"Azlan tahu tempat-tempat yang indah," sahut Ghibran. Ia berhenti melangkah dan berbalik menghadap Aira. "Tapi dia tidak pernah tahu satu hal."
"Apa itu, Kak?"
"Dia tidak pernah tahu bahwa setiap kali dia membicarakanmu di depanku dengan mata yang berbinar, aku selalu merasakan sesak yang aneh di dada ini," aku Ghibran jujur. "Dulu aku menyebutnya sebagai rasa tidak suka karena dia terlalu sibuk mengurus cinta daripada pesantren. Tapi sekarang aku sadar... itu adalah rasa cemburu."
Aira terpaku. Ia tidak menyangka Ghibran akan berbicara seblak-blakan itu. "Cemburu? Sejak kapan?"
Ghibran melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Aira bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau tanah segar. "Sejak pertama kali aku melihatmu menggambar pola di perpustakaan lama, bertahun-tahun yang lalu. Saat itu kamu masih sangat muda, tapi caramu menatap mimpimu membuatku terpaku. Tapi aku menahannya karena kamu adalah tunangan adikku."
Tangan Ghibran terangkat, jemarinya yang panjang mengelus pipi Aira dengan sangat lembut, seolah Aira adalah porselen yang bisa retak kapan saja. "Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi. Tidak ada Azlan, tidak ada rahasia nasab. Hanya ada aku, suamimu, dan kamu, istriku."
Aira merasa lututnya lemas. Tatapan Ghibran begitu intens, seolah ingin menelan seluruh keberadaannya ke dalam binar hitam matanya. Perlahan, Aira memberanikan diri menyentuh dada Ghibran, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup kencang—sama kencangnya dengan miliknya.
"Aku juga merasakannya, Kak," bisik Aira hampir tak terdengar. "Rasa aman ini... rasa ingin selalu berada di sampingmu. Aku pikir itu hanya karena aku butuh perlindungan. Tapi ternyata, aku memang sudah menjatuhkan hatiku pada pelindungku sendiri."
Ghibran tersenyum—sebuah senyum yang benar-benar sampai ke matanya. Ia menundukkan kepalanya perlahan, memberikan ruang bagi Aira untuk menghindar jika ia belum siap. Namun, Aira justru memejamkan mata, menyambut kehadiran Ghibran.
Ciuman pertama itu mendarat di kening Aira, sangat lama dan penuh takzim. Sebuah ciuman yang menandakan kepemilikan, penghormatan, dan cinta yang baru saja mekar di antara puing-puing penderitaan.
Di bawah naungan pohon jati yang saksi bisu masa kecil mereka, Ghibran dan Aira mulai menulis naskah kehidupan mereka sendiri. Naskah yang tidak lagi didikte oleh ambisi orang tua, melainkan oleh debaran jantung yang saling bersambut.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂