NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAb 31

Panas menyengat seperti hendak membakar kulit. Asap hitam pekat memenuhi udara, membuat siapa pun yang menghirupnya seakan kehilangan napas dalam hitungan detik. Suara retakan besi, kaca pecah, dan benda-benda runtuh saling bersahutan, menciptakan simfoni mengerikan di tengah kobaran api yang semakin menggila.

Di sudut lantai itu, di antara kepulan asap yang menggantung rendah, dua tubuh terbaring lemah.

"Evelyn…"

Suara itu terdengar serak, nyaris tenggelam oleh kekacauan.

Enzo berlutut di samping mereka, wajahnya dipenuhi debu dan keringat. Tangannya yang biasanya tegas kini bergetar saat menyentuh pipi Evelyn.

"Evelyn, bangun…" ucapnya, menepuk pelan, lalu sedikit lebih keras.

Tak ada respon.

Matanya beralih ke Azzura yang terbaring di sisi lain, tubuh kecil itu tampak begitu rapuh di tengah situasi mengerikan ini.

"Azzura… hey, bangun…"

Nihil.

Kedua wanita beda usia itu tidak bergerak sama sekali. Nafas mereka masih ada, namun lemah, nyaris tak terasa, namun kesadaran mereka hilang, terenggut oleh asap tebal yang memenuhi paru-paru.

Rahang Enzo mengeras.

"Sial…!" desisnya, kali ini suaranya dipenuhi kepanikan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

Waktu mereka tidak banyak.

Api sudah mulai merambat lebih dekat. Panasnya semakin menjadi, bahkan lantai di bawah mereka terasa mulai memanas.

"Joe!" teriak Enzo.

Pria itu segera muncul dari balik asap, wajahnya juga tak kalah tegang.

"Ya, Tuan!"

"Joe, kau gendong Azzura. Aku akan menggendong Evelyn," perintah Enzo tanpa ragu.

"Baik, Tuan."

Dengan sigap, Joe berlutut dan dengan hati-hati mengambil tubuh kecil Azzura dari pelukan Evelyn. Ia menggendongnya erat, memastikan kepala gadis kecil itu bersandar aman di bahunya.

Tubuh Azzura terasa ringan… membuat dada Joe ikut sesak.

Sementara itu, Enzo menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Evelyn, dan satu lagi menopang punggungnya. Ia mengangkat tubuh wanita itu dengan penuh kehati-hatian, seolah membawa sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Kepala Evelyn terkulai lemah di bahunya.

"Evelyn… bertahanlah…" bisiknya lirih.

Tak ada jawaban. Namun Enzo tidak menyerah.

"Ikuti aku!" katanya tegas pada Joe.

Mereka mulai bergerak. Langkah demi langkah terasa seperti melawan neraka itu sendiri.

Asap semakin tebal, membuat pandangan mereka terbatas. Mata perih, tenggorokan terbakar, dan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup bara api.

"Tuan, jalur utama sudah tertutup!" teriak Joe ketika melihat lorong di depan dipenuhi api.

Enzo mengumpat pelan, matanya bergerak cepat mencari alternatif. Di sisi kanan, ada lorong sempit namun terlihat gelap, penuh asap, tapi belum sepenuhnya dilalap api.

"Kita lewat sana!" putusnya.

Mereka berbelok. Langkah mereka semakin cepat, meski tubuh mereka mulai melemah.

Tiba-tiba—

KRAAAK!

Sebuah balok besar jatuh di belakang mereka, menutup jalur yang baru saja mereka lewati.

Joe refleks menoleh, napasnya tercekat. "Kita hampir terjebak, Tuan…"

Enzo tidak menjawab. Fokusnya hanya satu, yaitu mereka harus kekuar, bagaimanapun caranya.

Panas semakin menjadi. Keringat bercampur debu menempel di wajah mereka. Pakaian mereka mulai terasa lembap oleh suhu ekstrem.

"Eugh…" Evelyn mengerang pelan di pelukan Enzo.

Langkah Enzo langsung terhenti sesaat.

"Evelyn?" panggilnya cepat.

Namun wanita itu kembali terdiam.

Hanya reaksi sesaat.

Tapi itu cukup membuat hati Enzo berdegup lebih kencang. "Sedikit lagi… kita hampir keluar…" gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

Di depan mereka, samar-samar terlihat cahaya.

Pintu darurat.

Harapan.

Namun jalan menuju ke sana tidak mudah. Api mulai merambat dari sisi kiri, memaksa mereka untuk berjalan lebih dekat ke dinding kanan. Asap di area itu lebih tebal, membuat Joe mulai terbatuk hebat.

"Tuan… aku…"

"Jangan berhenti!" potong Enzo tegas. "Fokus ke pintu!"

Joe mengangguk, meski penglihatannya mulai kabur. Beberapa langkah lagi…Hanya beberapa langkah lagi. Namun, tiba-tiba, bagian plafon di depan mereka mulai runtuh.

BRUKK!

Debu dan percikan api berjatuhan, hampir menghalangi jalan terakhir mereka. Enzo refleks memutar tubuhnya, melindungi Evelyn dari serpihan yang jatuh. Punggungnya terkena beberapa pecahan kecil, namun ia tidak peduli.

"Joe, cepat!" teriaknya.

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berdua menerobos celah sempit yang masih tersisa.

Dan akhirnya, mereka bisa keluar.

Udara segar langsung menghantam wajah mereka, meski bercampur dengan bau asap dari luar. Suara sirine, teriakan petugas, dan kerumunan orang terdengar begitu jelas.

Enzo langsung berlutut, masih memeluk Evelyn.

"Tim medis! Cepat!" teriaknya lantang.

Beberapa petugas segera berlari mendekat, mengambil alih Azzura dari gendongan Joe dan membantu membawa Evelyn ke tandu.

Namun sebelum mereka benar-benar menjauh, tangan Enzo masih menggenggam tangan Evelyn erat. Seolah takut… jika ia melepaskannya, wanita itu akan pergi untuk selamanya.

"Evelyn… kau tidak boleh kenapa-kenapa…" bisiknya pelan, suaranya serak, penuh emosi yang selama ini ia sembunyikan.

Di tengah kekacauan malam itu, di bawah langit yang dipenuhi asap dan cahaya api Enzo terlihat begitu rapuh. Dan satu hal yang pasti—Ia tidak akan membiarkan Evelyn pergi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Telepon itu jatuh dari genggaman Vega.

Suara di seberang tadi masih terngiang jelas di telinganya, tentang kebakaran hebat yang melanda mall tempat Evelyn dan Azzura berada. Seketika wajahnya memucat, tubuhnya membeku di tempat seolah darahnya berhenti mengalir.

"Ada apa, Ma?" tanya Adi, suaminya panik saat melihat perubahan drastis pada raut wajah Vega.

Vega menoleh perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya suara itu pecah juga.

"Ma… mall… mall tempat Evelyn… kebakaran…" ucapnya terbata.

"APA?" Suaminya langsung berdiri dari kursi, jantungnya seakan dihantam keras. "Evelyn sama Azzura masih di sana?!"

Vega mengangguk cepat, air matanya kini tak terbendung lagi.

"Mereka belum pulang… tadi bilang mau jalan sebentar…" suaranya melemah, nyaris hilang ditelan rasa takut yang mendadak menyerang.

Suasana rumah yang tadinya tenang berubah menjadi mencekam. Detik terasa berjalan begitu lambat, sementara bayangan-bayangan buruk mulai memenuhi pikiran keduanya.

"Telepon Evelyn! Sekarang!" perintah Adi dengan suara bergetar, berusaha tetap tegar meski panik jelas terpancar dari matanya.

Dengan tangan gemetar, Vega mencoba menghubungi putrinya. Sekali… dua kali… tiga kali…

Tidak ada jawaban.

Setiap nada sambung yang tak terangkat terasa seperti pukulan yang menghancurkan harapan.

"Angkat, Eve… angkat, Nak…" lirih Vega sambil menggigit bibirnya, seolah menahan tangis yang semakin sulit dibendung.

Namun tetap saja sunyi.

Adi berjalan mondar-mandir, tangannya mengepal kuat. Ia mencoba berpikir jernih, tapi bayangan api, asap tebal, dan orang-orang berlarian terus menghantui pikirannya.

"Kita ke sana sekarang," putusnya tegas.

Vega menatapnya, panik. "Tapi—"

"Tidak ada tapi! Anak kita di sana!" suaranya meninggi, kali ini tak bisa lagi menyembunyikan rasa takutnya sendiri.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung meraih kunci mobil. Vega buru-buru menyusul, masih dengan tangan gemetar dan napas tak beraturan.

Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu menyesakkan. Tidak ada percakapan, hanya suara napas berat dan sesekali isak yang tertahan.

Vega kembali mencoba menelepon. Tetap tidak ada jawaban. Air matanya jatuh lagi.

"Jangan kenapa-kenapa ya, Eve… Azzura…" bisiknya lirih, penuh harap sekaligus ketakutan.

Sementara itu, di kejauhan, langit mulai dipenuhi asap hitam pekat yang membumbung tinggi—menjadi pertanda nyata bahwa bencana itu bukan sekadar kabar.

Dan tanpa mereka sadari, waktu terus berjalan…

menuju sesuatu yang akan mengubah segalanya.

1
Atik Marwati
🧐🧐🧐🧐🧐 bakal seru nich
letslalaviena
KAKKK SUMPAH BAGUSS BGTTT, CINTA BGT SAMA ALUR DAN PENULISAN KATA NYAAA🥹♥️

SEMANGATT TERUSS KAKK UP NYAA!! HEHEE DITUNGGUUU🤍🤍🤍🤍
Atik Marwati
enzo datang🥰🥰🥰
ikeds
uhh tengkyu double upnya😍😍 love sekebon
Atik Marwati
enzo......
ikeds
dan akupun menunggu dan berdoa agar keajaiban terjadi sehingga author cepet double up🤭😍
Atik Marwati
selamat
Atik Marwati
eve sama jula selamat
Iqomah Fahma Ernasanti
bagus.....
deg2an.....
trus nunggu...kpn update lg...
Mita Paramita
akhirnya penyelamat datang 🔥🔥🔥
Atik Marwati
enzo
Mita Paramita
om ganteng tolongin jula 🤣🤣🤣
Atik Marwati
kebakaran....
Atik Marwati
ketemu om danteng pasti seru🤣🤣🤣
Atik Marwati
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Atik Marwati
karena itu Evelyn joe
Atik Marwati
keren....lanjut thor
Atik Marwati
keren thor seneng baca interaksi Enzo sama Evelyn ditambah jula...
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!