Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Berlalu Begitu Cepat...
Satu minggu pertama berlalu lebih cepat dari yang Hana bayangkan. Ia masih sering merasa canggung, masih beberapa kali mengecek wajahnya diam-diam lewat kamera ponsel, dan masih sesekali terdiam terlalu lama saat percakapan ramai terjadi di sekitarnya.
Tetapi setidaknya, tidak ada yang benar-benar buruk. Nisa cukup sering mengajaknya ke kantin. Beberapa teman sekelas mulai saling mengenal nama. Suasana terasa… normal.
Dan bagi Hana, normal adalah sesuatu yang sulit ia dapatkan. Bukan karena ia tidak pernah punya teman.
Justru karena ia pernah merasa terlalu dekat… lalu kehilangan tanpa pernah benar-benar mengerti kapan semuanya berubah.
Pagi itu, mereka disuruh berkumpul di lapangan sekolah, lalu para guru pembimbing masuk dengan membawa beberapa lembar kertas dan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Tidak terlalu serius, tapi juga tidak santai.
“Anak-anak,” ucapnya setelah para murid tenang, “karena pembelajaran kita sudah mulai efektif, maka minggu ini kita mulai kegiatan P5.”
Beberapa siswa langsung bersorak kecil. Ada yang terdengar antusias, ada juga yang langsung mengeluh pelan.
Hana hanya duduk diam. Ia tahu sedikit tentang P5 dari kakaknya, projek kelompok, presentasi, diskusi. Kata kelompok membuat perutnya sedikit menegang.
Bukan karena ia tidak bisa bekerja sama. Tapi karena bekerja dalam kelompok berarti terlalu dekat. Dan terlalu dekat… kadang menyakitkan.
“Tema kita semester ini tentang kewirausahaan berbasis lingkungan,” lanjut guru. “Kalian akan membuat konsep produk sederhana yang ramah lingkungan, lalu dipresentasikan di akhir bulan.”
“Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok empat orang, pembagian akan saya yang tentukan supaya adil.”
Jantung Hana berdetak lebih cepat.
Guru mulai menyebutkan nama satu per satu.
“Kelompok tiga. Eliza, Gio, Hana… dan Arga.”
Untuk sepersekian detik, suara di lapangan seperti menjauh.
Eliza.
Gio.
Nama-nama itu berdiri berdampingan seperti sesuatu yang terlalu familiar. Hana perlahan menoleh. Tetapi Eliza yang duduk di depannya menoleh lebih dulu. Rambut pirangnya jatuh rapi di bahu. Mata cokelatnya tenang, seperti biasa. Tidak canggung. Tidak gelisah.
Gio di sisi seberangnya mengangkat tangan dengan santai. Senyumnya ringan. Senyum yang dulu terasa hanya untuknya. Sekarang biasa saja.
Hana berdiri pelan. Tangannya terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia tidak pernah benar-benar membenci siapa pun. Ia hanya pernah berharap. Tetapi harapan itu… tidak pernah kembali padanya.
Mengapa ia harus sekolompok dengan mereka?
Apakah ini takdir yang lucu?
Ataukah takdir sedang menguji dirinya?
Mereka berkumpul di bangku tengah. Gio yang pertama membuka suara. “Oke, jadi… tim kita lengkap ya. Kenalin gue Gio.” Ia tersenyum lebar, seolah suasana tidak pernah punya sejarah.
“Aku Eliza,” ujar gadis itu lembut. “Berarti sebulan ke depan bakal sering ketemu, mohon bantuannya teman-teman."
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, Hana merasa ada sesuatu yang menekan dadanya.
Dulu, ia yang paling sering berjalan berdampingan dengan Gio. Duduk berdua saat istirahat. Bertukar cerita kecil yang terasa penting.
Lalu perlahan, tanpa penjelasan, jaraknya di antara mereka berubah, dan penyebabnya adalah Eliza yang menjadi penyebab antara perubahan itu.
“Hana,” jawabnya singkat.
Arga duduk tanpa banyak bicara. “Arga.”
Beberapa detik hening tercipta. Hana ingin terlihat biasa saja. Tidak terlalu dingin. Tidak terlalu hangat. Ia sudah belajar, terlalu memperlihatkan perasaan pada orang lain bisa membuatnya mudah digantikan.
Gio menyandarkan siku di meja. “Tema kita adalah kewirausahaan berbasis lingkungan. Kalian kepikiran apa soal itu?"
Eliza berpikir. “Mungkin produk daur ulang?”
“Seperti ide tote bag dari kain bekas ya?” tambah Gio cepat.
Nada mereka terdengar selaras. Hana menunduk sedikit. Ia benci karena masih menyadari hal-hal kecil seperti itu.
Arga angkat suara. “Bukankah itu terlalu umum?”
Nada datarnya membuat suasana berubah fokus. Hana diam-diam bersyukur, karena ada yang menyanggah. Perhatian tidak lagi di antara Gio dan Eliza.
Eliza mengangguk. “Ada saran?”
“Mungkin produk kecil-kecilan, yang efisiensi, hemat, serta bisa diproduksi banyak. Misalnya sabun cuci alami atau lilin aromaterapi dari minyak jelantah.”
“Itu bagus sih,” kata Gio.
Eliza lalu menoleh ke Hana. “Menurut kamu gimana, Hana?”
Pertanyaan itu terasa berbeda. Bukan karena ia takut ditertawakan. Tapi karena Gio juga menatapnya. Tatapan itu tidak berbeda dari biasanya, dan justru itu yang membuatnya ragu untuk menjawab.
Apakah dulu ia hanya salah mengartikan semuanya?
“Aku… setuju yang lilin aromaterapi,” jawabnya akhirnya.
“Kalau dikemas lucu, bisa punya nilai jual.”
Hening sesaat.
Gio tersenyum. “Nah, maka dari itu. Packaging penting banget.”
Nada suaranya tulus. Seolah tak pernah ada jarak. Seolah tak pernah ada perasaan yang tidak sempat diucapkan.
Eliza ikut mengangguk. “Iya, desainnya bisa jadi daya tarik utama.”
Tidak ada sindiran. Tidak ada kecanggungan. Hanya sebuah percakapan biasa, dan itu terasa lebih membingungkan daripada jika mereka bersikap aneh.
Saat bel pulang berbunyi, mereka berjalan keluar kelas. Gio berjalan sedikit di depan, berbicara pada Eliza tentang survei harga bahan. Jarak mereka tidak jauh. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat Hana sadar bahwa ia kini berada di sisi lain.
Ia tidak lagi berjalan di samping Gio.
Ia hanya berjalan bersama.
Perbedaannya tipis. Tapi terasa.
“Eh, gimana kalo nanti kita bikin grup chat aja,” kata Gio.
“Eliza bisa bikin kan?” tambahnya.
“Tentu saja, boleh,” jawab Eliza cepat.
Hana tidak mengatakan apa-apa.
Dulu, mungkin ia yang pertama ditunjuk untuk hal seperti itu. Sekarang, ia memilih diam. Di satu titik, ia melambat sedikit dan hampir sejajar dengan Arga.
“Idemu tadi bagus,” suara rendah itu terdengar.
Hana menoleh. “Yang mana?”
“Packaging.”
Hanya satu kata lagi setelah itu, sebelum ia kembali berjalan normal. Hana tidak tahu harus menjawab apa. Tapi untuk pertama kalinya, komentar tentang sesuatu yang ia pikirkan sendiri tidak terasa seperti sindiran.
Sore itu, ketika ia melihat wajahnya di layar gawai, masih sama seperti biasa. Jerawatnya belum hilang. Rambutnya tidak berubah lebih rapi.
Tidak seperti dulu, ketika pujian dari Gio selalu ia simpan terlalu lama, mencoba mencari makna yang mungkin tidak pernah ada.
Hana mengangguk kecil. “Makasih.”
Arga hanya berjalan seperti biasa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Hana merasa napasnya tidak seberat tadi.
Sore itu, saat berdiri di depan cermin, wajahnya masih sama. Tidak ada yang berubah secara fisik. Tapi ada satu hal yang berbeda.
Hari ini, ia duduk satu meja dengan orang yang pernah membuatnya berharap… dan ia tidak hancur. Masih perih sedikit. Masih canggung. Tapi tidak runtuh. Mungkin ia memang tidak bisa menghapus masa lalu begitu saja.
Tapi mungkin… ia juga tidak perlu lagi terus berdiri di tempat yang sama.