REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.Aku Lelah
Hari yang melelahkan untuk Azura, wanita itu sibuk mengurus anak nya dan juga membuat kue. Ada rasa ingin menyerah namun hati mengatakan harus kuat. Wanita itu memandang lekat bayi tampan yang tertidur pulas.
"Kau kenapa?" tanya Anya saat melihat Zura sedih.
"Dia sangat mirip Elvan, dan aku tidak bisa melupakan dari darah siapa dia lahir." ucap lirih Azura.
Anya menepuk pundak Zura, "Kau tahu Zura, jika ikatan batin akan mengalahkan segala nya, sejauh apa pun kau pergi jika Tuhan mengatur nya kau tidak bisa menyembunyikan siapa jati diri anak mu." tutur Anya.
"Hati ku masih sakit, perlakuan nya telah membuat ku tenggelam dalam luka."
"Apa kau pernah mendengarkan penjelasan nya? siapa tahu jika dia memiliki alasan yang akan melunturkan luka mu."
"Aku bahkan tidak ingin melihat wajah nya." ujar Zura lalu pergi turun ke bawah.
Anya hanya bisa menggelengkan kepala nya, wanita itu merasa kasihan melihat keadaan Zura yang berat.
"Apa kau tidak punya pekerjaan Daffa? setiap hari datang kesini." tanya Zura saat melihat kedatangan Daffa.
"Kau kenapa? seperti nya sedang kesal," ujar Daffa.
"Pulanglah Daffa, aku akan menutup toko." usir Zura halus.
"Ini kan masih tengah hari." ujar Daffa sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.
" Aku sangat lelah Daff, ku mohon mengerti lah." ucap Azura lesu.
Mau tidak mau Daffa pergi, pria itu sedikit kecewa karena tak seperti biasa nya Zura mengusir diri nya. "Mendapatkan mu susah sekali." batin Daffa.
Azura menutup pintu ruko nya, kemudian wanita itu naik ke lantai dua untuk menemui anak nya.
"Kau menutup toko Zura?" tanya Anya.
"Iya,..." jawab nya singkat.
"Kenapa? kan aku bisa menjaga nya."
"Aku lelah dan kau juga lelah Anya, kita butuh istirahat sesekali." jelas Zura.
Anya mengerti dengan suasana hati Zura sekarang, namun wanita itu tak ingin bertanya terlalu jauh.
Di lain tempat, Viska dan Vilna sangat sedih melihat kakak nya yang sering diam, bahkan saat mereka mengajak Elvan bicara pun pria itu hanya menjawab seperlu nya saja.
Elvan berdiri di balkon kamar menatap langit gelap, pria itu sesekali meneguk minuman dingin yang hampir habis.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya lirih tanpa jawab, lagi-lagi hanya pertanyaan itu yang keluar.
Pagi menjelang, seperti biasa Elvan berangkat ke kantor, namun saat membuka pintu ruangan Elvan di kejutkan dengan kehadiran Ines.
"Mau apa kau?" tanya Elvan datar.
"Aku mau minta maaf." ujar Ines.
Elvan tertawa cengir, "Kalian itu hanya wanita hama penggila harta, tak pantas untuk mengucapkan kata maaf yang suci."
"Van, apa kau masih mengharapkan wanita rendahan itu?"
Elvan melempar tumpukan kertas di atas meja nya, "Tutup mulut kotor mu, derajat istri ku lebih tinggi dari pada kau barang bekas penjilat."
Ines kaget, ia sedikit gemetar saat melihat wajah Elvan memerah menahan amarah.
Elvan kemudian menyeret tangan Ines untuk keluar dari ruangan nya.
"Sakit Van." bentak Ines sambil berontak.
"Pergi, tempat ini akan kotor jika kaki busuk mu menginjak nya." ujar Elvan kemudian menutup pintu.
Ines menggerutu kesal, "Susah sekali, apa pun cara nya kau harus jadi milik ku kembali." ucap Ines kesal.
Ines kemudian pergi, beberapa karyawan mengenali Ines langsung mencemooh wanita itu. Karena sebagain karyawan Elvan mengetahui tentang siapa Ines di masa lalu Elvan.