Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kenapa Baru Sekarang?
Anjani terdiam lagi.
Wajahnya mulai berubah. Bukan lagi sekadar dingin, tapi ada sesuatu yang retak perlahan di dalamnya. Kebingungan yang tadi ia tahan kini mulai muncul ke permukaan.
"Terus sekarang apa?" tanyanya akhirnya, suaranya lebih rendah.
Alden tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun ke kedua tangannya sendiri yang terdiam di atas lutut. Dalam cahaya lampu teras yang redup, jemarinya terlihat sedikit pucat.
Ia sadar tubuhnya mulai memberi tanda-tanda kelelahan.
Perjalanan jauh, ketegangan sejak sore, dan pertemuan yang selama ini hanya hidup dalam bayangannya seolah menagih seluruh tenaga yang ia miliki sekaligus.
Namun ia tidak boleh berhenti sekarang.
Tidak setelah berhasil sampai sejauh ini.
Tidak setelah Anjani akhirnya mau duduk dan mendengarkannya.
Karena mungkin inilah satu-satunya kesempatan yang akan ia miliki.
"Kamu datang cuma buat bilang itu semua? Setelah bertahun-tahun?"
Anjani kembali menatap Alden lebih lama.
"Kenapa baru sekarang?"
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada yang terlihat.
Bukan karena Alden tidak pernah memikirkannya.
Justru karena selama berbulan-bulan terakhir, pertanyaan itu terus muncul di kepalanya sendiri.
Kenapa baru sekarang?
Kenapa bukan tahun-tahun yang lalu?
Kenapa bukan saat semuanya masih bisa diperbaiki?
Kenapa harus menunggu hingga hidup memberinya batas waktu yang tidak pernah ia minta?
Namun tidak ada satu pun jawaban yang terdengar cukup baik.
Karena semua jawaban pada akhirnya tetap akan bermuara pada satu kenyataan yang sama.
Ia terlambat.
"Kenapa baru sekarang?" ulang Anjani pelan, kali ini lebih rendah, lebih hati-hati. Seperti takut jawaban itu akan melukai dirinya sendiri.
Alden menarik napas dalam.
"Aku nggak punya alasan yang bisa bikin semuanya terdengar benar, Jani," jawabnya akhirnya pelan.
"Kalau cuma soal kamu merasa bersalah..." suara Anjani kembali dingin, meski tidak setajam sebelumnya, "Aku nggak minta kamu datang sejauh ini."
Ia mengalihkan pandangan sesaat, lalu kembali menatap Alden.
"Aku sudah hidup baik-baik saja tanpa penjelasan kamu."
Kalimat itu membuat Alden terdiam lebih lama.
Ia tahu Anjani mungkin sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Dan mungkin itu memang benar.
Anjani tampak baik-baik saja.
Lebih tenang.
Lebih dewasa.
Lebih kuat dibandingkan gadis yang dulu pernah ia kenal.
Namun saat mengucapkan kalimat itu, tangan Anjani yang berada di pangkuannya justru perlahan meremas kain dasternya sendiri.
Gerakan kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.
Tapi Alden melihatnya.
Dan itu membuat dadanya terasa semakin berat.
"Aku nggak akan lama," ucapnya pelan. "Aku juga nggak akan muter-muter."
Ia menatap Anjani lebih tenang sekarang.
"Dulu aku pergi dengan cara yang salah," ucap Alden pelan. Ia berhenti sebentar, seperti mengatur napasnya.
"Apa yang aku lakukan ke kamu... itu bikin aku terus merasa bersalah. Sampai sekarang."
Ia menunduk sesaat, lalu kembali menatap Anjani.
"Dan aku tahu... itu nggak bisa diubah."
Keheningan turun sesaat.
Alden mengalihkan pandangan ke halaman.
Di antara bayangan tanaman dan pagar rumah yang samar, pikirannya tanpa sadar kembali pada masa lalu.
Pada hari ketika ia memilih menghancurkan semuanya dengan tangannya sendiri.
Saat itu ia berpikir dirinya sedang melakukan hal yang benar.
Bahwa menjauh akan menyelesaikan banyak masalah.
Bahwa melukai sekali jauh lebih baik daripada memberi harapan yang menurutnya tidak akan berakhir baik.
Namun kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia mulai sadar bahwa tidak semua luka sembuh hanya karena waktu berjalan.
Ada luka yang justru bertahan karena tidak pernah diberi kesempatan untuk dipahami.
Dan ia sendiri yang menciptakan luka itu.
Alden menarik napas lagi, lebih dalam, tapi tidak sepenuhnya lega.
"Aku cuma pengin kamu tahu..." ucapnya pelan, berhenti sebentar di tengah kalimat, seperti mencari sisa tenaganya.
"Di balik semua sikap aku waktu itu... aku sebenarnya nggak pernah benar-benar jujur sama diri aku sendiri."
Ia mengalihkan pandangan sesaat, lalu kembali.
"Soal perasaan aku."
Tangannya sempat mengepal di lutut, lalu mengendur lagi seolah tenaga itu ikut habis bersama pikirannya. Ia tetap memaksa suaranya stabil.
"Makanya aku datang hari ini... buat nyelesain semuanya dengan benar."
Alden menatap Anjani sebentar, lalu menurunkan pandangan lagi.
"Setelah aku selesai ngomong... aku akan pergi."
Ia berhenti sejenak.
"Dan aku nggak akan ganggu hidup kamu lagi."
Ia menarik napas, tapi tidak terlalu dalam. Seolah dadanya tidak benar-benar memberi ruang.
"Aku juga nggak akan minta kamu mengingat aku dengan cara apa pun." suaranya lebih pelan. "Aku cuma... pengin kamu bisa lanjut hidup kamu dengan tenang."
Hening singkat menyelip di antara kalimat itu, sebelum ia melanjutkan lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
"Aku nggak datang buat mengulang apa pun, Jani."
Matanya sempat naik, lalu turun lagi.
"Aku juga nggak berharap kamu ngerti aku sekarang."
Ia menggeleng kecil, seperti menolak pikirannya sendiri.
"Aku nggak punya hak untuk itu."
Ada jeda sesaat.
"Aku cuma..." Alden berhenti sebentar, menelan kata yang terasa berat.
"...nggak mau hidup dengan semua hal yang belum selesai."
Keheningan kembali jatuh. Lebih lama kali ini, seperti ikut menahan sisa kata yang tidak jadi diucapkan.
Anjani terdiam.
Kali ini bukan diam yang sekadar menjaga jarak, tapi diam yang lebih berat. Seolah kata-kata Alden baru saja membuka sesuatu yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di dalam dirinya.
Matanya masih menatap Alden, tapi tidak setajam tadi. Ada perubahan kecil di sana, meski ia sendiri berusaha menekannya.
"Aku nggak ngerti..." ucapnya pelan akhirnya. "Kamu datang...lalu mengatakan semuanya...dan selesai. Begitu?"
Pertanyaan itu tidak terdengar marah. Lebih seperti lelah yang ditahan terlalu lama.
Anjani mengalihkan pandangannya sebentar ke arah halaman, sebelum kembali lagi ke Alden.
"Kalau kamu memang sadar semua itu salah," lanjut Anjani, suaranya mulai sedikit bergetar di ujung, "kenapa kamu baru datang setelah semuanya sudah lama berlalu?"
Ia menarik napas pendek, lalu menatap Alden lebih dalam.
"Kamu sadar nggak, sama apa yang kamu katakan tadi?"
Alden tidak menjawab.
"Kamu udah mikir semuanya baik-baik?"
Tetap tidak ada jawaban.
Alden hanya diam, menahan sesuatu yang tidak lagi bisa ia susun jadi kalimat.
Anjani menatap Alden lebih dalam.
"Setelah apa yang sudah kamu lakukan... setelah apa yang terjadi sama kita...dan setelah kamu pergi..."
Anjani berhenti di tengah kalimat. Ia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi, seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditekan.
"Dan sekarang kamu datang..."
Ia menggeleng pelan, hampir tak terasa.
"Mengatakan semua ini... seolah semuanya bisa kamu atur sendiri."
Tangannya di pangkuan meremas kain dasternya tanpa sadar.
"Aku nggak tahu harus benci kamu... atau harus dengerin kamu."
Suaranya turun, lebih pelan dari sebelumnya. Bukan melemah, tapi seperti kelelahan yang akhirnya ikut bicara.
Jujur. Tapi juga retak di bagian yang tidak terlihat.
Sejak pertama kali Alden datang, Anjani tidak lagi hanya terlihat sebagai seseorang yang menjaga jarak. Tapi juga seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu yang mulai ikut goyah di dalam dirinya.
Alden terdiam mendengar itu.
Untuk beberapa saat, ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap Anjani lebih lama, seolah berusaha memahami setiap lapisan emosi yang tersembunyi di balik kata-katanya.
Anjani menundukkan pandangan sesaat, lalu menarik napas pelan.
Angin malam berembus lembut, menggerakkan ujung rambutnya yang terurai di bahu.
Alden ikut menarik napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada Anjani, sementara berbagai hal berputar di dalam pikirannya.
"Selama ini aku pikir aku bisa hidup dengan menganggap itu semua sudah selesai. Tapi ternyata nggak sesederhana itu."
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Anjani.
"Dan hari ini aku cuma mau... jujur. Tanpa minta kamu harus mengerti. Tanpa minta kamu harus maafin."
Anjani mendengarkan.
"Aku harus jujur dengan perasaanku sendiri, Jani," ucap Alden pelan.
Ia berhenti sejenak, seperti menata ulang kata-kata yang terasa berat di dadanya.
"Kamu harus tahu itu... itu alasan kenapa aku bersikap bodoh waktu itu."
Alden menarik napas singkat, lalu menghembuskannya pelan, berusaha tetap tenang seperti biasa.
"Aku cuma... mikirnya waktu itu bakal lebih aman kalau semuanya nggak aku lanjutkan."
Ia menatap Anjani sekilas, lalu mengalihkan pandangan lagi.
"Kalau aku terus jujur, nanti jadi ribet. Jadi panjang. Dan aku nggak mau itu."
Hening sebentar jatuh di antara mereka.
"Aku juga takut... kalau kamu tahu yang sebenarnya, kamu malah lihat aku dengan cara yang beda."
Suaranya tetap datar, meski ada jeda kecil di ujung kalimatnya.
Anjani menatapnya beberapa detik lebih lama.
Keningnya sedikit berkerut.
Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Alden malam ini.
Bukan hanya karena usia.
Bukan hanya karena waktu.
Melainkan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
Wajahnya terlihat lebih lelah.
Garis-garis tipis di sekitar matanya tampak lebih jelas saat terkena cahaya lampu.
Dan beberapa kali ia terlihat menarik napas lebih dalam daripada yang seharusnya.
Seolah menjaga dirinya tetap baik-baik saja membutuhkan usaha lebih besar dari yang ingin ia tunjukkan.
Namun Anjani tidak mengatakan apa pun.
Belum.
Ia hanya memperhatikannya diam-diam.
Semakin lama, semakin banyak hal yang terasa tidak biasa.
Alden yang ia kenal dulu selalu terlihat penuh energi, seolah tidak pernah kehabisan tenaga untuk berdebat atau mempertahankan pendapatnya sendiri. Namun pria yang duduk di hadapannya malam ini terlihat berbeda.
Ada kelelahan yang sulit dijelaskan.
Bukan sekadar lelah karena perjalanan atau waktu yang sudah larut.
Melainkan kelelahan yang seperti telah menumpuk sangat lama.
Dan entah kenapa, hal itu membuat Anjani tidak nyaman.
"Bukan beda yang bagus."
Alden menggeser posisi duduknya sedikit, menyandarkan punggung ke kursi agar tubuhnya tidak terlalu terasa berat.
Gerakan itu tampak biasa saja, tetapi sesaat kemudian ia menarik napas lebih dalam dari sebelumnya, seolah dadanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Ia segera menyembunyikannya.
Tidak ingin terlihat.
Tidak ingin menjadi perhatian.
Matanya kembali mengarah ke halaman rumah yang sunyi.
Sementara di dalam kepalanya sendiri, kenangan lama terus bermunculan tanpa diundang.
Hari ketika ia mengucapkan kata-kata yang tidak pernah benar-benar ingin ia katakan.
Hari ketika ia melihat wajah Anjani berubah karena ucapan dan perbuatannya.
Dan hari ketika ia memilih pergi tanpa pernah memberi penjelasan yang layak.
Saat itu ia mengira sedang menyelesaikan masalah.
Padahal yang ia lakukan hanyalah meninggalkan luka.
"Dan aku rasa... lebih gampang kalau semuanya aku hancurkan aja sekalian."
Alden terdiam sebentar.
Anjani menggeleng kecil, lalu mendengus pelan. Bibirnya melengkung tipis, antara tidak percaya dan kesal yang tertahan.
Lalu Alden menambahkan lagi pelan, suaranya lebih datar.
"Sekarang juga sebenarnya nggak jauh beda. Cuma... aku datang buat benerin bagian yang dulu aku rusak."
Suaranya melemah di akhir kalimat.
Anjani terdiam.
Tatapannya masih tertuju pada Alden, tapi tidak lagi setajam tadi.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Jarinya yang semula menggenggam ujung meja perlahan mengendur.
“Aku lihat kamu beda, Al…” ucapnya akhirnya pelan, hampir ragu. “Tapi bukan beda yang aku ngerti.”
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Alden.
“Kamu datang kayak orang yang udah selesai sama dirinya sendiri… tapi ngomongnya masih kayak nyimpen banyak hal.”
“Dan kamu masih sama kayak dulu…”
Anjani menghela napas pelan.
“Kamu nggak pernah jujur sama diri kamu sendiri.”
Alden mengerjap kecil.
“Kamu pikir kamu udah jujur? Padahal nggak. Kamu lebih milih nahan semuanya sendiri. Dan itu yang aku nggak suka dari kamu, Al.”
Alden terdiam.
Tidak membantah.
Karena ia merasa Anjani mungkin melihat dirinya lebih jelas daripada yang ia kira.
Memang seperti itulah dirinya sejak dulu.
Lebih mudah menanggung semuanya sendiri.
Lebih mudah diam.
Lebih mudah terlihat baik-baik saja daripada mengakui bahwa ia sebenarnya takut.
Dan kebiasaan itu pula yang pada akhirnya menghancurkan banyak hal.
"Kamu selalu gitu..." lanjutnya pelan, lebih rendah dari sebelumnya. "Datang, ngomong seperlunya, terus pergi lagi kayak nggak ada apa-apa."
Ia menatap Alden lebih lama kali ini, tapi tetap menjaga jarak.
"Padahal dulu... aku kira kamu bakal beda."
Kalimat terakhirnya menggantung sesaat, tidak diberi penjelasan lebih lanjut.
Anjani mengalihkan pandangan.
Lampu teras memantulkan cahaya lembut di wajahnya yang kini tidak lagi sepenuhnya dingin.
Ada kekecewaan di sana.
Ada luka yang belum sembuh.
Dan ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya karena masih bertahan setelah sembilan tahun berlalu.
Harapan yang ternyata belum benar-benar mati.
Anjani mengalihkan pandangan.
"...tapi mungkin aku aja yang kebanyakan mikir."
Alden terdiam.
Dan malam itu, ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Kata-kata Anjani.
Atau kenyataan bahwa ia mungkin memang telah datang terlalu terlambat.
Bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏