Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Satu Nama di Dalam Hati
Pagi itu Rubi terbangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena suara alarm.
Bukan juga karena bayi dalam kandungannya yang aktif bergerak.
Melainkan karena mimpi yang membuatnya sulit kembali tidur.
Mimpi tentang kehidupannya yang dulu.
Tentang panti asuhan.
Tentang dirinya yang berdiri di depan bangunan sederhana sambil membawa kantong belanja sepulang kerja dari kafe.
Semua terasa begitu nyata.
Sampai ketika membuka mata dan melihat langit-langit kamar mewah milik keluarga Dimitri, Rubi membutuhkan beberapa saat untuk menyadari kenyataan.
Ia sudah tidak berada di kehidupan itu lagi.
Sudah lama.
Dan mungkin tidak akan pernah kembali.
Perasaan sedih sempat muncul.
Namun tidak berlangsung lama.
Karena sebuah tendangan kecil dari dalam perut membuat Rubi tersenyum.
"Selamat pagi juga."
bisiknya sambil mengusap perutnya.
Bayi itu kembali bergerak.
Membuat senyumnya semakin lebar.
Saat itulah pintu kamar diketuk.
"Masuk."
Seorang pelayan masuk dengan senyum ramah.
"Nyonya muda, sarapan sudah siap."
Rubi mengangguk.
"Baik."
Ia bangkit perlahan dari tempat tidur.
Kini tubuhnya semakin berat.
Dokter bahkan mengatakan bahwa dalam beberapa minggu ke depan ia harus lebih banyak beristirahat.
Meski begitu, Rubi tetap berusaha melakukan aktivitas ringan agar tidak bosan.
---
Saat tiba di ruang makan, Alexander sudah berada di sana.
Pria itu terlihat sedang membaca beberapa dokumen.
Namun begitu melihat Rubi masuk, perhatian Alexander langsung berpindah.
Seolah dokumen-dokumen penting itu tidak lagi menarik.
"Pagi."
ucap Rubi.
"Pagi."
jawab Alexander.
Sederhana.
Namun entah kenapa membuat hati Rubi hangat.
Mereka mulai sarapan bersama.
Seperti biasa.
Dan seperti biasa pula, kepala pelayan datang membawa segelas susu.
Rubi langsung menghela napas.
"Lagi?"
"Kata dokter harus diminum."
ucap kepala pelayan tegas.
Rubi melirik Alexander.
Berharap mendapat bantuan.
Sayangnya pria itu justru berkata,
"Habiskan."
Rubi langsung mendelik.
"Kalian semua bersekongkol."
Alexander hampir tersenyum.
Sedangkan beberapa pelayan menunduk menahan tawa.
Suasana seperti ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari di mansion.
---
Setelah sarapan, Alexander tidak langsung pergi ke ruang kerja.
Hal itu cukup mengejutkan Rubi.
Biasanya pria itu sudah menghilang sebelum ia selesai minum susu.
"Kau tidak bekerja?"
tanya Rubi.
Alexander menatapnya.
"Aku bekerja."
"Lalu?"
"Aku mulai siang."
jawabnya singkat.
Rubi sedikit curiga.
Namun tidak bertanya lebih lanjut.
Sampai akhirnya Alexander berdiri.
"Ayo."
Rubi berkedip bingung.
"Ayo ke mana?"
"Jalan-jalan."
jawab Alexander.
Mata Rubi langsung membesar.
"Benarkah?"
Alexander mengangguk.
Melihat ekspresi bahagia wanita itu membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Keputusan menunda pekerjaan ternyata tidak salah.
---
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah berada di taman bunga pribadi milik keluarga Dimitri.
Tempat itu terletak tidak jauh dari mansion.
Namun area tersebut sangat luas.
Dipenuhi berbagai bunga berwarna-warni.
Dan yang terpenting, aman.
Karena sudah diperiksa lebih dulu oleh pengawal.
Begitu turun dari mobil, Rubi langsung terlihat bersemangat.
Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak.
Sesekali berhenti untuk melihat bunga-bunga yang bermekaran.
Cantik sekali.
Sudah lama ia tidak keluar seperti ini.
Alexander berjalan di sampingnya.
Menyesuaikan langkah.
Tidak terburu-buru.
Tidak terganggu.
Padahal biasanya pria itu selalu bergerak cepat.
"Kau terlihat senang."
ucap Alexander.
Rubi menoleh.
"Tentu saja."
Ia tersenyum lebar.
"Aku hampir lupa bagaimana rasanya melihat dunia luar."
Alexander memperhatikan senyum itu cukup lama.
Lalu mengalihkan pandangan.
Karena senyum Rubi selalu berhasil membuatnya kehilangan fokus.
---
Mereka akhirnya berhenti di sebuah gazebo kecil.
Angin pagi bertiup lembut.
Membuat suasana terasa nyaman.
Rubi duduk sambil menikmati pemandangan.
Sedangkan Alexander duduk di depannya.
Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati ketenangan.
Sampai tiba-tiba Rubi berkata,
"Alexander."
"Hm?"
"Kalau bayi kita lahir nanti."
Alexander langsung memperhatikan.
"Kau ingin memberinya nama apa?"
Pertanyaan itu membuat pria tersebut terdiam.
Karena sejujurnya ia belum pernah memikirkannya.
Selama ini fokusnya hanya satu.
Menjaga agar Rubi dan bayi mereka tetap aman.
Namun soal nama...
Ia belum mempersiapkan apa pun.
"Aku belum tahu."
jawabnya jujur.
Rubi tertawa kecil.
"Ternyata ada hal yang tidak kamu rencanakan."
Alexander mengangguk.
"Banyak."
"Kau bercanda?"
"Tidak."
Rubi kembali tertawa.
Dan Alexander menyadari bahwa suara tawa itu mulai menjadi suara favoritnya.
---
"Kalau perempuan?"
tanya Rubi lagi.
Alexander berpikir sejenak.
"Luna."
Rubi terlihat terkejut.
"Luna?"
Alexander mengangguk.
"Aku suka namanya."
Rubi tersenyum.
"Bagus."
"Lalu kalau laki-laki?"
kali ini Alexander bertanya.
Rubi terlihat berpikir cukup lama.
Kemudian berkata,
"Adrian."
Alexander mengulang nama itu dalam hati.
Adrian Dimitri.
Terdengar cukup baik.
"Kenapa Adrian?"
tanyanya.
Rubi tersenyum kecil.
"Karena artinya kuat."
Alexander tidak mengatakan apa pun.
Namun diam-diam ia menyukai nama tersebut.
---
Percakapan sederhana itu berlangsung cukup lama.
Tentang nama.
Tentang masa depan.
Tentang bayi mereka.
Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dibicarakan.
Dan tanpa mereka sadari, pembicaraan itu membuat hubungan keduanya semakin dekat.
Karena untuk pertama kalinya mereka berbicara sebagai calon ayah dan ibu.
Bukan sekadar pasangan yang terikat pernikahan.
---
Saat sedang berbincang, tiba-tiba Rubi memegang perutnya.
Alexander langsung waspada.
"Ada apa?"
"Santai."
Rubi tertawa.
"Dia bergerak lagi."
Meski begitu Alexander tetap terlihat khawatir.
Pria itu langsung berpindah tempat duduk.
Kemudian berlutut di depan Rubi.
Tangannya menyentuh perut wanita itu dengan hati-hati.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
Tap.
Sebuah gerakan kecil terasa.
Alexander membeku.
Kemudian kembali terasa.
Lebih kuat.
Dan kali ini pria itu benar-benar tersenyum.
Bukan senyum tipis.
Bukan senyum formal.
Melainkan senyum yang tulus.
Senyum yang jarang sekali terlihat.
Rubi sampai terdiam melihatnya.
Karena pria itu terlihat sangat bahagia.
Sangat bahagia hanya karena merasakan gerakan anak mereka.
Dan tanpa sadar hati Rubi dipenuhi kehangatan.
---
Saat perjalanan pulang, Rubi tertidur di dalam mobil.
Tubuhnya memang lebih mudah lelah sekarang.
Alexander yang duduk di sampingnya menghentikan pekerjaannya.
Lalu menatap wajah wanita itu.
Tenang.
Damai.
Cantik.
Sangat cantik.
Untuk beberapa saat ia hanya memandang tanpa berkedip.
Kemudian pandangannya turun ke perut Rubi.
Di sanalah anak mereka berada.
Keluarganya.
Sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan dimiliki.
Alexander menghela napas pelan.
Dulu ia hidup hanya untuk bertahan.
Hanya untuk menang.
Hanya untuk mengalahkan musuh-musuhnya.
Namun sekarang semuanya berubah.
Kini ada alasan lain untuk pulang.
Ada alasan lain untuk hidup.
Dan alasan itu sedang tertidur di sampingnya.
---
Sesampainya di mansion, Alexander tidak membangunkan Rubi.
Ia justru mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati.
Membuat beberapa pelayan yang melihat langsung tersenyum.
Rubi sempat terbangun sedikit.
"Alexander..."
gumamnya mengantuk.
"Hm?"
"Aku berat."
Alexander hampir tertawa.
"Tidak."
"Boho..."
Kalimat Rubi terputus karena kembali tertidur.
Membuat Alexander menggeleng kecil.
Kemudian membawa wanita itu masuk ke dalam mansion.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alexander Dimitri merasa bahagia hanya karena memiliki seseorang untuk dicintai.
Seseorang bernama Rubi Casandra.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉