"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
Nigel akhirnya mengerti, jika Luis mungkin salah paham, dan jika hal ini tidak segera diluruskan, akibatnya akan berakhir fatal.
Tapi saat ia ingin meluruskan, akhirnya ia memilih diam dan mengajak ibunya pamit, setelah ia melihat ekspresi wajah Luis yang sangat tidak bersahabat.
Karena Nigel tahu, sekarang ini Luis sedang emosi, apapun penjelasannya hal itu tidak akan berdampak apapun pada Luis.
Nora juga memilih mengikuti keputusan putranya, bagaimana pun sekarang ini posisinya Laura masih menjadi bagian dari keluarga Lucian.
Ia sadar, kalau memaksa mengambil Laura dari Luis sekarang. Hal itu akan membuat dirinya dan putranya berurusan dengan hukum.
Sebenarnya Nora tidak masalah jika harus berurusan dengan hukum, tapi masalahnya walaupun berurusan dengan hukum. Bisakah Wilson dan Luis membiarkan Laura bebas?
Jawabannya pasti tidak akan semudah itu.
Nigel juga sempat berpikiran seperti ibunya, ia sebenarnya tidak masalah berurusan dengan hukum. Tapi bisakah hak wali Laura berpihak pada ibunya setelah berurusan dengan hukum?
Laura menatap punggung Nigel dan Nora dengan sedih. Bagaimana pun juga, sekarang ini ingatannya sudah kembali. Walaupun begitu, ia tidak akan mengatakannya pada siapapun, termasuk juga Nigel.
Tiba-tiba wajah Luis berada didepan wajah Laura. Saking dekatnya, hembusan napasnya beradu.
Lalu laki-laki itu berkata padanya dengan ekspresi menyebalkan, "aduh Laura sayang. Kamu pasti sedih, karena kedua pahlawanmu meninggal kan mu. Ibumu saja memilih mati dan meninggalkanmu sendirian, apalagi mereka."
Deg, ucapan Luis sungguh langsung menusuk hati Laura.
Laura menatap pria itu dengan tatapan kesedihan yang mendalam, bahkan air mata sama sekali tidak bisa dibendung.
"Apakah memang kedua orang tuaku sengaja pergi meninggalkan ku dan tidak mengajakku?" Tanda tanya besar sekarang ini mengganjal dalam benak Laura.
Luis yang melihat Laura sedih, sungguh ia merasa bingung sendiri dengan hatinya.
Disatu sisi ia merasa senang, karena Laura sakit hati, tapi di satu sisi ia merasa hatinya ikut sakit dengan kesedihan Laura.
Luis pun merebahkan tubuh Laura, lalu menindihnya.
Saat ia ingin membuka kancing baju Laura, seorang perawat tiba-tiba masuk.
Sontak saja perawat itu berteriak terkejut, saat ingin keluar. Luis memanggilnya.
"Maaf tuan muda Luis ... " Ujar perawat itu dengan nada takut, bagaimana pun semua orang di rumah sakit ini tahu.
Kalau ayah Luis pemilik saham terbesar, ditambah tempramen Luis yang sangat buruk setelah ibunya pergi meninggalkannya.
Luis berkata dengan nada dingin. "Aku ingin kamu mengurus kepulangan Laura sekarang."
Perawat itu menolak dengan nada takut, "nona Laura baru saja bangun dari koma. Jadi nggak di ijinkan pulang, takutnya kalau sampai terjadi sesuatu padanya."
Luis menyela, "apakah kamu sudah nggak ingin bekerja sebagai perawat lagi? Kalau kamu nggak menuruti perintahku, aku pastikan setelah keluar dari rumah sakit ini. Tidak akan ada satu pun rumah sakit yang mau menerimamu menjadi perawat mereka."
Perawat itu jelas ketakutan dengan ancaman Luis, karena dia juah seorang ibu dan istri yang memiliki beban tanggungan. Ia tentu tidak ingin celaka hanya untuk menolong Laura.
Sementara Laura memilih diam, apapun faktanya Luis tidak akan pernah mempercayainya.
Beberapa dokter datang ke ruangan Laura, untuk memeriksa gadis itu.
Walaupun mereka kompak mengatakan kalau kondisi Laura masih sangat buruk, tapi Luis tidak peduli. Dan tetap memaksa Laura untuk pulang.
Laura akhirnya dengan pasrah pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Luis menggendongnya sampai ke kamarnya.
Laura bingung, dengan sikap Luis yang tadi baik hati dan begitu perhatian padanya.
Sampai tiba-tiba Luis keluar kamarnya dan kembali masuk membawa botol pelumas.
"Aku tahu, kamu sebenarnya pernah melahirkan. Milikmu sempit karena pernah di jahit dan lama tidak digunakan. Kalau Nigel boleh, kenapa aku tidak?" Ujar Luis dengan wajah menyeramkan.