"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik tembok besi
Tempat nongkrong ZENTRIX bukanlah kafe estetik dengan alunan musik akustik. Ini adalah sebuah bengkel tua di pinggiran kota yang sudah tidak beroperasi, dipenuhi oleh tumpukan ban bekas, aroma oli mesin yang menyengat, dan debu yang menempel di setiap sudut.
Naren duduk di atas kap mobil sedan tua yang sudah keropos.
Ia memegang sebatang rokok di sela jarinya.
Sreeet... Api pemantik menyala, membakar ujung rokok hingga merah membara. Ia mengembuskan asap tipis ke udara.
Pussss.
"Lo yakin besok mau langsung narik Agnesa buat diajak ngomong, Ren?" tanya Abyan sambil melempar kunci inggris ke lantai.
Tak!
Naren tidak langsung menjawab. Ia menatap asap rokoknya yang menari-nari di udara.
"Dia ketua OSIS, Ren. Cewek itu kalau jalan matanya lurus ke depan, nggak pernah nengok kiri-kanan. Lo kalau mau nyapa dia, harus pake prosedur protokol negara kali," timpal Arion dari balik tumpukan ban.
Ia tertawa renyah. Hahaha.
Naren membuang abu rokoknya ke tanah.
Tep.
Ia menatap Abyan dan Arion secara bergantian.
"Gue nggak butuh prosedur."
"Tapi lo butuh keberanian," sahut Venzo yang baru saja keluar dari ruang belakang sambil membawa botol air mineral.
Ia duduk di kursi plastik yang sudah retak.
Kriet.
Venzo menatap Naren tajam.
Jarak di antara mereka sekitar dua meter, namun ketegangan terasa nyata.
Naren menaruh rokoknya di pinggiran kap mobil, lalu melompat turun.
Kakinya mendarat dengan suara buk yang mantap.
Ia berjalan mendekati Venzo, berhenti tepat di depan kursi tersebut.
Abyan yang tadinya tertawa, perlahan diam. Arion menghentikan aktivitasnya membongkar knalpot.
Suasana bengkel mendadak sunyi, hanya menyisakan suara tetesan oli yang jatuh ke lantai beton.
Tik... tik...
"Lo tahu risikonya, Ren," lanjut Venzo, suaranya dingin dan datar.
"Agnesa bukan cuma ketua OSIS. Dia anak orang penting, dan dia benci ZENTRIX. Kalau lo bikin ulah di sekolah besok, reputasi sekolahnya bakal kena."
"Gue nggak peduli sama reputasi sekolah," balas Naren.
"Lo peduli sama dia," Venzo menyela.
Naren terdiam. Ia memalingkan wajah, menatap pintu masuk bengkel yang terbuka lebar.
Di luar sana, langit mulai mendung lagi.
Naren memasukkan tangan ke dalam saku celana jaketnya.
Ia meraba-raba sesuatu di sana—mungkin korek api, mungkin kertas catatan, mungkin sisa biskuit—tapi ia tidak mengeluarkannya.
Ia menarik napas panjang, bahunya yang tegang perlahan turun sedikit.
Venzo terus menatapnya tanpa berkedip.
Naren kemudian mengangguk sekali, sebuah gerakan yang sangat singkat dan ambigu.
Ia tidak mengatakan sepakat, tidak juga membantah.
Ia berbalik dan berjalan menuju meja kerja yang berantakan, menendang kaleng cat kosong yang menghalangi jalannya.
Klang!
"Gue cuma mau ngomong," kata Naren setelah jeda yang panjang.
"Ngomong apa? Tentang ubur-ubur?" Arion terkikik lagi.
Naren menoleh tajam ke arah Arion.
Tatapan tajam.
"Satu kata lagi soal itu, Ar, lo gue suruh cuci semua mesin di sini."
Arion mengangkat tangannya tanda menyerah.
Halah.
"Kenapa ubur-ubur, Ren?" tanya Abyan, kali ini nadanya lebih serius. "Itu konyol banget."
Naren mengangkat bahu. "Gue liat di buku biologi adik gue. Ubur-ubur itu nggak punya otak, tapi mereka bisa bertahan hidup jutaan tahun. Mereka cuma mengikuti arus."
"Lo nganggep diri lo ubur-ubur?" tanya Venzo sinis.
"Atau mungkin dia nganggep Agnesa yang ubur-ubur," jawab Arion asal.
Naren berjalan kembali ke tempatnya duduk semula.
Ia memungut rokoknya yang masih menyala, menyesapnya sekali lagi, lalu mematikannya di permukaan logam kap mobil.
Sssshhh.
Naren tidak langsung bicara lagi.
Ia mengambil potongan kawat besi yang tergeletak di dekatnya.
Ia mulai menekuk-nekuk kawat itu dengan tangannya.
Krek... krek...
Ia membentuk kawat itu menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang tidak beraturan.
Tangannya bergerak dengan sangat terampil, hampir tanpa sadar.
Pikirannya seolah tertuju pada kawat tersebut, bukan pada orang-orang di sekitarnya.
Ia membuat bentuk yang tidak jelas, mungkin lingkaran, mungkin simbol, atau hanya kekacauan besi yang tidak berarti apa-apa.
Ia tidak menyadari bahwa ia sudah membuat belasan kawat dengan bentuk yang sama.
Mengapa mereka bertanya terus? Kenapa mereka harus tahu apa yang ada di kepalaku? Bahkan aku sendiri tidak tahu.
Ubur-ubur. Sesuatu yang transparan. Sesuatu yang kalau lo sentuh, lo bakal merasa sakit. Apakah itu yang aku rasakan? Sakit? Atau hanya mati rasa? Agnesa.
Dia selalu berdiri di sana, di balik tembok besar bernama harga diri dan aturan. Dan aku di sini, di balik tembok oli dan ban bekas.
Kami tidak seharusnya bertemu. Tapi kenapa setiap kali aku melihatnya, tembok itu rasanya semakin tipis?
"Besok gue bakal ke sana," kata Naren akhirnya.
"Sekolah?" tanya Venzo.
"Bukan. Gue bakal nunggu di depan gerbang sebelum dia masuk."
"Lo mau bikin keributan?" tanya Abyan.
"Gue mau minta maaf," jawab Naren singkat.
Hening. Bengkel itu mendadak sunyi total. Bahkan suara angin di luar seolah berhenti.
Arion menjatuhkan kunci inggris yang dipegangnya.
Dentang!
"Lo bilang apa barusan?" tanya Arion tidak percaya.
"Pemimpin ZENTRIX minta maaf sama cewek yang benci sama dia?"
"Itu namanya bunuh diri sosial, Ren," Venzo menambahkan dengan nada yang sama dinginnya.
Naren berdiri, melempar gumpalan kawat besi buatannya ke lantai.
Trak.
"Gue nggak bilang gue bakal minta maaf karena gue salah. Gue bilang gue bakal minta maaf supaya dia nggak perlu buang energi buat benci sama gue lagi," jelas Naren.
"Logika lo ngaco, Ren," komentar Abyan.
"Logika gue emang ngaco sejak ketemu dia," balas Naren.
Ia mengambil jaketnya yang tersampir di kursi.
Ia berjalan keluar dari bengkel. Langkahnya terdengar mantap di atas lantai semen yang berdebu.
Tap... tap... tap...
"Ren! Mau ke mana?" teriak Arion.
Naren tidak menoleh. Ia hanya mengangkat tangannya, melambai tanpa arah.
Di luar bengkel, udara sore terasa lembap.
Matahari yang tertutup awan mendung memberikan cahaya kekuningan yang redup.
Naren berjalan menyusuri jalanan beton yang retak.
Di sepanjang jalan, ia melihat anjing liar yang sedang mencari makanan di tempat sampah.
Guk... guk... Naren tidak peduli.
Ia terus berjalan, tangannya masuk ke dalam saku. Ia merasakan secarik kertas di sakunya.
Kertas yang sama yang ia tulis untuk Agnesa. Ia meremasnya kuat-kuat di dalam saku.
Ia tahu rencananya besok mungkin akan gagal. Mungkin Agnesa akan memanggil guru BK. Mungkin dia akan ditertawakan oleh teman-teman sekelasnya. Atau mungkin, yang paling buruk, dia hanya akan diabaikan seolah dia tidak pernah ada.
Naren berhenti di depan sebuah toko kelontong kecil. Ia membeli sebotol susu stroberi.
Ting! Suara lonceng toko.
"Berapa, Bi?" tanyanya.
"Lima ribu, Den," jawab penjualnya.
Naren memberikan uang, lalu keluar. Ia membuka botol susu itu.
Plop.
Ia meminumnya sedikit. Manis. Rasanya jauh dari rasa rokok yang tertinggal di tenggorokannya.
Kenapa aku melakukan ini? Aku bisa saja terus jadi Naren yang dingin. Aku bisa saja terus jadi pemimpin ZENTRIX yang tidak tersentuh.
Tapi saat melihat dia pagi kemarin, dengan noda susu di jarinya, aku merasa... sesuatu di dalam diriku retak.
Sesuatu yang selama ini aku jaga agar tetap beku, tiba-tiba mencair. Dan aku takut. Aku benar-benar takut.
Apa yang akan terjadi jika aku benar-benar mencair? Apakah aku akan menghilang seperti ubur-ubur yang terbawa arus?
Naren meminum lagi susu stroberinya.
Ia terus berjalan, kali ini menuju ke arah sekolah. Ia tahu gerbang itu sudah terkunci, tapi ia ingin melihatnya sekali lagi.
Melihat tempat di mana dunianya dan dunia Agnesa berbenturan.
Ia sampai di depan gerbang sekolah yang tinggi dan besi. Ia berdiri di sana, menatap ke dalam halaman yang kosong. Tidak ada aktivitas.
Tidak ada suara tawa murid. Tidak ada Agnesa.
Ia menyentuh jeruji besi gerbang itu.
Ding.
"Besok," bisiknya pada besi dingin itu. "Besok, gue bakal tau jawabannya."
Naren berbalik, berjalan pergi menjauhi gerbang, meninggalkan jejak langkahnya di tanah yang basah.
Malam sudah mulai turun, membawa hawa dingin yang lebih menggigit. Dan Naren, si pemimpin gang yang ditakuti itu, hanya berjalan sendirian, memegang botol susu stroberi, menuju rumah yang hanya memberinya kesunyian.
Naren sedang berjalan menyeberangi jalan raya saat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi.
Wuuush!
Angin kencang menerpa wajahnya.
Naren berhenti.
Ia berkedip dua kali sebelum menyadari ia hampir tertabrak.
Ia menatap mobil itu sampai menjauh, tidak ada ekspresi marah, tidak ada rasa takut.
Ia hanya berdiri di tengah jalan raya selama tiga detik, mematung, lalu melanjutkan langkahnya seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Hidupnya memang terasa seperti itu akhir-akhir ini.
Selalu di ambang kehancuran, selalu di ambang ketidakpastian. Tapi entah kenapa, rasa ingin tahu tentang Agnesa jauh lebih kuat daripada rasa takutnya akan bahaya apa pun.
Ia sampai di depan rumahnya yang besar. Ia melihat lampu ruang tengah menyala. Ayahnya belum tidur.
Naren menarik napas dalam-dalam. "Oke, Naren. Siapkan dirimu untuk omelan Bapak," gumamnya.
Ia membuka gerbang dengan suara kriiit yang panjang, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Hari yang panjang, penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, akan segera berakhir. Dan besok, ia akan menghadapi tantangan yang paling besar: tidak lagi bertarung dengan tinju, tapi dengan perasaan.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Non Agnesa, mau ditambah supnya?"
"Tidak, Bi. Cukup,"
Agnesa Mulai Hilang Kendali? Simak Kelanjutan Sikap Obsesif Sang Ketua OSIS di Bab 28: Sempurna yang Retak