Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Malam hari di distrik pelabuhan EPSILON.
Kabut tipis menggantung rendah di antara gudang-gudang tua dan kontainer yang berkarat. Lampu jalan yang sebagian mati, menyisakan cahaya redup kekuningan yang membuat area pesisir itu terlihat seperti kota mati.
Sebuah mobil van tua berhenti di balik tumpukan peti logam. Mesinnya dimatikan. Han membuka pintu perlahan, memastikan keadaan aman lalu turun lebih dulu. Jaket hitam gelap menutupi tubuhnya, sementara topi kusam menahan sebagian wajahnya tetap tersembunyi.
Nara turun setelahnya. Udara laut malam langsung terasa menusuk kulit.
“Dingin,” gumamnya pelan.
“Bagus,” jawab Han sambil mengamati sekitar. “Orang jadi malas buat keluar.”
Di belakang mereka, Arga turun sambil membawa tas ranselnya dan wajah yang penuh penyesalan.
“Kenapa operasi rahasia selalu malam-malam sih?”
“Karena siang terlalu ramai.”
“Gue benci jawaban logis.”
Han mengabaikannya, tatapannya terus bergerak menyapu area sekitar pelabuhan lama. Jalur pesisir Distrik Epsilon terlihat jauh lebih kumuh dibanding distrik utama kota. Banyak bangunan kosong berdiri setengah runtuh, sementara beberapa gudang tampak masih aktif meski nyaris tanpa identitas. Tempat seperti ini cocok untuk melenyapkan seseorang. Tidak ada yang peduli dan tidak ada yang akan bertanya.
Damar keluar dari sisi pengemudi sambil menyalakan rokoknya.
“Anak buah gue udah muterin daerah ini hampir dua jam.”
Ia menunjuk ke arah utara.
“Ada aktivitas aneh di gudang nomer tujuh belas.”
Han menoleh.
“Aneh bagaimana?”
“ ada truk yang masuk malam hari.”
“Tanpa logo, dikawal ketat.”
“Dan…” Damar menghembuskan asap perlahan, “…terdengar ada suara anak kecil.”
Sunyi sesaat.
Tatapan Han langsung berubah dingin.
“Itu tempatnya.”
Arga menelan ludah, ia mulai merasa tegang.
“Oke… bagian ‘mungkin salah lokasi’-nya sudah resmi hilang.”
Damar memotong bagian rokoknya yang menyala, dan memasukan kembali rokok yang masih setengah itu ke dalam kantongnya.
“Gue cuma kasih tahu,” katanya serius. “Kalau tempat itu memang milik Helios, orang-orang gue ngga bakal bisa bantu banyak.”
Han mengangguk kecil, “…aku tahu.”
“Orang-orang bersenjata di sana bukan preman biasa,” lanjut Damar.
“Geraknya rapi, kayak militer.”
Han sudah menduga itu sebelumya. Fasilitas transit ORISON tidak mungkin dijaga oleh orang sembarangan. Nara memperhatikan area sekitar, pelabuhan malam itu terasa terlalu tenang. Dan justru itu membuatnya merasa tidak nyaman.
“Apa rencananya?” tanyanya pelan.
Han mengeluarkan peta kecil lusuh dari sakunya lalu membukanya di atas kap mobil.
“Gudang tujuh belas di sini.” Jarinyа bergerak menunjuk satu tempat di peta.
“Akses utama ada dua.”
“Depan dan jalur bongkar kontainer.”
Arga mengintip peta sambil mengernyit.
“Kedengarannya bunuh diri.”
“Karena itu kita tidak masuk,” potong Han.
Arga langsung merasa lega.
“Oh syukurlah.”
Han menunjuk sisi belakang gudang.
“Ada jalur pembuangan air menuju bawah dermaga.”
Damar menaikkan alis.
“Lu masih ingat?”
“Dulu, aku pernah dikirim ke sini.” Kata Han dengan nada dingin.
Nara memperhatikan wajahnya sebentar. Han mungkin terlihat tenang. Tapi setiap kali tempat masa lalunya muncul, rahangnya selalu sedikit menegang. Seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang ingin dilupakan.
Damar melipat tangan.
“Jadi?”
“malam ini, kita cuma mengintai dulu, kumpulkan informasi.”
“Cari jumlah personel.”
“Pola pergantian jaga.”
“Dan pastikan kalau anak-anak itu benar ada di sana.”
Arga langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Gue stay di mobil ya.”
Han menatapnya datar.
“Kau ikut.”
“Kenapa hidupku jadi begini sih…” rengek Arga.
Damar terkekeh kecil. Sudah lama ia tidak melihat Han bekerja bersama orang lain seperti ini. Dulu pria itu selalu bergerak sendiri. Diam, cepat dan mematikan. Sekarang, meski kecil tapi ada sesuatu yang berubah.
Mereka mulai bergerak lima belas menit kemudian. Menyusuri sisi gelap pelabuhan sambil menghindari area terbuka.
Han mengambil posisi paling depan. Tenang dan nyaris tanpa suara. Nara mulai sadar bahkan cara pria itu berjalan terasa berbeda dari orang biasa. Tidak pernah benar-benar terbuka. Selalu mencari perlindungan. Selalu menghitung sudut.
Arga berjalan paling belakang sambil terus melihat sekitar dengan gugup.
“Gue merasa kita bakal ditembak.”
“Kalau kau terus bicara,” jawab Han pelan, “kemungkinannya pasti iya.”
Arga langsung diam.
Mereka akhirnya sampai di balik deretan kontainer besar yang menghadap ke gudang nomer tujuh belas. Bangunan itu terlihat tua dari luar. Namun terlalu terjaga untuk sekadar gudang kosong. Empat pria bersenjata berdiri di area depan. Dua lagi berjaga di menara kecil dekat pagar. Lampu sorot bergerak perlahan menyapu area pelabuhan.
Han mengamati semuanya diam-diam. Matanya bergerak cepat menghitung. Pola, posisi, jalur tembak.
Lalu, suara mesin terdengar dari kejauhan. Sebuah truk hitam mendekat perlahan menuju gudang dengan lampu yang dimatikan. Lalu pagar gerbang terbuka otomatis.
Dan saat bagian belakang truk sedikit bergeser, Nara tertengun. Ia melihat tangan kecil keluar dari balik terpal yang tertutup. Sebentar saja lalu menghilang.
Napasnya tercekat.
“Han…”
Panggilnya dengan berbisik. Han juga sudah melihatnya, tatapannya langsung berubah tajam.
Arga menelan ludah keras.
“…itu anak-anak?”
Tak ada yang menjawab. Karena itu sudah sangat jelas.
Pintu gudang terbuka perlahan. Orang-orang bersenjata mulai menurunkan kotak-kotak besar. Dan di sela-sela cahaya gudang, Han melihat sesuatu yang membuat tubuhnya langsung menegang. Simbol lingkaran hitam dengan garis vertikal di tengahnya. Simbol yang sama seperti di foto ritual. Namun kali ini, terpasang besar di dinding dalam gudang.
Tempat ini aktif. Berarti tempat ini bukan sekadar fasilitas transit biasa tapi menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.