NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Setelah mendengar semua cerita dari sang ibu mengenai Nadira, Arya langsung tancap gas ke rumah kakaknya. Arya sangat kesal sekarang melihat tingkah kakaknya yang malah menikahi pembunuh. Tak seharusnya Mahesa melakukan itu.

Tak berselang lama Arya tiba di kediaman Mahesa, Arya turun dari mobil dan langsung menemui Mahesa. Hari sudah larut, ia tak bisa menahan diri lagi. Apalagi mengingat Keano keponakannya sendiri yang saat ini sedang di asuh oleh pembunuh membuatnya tak bisa tenang.

" Kakak!." teriak Arya di ruang tamu. Suaranya menggema di dalam rumah.

Para pelayan datang menghampiri Arya dan menanyakan apa yang terjadi, tapi Arya tak menggubris pertanyaan dari para pelayan. Arya langsung berjalan ke arah kamar Mahesa, dan setelah berada di depan pintu kamar ia mengetuk pintu itu tanpa jeda.

Tak berselang lama pintu kamar terbuka, memperlihatkan Mahesa yang keluar dengan tablet di tangannya.

" Ada apa? Apa ada hal yang mendesak sampai kamu terlihat tidak sabar seperti ini?." tanya Mahesa sambil meletakkan tablet di tangannya di atas nakas.

" Ya! aku mau menanyakan sesuatu pada kakak. Bagimana bisa kakak menikahi pembunuh istri kakak sendiri dan membiarkan pembunuh itu mengasuh keponakanku?." Arya meluapkan emosi nya.

Mahesa mematung sejenak, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

Mahesa berjalan pelan ke arah Arya, hingga akhirnya keduanya beradu tatap.

" Jangan memikirkan hal yang bukan masalah mu Arya! Belajar saja dengan baik seperti yang aku katakan!." Mahesa menepuk bahu Arya pelan untuk mengingatkan adiknya itu bahwa urusan pribadinya tidak boleh di urus.

Arya tahu jika kakaknya paling tidak suka urusan pribadinya di permasalahkan. Tapi kali ini tindakan kakaknya sudah melewati batas.

Arya menepis tangan Mahesa yang berada di atas bahunya, " Kakak harus mengusir wanita itu dari rumah ini! Apa kakak tidak memikirkan Keano? Kakak harus memenjarakan wanita itu!."

" Arya!." Nada Mahesa terdengar dingin.

" Sudah aku katakan jangan ikut campur! Sekarang kamu pergi dari rumah ini dan temani mama. Dia sendirian di sana!." perintah Mahesa pada sang adik.

" Tidak kak! Apa kakak tidak memikirkan kak Nayla. Apa kakak tidak mencintai kak Nayla sampai kakak dengan tega menikahi pembunuh kak Nayla. Kakak sangat kejam!. Kakak sudah kehilangan kewarasan kakak, kakak malah membela wanita itu daripada ibu! Apa kakak sadar dengan apa yang kakak lakukan? Buka mata kakak! Lihat wajah kak Nayla! Lihat itu! Lihat kak!." Arya menunjuk ke arah foto Nayla yang besar yang berada di dinding kamar itu.

Mahesa mengepalkan tangannya, ucapan Arya kembali membuat Mahesa terbayang dengan Nayla.

" Arya! Hentikan ucapan mu! Pergi sekarang sebelum aku melakukan hal yang tak seharusnya ku lakukan padamu!." ujar Mahesa menahan amarah.

Arya tak memperdulikan amarah Mahesa, ia malah menentang kakaknya dengan menarik kerah bajunya.

" Kamu sudah gila kak! Gila!." teriak Arya di hadapan wajah Mahesa.

Mahesa memejamkan matanya sambil menahan amarah yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Arya sudah membuatnya kehilangan kesabaran.

Sementara itu di luar kamar Mahesa, terlihat Nadira sedang berjalan melewati kamar Mahesa. Saat Ia tak sengaja mendengar keributan di dalam sana, suara menggelegar itu membuatnya menghentikan langkah. Nadira berdiri di samping pintu kamar dan mengintip ke dalam, ia melihat Mahesa dan adiknya sedang bertengkar. Hal itu membuat Nadira penasaran apa yang sedang keduanya permasalahkan.

Di dalam kamar, Mahesa mengepalkan tangannya. Mahesa tidak ingin melukai adik satu satunya itu, tapi kelakuannya sudah membuatnya tidak nyaman dan terusik. Tapi walaupun begitu Mahesa tetap berusaha menahan amarahnya.

" Buka mata kakak! Lihat apa yang sudah kakak perbuat! Apa kakak sudah merencanakan pembunuhan kak Nayla dan menikahi wanita pembunuh itu? Apa kakak berselingkuh dengannya?."

Deg

Mahesa mulai kehilangan kesabarannya sekarang, ucapan Arya sudah melewati batas.

Bug

Mahesa melayangkan pukulan keras pada pipi Arya membuat pria itu mundur beberapa langkah.

Di luar kamar, Nadira membulatkan matanya saat melihat Mahesa memukul adiknya sendiri. Nadira juga mendengar Arya sedang membicarakan dirinya. Sekarang Nadira tahu apa topik pembicaraan keduanya.

" Jangan melewati batas Arya! Aku sangat mencintai Nayla. Aku rela melakukan apa saja untuknya bahkan jika bisa aku ingin menukar nyawaku sendiri untuk menyelamatkan nya saat pembunuhan itu terjadi. Apa kamu mau tahu alasan aku menikahi wanita itu! Perlahan aku akan membuatnya menderita! Aku akan membuatnya membayar apa yang telah ia lakukan. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri saat waktunya sudah tepat, baru aku akan merasa puas."

Deg

Bagaikan petir menyambar di siang bolong, Nadira menutup mulutnya dengan tangan saat mendengar rencana Mahesa yang akan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Tubuh Nadira seketika melemah saat mendengar ucapan Mahesa.

Di lain sisi, Arya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan tangan. Arya menatap marah pada kakaknya.

" Kalau begitu lakukan semuanya malam ini! Aku ingin melihat sendiri wanita itu terbunuh!."

Nadira yang mendengar ucapan pria yang merupakan adik dari Mahesa itu seketika tak bisa bergerak. Ia luruh ke lantai sambil memegangi dadanya. Malam ini riwayatnya akan tamat.

" Tidak malam ini Arya! Aku akan menunggu hingga Keano sedikit lebih besar. Aku masih membutuhkan nya. Setelah Keano tidak membutuhkan wanita itu lagi, aku akan langsung membunuhnya! Apa kamu puas?." ucap Mahesa kepada Arya.

Arya tersenyum getir, " Aku yakin kakak tidak akan melakukannya. Baiklah jika memang sekarang Keano sedang membutuhkan wanita itu. Aku juga mendengar dari mama kalau dia bisa menenangkan Keano. Tapi saat Keano sudah tidak membutuhkannya lagi, aku sendiri yang akan membunuhnya! Apa kakak tidak keberatan?" ucap Arya.

Nafas Nadira memburu saat mendengar ucapan Arya. Matanya membulat sempurna tanpa celah.

" Baiklah jika itu kemauan mu!." Mahesa menatap tajam ke arah depan tanpa berkedip, terlihat tatapan kebencian di balik sana.

" Aku akan pegang ucapan kakak!." Arya tersenyum miring dengan ekspresi puas.

Di sisi lain, Nadira menggeleng cepat sambil menahan mulutnya dengan tangan, ia ingin sekali berteriak dan menangis tapi itu semua tak bisa ia lakukan.

" Ternyata tuan Mahesa tidak membunuhku karena aku masih menjaga Keano. Tapi saat nanti Keano tak membutuhkan ku lagi... Mereka akan membunuhku!..." gumam Nadira dengan bibir bergetar. Nadira merasa sangat bodoh dengan percaya bahwa Mahesa akan memaafkannya suatu hari nanti karena pria itu selalu membelanya, tapi saat mengetahui Mahesa hanya memanfaatkannya untuk menjaga Keano membuat hati Nadira begitu sakit.

Dengan susah payah Nadira bangkit dan pergi dari tempat itu.

Sementara itu di dalam kamar, Arya menatap puas ke arah Mahesa. Ia senang karena kakaknya ternyata punya rencana lain. Awalnya Arya kira Mahesa punya hubungan gelap dengan Nadira, tapi ternyata ia salah.

" Baiklah kak, sekarang aku akan pergi menemui mama. Ucapan kakak hari ini akan selalu aku ingat, dan aku akan menagih nya saat waktunya tiba." Arya berlalu pergi dari kamar Mahesa.

Kini menyisakan Mahesa yang menatap punggung Arya dengan ekspresi datar.

Mahesa mengepalkan tangannya di dalam saku celana, bayangan wajah Nadira seketika melintas di pikirannya.

Mahesa membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya berkecamuk bersamaan dengan bayangan wajah Nadira yang terus tercetak jelas dalam pikirannya.

Sementara itu di dalam kamar pengasuh, saat ini Nadira sedang membereskan baju bajunya. Nadira berencana kabur malam itu juga sebelum nyawanya hilang di tangan keluarga Mahesa.

" Mereka semua sangat kejam, mereka iblis. Aku harus pergi! Aku harus meninggalkan rumah ini sebelum aku benar benar menyesal. Ada ibu yang harus aku rawat!." ujar Nadira sambil memasukkan bajunya yang tak banyak ke dalam kantong kresek. Ia tak punya tas karena sudah di sita oleh polisi.

Nadira memasuki kamar Keano, walaupun keluarga bayi itu tidak baik, tapi Keano hanyalah bayi yang tidak tahu apa apa. Nadira mengusap lembut rambut Keano dan mengucapkan kata perpisahan.

" Jangan menangis lagi ya Keano, kamu anak baik dan tampan. Tidur dengan baik dan minum susu yang banyak biar cepat besar. Bibi harus pergi untuk menyelamatkan nyawa bibi. Bibi harap kamu bisa mengerti ya Keano. Selamat tinggal." Nadira mencium pucuk kepala Keano sebelum akhirnya benar benar pergi dari kamar itu.

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!