Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran
Hari Setelahnya,
Matahari sudah mulai menyingsing tinggi ketika Bu Ella dan suaminya—Pak Karim, duduk di ruang tamu rumah mereka. Di atas tikar bambu yang menjadi alas duduk ada amplop putih yang diberikan Pak Bejo kemarin sore. Bu Ella baru sempat menceritakan asal usul amplop itu pagi ini. Isinya tidak hanya upah sehari kerja, tapi uang yang jauh lebih banyak dari yang mereka bayangkan.
"Lima ratus ribu rupiah, Pak." Ucap Bu Ella dengan suara gemetar. "Ini berkali-kali lipat lebih banyak dari gaji kita biasanya. Ini bisa kita pakai buat beli beras dan kebutuhan yang lainnya."
Pak Karim menghela napas panjang. "Tapi kita tahu darimana uang ini datang, Bu. Kalau kita terima, mungkin Juragan Bejo akan menganggap kita sudah setuju dengan apa yang dia mau. Bapak yakin semua ini ada maksud tertentu."
"Iya juga ya, Pak..." Bu Ella mendengus.
Suara langkah kaki mendekat. Rara keluar dari dalam kamar dengan wajah masih muram. Dia melihat amplop itu dan segera menggeleng. "Jangan kita pakai uangnya, Pak, Bu. Rara takut kalau ada imbalannya nanti."
Tepat saat itu, terdengar bunyi mobil yang semakin dekat. Dari balik celah dinding yang koyak, Bu Ella melihat mobil putih Pak Bejo berhenti di depan rumah mereka.
"Siapa, Bu?" Tanya Pak Karim yang mendengar suara klakson mobil.
"Ju—juragan Bejo, Pak." Jawab Bu Ella dengan suara gemetar.
Sontak Pak Karim dan Bu Ella keluar dari rumah secara bersamaan untuk menemui Pak Bejo. Sedangkan Rara kembali masuk kedalam kamar atas perintah Bu Ella.
Rara duduk di tepi kasur dengan badan yang gemetar, hatinya sangat gelisah. Ia berjalan mendekat ke arah pintu kamar untuk mendengarkan apa yang terjadi diluar sana walaupun hanya sayup-sayup yang terdengar.
Pak Bejo keluar dari mobil dengan wajah yang tersenyum lebar. Di tangannya ada bungkusan berisi tepung, gula, dan beberapa butir telur. Tidak lupa sebuah amplop tebal juga terlihat jelas.
"Saya hanya mau memberikan bantuan kecil untuk keluarga yang bekerja keras," kata Pak Bejo sambil mengangkat bungkusan itu saat melihat Pak Karim dan Bu Ella yang baru saja keluar dari rumah.
Pak Karim berjalan perlahan mendekati Pak Bejo, wajahnya tetap tegas. "Terima kasih atas perhatiannya, Juragan. Tapi kami tidak bisa menerima barang dan uang ini dengan terang benderang."
"Kenapa? Apakah ada yang salah?" Pak Bejo sedikit mengerutkan kening.
"Kami tahu tentang apa yang Juragan pikirkan tentang Rara," ucap Bu Ella dengan suara yang mantap. "Anak kami masih muda dan punya masa depan yang panjang, Juragan. Kami tidak ingin dia terjebak dalam hal yang tidak dia inginkan."
Pak Bejo terdiam sejenak. Wajahnya berubah dari senyum menjadi ekspresi yang lebih serius. "Apakah ada orang yang sudah berbicara tentang saya?"
"Desas-desus memang ada, Juragan," sambung Pak Karim. "Tapi kami tidak ingin menyalahkan Anda tanpa bukti. Hanya saja, kami ingin melindungi anak kami dengan sepenuh hati."
Juragan Bejo tertawa terbahak-bahak. "Oh! Dengan kata lain, kalian menolak saya? Apakah kalian tau siapa yang kalian tolak ini?" Tanyanya dengan suara yang lebih rendah namun mengancam.
"Saya Juragan terkaya dan berpengaruh di Desa Suka Jaya, Desa yang selalu membantu desa ini kalau ada krisis pangan atau gagal panen. Untuk urusan semacam ini rasanya sangat kecil. Kalian orang miskin jangan sok jual mahal!" Ucap Juragan Bejo begitu angkuh.
Keramaian pagi ini berhasil membuat beberapa warga menjadi penasaran dan mulai berkerumun di depan rumah Pak Karim. Tidak sedikit dari mereka saling berbisik menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Saya minta tolong jangan ganggu keluarga saya, Juragan." Pak Karim bersimpuh di kaki Pak Bejo yang semakin merasa besar kepala. "Saya akan melakukan apa saja. Asal jangan mengambil putri saya."
"Saya akan tetap meminta secara baik-baik, dan saya usahakan tidak ada kekerasan. Pikirkan hal ini. Saya akan datang satu minggu lagi. Setelah saya datang, pastikan putri kalian sudah siap." Ucap Pak Bejo meninggalkan Pak Karim yang masih bersimpuh.
"Juragan! Tolong Juragan!" Teriak Pak Karim mengejar mobil Pak Bejo yang siap melaju, hingga akhirnya ia terjatuh membuat darah bercucuran keluar dari lututnya. Bu Ella segera menolong suaminya, menuntunnya untuk kembali berdiri.
Warga desa tidak bisa berbuat banyak. Karena mereka tau Pak Bejo yang sangat berpengaruh. Mereka pun tidak akan menang melawan orang yang terpandang. Hingga perlahan, kerumunan itu mulai bubar membawa desas desus yang seperti sangat menarik untuk mereka bahas. Hanya ada satu atau dua warga yang mendekat dan menepuk pundak Bu Ella dengan rasa iba. Salah satu dari mereka ada Bu Ijah.
"Semoga semua akan baik-baik saja ya, Bu Ella. Sesuai dugaan saya, lelaki hidung belang itu akan berbuat seenaknya untuk memenuhi hasratnya." Bisik Bu Ijah sangat peduli. Bu Ella membalas dengan anggukan kecil. Matanya berkaca-kaca.
Bu Ella menuntun Pak Karim masuk kedalam rumah. "Ayo, kita masuk, Pak."
"Untuk sementara, sebaiknya Rara kita titipkan dulu ke rumah Pak Dayat kerabat kita di desa sebelah, Bu. Bapak tidak ingin Rara mendengar berita tentang pernikahan ini. Bapak takut dia akan kepikiran dan mengganggu kesehatannya." Ucap Pak Karim disela langkahnya yang tertatih.
Bu Ella mengangguk tanda setuju.
_
Rara keluar dari kamar. Tangisnya pecah ketika melihat keadaan Bapaknya sekarang. "Apa yang terjadi, Pak, Bu? Kenapa sampai seperti ini?"
"Tidak apa-apa, Nak. Juragan Bejo hanya marah karena Bapak dan Ibu menolak menerima bungkusan yang ia bawa karena Bapak takut dia akan meminta balasan."
"Ini semua gara-gara Rara. Andai saja kemarin Rara tidak ikut Ibu ke ladang. Tentu ini semua tidak akan terjadi."
"Sudah, Nak. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu tidak salah. Juragan itu saja yang tidak tau diri." Bu Ella menenangkan Rara.
Sedangkan, Pak Karim hanya diam. Pikirannya berputar mencari solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi. Rasa sakit di lututnya seperti tidak berasa, dikalahkan oleh rasa khawatir pada putrinya--Rara.