NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Markas Omega dan Logika Militer yang Dingin

​Deru mesin helikopter Chinook yang memekakkan telinga memenuhi seluruh kabin. Getarannya terasa sampai ke tulang, menciptakan ritme konstan yang membuatku sulit berpikir jernih. Di luar jendela kecil, lautan api yang dulunya adalah Sektor 4 kini menghilang di kejauhan, digantikan oleh hamparan hutan pinus dan pegunungan yang menjulang tinggi. Kami terbang di atas awan, menembus kabut tebal, seolah meninggalkan neraka untuk menuju... entah ke mana.

​Kurumi duduk di sampingku, masih memeluk lututnya, wajahnya tampak kelelahan namun lega. Matanya tertuju pada pemandangan di luar, seolah mencoba mencerna realitas baru yang terpampang di hadapannya. Beberapa tentara yang juga ada di dalam kabin tidak banyak bicara. Mereka hanya duduk diam, memeriksa senjata dan perlengkapan mereka dengan ekspresi kosong.

​"Zidan," bisik Kurumi, suaranya hampir tidak terdengar di tengah bising mesin.

​Aku menoleh padanya. "Apa?"

​"Kita... kita selamat. Kita benar-benar selamat." Ada senyum tipis di bibirnya, senyum pertama yang kulihat setelah sekian lama.

​"Untuk sementara," balasku datar. "Di dunia ini, tidak ada yang namanya 'selamat sepenuhnya'. Yang ada hanyalah 'jeda'. Dan jeda ini akan segera berakhir begitu kita mendarat."

​Senyum Kurumi pudar. Dia tahu aku benar. Logikaku selalu berkata bahwa setiap jeda adalah persiapan untuk pertarungan berikutnya.

​Helikopter itu terbang selama hampir satu jam sebelum akhirnya mulai menurun, menembus lapisan awan. Di bawah kami, sebuah pemandangan yang tak terduga muncul. Bukan kota lain yang hancur, melainkan sebuah kompleks militer raksasa yang terletak di tengah lembah terpencil. Dikelilingi oleh tembok beton tinggi, menara penjaga dengan senapan mesin berat, dan ratusan tenda militer yang berbaris rapi.

​Ini adalah Markas Omega, pusat operasi militer terakhir di wilayah ini.

​"Kita sampai," bisik Kurumi, matanya terbelalak melihat betapa besarnya kompleks ini.

​Helikopter mendarat di landasan beton yang luas, dikelilingi oleh personel militer bersenjata lengkap. Begitu pintu ramp terbuka, udara dingin langsung menyerbu masuk. Bau disinfektan, bahan bakar jet, dan tanah basah memenuhi hidungku.

​"Kalian! Turun! Segera!" teriak seorang sersan berbadan tegap dengan lencana kapten di bahunya. Wajahnya keras, matanya tajam.

​Kami turun dari helikopter. Begitu kakiku menginjak tanah, aku bisa merasakan tatapan puluhan mata tentara yang mengawasi kami. Mereka melihat kami—seorang remaja dengan shotgun pompa yang kotor dan seorang gadis muda dengan sekop berlumuran darah—seolah kami adalah alien.

​"Nama dan pangkat?" tanya sersan itu, menatapku.

​"Zidan. Penyintas. Bukan militer," jawabku singkat. Aku tidak punya pangkat atau identitas lama lagi.

​Dia melirik shotgun di tanganku, lalu beralih ke Kurumi. "Dan dia?"

​"Kurumi. Penyintas. Partnerku," jawabku.

​Sersan itu mengangguk, lalu menunjuk ke arah gudang besar di ujung landasan. "Semua penyintas akan melalui proses debriefing dan pemeriksaan medis. Senjata akan disita untuk sementara. Ikuti mereka!"

​Dua orang prajurit mendekati kami, salah satunya mencoba mengambil shotgun dari tanganku.

​"Aku butuh senjata ini," kataku dingin, tidak melepaskan genggamanku.

​"Itu perintah, nak. Ini markas militer. Senjata akan dikembalikan setelah identifikasi dan verifikasi. Jangan mempersulit," kata prajurit itu, nadanya mulai mengeras.

​Logikaku berputar. Melawan mereka di sini adalah bunuh diri. Ada ratusan tentara bersenjata di sekitar. Aku harus mengalah, untuk saat ini.

​Aku menghela napas, lalu menyerahkan shotgun-ku. Prajurit itu mengambilnya dengan sedikit terkejut. Dia pasti tidak menyangka aku akan patuh.

​Kami mengikuti arahan para prajurit menuju gudang. Di dalamnya, ada puluhan penyintas lain yang juga baru tiba. Beberapa tampak ketakutan, beberapa tampak pasrah, dan beberapa tampak marah. Mereka semua duduk di bangku-bangku panjang, menunggu giliran.

​"Zidan, bagaimana ini? Kita tidak punya senjata lagi," bisik Kurumi, suaranya panik. Sekopnya juga disita.

​"Kita akan mendapatkannya kembali. Atau mencari yang baru. Di markas militer, pasti ada gudang senjata," kataku datar. Aku duduk di salah satu bangku kosong, Kurumi di sampingku. "Ini adalah awal dari permainan baru, Kurumi. Sekarang, kita harus memahami logika mereka."

​Kami menunggu selama hampir dua jam. Akhirnya, nama kami dipanggil. Kami dibawa ke sebuah ruangan kecil. Di sana, seorang dokter militer wanita dengan kacamata tebal dan seorang perwira intelijen dengan tatapan dingin sudah menunggu.

​"Selamat datang di Markas Omega," kata perwira intelijen itu, tanpa senyum. "Saya Mayor David. Dokter Alice akan melakukan pemeriksaan kesehatan. Setelah itu, kita akan bicara."

​Dokter Alice memulai pemeriksaannya. Dia memeriksa suhu tubuh kami, mengambil sampel darah, dan memeriksa luka-luka kami. Luka di kakiku yang berdarah akibat lompatan antar gedung tadi dibersihkan dan dibalut dengan perban baru. Perban di tanganku juga diganti.

​"Bersih. Tidak ada tanda-tanda infeksi virus," kata Dokter Alice setelah selesai. "Tapi kalian berdua mengalami kelelahan ekstrem dan dehidrasi ringan. Saya akan resepkan multivitamin dan istirahat."

​Setelah pemeriksaan medis, Mayor David mulai bicara. "Baik, Zidan dan Kurumi. Ceritakan semua yang kalian tahu. Dari mana kalian berasal? Bagaimana kalian bertahan hidup di Sektor 4? Dan yang terpenting, apa yang kalian lihat?"

​Aku menceritakan semuanya, tanpa emosi. Dari awal wabah, cara kami bertahan hidup di apartemen, membakar gudang, melewati basement mal, insiden mobil, hingga penampakan Crawler dan evakuasi dramatis kami. Aku menceritakan semua dengan detail, termasuk strategiku yang dingin.

​Mayor David mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat sesuatu di tabletnya. Wajahnya tetap datar, sulit ditebak. Kurumi sesekali menambahkan detail, terutama saat menceritakan kengerian yang kami alami.

​Ketika aku selesai, Mayor David terdiam sejenak. Dia menatapku lurus. "Zidan, kamu bilang kamu melihat 'evolusi' zombi. Makhluk yang kamu sebut Crawler. Bisakah kamu jelaskan lebih detail?"

​Aku menjelaskan ciri-ciri Crawler: kulit terkelupas, bergerak cepat di dinding, tidak punya mata tapi sangat sensitif terhadap gerakan. Aku juga menceritakan bagaimana aku membunuhnya dengan tembakan jarak dekat di kepala.

​Mayor David mengangguk pelan. "Informasi yang sangat berharga. Kami juga menerima laporan serupa dari unit pengintaian kami. Virusnya memang bermutasi. Kami menyebutnya 'Variant Alpha'."

​"Lalu, apa rencana kalian?" tanyaku. "Apa militer akan membersihkan semua varian zombi ini?"

​Mayor David menghela napas. "Rencana kami adalah bertahan hidup, Zidan. Kami sedang mengonsolidasikan kekuatan, mengumpulkan penyintas, dan mencari cara untuk melawan ancaman ini. Markas Omega adalah benteng terakhir."

​"Tapi dunia ini butuh lebih dari sekadar benteng. Ini butuh tindakan agresif," balasku. Logikaku tidak bisa menerima mentalitas pasif.

​Mayor David tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Logika itu tidak salah, Zidan. Tapi di sini, kami punya rantai komando. Kamu dan Kurumi adalah penyintas. Kalian akan diberi akomodasi, makanan, dan perlindungan. Untuk saat ini, itu saja."

​"Aku tidak butuh perlindungan jika perlindungan itu berarti tidak melakukan apa-apa," kataku datar.

​"Semua penyintas yang sehat akan dilatih untuk menjadi bagian dari unit pertahanan sipil. Itu adalah pilihanmu. Jika kamu tidak mau, kamu akan tetap diberi perlindungan, tapi statusmu hanya sebagai warga sipil biasa," jelas Mayor David. "Kamu memiliki kemampuan bertahan hidup yang unik, Zidan. Kami bisa memanfaatkannya."

​Aku menatapnya tajam. Dia mencoba mengukur kemampuanku. Logika militer ini mencoba memanipulasi ku agar bergabung dengan mereka. Aku suka itu. Ada tantangan baru di sini.

​"Aku akan bergabung," kataku. "Tapi aku akan bergerak dengan logikaku sendiri. Dan aku ingin senjataku dikembalikan. Shotgun-ku."

​Mayor David mengangkat alisnya. "Senjatamu akan dikembalikan jika kamu melewati pelatihan dan menunjukkan loyalitas. Dan tentang bergerak dengan logikamu sendiri... kita lihat saja nanti. Di sini, Zidan, ada aturan."

​"Aku tidak peduli dengan aturan jika aturan itu membuatku mati," balasku.

​Mayor David tidak membalas. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sama dinginya dengan tatapan mataku. Seolah dia tahu, di balik wajah datar ini, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

​"Baiklah. Kurumi, kamu akan ditempatkan di sektor medis untuk membantu para dokter. Zidan, kamu akan ditempatkan di barak pelatihan. Kalian berdua akan bertemu lagi besok setelah proses orientasi," kata Mayor David, mengakhiri pertemuan.

​Kami dibawa keluar dari ruangan itu. Aku dan Kurumi berpisah di persimpangan koridor. Kurumi menatapku dengan cemas, seolah tidak ingin berpisah.

​"Jangan khawatir. Ini hanya jeda, Kurumi. Besok kita akan bertemu lagi," kataku, mencoba memberinya sedikit ketenangan. Logikaku berkata dia butuh dukungan mental sekarang.

​Aku dibawa ke sebuah barak besar, diisi oleh puluhan pria dan wanita penyintas lainnya. Mereka semua tampak lelah, tapi ada percikan harapan di mata mereka. Harapan yang bagiku terasa sangat rapat.

​Dunia ini penuh dengan logika yang berbeda. Logika militer, logika penyintas, dan logikaku sendiri. Di antara semua itu, hanya satu yang paling penting: Logika untuk menang.

Catatan Penulis:

Zidan dan Kurumi kini berada di Markas Omega, sebuah benteng terakhir manusia. Namun, kedatangan mereka disambut oleh logika militer yang keras. Akankah Zidan, dengan prinsip anti-naifnya, mampu beradaptasi atau justru membuat kekacauan baru di markas? Jangan lupa Like dan Komentar kalian ya!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!