Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Siang itu entah kenapa Dafa ingin sekali pulang kerumahnya untuk makan siang bareng istrinya. Untung tempatnya meeting tak begitu jauh dari rumahnya sehingga lebih memilih pulang kerumah dari pada kekantor.
"Kita pulang ke rumah." titah Dafa pada asistennya.
"Baik, tuan." asisten terpaksa mengiyakan perintah bosnya. Perlahan mobil melaju menuju komplek perumahan istri sirinya.
"Selamat siang, tuan." sapa buk Siti menyambut kedatangan Dafa.
"Laras mana?" tanya Dafa.
"Ada di kamar tuan."
"Siapkan makan siang." perintah Dafa dan langsung wanita itu menyuruh menyiapkan makan siang untuk tuanya.
Dafa bergegas kekamar menemui wanita yang sangat ingin ia temui. Entah kenapa ia selalu menginginkan berada di sisi wanuta itu.
"Sayang kok pulang?" tanya Laras kaget dengan kedatangan suaminya.
"Aku ga bol3h pualng gitu? kamu ga suka aku pulang?" berunding Dafa dengan wajah dingin..
"Bukan begitu, tuan. Saya suka dan senag tuan pulang kok. Tapi aneh aja." kekeh Laras lalu memeluk suaminya dan mencium dalam tubuh yang membuatnya tenang dan nyaman.
"Jangan mancing deh. " cicit Dafa.
"Siapa yang mancing, tuan." Laras langsung melepas pelukannya.
"Aku lapar, kita makan siang bareng yuk." ajak Dafa dan di anggukan oleh Laras. Dafa merangkul istrnya berjaln menuju meja makan. Begitu banyak makanan tersaji uang mengugah selera. Laras begitu menikmati makan siangnya, karna baru kali ini ia bisa makan siang bersama suaminya. Begitu juga dengan Dafa biasanya makanya cuma sedikit kali ini ia makan sampai nambah saking nikmatnya.
"Alhamdulillah, kenyang." ucap Laras sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Permisi nona, ini obat yang tadi nyonya besar berikan. Silahkan di minum." ujar seorang pelayan.
"Baik Siti mana?" tanya Laras.
"Itu lagi mengawasi bahan - bahan makanan yang baru datang." jelas pelayan itu.
"Ooh ya sudah, makasih ya bik." ucap Laras sopan. Ia memang tak berubah meski sudah menjadi nyonya.
Pelayan itu kembali dan menemui ini Siti yang masih sibuk mengawasi kedatangan bahan - bahan makanan.
"Bu, minuman tadi sudah saya antwr ke nona." lapor pelayan itu.
"Makasih, bik."
"Itu minumnya kok aneh ya, bu?"
"Aneh gimana?" tanya ibu Suri sambil menatap bawahannya.
"Kalau setahu saja dari aroma dan rasanya sepertinya itu tidak untuk penyubur tapi lebih ke perusak janin, bu." jelas pelayan itu.
"Perasan kamu aja kali. " tepis bik Siti.
"Tidak, bu. Saya banyak sedikit tahu tentang obat - obatan herbal gitu karna ayah saya seorang ahli herbal."
"Apa? Mati aku." Bik Siti menyerahkan buku catatan yang da di Tanganya pada bawahnya dan ia setenagh berlari menuju meja makan di mana tuan dan nonanya berada. Tapi mereka sudh tak ada dan gelas yang di antar bawahnya kosong.
"Mati aku." Bik Siti menepuk jidatnya dan wajahnya berubah panik. Ia mencari keberadaan taun dan nonanya. Tanpa permisi langsung masuk kekamar dan melihat tuan dan nonanya tengah berciuman.
"Nona." panggil ibu Suri dengan nafas ngos - ngosan.
"Kamu itu lancang bik, masuk kamar main nyelonong aja. " bentak Dafa dengan wajah dingin membuat bik Siti ketakutan.
"Maafkan saya tuan, nona gelas yang di antar pelayan apakah nona minum?" tanya ibu Suri tak terlalu memperdulikan tatapan membunuh Dafa.
"Emang kenapa kok?" tanya Laras.
"Maafkan saya nona, saya salah. Harusnya bibik teliti sebelum memberikan minuman itu pada nona." ujar bin Siti dengan perasaan bersalah.
"Ooh, obat yang di antar Nyonya besar tadi pagi bukan bik?
"Iya, non."
"Sama tuan Dafa ga boleh minum, lalu di buang karna baunya ga enak." jawab Laras membuat bik Siti benggong mendengarnya. Beberapa kali wanita itu mengerjakan matanya masih belim percaya bahwa kali ini ia selamat.
"Alhamdulillah. " ucap ibu Siti dan langsung memeluk Laras tanpa memperdulikan Dafa yang ada di samping Laras. Ada rasa lega dan haru karna tidak bakal di hantui perasaan bersalah.
"Ini maksudnya apa buk?" tanya Laras seperti orang linglung.
"Ooh itu non...." ucap ibu Siti langsung dipotong Dafa dan menyuruh bik Siti keluar melalui kode dari matanya.
"Sudahlah yang, mungkin bibik lagi capek jadi salah mengantarkan obat. Itu obat dia bukan obat kamu yang di kasih mama." bohong Dafa, ia tak mau membebani istrinya dengan pikiran yang membuatnya stress dan menggangu calon anaknya.
Awalnya Laras ragu tapi karna Dafa yang berusaha keras menyakinkan dirinya makanya Laras melupakan masalah itu.
...****************...
Assalamualaikum kk
Ditunggu saran dan masukannya serat jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏