Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadian
Ternyata bukan hanya lettingnya Jemy yang kepo kejadian malam itu, namun Niken dan genknya juga. Salah satu sahabat Niken juga melihat, Jemy mengantar pulang anak tetangganya. Pagi harinya Yolla langsung menceritakan semua kejadian itu kepada Niken sahabatnya.
"Semalam aku melihat Letnan Jemy mengantar anaknya om Markus Aritonang hujan - hujan ke rumah mereka."
"Dari mana mereka??"
"Mana ku tahu??? Sebenarnya, kamu itu siapanya sih??"
"Yolla tolong cari tahu anaknya om Markus Aritonang itu kerjanya apa???"
Yolla pun menjalankan perintahnya ketua genk mereka. Selain ini Niken mulai merencanakan misinya untuk menyebarkan informasi bahwa, Letnan Satu Jeremy Alexander Purba itu adalah pacarnya Niken Teresia seorang mahasiswi di universitas negeri di Papua. Pulang beribadah ibu Lisa, mamanya Jean mendengar bincang - bincang bahwa Jemy pacaran dengan Niken anaknya ibu Arianto Julius yang mempunyai warung makan. Tempat ibu Lisa menitip kue jualannya.
"Pa, benar Jemy sudah punya pacar??"
"Mana papa tahu?? Itukan urusan mereka mama."
"Terus bagaimana dengan anak kita???"
"Emang Jean suka sama Jemy, atau sebaliknya."
"Perasaan mama sih iya." Markus Aritonang hanya mengelus rambut istrinya.
"Jangan campuri urusan anak muda." Tiba - tiba Jean hadir ditengah perbincangan dua kekasih ini.
"Ngomong apa sih dua kekasih ini??"
"Tahu tuh mama kamu non."
Hari ini, Jean kembali membantu mamanya menyelesaikan pesanan kue kering orang. Dibuat dari pagi sampai siang jam dua. Dalam rangka menyambut hari natal. Jean dan mama Lisa sudah membuat delapan toples pesanan orang. Dan tadi mama dan papa sudah mengantar. Karena kelelahan Jean baru bangun tidur siang , ketika hari sudah mau gelap ini.
"Ini uang buat beli baju baru biar bisa digunakan di hari Natal."
"Jean masih punya uang ma, baju gereja Jean juga masih bagus - bagus."
"Nona simpan. Terserah mau buat apa."
"Terima kasih mama, papa."
Jean langsung memeluk dan mencium mama dan papanya. Hati kecilnya mau membahagiakan kedua orangtuanya.
Jean langsung mandi air panas, dan duduk nonton bersama mama dan papanya. Malam hari Jemy datang, dengan muka tak berdosanya.
"Cari makan kamu??"
"Iya, kamu mau marah. Ngak ngaruh."
Dia langsung mencium mama dan papa Jean. Dan mamanya langsung menyiapkan makan malam lagi buat mereka. Dibantu oleh Jean, walaupun dia cerewet terus - menerus.
"Jangan dimanjakan mama, nanti keterusan enaknya."
"Kenapa sih cerewet terus?? Jelek tahu." Jemy sudah menyubit kedua pipi Jean.
Meskipun Jean cerewet, dia masih temani Jemy makan di meja makan sedangkan mama dan papanya nonton.
"Libur Natal ini, kamu pulang ke Jogja natal sama mama dan papa juga ade?"
"Kamu sedih aku ngak natal disini?"
" Iiiiii kepedean banget nih umat." Jemy tertawa, sampai kesedak, buru - buru Jean memberi air putih.
" Kualat itu, tertawai anak orang."
Jemy sudah selesai makan, dia bergabung dengan mama dan papa Jean. Sedangkan Jean masih membersihkan piring - piring kotornya.
"Mama nitip ole - ole buat mama, papa dan adek."
"Siap mama."
"Ingat itu buat mereka bukan buat kamu. Jadi kalau boleh jangan kamu makan."
"Jahat amat, judesnya dari kecil ngak berubah - ubah. Sadar sis ini sudah tahun moderen." Mamanya Jean langsung mengalihkan pembicaraan mereka, sebelum pertikaian besar terjadi.
"Nak, Jemy kesini ngak ada yang marah??"
"Siapa yang marah Jemy ma??? Jemy ngak salah."
"Pacar Jemy misalnya. Mama dengar Jemy pacaran dengan anaknya ibu Aritonang."
"Ma...." papa Markus menegur istrinya
"Mama mohon maaf."
"Ibu Arianto???" Jean bertanya.
"Yang punya warung itu."
"Ooo pantas setiap aku olah raga dia mengikutiku."
"Ngak ma. Itu hanya keisengan letting biar bisa makan ada tambahan lauk ma. Namanya juga anak bujang."
"Benar ngak???"
"Mama, stop kepoi Jemy dong. Kalau pacaran juga ngak masalah kan??"
"Aku ngak pacaran, mereka aja yang tergila - gila sama aku."
"Anak mamakan ganteng."
"Temani aku beli pesanan mama buat di bawa ke Jogja."
"Iiiii ogah, entar pacar kamu cemburu."
"Jemy belum punya pacar."
Malam ini, Jemy dan Jean keluar bersama, Jean membantu Jemy membeli pesanan mamanya. Waktu melewati lorong rumah mereka bertemu dengan sekelompok pemuda dan pemudi yang baru pulang dari gereja latihan buat perayaan natal. Niken dan genknya ada dalam rombongan itu.
"Bukannya itu Letnan Jemy, yang kamu bilang gebetan kamu??"
"Kok keluar dengan cewek ya??"
"Ooooo itu mba dokter Jeanne Sipora Aritonang. Anaknya tante Lisa dan om Markus. Semenjak mba Jean ada di rumah, Mas Jemy sering ke rumah mereka." Salah satu pemudi menjawab kekepoan mereka semua. Dia adalah Leny tetangga sebelah rumah dari Jean.
"Kok kamu tahu??"
"Mas Jemy dulu, tinggal dirumah yang kami tinggal itu. Mas Jemy itukan temannya mba Jean dari mereka kecil."
"Ooooo hanya teman masa kecil. Aman ken, aman hanya teman masa kecil."
"Aman apa, yang keluar naik motor berdua???"
"Pasti Letnan Jeremy di santet sama itu dokter??"
Niken dan Jemy jelas mempunyai jarak usia yang jauh sekali sekarang Jemy sudah dua puluh enam tahun sedangkan Niken baru dua puluh tahun. Jarak mereka enam tahun. Usia Jemy sama dengan Jean. Mereka tidak tahu bahwa Jean dan Jeremy itu lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama, hanya bedanyanya Jean lahir di Papua, sedangkan Jemy lahir di Jogja kampung mamanya. Itu yang membedakan mereka.
"Kenapa mampir disini ???"
"Bantu abang kemasin barang dulu."
"Wani piro mas???"
"Mau berapa, aku bayar."
"Ini mahal sekali tahu."
Semua mata memandang mereka. Jelas Jean malu ditatap seperti itu oleh para bujangan - bujangan ini. Jemy sudah menghubungi orangtua Jean memohon ijin, Jean membantu mengemasi barang - barang Jemy.
"Kamu punya foto kita berdua waktu kecil."
"Kamu ingat foto ini ngak?? Ini yang foto papaku. Dari sekolah, pendidikan sampai sekarang foto ini yang menemaniku."
"Kamu pelet aku ya??"
"Iya, biar kamu hanya sayang aku."
"Enak dikamu ngak enak di aku dong??"
"Maksudnya???"
"Ya berkat buat kamu, bencana buatku." Jemy hanya tersenyum. Namun dia menyuruh Jean untuk mengerjakan apa yang dia perintahkan.
"Ini mau langsung pindahan ya??? Kok dibawa semua???"
"Aku langsung pendidikan selesai libur natalan ini tujuh bulan di Bandung, sekolah kopasus."
Jean juga merapikan tempat tidur dan kamar mess Jeremy.
"Ngak usah sedih, aku kan bisa pulang ke Jogja setiap ada libur."
"Siapa yang sedih."
"Tuh muka kamu."
Selesai mereka keluar sebentar membeli kue kesukaan Jean terang bulan. Dan mereka makan bersama di rumah nonton sambil mama dan papa bungkus kue natal buat orangtua Jeremy mama kirim enam toples.
"Jean sampai kapan disini??"
"Sampai selesai tahun baru. Tanggal tiga sudah balik Jogja karena ada surat - surat yang harus diselesaikan."
"Berarti aku bisa jemput sebelum ke Bandung."
"Ogah, pacar aku yang jemput."
"Aku hajar dia."
"Mama lihat itu anak kebanggan mama. Jahat amat. Hei bung, siapa kamu??"
Jemy hanya melihat Jean dengan senyum sinisnya. Jean hanya tertawa. Mama dan papa Jean hanya mengeleng kepala.
"Papa, kira sudah dewasa, kebiasaan masa kecil sudah hilang. Ternyata???"
"Besok berangkat jam berapa???"
"Jam sepuluh, pa."
"Ingat Jemy, salam buat mama, papa, dan adek. Terus jaga kesehatan, diri dan sukses buat pendidikan dan masa depannya."
"Siap ma."
"Berarti selesai pendidikan sudah ngak bertugas di sini dong??"
"Semoga kembali kesini jadi komandannya ma."
"Amin amin amin."
Jean bersama, mama dan papanya langsung mengaminkan.
"Dan ibu komandannya anak mama dan papa."
Jean langsung mukanya merah. Mama dan papanya Jean langsung kaget.
"Meskipun aku sering ganggu kamu Jean, namun kamu lihat sediri tadikan, aku sedari kecil merasa kamu itu milikku sampai sekarang."
"Mama, papa, Jemy jatuh cinta sama anak mama dan papa."
Jean merasa kaget sekali. Baru perna dalam sejarah orang pacaran, laki - laki menembak perempuan di depan orangtuanya.
"Aku cinta kamu Jean. Maukah kamu jadi pacarku??"
Jemy sudah berlutut di depan Jean dan langsung memakaikan cincin yang dia beli katanya buat hadiah adeknya waktu beli itu dengan mencoba jari tangan Jean, ternyata buat menyatakan cintanya. Mama sudah senang sekali.
"Ini anak mantu mama."
Jean sudah tidak bisa berkata - kata. Dia langsung memeluk Jemy yang masih berlutut di depannya. Air matanya tumpah. Tidak ada kata - kata tetapi tindakan yang Jemy terima. Pelukan berarti tanda sayang.
"Jawabannya apa non??"
"Jean mau jadi pacar Jemy."
"Selesai pendidikan, Jeremy dan keluarga akan datang melamar Jean dari mama dan papa."
"Mama dan papa tahu, apa yang kamu buat seperti ini melamar Jean menjadi pacar didepan kami."
"Ini skenario yang papa suruh."
"Ya ngak kreatif."
Jemy senang sekali. Dia masih duduk sampai jam sepuluh lewat. Kemudian dia pamit kepada mama dan papa, juga Jean. Kali ini dia mencium kening Jean.
"See you in Jogja."