NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

## Bab 2: Anatomi Nasi dan Natrium

Bunyi bel istirahat pertama di SMA 3 Tanjung Balai tidak pernah terdengar seperti melodi. Bagi sebagian besar siswa, ia adalah gong pembuka pintu sel yang memicu migrasi massal menuju kantin. Aroma bakso kuah pedas yang meninju hidung, uap mi instan yang sarat MSG, hingga wangi gurih gorengan panas yang baru saja diangkat dari kuali, seketika menjajah koridor sekolah. Atmosfer menjadi sarat dengan suara deru langkah kaki dan tawa yang dipaksakan, sebuah hiruk-pikuk yang menuntut pemuasan nafsu makan.

Rafi duduk mematung di bangkunya, menjadi satu-satunya titik statis di tengah kekacauan itu.

Matanya menatap kosong ke papan tulis yang masih menyisakan sisa-sisa rumus trigonometri—barisan angka sinus dan kosinus yang terasa jauh lebih mudah diprediksi daripada sisa saldo di celengannya. Secara analitis, ia sedang melakukan manajemen waktu. Ia harus menunggu setidaknya sepuluh menit hingga kelas benar-benar kosong, atau sampai orbit teman-temannya—Dika dan kawan-kawan—menjauh dari radar pintunya.

"Fi, nggak ke kantin? Hari ini Bu Kantin masak soto ayam, lho. Lemaknya bening, masih panas!" ajak Dika sambil menghantam bahu Rafi dengan gaya akrab yang kasar.

Rafi memaksakan sebuah senyuman—sejenis tarikan otot wajah yang lebih mirip topeng daripada ekspresi kebahagiaan. Tangannya secara refleks masuk ke dalam saku celana, ujung jempolnya meraba tekstur kasar lembaran uang sepuluh ribu rupiah. Uang itu terasa membakar kulitnya. Jika ia menyerah pada godaan soto ayam itu, ia baru saja melakukan bunuh diri finansial terhadap target tabungannya. Secara logis, soto ayam adalah kenikmatan jangka pendek yang akan merusak struktur rencana besarnya ke Kisaran.

"Duluan aja, Dik. Perut gue agak melilit. Tadi pagi udah sarapan berat di rumah," bohong Rafi.

Suaranya datar, tanpa nada defensif yang berlebihan—sebuah kebohongan yang sudah dikalibrasi berkali-kali.

"Ya elah, rugi lu. Ya sudah, gue duluan ya!"

Begitu punggung Dika menghilang, Rafi menarik napas panjang, mengeluarkan udara sesak yang sempat tertahan di dadanya. Ia melakukan pemindaian visual ke sekeliling kelas. Hanya tersisa tiga siswi di pojok depan yang sedang sibuk membedah gosip terbaru di layar ponsel mereka. Perlahan, dengan gerakan yang hampir menyerupai pencuri, Rafi menarik tas ranselnya yang sudah mulai berudul di bagian ritsleting.

Dari kompartemen paling dalam, ia mengeluarkan sebuah kotak makan plastik berwarna biru kusam.

Kotak itu tidak menjanjikan kemewahan nasi goreng sosis atau lauk ayam goreng tepung.

Begitu tutupnya dibuka, uap tipis yang sudah mendingin menguap, membawa aroma yang sangat minimalis: nasi putih hangat dan butiran garam dapur yang mulai mencair karena uap panas yang terperangkap.

Rafi menggenggam sendok plastiknya. Ia makan dengan posisi tubuh sedikit membungkuk, menggunakan punggungnya sebagai perisai dari pandangan dunia luar. Setiap suapan terasa berat.

Tekstur nasi yang hambar bertemu dengan ledakan rasa asin natrium yang tajam di lidahnya.

Namun, di dalam kepalanya, rasa asin itu berubah menjadi angka digital yang menyenangkan: **+10.000 rupiah** untuk "proyek harga diri" di rumah.

Kerongkongannya terasa kering, hampir sakit. Nasi tanpa kuah itu tersangkut di tenggorokan, memaksanya untuk menelan dengan susah payah. Namun, rasa perih di lambungnya yang tidak mendapat asupan protein justru ia nikmati sebagai sebuah kemenangan moral.

Dalam kondisi ekonomi yang mengalami inflasi harapan seperti sekarang, sepuluh ribu mungkin tidak lebih dari sekadar recehan bagi siswa yang orang tuanya memiliki perkebunan sawit luas di pinggiran Tanjung Balai. Tapi bagi Rafi, sepuluh ribu adalah sepuluh kilometer tambahan perjalanan bus menuju Nisa. Sepuluh ribu adalah separuh tiket bioskop 5D yang ia rancang sebagai "kejutan teknologi" untuk gadis itu.

Tiba-tiba, suara tawa dari arah koridor membuatnya tersentak. Sekelompok siswi dari kelas sebelah melintas dengan gaya yang mencolok, masing-masing membawa gelas plastik berukuran besar berisi minuman boba cokelat dengan *topping* keju yang melimpah.

Aroma manis susu dan gula aren menyerbu masuk ke dalam kelas, bertabrakan secara brutal dengan aroma nasi garam Rafi yang hambar.

Rafi merasakan sengatan malu yang panas merambat ke telinganya. Budaya konsumerisme di sekolah ini benar-benar tidak mengenal belas kasihan. Di sebuah dunia di mana status sosial diukur dari apa yang kau tenteng dari kantin, nasi garam adalah sebuah anomali—sebuah penghinaan terhadap ego remaja.

Secara skeptis, otaknya mulai melakukan serangan balik. *Apakah ini masuk akal?

Mengorbankan metabolisme tubuh dan nutrisi otak demi seorang gadis yang mungkin saat ini sedang tertawa dibonceng cowok lain? Apakah biaya peluang dari rasa lapar ini akan menghasilkan ROI (Return on Investment) emosional yang sebanding?*

Namun, setiap kali logika skeptis itu mencoba meruntuhkan tekadnya, bayangan senyum Nisa di layar ponselnya—gadis SMK Bisnis yang tampak begitu modern dan jauh—kembali menjadi bensin bagi motor penggeraknya. Nisa adalah validasi.

Nisa adalah bukti bahwa ia bisa menjadi "seseorang" yang mampu memberikan kencan berkelas, bukan sekadar cowok bengkel yang bajunya berbau oli.

Ia beranjak dari bangkunya, membawa kotak biru itu menuju pojok perpustakaan yang hampir tidak pernah dikunjungi siswa saat jam istirahat. Di sana, di antara deretan buku sejarah yang sampulnya sudah berjamur, Rafi melanjutkan ritualnya. Ia tidak lagi peduli dengan rasa lapar yang hanya terganjal karbohidrat dan natrium.

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku seragamnya yang kusam. Di sana, ia melakukan pembukuan dengan ketelitian yang nyaris gila:

* **Senin:** Rp10.000 (Subsidi Nasi Garam)

* **Selasa:** Rp10.000 (Subsidi Nasi Garam)

* **Rabu:** Rp10.000 (Subsidi Nasi Garam)

Secara struktural, ia sudah berada di koridor yang tepat. Tantangan terbesarnya bukanlah rasa lapar, melainkan menjaga rahasia ini agar tidak bocor ke permukaan. Jika dunia tahu, ia akan dicap sebagai "cowok pelit" atau lebih buruk lagi, "objek kasihan".

Dan di Tanjung Balai, dikasihani adalah penghinaan yang lebih berat daripada dipukul.

Rafi memejamkan mata, membayangkan dirinya duduk di *food court* Irian Kisaran nanti. Ia bisa merasakan aroma semu dari ayam penyet yang gurih dengan sambal terasi yang pedasnya menggigit lidah. Ia membayangkan dirinya membayar dengan gerakan tangan yang mantap, melihat binar mata Nisa yang merasa dihargai oleh seorang pria yang royal.

"Satu minggu lagi, Rafi. Bertahanlah dengan garam ini satu minggu lagi," ia membisikkan mantra itu pada dirinya sendiri.

Bel masuk berbunyi, memutus lamunannya. Rafi buru-buru menyapu remah-remah gaRam yang menempel di ujung sendok dengan jarinya, seolah setiap butir natrium itu adalah bagian dari hartanya. Ia meminum air mineral dari botol bekas yang ia isi ulang dari keran sekolah, mencoba membilas rasa asin yang melekat di langit-langit mulutnya.

Begitu ia kembali ke kelas, Dika masuk sambil bersendawa keras, memamerkan kepuasan lambungnya yang baru saja mencerna soto ayam.

"Woi, Fi! Rugi berat lu! Soto Bu Kantin tadi koya-nya banyak banget, gurih parah!" seru Dika tanpa beban.

Rafi hanya tersenyum tipis. Tangannya meraba saku, memastikan lembaran sepuluh ribu itu tetap di sana, aman dari godaan soto. Uang itu akan segera bertemu dengan ayam merah di rumah untuk menjadi bagian dari tiga ratus ribu yang ia impikan.

"Iya, Dik. Perut gue lagi sensitif aja," jawab Rafi tenang.

Di mata Dika, Rafi hanyalah teman yang kurang nafsu makan. Tapi di dalam simulasi otaknya, Rafi adalah seorang analis ulung yang baru saja memenangkan pertempuran melawan impuls konsumtif. Perjalanan menuju Kisaran masih panjang, dan aroma nasi garam ini adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah martabat yang ia sebut cinta.

Namun, tepat setelah bel pulang berbunyi, Rafi menemukan sebuah robekan kertas di bawah mejanya. Tulisan tangan yang rapi dan harum parfum yang feminin. *“Rafi, aku tahu apa yang ada di kotak birumu. Jangan menyiksa diri sendiri hanya untuk aku...”* Rafi membeku. Sejak kapan Nisa tahu? Dan yang lebih penting, dari mana surat itu berasal jika Nisa berada di kota yang berbeda?

1
MRYSS
wkwk kock bngt demi cwe sanggup pelit Ama diri sendiri, Thor BKIN novel jgn terlalu kaku lah msaa BKIN novel kyk lagi ulangan fisika
Founna: heh hehehhehe..... emank perjuangan rakyat jelata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!