Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpecahan
Matahari sore merembang merah, namun hawa dingin yang menusuk tulang justru menyelimuti sekujur tubuh Sugeng saat ia melangkah pulang dari Warung Pojok. Mood-nya benar-benar hancur. Bayangan Agus yang begitu percaya diri ingin mendekati Ratri terus berputar-putar di kepalanya seperti gasing yang tajam. Ada rasa panas yang membakar di dadanya—rasa cemburu yang tidak masuk akal, seolah-olah Ratri adalah miliknya yang paling berharga, melebihi nyawanya sendiri.
Sugeng menendang pintu kayu rumahnya dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan seisi rumah.
"Mas? Sudah pulang? Tumben jam segini sudah di rumah," sapa Wiwin, istrinya, dari balik tirai dapur. Wiwin keluar sambil menyeka tangan di daster batiknya yang sudah pudar. "Mas, tadi sayur lodehnya sudah habis dimakan anak-anak. Mau kubuatkan telur dadar saja atau mau beli sate di depan?"
Sugeng tidak menjawab. Ia hanya menatap Wiwin dengan pandangan benci yang tak beralasan. Di mata Sugeng yang sudah terpengaruh sihir susuk Suanggi, wajah Wiwin yang kusam dan berpeluh itu tampak sangat menjijikkan jika dibandingkan dengan kemilau kulit porselen Ratri.
"Lodeh habis ya masak lagi! Punya istri kerjanya cuma menghabiskan duit tapi masak saja tidak becus!" bentak Sugeng, suaranya menggelegar di ruang tengah.
Wiwin tersentak. "Loh, Mas... tadi kan aku sudah bilang uang belanja tinggal sedikit. Lagipula Mas sendiri yang bilang jangan boros-boros—"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Wiwin. Wanita itu terhuyung, menabrak meja kayu. Matanya membelalak kaget, tangannya gemetar memegangi pipinya yang perlahan memerah dan terasa panas. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, Sugeng memang keras kepala, tapi ia tidak pernah sekalipun bermain tangan.
"Berisik! Kamu itu cuma tahu menjawab saja!" terumbar makian dari mulut Sugeng yang kini terasa pahit.
Belum sempat Wiwin mencerna rasa sakitnya, anak sulung mereka yang berusia tujuh tahun berlari masuk dari pintu depan dengan pakaian penuh tanah setelah bermain bola plastik dengan teman-temannya. Tanpa sengaja, tangan kecil si bocah yang kotor menyentuh sarung baru yang dikenakan Sugeng.
"Bapak! Lihat, aku menang tadi!" teriak si bocah kegirangan.
Sugeng melihat noda tanah di sarungnya dan seketika kemarahannya meledak melampaui batas. Ia menjambak kerah baju anaknya dan melayangkan satu pukulan ke pundak bocah itu. Meski tidak sekeras pukulan pada orang dewasa, jeritan tangis sang anak memecah kesunyian sore itu.
"Anak kurang ajar! Tidak lihat Bapakmu lagi pusing?! Pergi sana! Cuci muka!" teriak Sugeng sambil mendorong anaknya hingga jatuh terduduk.
Wiwin segera memeluk anaknya, membawa si kecil masuk ke dalam kamar sambil terisak. Ia menatap punggung suaminya dengan perasaan ngeri. Sugeng yang ia kenal telah lenyap. Pria yang berdiri di sana kini tampak seperti orang asing yang jiwanya telah digantikan oleh sesuatu yang gelap dan kasar.
Malam pun tiba di Desa Karang Jati. Suasana rumah Sugeng terasa sangat mencekam. Wiwin memilih diam, namun pikirannya bekerja keras. Ia teringat kejadian kemarin malam. Saat itu, ia terbangun di tengah malam karena mendengar suara-suara aneh dari arah Sugeng yang tidur di sampingnya.
Sugeng tidak mengigau ketakutan. Sebaliknya, Sugeng mendesah-desah. Napasnya memburu, tangannya meraba-raba bantal seolah-olah ia sedang memeluk seseorang. Suara erangan kenikmatan itu begitu nyata hingga Wiwin merasa mual. Awalnya, Wiwin menganggap itu hanya bunga tidur biasa—mungkin suaminya sedang lelah. Namun, melihat kekerasan yang dilakukan Sugeng sore tadi, Wiwin mulai curiga.
Jangan-jangan Mas Sugeng punya simpanan di desa sebelah, batin Wiwin saat ia berpura-pura memejamkan mata di samping suaminya yang sudah mendengkur halus. Atau dia main ke lokalisasi di kota? Awas saja... kalau sampai benar, akan kubakar wanita itu hidup-hidup.
Hening malam semakin larut. Suara jangkrik bersahutan di luar, namun di dalam kamar itu, suasana kembali berubah.
"Uhhh... Rat... mmmh..."
Wiwin membuka mata perlahan. Ia menahan napas. Sugeng mulai lagi. Kali ini suaranya lebih keras, lebih liar. Tubuh Sugeng menggeliat di balik selimut. Wiwin bisa mendengar derit ranjang bambu mereka seiring dengan gerakan pinggul Sugeng yang seolah sedang memacu sesuatu dalam fantasinya.
Itulah efek mematikan dari susuk Suanggi milik Ratri. Siapa pun pria yang telah menyentuh "pusaka" ghaib di dalam tubuh Ratri, maka jiwanya akan terikat. Suanggi akan terus memberikan halusinasi bersetubuh yang sangat nyata di dalam mimpi korbannya. Kenikmatan itu seribu kali lipat lebih dahsyat dari hubungan badan normal, namun kenikmatan itu juga yang perlahan-lahan menghisap kewarasan dan energi hidup sang korban.
Wiwin bangkit dari tidurnya, duduk di pinggir ranjang sambil menatap suaminya dengan mata yang menyala karena cemburu dan marah. Ia menunggu. Ia menunggu satu nama keluar dari mulut Sugeng. Ia ingin tahu siapa wanita yang sedang dilayani suaminya dalam mimpi jahanam itu.
Namun, Sugeng tidak kunjung menyebutkan nama. Ia hanya mengerang, menjilat bibirnya sendiri, dan sesekali membisikkan kata-kata kotor yang membuat telinga Wiwin panas.
Wiwin kemudian melihat ke bawah selimut. Ia melihat "barang" milik Sugeng sudah bangun tegak paripurna, menegang sangat keras di balik kain sarung. Gairah itu tampak sangat tidak wajar—seolah-olah ada kekuatan ghaib yang memaksanya untuk terus berdiri.
Emosi Wiwin meledak. Ia merasa harga dirinya sebagai istri diinjak-injak di ranjangnya sendiri. Diambilnya sebuah bantal keras di sampingnya, lalu dengan sekuat tenaga, ia memukulkannya tepat ke arah selangkangan Sugeng yang sedang menegang itu.
"MAS SUGENG! BANGUN KAMU LAKI-LAKI BEJAT!" teriak Wiwin histeris.
DUG!
"AAAGGGHHHHH!"
Sugeng melonjak kaget. Rasa sakit yang luar biasa menghantam area pribadinya yang sedang dalam puncak ketegangan ghaib. Pukulan Wiwin yang bertenaga membuat syaraf-syaraf Sugeng yang sedang "melayang" bersama bayangan Ratri seolah ditarik paksa kembali ke bumi.
Sugeng terbangun dengan mata merah padam. Nafasnya terengah-engah, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia menatap Wiwin dengan tatapan seperti ingin membunuh.
"APA-APAAN KAMU, WIN?! GILA KAMU YA?!" bentak Sugeng sambil memegangi selangkangannya yang berdenyut nyeri.
"AKU YANG GILA ATAU KAMU YANG GILA SETAN?!" balas Wiwin tak kalah kencang. Air matanya tumpah. "Setiap malam kamu begini! Kamu bayangkan siapa hah?! Kamu mimpi sama siapa sampai suaramu seperti binatang begitu?! Siapa wanita itu, Mas?! Sebut namanya!"
Sugeng terdiam sesaat. Di kepalanya, bayangan Ratri yang sedang tersenyum menggoda masih tersisa, membuat dunianya terasa ganda. Ia merasa istrinya adalah pengganggu yang merusak surganya.
"Bukan urusanmu! Itu cuma mimpi! Kamu jangan sok tahu!" Sugeng bangkit dari ranjang, mencoba pergi namun Wiwin menarik sarungnya.
"Mimpi katamu?! Barangmu sampai tegak begitu setiap malam bukan karena mimpi biasa! Kamu pasti kena pelet, atau kamu memang sudah tidak butuh aku lagi sebagai istrimu! Jawab, Mas! Siapa wanita itu?!"
"SUDAH KUBILANG DIAM!" Sugeng mendorong Wiwin hingga jatuh ke lantai. "Kamu itu cuma istri desa yang tahu mengeluh! Jangan samakan dirimu dengan wanita yang ada di mimpiku! Kamu tidak ada apa-apanya!"
Kata-kata Sugeng bagai sembilu yang menyayat hati Wiwin. Pengakuan tak langsung itu membuat Wiwin tertawa dalam tangisnya. "Oh... jadi benar? Ada wanita lain? Bagus... bagus sekali, Mas Sugeng. Lihat saja, besok seluruh desa akan tahu kelakuanmu!"
"Berani kamu bicara diluar, aku bunuh kamu!" ancam Sugeng dengan wajah yang benar-benar gelap.
Adu mulut itu terus berlanjut. Teriakan, makian, dan isakan tangis memenuhi rumah kecil itu hingga fajar menyingsing. Para tetangga yang mulai terbangun untuk shalat subuh hanya bisa berbisik-bisik dari balik tembok rumah masing-masing, bertanya-tanya setan apa yang sedang merasuki rumah tangga Sugeng.
Sementara itu, di Desa Sukomaju, Ratri terbangun dengan tubuh yang segar bugar. Ia bisa merasakan energi yang dikirimkan oleh Suanggi dari hasil "perjamuan mimpi" Sugeng semalam. Ia bangkit, berdiri di depan cermin, dan melihat warna kemerahan di susuk emasnya semakin cerah.
"Satu rumah tangga lagi mulai hancur," gumam Ratri sambil mengoleskan minyak melati di lehernya. "Sugeng akan semakin gila, dan istrinya akan menjadi api yang membantuku membakar kewarasannya. Sekarang... tinggal menunggu orang sombong berikut nya datang menyerahkan nyawanya."
Ratri tertawa rendah. Ia tahu, di Karang Jati, benih kebencian telah tumbuh menjadi pohon yang besar, dan sebentar lagi, buah-buah kematian akan siap dipanen satu per satu.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno