yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Di tengah konflik semakin parah, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk terus bertahan. Tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Perjalanan panjang baru akan di mulai. Para pengungsi yang terpilih untuk kembali sudah berkumpul di depan jalan utama.
Ibu-ibu, anak-anak, dan para orangtua sepuh sudah mulai berdatangan satu persatu untuk berkumpul. Tas dan barang bawaan mereka sudah ter packing rapi diatas kereta beroda yang biasa mereka gunakan untuk membawa barang untuk berjualan di pasar selama di pengungsian.
Tas-tas ransel tergantung dipunggung mereka. Koper dan tas besar sebisa mungkin mereka bawa menggunakan kereta beroda (gerobak) kecil.
Bus? Truk? Tidak ada. Para penjajah itu tidak mengizinkan adanya bus atau truk untuk mengangkut para pengungsi itu. Jadilah mereka hanya berjalan kaki menyusuri jalan hingga ke tujuan mereka.
Keluarga Yaseer tak tertinggal, dengan barang bawaan mereka yang memang tak terlalu banyak, memudahkan perjalanan mereka.
Jaket tebal ber tudung terpasang di badan mereka masing-masing, untuk menghalau panas atau dingin selama di perjalanan. Perbekalan makanan sekedarnya, seperti kurma dan air minum.
Mereka semua berjalan beriringan memenuhi jalan dengan suka cita. Pulang ... momen yang sudah lama mereka tunggu, entah seperti apa kehidupan mereka berikutnya setelah di kampung halaman.
Semua berjalan santai. Ada yang menarik kereta beroda kecil, ada juga yang menggunakan motor roda tiga untuk mengangkut barang bahkan anak-anak mereka.
Pemandangan yang menyayat hati, begitu melelahkan. Bukan sekilo dua kilo, tapi ratusan kilo yang akan mereka tempuh.
Kaki-kaki lemah, kaki-kaki kecil, dan kaki-kaki penuh tekad itu melangkah penuh harap mereka akan selamat, aman hingga ke rumah-rumah mereka.
" Aku cape'...," lirih Abia.
" Kita baru berjalan tiga puluh menit Abia...," Sahut Hania.
" Coba ada Abang, aku bisa minta gendong kayak dia." matanya melihat anak yang di atas pundak ayahnya.
Hania mengikuti arah pandang Abia. Ya seorang anak tiga tahun yang naik ke pundak ayah nya. Hania tersenyum, " Jadi ingat dulu baba suka gendong Abia seperti itu...."
" Ya di momen begini kita bisa melihat berbagai keadaan manusia. Lelah, penat, stres dengan bawaan yang berat dan banyak, semangat, ada juga yang tampak kepayahan dalam langkah nya." Mata anak-anak Laila mengedar mencari orang-orang yang dimaksud ummi nya.
" Ya. Dan kita salah satu diantara mereka." Ujar Yaseer.
" Bersabar ya nak, perjalanan kita masih saaangat jauh, nanti kita beristirahat sebentar lagi ya." Hibur Laila.
" Kak... Telepati!" Perintah Abia pada Yaseer.
" emmm....!!" angguk Yaseer mantap mengikuti perintah Abia.
Yaseer menghentikan langkah nya, ia menggerakkan kedua tangan nya memutar berlawanan dan berakhir di tangkupkan di depan dada. " Sim salabim!"
Kepala di anggukkan sekali. "Tring... Kita masih di tempat," Kata Yasser meng akhiri aksi nya. Dan melanjutkan langkah nya.
Hahaha....
Abia dan Hania tertawa melihat aksi konyol Yaseer. " Bagus bagus.. Hiburan ya dek.. Hhihi.." Ucap Hania sambil memegang perut nya geli.
" Lagian aneh-aneh... Mana ada yang kayak gitu..."Ujar Yaseer heran.
" Coba lagi kak!!!" seru salah satu anak seusia Abia di belakang mereka.
Eh...
Hahaha.....
****
Chekpoint satu terlewati dengan aman, bukan berarti mudah, intinya rombongan Yasser yang tiba saat itu bisa melewati pemeriksaan dengan tanpa banyak drama.
Setelah melewati titik check point kedua, mereka beristirahat sejenak. Mereka melaksanakan sholat dhuhur yang hampir kehabisan waktu.
Mereka kesulitan dalam mencari tempat untuk sholat, karena sulitnya mencari area yang tersedia air. Dan di sinilah akhirnya mereka bisa menunaikan sholat berjamaah sholat jama' qashar, dhuhur dan asar.
Yaseer dipercaya menjadi imam di kelompok ke dua. Ia menyelesaikan sholat nya di lanjutkan dzikir dengan khusyuk.
Hania dan Abia menyelesaikan sholat nya lebih dulu, dan menghampiri ummi nya yang sedang duduk di bawah pohon.
" Abia, akak sini, kita minum dulu !" Ajak Laila begitu melihat anaknya datang mendekat.
" Alhamdulillah... Airnya seger banget ya Allah...." Gumam Hania pelan.
" Iya ih... Alhamdulillah... " Abia ikutan merasa lega.
" Kita isi penuh wadah air minum kita. Ummi lihat airnya bersih. Semoga aman di minum tanpa di masak."Ajak ummi nya pada anak-anaknya.
" iya mi. Yuk kak." Ajak Abia.
Yaseer datang mendekat juga. " Lho pada kemana mi?"
" Lagi isi botol minum buat bekal." Jawab umminya sambil menyodorkan botol air untuk Yaseer.
" Alhamdulillah. Air nya segar ya mi."
" Hei, jangan ambil air di situ!" Seru salah satu penduduk yang lewat.
Abia dan Hania terkejut setelah mengisi penuh botol airnya. Mereka memperhatikan isi botolnya dengan seksama.
" Airnya bening kok, iya kan, kak?"
" He em.. Gimana, mau kita buang?"
Yaseer menghampiri bapak yang tak jauh darinya duduk. " Pak, yang aman untuk di minum yang mana?" Tanya Yaseer memastikan supaya tak salah ambil.
" Yang di situ saja. Yang di sumbernya!" Suruh penduduk itu.
Yaseer memanggil Abia. " Tadi kamu ambil air dimana dek?" Tanya nya kepada Abia.
" Ya di situ itu. Iya kan kak?" Hania mengangguk.
" Owh berarti aman."
" Pak, tadi yang bapak larang siapa?" Tanya Yaseer lagi.
" Itu, anak yang itu. coba kamu tanya lagi. Bisa bahaya kalau sampai terminum." Jawabnya menunjuk seorang anak yang membawa air di botol lusuh.
" oh. Iya sebentar."
Yaseer menghampiri anak itu yang berjalan sedikit jauh dari tempat air. Ia menepuk bahu anak itu. " Dek .... kamu ambil air itu buat apa? Botol mu kotor." Tunjuk Yaseer pada botol di tangan anak itu.
" Ini air buat bersihin Dede bayi kak. Tuh...!" Tunjuk nya pada seorang ibu yang sedang membersihkan kotoran bayinya.
" Owh... Iya hehe..."
***
Saat mereka sedang duduk bersantai sejenak. Dari jauh nampak tiga truk besar berjalan beriringan ke arah mereka.
" Itu truk mau kemana ya?"
" Banyak orang di dalam nya kak"
" Yah lewat doang..." Lirih Hania lesu.
Truk ke dua pun melewati mereka. Begitu truk ke tiga, truk itu berhenti.
" Ayo cepat naik!!!" Seru sang sopir pada mereka yang duduk beristirahat.
" eh.. Ya Allah...!"
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.