"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Kael masuk ke kamarnya, tak ada yang berbeda, hanya tumpukan buku kuliah mahiya terletak di atas meja kerjanya.
Kael pengen mandi, nggak terasa udah hampir jam 4 sore.
"hhhhhhhh.."
Dengusan nafas kael terdengar kasar, gimana caranya minta maaf ke mahiya. Dia tahu gadis itu pasti masih marah padanya, secara tadi emang dia nggak ngotak banget.
"nanti kita pikirkan kael, sekarang mandi dulu ah" gumamnya sembari melangkah ke kamar mandinya.
Mahiya yang masih di kamar, memberi instruksi ke adik laki-lakinya itu. Meletakkan pakaian fikral ke dalam lemari, sambil memberi petunjuk dan aturan selama adiknya nginap di apartemen kael itu.
"ingat fik, jangan sesekali ninggalin salat, walau abi dan ummi nggak ada disini"
"iya mbak.." sahut fikral cepat.
"emangnya fikral masih bocah apa, pakai diingatin tentang kewajiban"
Mahiya tersenyum bangga, sambil nepukin bahu adiknya.
"udah ashar belum?, gih salat dulu!"
Fikral mengangguk,
"mbak tinggal yah, mbak juga mau salat!"
Mahiya meninggalkan adiknya setelah menunjukkan kamar mandi, dia juga minta fikral untuk istirahat dulu sebelum maghrib menjelang.
Mahiya berdiri di depan pintu kamar kael dengan dada berdebar kencang, sejujurnya sih agak risih.
Gimana kalau cowok itu ternyata berada di dalam, dan sedang tidak berpakaian.
"hhhhhhh..." hembusan nafasnya berat banget, tapi yah mau gimana lagi. Mahiya belum salat ashar, sementara mukenah dan sajadahnya sudah di kamar kael.
"bismillah.." gumam mahiya pelan.
Dan, taraaaa...
Beneran kan, kael di dalam. Baru keluar dari kamar mandi hanya berhanduk ria sebatas pinggang ke bawah.
Kael kaget, mahiya apalagi, jauh lebih kaget. Mata mereka saling pandang, mahiya melengos. Tangannya sudah menarik handle pintu dan ingin menutupnya lagi, tapi kael melarangnya.
"masuklah..!, nanti fikral lihat, malah aneh"
Mahiya menyeret langkahnya yang mendadak berat, matanya sama sekali nggak berani menatap pandangan indah di depannya.
"aku mau salat ashar kak"
"silahkan.." angguk kael cepat, langkahnya menuju walking closet meninggalkan mahiya yang juga buru-buru ke kamar mandi.
Kael sebenarnya gugup juga, entah sejak kapan tapi emang belakangan ini dia sering banget merasa deg-degan jika terjebak suasana awkward kek tadi.
Kael sibuk menata jantungnya,
"ahhh mungkin karena efek ciuman di meja makan tadi"
Kael sibuk mengafirmasi dirinya sendiri, bahwa nggak mungkin dia menyukai mahiya.
Kael keluar dari walking closet memakai kaos putih oversize dan sweatpants hitamnya, dia menyugar rambut basahnya.
Kael tersentak, terpaku menatap mahiya yang sepertinya baru selesai mandi. Rambutnya yang dicepol tinggi dengan beberapa anak rambutnya yang tertinggal basah menempel di pipi, membuat gadis itu terlihat sangat cantik dan menggoda.
Kael menelan salivanya, gerakan jakun yang turun naik jelas kael terjebak kegugupan lagi.
"maaf kak, aku nebeng mandi di kamar mandi kakak, kalau di luar nggak enak ama fikral nanti dia curiga"
Kael cuman ngangguk doang,mendadak lidahnya berasa kelu.
"udah selesai salat?"
Mahiya menggeleng, suara kael terdengar parau. Keknya kael benar-benar terpesona, beberapa kali matanya nggak sanggup menatap mahiya lama.
"kakak tunggu di luar yah"
Mahiya mengangguk, tapi nggak lagi menatap kael, karena gadis itu sudah dalam posisi berdiri tegak.
Kael duduk di sofa di ruang tamu, tangannya menggulir layar ponsel, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar, sorot mata coklatnya penuh harap.
"mas..!"
Kael tersentak kaget, menoleh cepat dengan raut terkejutnya. Fikral, adik iparnya itu menjinjing sepatu bola.
"fikral mau ijin latihan bola bareng teman, boleh?"
Kael mengernyitkan keningnya,
"sekarang?"
Fikral mengangguk cepat,
"iya mas, teman fikral udah jemput dan menunggu di lobby"
"ijin ke mbak mahi juga yah, ntar lagi mbak kamu keluar kok"
Fikral mengangguk sopan, dia duduk di samping kael menunggu kakaknya.
"kenapa nggak ngomong dari tadi, kan mas bisa antar kamu"
"hehehhehe..." tawa fikral terdengar sopan.
"sebenarnya tadi nggak ada rencana sih mas, tapi keinget bentar lagi kami ada pertandingan dengan sekolah lain, jadi teman-teman yang lain pada ngajakin"
"ohhh.." sahut kael singkat, tetiba kepalanya menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Mahiya keluar sudah rapi, rambutnya sudah rapi walau masih tetap di cepol tinggi. Kael menelan salivanya lagi, entah mengapa seharian ini perasaannya sedikit aneh.
"mau kemana kamu?" mata mahiya memicing, menatap adik laki-lakinya penasaran.
"mau latihan futsal mbak, teman-teman pada nungguin di lobby"
Mahiya belum menjawab, dia duduk di sisi kael dengan santainya. Nggak begitu rapat sih duduknya, tapi cukup membuat jantung kael berdegub kencang lagi.
"bolehkan mbak?"
Mahiya menatap kael, seakan meminta ijin pria itu, kael mengangguk paham.
"tadi fikral udah ijin padaku, kakak bilang tunggu ijin kamu dulu"
"yah udah, tapi jangan sampai maghrib yah!" ujar mahiya mengangguk pada fikral yqng tersenyum.
Anak laki-laki tampan itu hendak beranjak, tetiba kael mengeluarkan selembar uang ratusan dan menyerahkan pada fikral, adiknya mahiya itu menatap heran dan hampir menggeleng, tapi kael dengan cepat memasukkan ke saku baju fikral.
"nanti buat beli minum atau apalah, ntar kalau mau pulang, kalau teman kamu nggak mau antar, hubungi mas yah, biar mas jemput"
Fikral tersenyum senang, kelihatan jelas di wajah anak laki-laki itu rasa bahagia. Mungkin kek gini rasanya punya kakak laki-laki yah.
Fikral mengangguk, sambil salim sopan dan pamit. Mahiya hanya diam mengamati interaksi adiknya dan kael, ada yang menghangat di dalam dadanya.
Perlakuan kael kepada adiknya terlihat sangat tulus, tapi entah kenapa malah membuat perasaan mahiya sakit, mendadak perasaannya melow.
Mahiya langsung beranjak ke dapur begitu adiknya pergi, dia hendak masak untuk makan malam rencananya. Walau sebenarnya dia cepat-cepat pergi dari ruang tamu, karena perasaannya agak galau.
Mahiya nggak mau kael tahu kalau dia sedikit terganggu, interaksi antara adiknya dan kael tadi menyadarkan mahiya, kalau ternyata dia memiliki perasaan untuk kael.
"sialan.." gerutu mahiya pelan,
Padahal kael sudah memperingati dia untuk tidak bawa perasaan di pernikahan sialan ini, mahiya beneran kesal, kesal banget.
Dia marah, tapi bukan pada kael. Mahiya membenci hatinya yang murahan, mahiya membenci ciuman sialan tadi.
Padahal kael hanya kepengen membuat drama pernikahan sialan mereka ini terlihat lebih nyata, tapi hatinya malah baper nggak karuan.
Mahiya sedang mengiris bawang merah, pikirannya yang nggak fokus, berisik banget.
"aduuh..."
Mahiya menjerit kecil, nggak sadar ujung jarinya teriris. Reflek mahiya mengangkat tangannya, dia sudah mengarahkan jari telunjuk itu ke mulutnya, tetiba jarinya di pegang kael.
Mahiya tersentak kaget tak percaya, ujung jari itu di kulum kael, mata mahiya sampai membelalak terkejut.
Ada rasa mulas menyerang perutnya, mahiya hendak menarik jari luka itu, tapi kael menahan tangannya, mengamati jari mahiya dengan sorot khawatir.
"kenapa nggak hati-hati sih"
Kael ngomel-ngomel, dengan gerakan sedikit memaksa pria itu menyeret mahiya ke ruang keluarga. Mendudukkan mahiya, meraih kotak P3k dari dalam laci meja.
Kael membersihkan luka itu dan mulai mengobati luka irisan di jari telunjuk mahiya, pria itu masih mengomel.
Mahiya nggak menjawab, matanya hanya mengamati kael. Rasa khawatir pria itu terlihat sangat nyata, omelan dan perhatiannya membuat hati mahiya menghangat sekaligus sedih berbarengan.
"kita pesan saja untuk makan malam, kamu nggak usah masak. Duduk tenang di sini, biar kakak yang pesan, dan rapiin dapur"
Kael merapikan kotak p3k dengan tenang, semua kegiatan kael diamati mahiya dengan tatapan sendunya.
"duduk tenang di sini" perintah pria itu tegas sebelum meninggalkan mahiya yang termangu.
Mahiya menghembuskan nafasnya yang terasa sesak, dia melirik tangannya yang terperban rapi.
Rasa sesak di hatinya tetap tak mau hilang,
'ayo mahiya sadar..' bisik hatinya kesal.
'kael hanya sedang menyempurnakan sandiwaranya, kenapa kamu baper mahiya!'
Sementara kael di dapur sedang berdiri di depan meja dapur tempat mahiya mengiris bawang tadi, pria itu terdiam cukup lama.
Dia sedang sibuk menenangkan debar jantungnya yang berkejaran nggak karuan.
Kael kesal sendiri, kenapa juga dia mengulum jari luka mahiya tadi. Pasti mahiya heran melihatnya, bagaimana jika gadis itu berpikir kalau dia nggak bisa menahan perasaannya.
Padahal dengan jelas, mulutnya sendiri yang ngomong ke gadis itu, kalau tidak boleh ada perasaan yang terlibat di pernikahan mereka itu. Tapi malah dia yang mencederai syarat yang dia buat sendiri.
Kael kesal pada dirinya sendiri, dia sudah bersumpah tidak akan lagi jatuh hati pada wanita manapun, tapi apa itu tadi.
Dengan mudahnya dia menunjukkan kekhawatirannya pada mahiya, bagaimana kalau gadis itu sampai berpikir kalau dia tak bisa menepati janji yang dia buat sendiri.
"hadeuhhh"
"kak.."
Kael menoleh kaget, dia tersentak dari lamunannya.
"aku bantu yah!"
Suara mahiya terdengar riang, wajah cantik gadis itu terlihat biasa saja, dan tersenyum manis seperti biasa.
Ada yang mendenyut sakit di dalam dada kael, ternyata dia sendirian yang baper, mahiya sama sekali tidak terpengaruh.
Bersambung...