NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — Retakan Pertama

"Masalah terbesar dari sebuah kehancuran, sering kali bukan terletak pada ide buruk yang mendasarinya.”

Suara Gray merambat pelan, mengisi sudut-sudut markas yang dingin. Nada bicaranya tidak terdengar seperti sedang memberi instruksi taktis, melainkan seperti pria yang sedang membedah luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Alice berdiri kaku di depan barisan layar yang berkedip, sementara Leon bersandar di dinding beton. bayangannya memanjang, menyatu dengan kegelapan. Cahaya pendar monitor yang kebiruan menyapu wajah mereka, membuat atmosfer terasa steril sekaligus mencekam. Di ruangan itu, masa lalu seolah baru saja terbangun dari tidurnya.

“Helix tidak dimulai sebagai monster,” lanjut Gray. Matanya menatap kosong ke arah data yang mengalir di layar. “Kami memulainya dengan niat yang murni... untuk menyelamatkan manusia.”

Layar utama berganti. Sebuah arsip lama muncul. rekaman video yang buram, hitam putih, dan penuh distorsi digital. Namun, logo militer di sudut layar itu sangat jelas. Dingin dan berwibawa.

BERTAHUN-TAHUN LALU

Langkah kaki bot militer bergema di lorong baja yang panjang. Ritmis, terkontrol, dan berat.

Gray muda berjalan dengan punggung tegak. Seragam taktisnya masih bersih, belum ternoda oleh pengkhianatan sistem yang akan ia alami nanti. Tatapannya tajam, namun di dalamnya masih tersisa secercah cahaya nurani yang belum sepenuhnya padam oleh debu peperangan.

Lorong itu berakhir pada sebuah ruangan kaca kedap suara. Di dalamnya, para ilmuwan berbaju putih bergerak seperti robot. Tanpa suara, tanpa ekspresi. Mereka tidak lagi melihat subjek di atas meja operasi sebagai manusia, melainkan sekumpulan data biologis yang bisa dimanipulasi.

Gray berhenti di depan kaca tebal itu. Ia merasa mual. Ozon dan bau bahan kimia seolah menembus masker oksigennya.

“Masih belum terbiasa, Kapten?”

Sebuah suara muncul dari balik bayangan. Tenang, halus, namun terasa kosong, seperti gema di dalam gua.

Gray tidak menoleh. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik. “Aku tidak akan pernah terbiasa melihat manusia diperlakukan seperti suku cadang mesin, Adrian.”

Pria di sampingnya melangkah maju ke dalam cahaya neon yang redup. Adrian Voss. Seorang dokter militer, seorang jenius neurologi, dan sosok yang memiliki ambisi lebih besar dari nalar manusia normal.

“Kau terlalu lama berada di lapangan, Gray,” kata Adrian santai, sambil menyesap kopi dari cangkir porselennya. “Kau melihat perang sebagai tragedi yang harus dihentikan. Kau terlalu sentimental.”

Gray akhirnya menoleh. Matanya berkilat marah. “Dan kau melihatnya sebagai laboratorium besar yang bisa kau optimalkan?”

Hening menyergap. Adrian tidak membantah. Ia justru menatap ke dalam ruangan kaca itu dengan binar kebanggaan, seperti seorang seniman yang baru saja menyelesaikan mahakaryanya.

“Kau tahu berapa banyak nyawa yang bisa kita selamatkan jika prajurit kita tidak mengenal rasa takut? Jika sel mereka bisa beregenerasi dalam hitungan detik?” tanya Adrian pelan.

Gray melangkah lebih dekat, suaranya kini seberat timah. “Pertanyaanmu salah, Adrian.”

Adrian mengangkat alis, menoleh dengan senyum tipis yang meremehkan. “Lalu, apa pertanyaan yang benar menurutmu?”

“Berapa banyak nyawa yang akan kau hancurkan... hanya untuk mencapai kesempurnaan itu?”

Kesunyian yang jatuh kali ini terasa padat. Adrian sempat tertegun, seolah nuraninya sedang mencoba bicara, namun egonya segera membungkam suara itu.

“Semua kemajuan peradaban selalu menuntut tumbal, Gray. Kau tahu itu.”

Gray tersenyum pahit. “Ya, aku tahu. Dan kau mulai lupa bahwa tumbal yang kau bicarakan itu memiliki nama, keluarga, dan detak jantung. Mereka bukan sekadar angka di laporan tahunanmu.”

Dunia tidak berubah karena orang-orang yang ragu, Gray,” balas Adrian dingin.

“Dan dunia tidak hancur oleh keraguan, Adrian. Dunia hancur oleh kepastian yang buta,” balas Gray tajam sebelum ia berbalik pergi, meninggalkan Adrian dalam kesendirian yang steril.

WAKTU BERLALU

Layar di markas kembali berubah. Grafik data melonjak gila. Proyek itu bermutasi. Nama Helix mulai merayap di bayang-bayang kekuasaan. Bukan sebagai harapan medis, melainkan sebagai ancaman tersembunyi yang ditakuti oleh mereka yang mengerti kebenarannya.

SUATU MALAM

Lorong yang sama, namun kini terasa lebih kelam.

Gray berdiri sendirian di depan terminal utama. Di tangannya terdapat sebuah drive penyimpanan yang berisi data murni, data yang tidak pernah dilaporkan ke publik. Data tentang kegagalan, tentang mutasi paksa, tentang penyiksaan yang dibungkus dengan nama "evolusi".

Ia membacanya dengan rahang mengencang. “Ini bukan lagi penelitian. Sialan, ini adalah genosida yang terencana.”

“Kau tidak seharusnya mengakses file itu, kawan.”

Gray tidak berbalik. Ia tahu Adrian berdiri di sana, di kegelapan pintu masuk, memegang pistol yang tidak ragu untuk ia gunakan.

“Dan kau tidak seharusnya membuat neraka ini, Adrian.”

“Ini diperlukan,” desis Adrian.

“Untuk siapa? Untuk egomu?” Gray berbalik, menantang maut yang ada di depan matanya.

Adrian tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping Gray, menatap monitor yang menampilkan struktur genetik manusia yang telah diubah. “Untuk masa depan umat manusia.”

Gray tertawa. Sebuah tawa kering yang hampa. “Masa depan? Dan siapa yang memberimu hak untuk menentukan siapa yang pantas memiliki masa depan itu?”

Hening. Detik jam di dinding terdengar seperti hitungan mundur ledakan.

Adrian menjawab dengan suara yang pelan namun pasti. “Kita, Gray. Karena kita memiliki kekuatannya.”

Di saat itulah, Gray menyadari bahwa retakan itu tidak akan bisa diperbaiki lagi. Bukan sistemnya yang rusak, tapi jiwa-jiwa di dalamnya.

MASA SEKARANG

Layar mati seketika. Ruangan kembali diselimuti kegelapan yang hanya ditembus lampu sudut yang remang. Alice tidak bergerak, napasnya tertahan. Leon masih bersandar di dinding, matanya yang dingin kini tampak lebih waspada.

Gray berbicara lagi. Kali ini suaranya lebih berat, penuh dengan penyesalan yang ia simpan selama satu dekade.

“Itu adalah hari... ketika Helix berhenti menjadi harapan, dan mulai menjadi sesuatu yang harus dihentikan.”

Alice menelan ludah, suaranya serak. “Dan sejak hari itu... kau memburu mereka?”

“Tidak,” jawab Gray pendek. Matanya berkilat gelap. “Aku menunggu.”

Leon mengangkat sedikit kepalanya, suaranya rendah. “Menunggu apa?”

Jawaban Gray datang dengan ketajaman yang sanggup mengiris udara.

“Menunggu mereka membuat kesalahan yang cukup besar untuk menghancurkan diri mereka sendiri dari dalam. Dan hari ini, mereka melakukan kesalahan itu...” Gray menatap Alice. “Mereka membiarkanmu bertemu dengan Leon.”

Sunyi jatuh kembali. Alice mulai memahami bahwa ia bukan sekadar buronan yang sedang melarikan diri. Ia adalah bidak krusial dalam perang yang sudah dimulai jauh sebelum ia lahir. Sebuah perang yang retakannya dimulai dari idealisme yang tersesat menjadi kegilaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!