Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
Azka begitu semangat ketika diberikan izin bertemu istrinya. Ia melemparkan senyuman bahagia ketika melihat wajah Celina yang tampak bulat. "Hai, istriku!"
Azka menghampiri Celina dan hendak mengecup keningnya namun kedua tangan istrinya itu menghalangi keinginannya dengan menyentuh dada dan mendorongnya pelan.
"Kenapa kau malam-malam ke sini?" tanya Celina dengan raut wajah datar.
"Aku rindu denganmu dan ini juga belum malam," jawab Azka.
"Tapi, aku mau siap-siap beristirahat!" kata Celina.
"Kau masih di ruang televisi, seharusnya kau sudah berada di kamar tidur," ucap Azka melihat sekelilingnya karena memang keduanya sedang ada di ruang santai keluarga.
"Ya, sebelum tidur apa salahnya menonton televisi," kata Celina.
"Apa kau tidak ingin mengobrol denganku?" tanya Azka menatap istrinya.
Celina menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau masih marah dan belum mau memaafkan aku?" tanya Azka lagi.
Celina menghela napas.
"Aku paham kau belum mencintaiku, tapi aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku!" kata Azka tersenyum.
"Tidak usah berlebihan, kau begini karena dia sudah menikah dengan orang lain 'kan?" sindir Celina.
"Tidak juga. Meskipun dia berpisah dengan suaminya, aku tetap memilihmu," kata Azka.
Celina tertawa getir.
"Kau tidak percaya?" Azka bertanya lagi.
"Seandainya kau begini sebelum mengetahui semuanya, mungkin aku akan tetap bertahan," jawab Celina.
"Jadi, aku tidak memiliki kesempatan lagi?" Azka merendah suaranya.
"Entahlah, aku tak tahu. Aku mau tidur, kau boleh pulang!" Celina beranjak dari tempat duduknya.
"Ini rumah orang tuaku, kau tidak bisa menyuruhku pulang," kata Azka mendongakkan wajahnya.
"Itu terserahmu!" Celina kemudian melangkah menuju kamarnya.
"Aku akan tidur di kamarmu!" ucap Azka menghentikan langkah istrinya.
Celina membalikkan badannya, "Kenapa harus di kamarku?" protesnya.
"Aku cuma mau di kamarmu, lagian dulu itu kamarku!" kata Azka.
"Tidak bisa!!" Celina menolak sekamar dengan suaminya. "Kau tidur di kamar tamu saja!"
"Aku tak mau!" Azka berdiri dan mengejar langkah istrinya.
"Aku tidak mau satu kamar denganmu!" ucap Celina ketika Azka berdiri di depan pintu kamar.
"Aku tidak peduli!" Azka lantas masuk dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"Aku tidak mengizinkanmu tidur di ranjangku!" Celina mendekat.
"Calon anak kita mau tidur dengan ayahnya!" kata Azka menoleh ke arah istrinya.
"Tapi, aku sebagai ibunya tidak--" Celina menghentikan ucapannya sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
"Kenapa?" Azka lantas bangkit dan berdiri, tanpa sengaja ia memegang perut istrinya.
"Tidak apa-apa!" Celina merasa lebih baik saat Azka memegang perutnya.
"Syukurlah kalau begitu!" Azka menarik tangannya dari perut.
"Kau boleh keluar dari kamarku!" kata Celina menoleh ke arah pintu.
"Baiklah, malam ini aku tidak tidur di sini!" Azka pun melangkah.
Tiba-tiba Celina memegang kembali perutnya dan meringis kesakitan.
Azka yang mendengar suara Celina merintih kembali menghampiri dan bertanya, "Kenapa? Apa yang sakit?"
Celina tak menjawab, matanya mengarah ke arah perutnya.
"Kau mau melahirkan?" tanya Azka.
"Belum waktunya," jawab Celina.
"Lalu?" tanya Azka lagi.
"Aku tidak tahu," jawab Celina.
"Aku panggilkan mama, ya!" Azka bersiap melangkah namun tangan Celina memegang lengannya.
"Biar kita ke rumah sakit!" Azka tampak khawatir.
"Aku tidak apa-apa!" kata Celina.
"Duduklah!" Azka membantu Celina, setelah duduk Azka kembali menyentuh perut istrinya.
"Kenapa perutku tidak sakit lagi?" batin Celina memperhatikan tangan Azka menyentuh perutnya.
"Bagaimana? Sudah enak 'kan?" Azka mengelus lembut perut Celina.
"Ya, lumayan lebih baik!" ucap Celina berbohong padahal sakitnya tak terasa lagi.
Azka lalu berdiri dan berkata, "Jika ada apa-apa, telepon saja aku!"
"Tidurlah di kamar ini!" ucap Celina dengan nada rendah dan menundukkan wajahnya.
Azka menajamkan pendengarannya, ia memastikan telinganya tak salah mendengar. "Kau tadi bicara apa?"
"Kau boleh tidur di kamar ini," lirih Celina.
"Aku tidur di kamar ini? Kau tidak salah bicara 'kan?" tanya Azka memastikan.
Celina mengangkat wajahnya dan menjawab, "Apa telingamu tak bisa mendengar dengan jelas, hah?" ia terlihat kesal.
Azka malah tertawa dan berkata, "Aku cuma memastikan kalau pendengaranku tidak salah."
"Aku tidak mau mengulangi lagi!"
"Baiklah, kau tidak perlu mengulanginya. Aku sudah dengar dan senang hati aku menemanimu tidur!" ucap Azka tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Azka dan Celina sudah berada di atas ranjang yang sama. Keduanya sama-sama menatap ke arah langit-langit kamar.
"Apa perutmu tidak sakit lagi?" tanya Azka tanpa menatap.
"Tidak, aku tak tahu kenapa perutku tiba-tiba sakit kalau kau jauh dariku," jawab Celina.
"Benarkah begitu?" Azka lantas memiringkan tubuhnya menghadap ke arah istrinya.
"Iya. Sangat aneh. Padahal, sebelumnya aku tidak merasakannya. Kau memang selalu menyebalkan!" Celina pun memiringkan tubuhnya dan menatap suaminya.
"Itu tandanya calon anak kita ingin aku dekat denganmu," ucap Azka.
Celina pun terdiam.
"Apa aku ada salah bicara?" Azka takut menyinggung perasaan istrinya karena kata orang-orang, wanita hamil cenderung lebih mudah tersinggung dan mudah bersedih.
Celina tersenyum tipis dan berkata, "Tidak. Mungkin memang dia mau kau terus bersamaku."
Azka lalu mendekatkan wajahnya dan berucap, "Terima kasih sudah mau memberikan kesempatan buatku!"
Celina kembali tersenyum sebagai balasan ucapan suaminya.
"Ayo tidur, aku sangat lelah hari ini!" Azka kemudian memposisikan tubuhnya dengan terlentang lalu memejamkan matanya.
Celina yang belum tertidur memandangi wajah Azka. Ini pertama kalinya sejak mereka menikah tidur satu ranjang tanpa keterpaksaan dan ketidaksengajaan.
Azka sudah terlelap, Celina belum juga memejamkan matanya. Ia masih menatap Azka dan bertanya lirih, "Apa kau benar-benar sungguh ingin belajar mencintaiku?"
"Bukti apa yang harus aku berikan kepadamu?" Azka malah balik bertanya meskipun matanya telah tertutup.
"Kau belum tidur?" Celina tampak malu karena suaminya ternyata masih terjaga.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kau mengajakku bicara?" Azka kembali lagi bertanya dengan mata masih terpejam.
Celina tersenyum tipis dan menjawab, "Baiklah, aku tidak bicara lagi. Selamat tidur!"
Celina membalikkan badannya memunggungi suaminya, perlahan ia pun memejamkan matanya.
Sementara itu, Azka membuka matanya dan menoleh ke arah istrinya. Tanpa bicara, ia hanya tersenyum mengingat pertanyaan istrinya. Ia kemudian melanjutkan tidurnya lagi.
Dua jam berlalu, Azka terbangun. Ia tak melihat keberadaan istrinya di ranjang. Ia lantas bangkit dan duduk. "Ke mana dia?" gumamnya.
Azka lalu turun dari ranjang dan bersamaan dengan pintu kamar mandi terbuka, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah suara.
Celina keluar dari kamar mandi dan bertanya, "Kau tidak tidur?"
"Aku terbangun dan tak melihatmu di sampingku. Aku pikir kau pindah kamar. Apa perutmu kembali sakit?" cemas Azka karena mengingat Celina mengeluh perutnya sakit.
"Perutku tidak sakit, cuma aku sering bolak-balik buang air kecil."
"Apa perlu malam ini kita ke rumah sakit?" Azka begitu khawatir.
"Tidak usah. Katanya ini hal wajar menjelang persalinan," kata Celina.
"Oh, begitu!" Azka tampak lega setelah mendengarnya.
"Lanjutkan tidurmu!" kata Celina sembari naik ke atas ranjangnya.
"Syukurlah kalau tidak ada hal buruk!" ucap Azka kembali berbaring.
Masih cinta km sama si upik abu elma tercintamu