Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
“Tuan… besok adalah hari pernikahan yang telah ditentukan. Apakah Anda tetap akan menikahi Nona Agnes?”
Joy berdiri di hadapan Evan dengan ekspresi hati-hati.
Ruangan terasa sunyi.Beberapa detik Evan tidak langsung menjawab.
Tatapannya kosong, seolah pikirannya berada di tempat lain.
“Lakukan sesuai rencana.”Jawaban itu dingin.
Joy sedikit terkejut, namun tetap menunduk.
“Baik, Tuan.”
Dia berbalik dan segera pergi.Meninggalkan Evan sendirian dengan keputusan yang bahkan dirinya sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Hari pernikahan tiba.Gedung megah itu dipenuhi tamu-tamu penting.Lampu kristal berkilauan.Musik mengalun lembut.
Di atas panggung, Lemos berdiri dengan senyum lebar.
Di sampingnya, Agnes tampil anggun dalam gaun pengantin yang mewah. Nadira berdiri di sisi lain, terlihat bangga.
“Terima kasih kepada semua tamu yang telah hadir di acara pernikahan putri saya,” ucap Lemos dengan suara penuh wibawa.
Beberapa tamu bertepuk tangan.
“Silakan menikmati hidangan terlebih dahulu.”
Suasana kembali ramai.
Percakapan, tawa, dan dentingan gelas memenuhi ruangan.
Di sisi lain Flora turun dari tangga. Penampilannya langsung menarik perhatian.
Anggun.Elegan.Dan… terlalu mencolok untuk diabaikan.
Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya.
Di bawah, Garvin sudah menunggu.
Matanya langsung berbinar saat melihat Flora.“Kamu cantik sekali,” ucapnya tanpa ragu.
Flora tersenyum tipis.“Terima kasih.”
Garvin mengulurkan tangan.Flora menerimanya.
Keduanya berjalan berdampingan, berkeliling ruangan, terlihat begitu serasi.
Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Agnes.
Senyumnya perlahan menghilang.Matanya menyipit.Rasa iri mulai menggerogoti.
Dia tidak suka.Tidak suka melihat Flora bahagia.Apalagi dengan pria kaya dan berpengaruh.Baginya Flora harus tetap berada di bawahnya.
"Mah lihat wanita jalang itu.dia sengaja berpenampilan seperti itu untuk merebut perhatian."
Di samping Agnes, Nadira juga memperhatikan.Tatapannya tajam.
" Mamah juga tidak suka melihat nya.wajah dan penampilan nya semakin mirip dengan wanita jalang itu."
Lalu dia sedikit mendekat, berbisik pelan di telinga putrinya.“Malam ini… kita jatuhkan dia.”
Agnes sedikit terkejut.“Sekarang?” bisiknya ragu. “Ini hari pernikahanku… apa aman?”
Nadira tersenyum tipis.Penuh keyakinan.
“Justru ini waktu terbaik,” jawabnya pelan. “Di depan semua orang… dia tidak akan bisa bangkit lagi.”
Agnes terdiam.Matanya kembali menatap ke arah Flora yang sedang tertawa kecil bersama Garvin.
Tangannya menggenggam gelas sedikit lebih erat.Lalu perlahan,senyum muncul di bibirnya.
Senyum kemenangan.
“Baik,” bisiknya akhirnya.
Nadira mengangguk puas.Rencana pun dimulai.
Agnes berdiri di sudut ruangan, matanya terus mengikuti pergerakan Flora.
Perlahan dia mengambil sebuah gelas.
Dengan gerakan halus, hampir tak terlihat, sesuatu dicampurkan ke dalam minuman itu.
Senyum tipis terukir di bibirnya."Lihat saja, Flora… setelah malam ini, reputasi mu akan hancur.Tidak akan ada lagi yang bisa kamu banggakan biarkan Evan melihat betapa menjijikkannya dirimu."
Dia menarik napas, lalu kembali memasang wajah lembutnya.
Dia Berjalan mendekat.“Kak Flora sebelumnya pernah terjadi kesalahpahaman diantara kita.hari ini aku akan bersulang minuman ini dengan mu."
Flora hanya menatapnya datar.Agnes mengangkat gelas.“Ayo, kita bersulang. Segelas jus saja.”
Garvin tersenyum santai."Hallo Kakak ipar.selamat sebentar lagi akan resmi jadi nyonya Dirgantara."
Agnes tersenyum, meski sedikit kaku.
Garvin melanjutkan, santai tapi menusuk“Juga kakak ipar tidak perlu repot. Flora tidak minum jus mangga. Dia alergi.”
Flora menambahkan dengan dingin,
“Bahkan kalau aku tidak alergi, aku juga tidak akan minum dari tanganmu.”
Senyum Agnes nyaris retak.
Namun Garvin cepat menengahi.“Sudah, jangan marah,” katanya ringan. “Nanti bisa merusak kesehatan.”
Lalu dia menoleh ke Agnes.“Perkataan Flora jangan dimasukkan ke hati kakak ipar.”
Tanpa memberi ruang lagi, Garvin menarik Flora pergi, memperkenalkannya pada beberapa tamu lain.
Agnes berdiri di sana Senyumnya perlahan hilang.Tangannya mengepal."Wanita jalang…"
Tak lama, dia memanggil seorang pelayan.
Memberikan gelas lain.“Kirim ini ke wanita itu,” bisiknya pelan.Matanya berkilat dingin.
Di sisi lain, Flora dan Garvin sedang berbincang santai.Tawa kecil terdengar.
Seolah tidak ada bahaya yang mengintai.
Seorang pelayan datang Menyodorkan gelas.
“Minuman nya Nona.”
Flora tidak curiga.Dia mengambilnya.Dan meminumnya.Beberapa saat berlalu Alis Flora mengernyit.Kepalanya mulai terasa berat.Pandangan sedikit kabur.
Garvin langsung n menyadari perubahan itu.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Aku… sedikit pusing,” jawab Flora pelan.
Garvin langsung sigap.“Ayo, aku antar kamu istirahat.”
Di sebuah kamar Flora duduk di tepi tempat tidur.Napasnya sedikit tidak stabil.“Aku istirahat saja,” ucapnya. “Kamu turun saja.”
Garvin masih ragu, tapi akhirnya mengangguk.“Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”
Flora hanya mengangguk lemah.
Garvin pun keluar menutup pintu.
Beberapa menit kemudian Agnes datang.
Di belakangnya seorang pria asing.Tatapan Agnes penuh kemenangan.
“Bukankah kamu sangat suka menggoda pria?” ucapnya pelan.
“Hari ini… aku akan tunjukkan wajah aslimu di depan semua orang.Biar semua tahu… kamu wanita seperti apa.”
Agnes melirik pria di sampingnya.Tatapannya dingin.
“Layani dia dengan baik.”
Dia menyodorkan sebuah kartu.“Kalau semua beres… sisanya akan kamu dapatkan.”
Pria itu tersenyum serakah.“Tenang saja..”Dia melangkah masuk.Pintu perlahan tertutup.
Waktu terus berjalan.Di lantai bawah, acara pernikahan masih berlangsung meriah.
Tawa, musik, dan percakapan memenuhi ruangan.
Evan baru saja muncul.Tatapannya langsung menyapu sekitar.Mencari satu orang.
Dia melihat Garvin berdiri sendirian.Langsung menghampiri.“Di mana Flora?” tanyanya tanpa basa-basi.
Garvin menjawab santai, “Dia tidak enak badan. Lagi istirahat di atas.”Lalu dia menatap Evan tajam.“Jangan lupa ini pernikahanmu,” lanjutnya. “Tidak pantas kamu sibuk mencari wanita lain.”
Tatapan Evan langsung berubah dingin. Namun dia tidak membalas.Justru dia berbalik dan berjalan cepat Menuju lift.
Perasaannya tidak tenang.Ada sesuatu yang salah.
Garvin yang melihat itu langsung mengikuti dari belakang.
Di depan kamar Flora Lemos istri nya dan Agnes serta beberapa tamu sudah berdiri didepan pintu kamar Flora.
“Ada apa ini?” tanya Lemos dengan nada tidak sabar.
Seorang pelayan maju dengan wajah gugup.
“Saya… disuruh Nona Agnes untuk mengantar obat, karena katanya Nona Flora tidak enak badan…”
Agnes memasang wajah polos.Seolah dia tidak tahu apa apa." Pah aku melihat Kak Flora tidak enak badan jadi aku memerintahkan pelayan untuk mengantar obat."
Pelayan itu melanjutkan dengan suara gemetar,“Tapi saya sudah mengetuk pintu beberapa kali… tidak ada jawaban…”Dia menelan ludah.Wajahnya memerah.“Lalu… saya mendengar suara dari dalam…”
Dia tidak melanjutkan.Namun semua orang
mengerti maksudnya.Bisik-bisik mulai terdengar.Tatapan mereka berubah.
Kecurigaan mulai muncul.
“Kurang ajar!” Lemos langsung marah. “Dobrak pintunya!”Dia melangkah maju bersiap untuk mendobrak.
Namun sebuah suara menghentikannya.
“Berhenti.”
Semua langsung terdiam. Itu adalah Evan.
Dia berdiri di sana, wajahnya dingin, tatapannya tajam.
Aura yang dia pancarkan langsung menekan suasana.“Tidak boleh ada skandal di keluarga Dirgantara,” ucapnya rendah tapi tegas.
Semua orang terdiam.Tidak berani membantah.
Agnes melangkah sedikit ke depan.Wajahnya masih terlihat polos.“Evan… mungkin memang ada sesuatu yang terjadi di dalam,” ucapnya pelan. “Kalau kita tidak buka… bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Kak Flora?”
Nada suaranya pura-pura khawatir.Namun di balik itu tersimpan rencana jahat.
Evan menatap pintu itu.Rahangnya mengeras.
Tangannya mengepal.Dia tahu jika pintu itu dibuka di depan semua orang…apa pun yang ada di dalamnya akan menjadi skandal besar yang akan mempermalukan flora.