*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Hak Milik
Jarak di antara mereka terkikis habis tanpa menyisakan celah yang berarti. Kiera bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh tegap Arsenio, bahkan aroma parfum maskulin berkayu yang mewah milik pria itu mendominasi indra penciumannya, mengalahkan wangi vanila lembut dari tubuhnya sendiri. Hening yang mencekam seketika menyelimuti koridor taman dalam hotel bintang lima tersebut, hanya menyisakan suara deru napas Arsenio yang memburu kencang akibat emosi yang tak terkendali setelah terbakar api cemburu.
Kiera mengerjalkan matanya berulang kali, mencoba mencerna situasi gila yang sedang menimpanya. Alih-alih merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Arsenio yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup, Kiera justru merasa situasi ini luar biasa menggelikan sekaligus konyol. Pria di depannya ini adalah seorang CEO muda yang dipuja-puja di dunia bisnis, namun perilakunya saat ini tidak lebih dari seorang anak kecil yang mainannya takut direbut oleh anak lain.
*“Wah, bener-bener ya ini orang. Gila hormatnya sudah bermutasi jadi gila kontrol tingkat akut. Ego raksasanya beneran gak bisa ditoleransi lagi,”* umpat Kiera habis-habisan dalam hati di balik wajah cantiknya yang kini terangkat menantang. Ia langsung membuang jauh-jauh topeng senyum manis profesional yang sejak pagi tadi ia pasang dengan susah payah.
"Maaf, Pak Arsenio yang paling sempurna," sahut Kiera dengan nada sarkasme yang sangat kental. Ia bersedekap dada di depan gaun hijau zamrudnya, tidak mundur satu senti pun meski dada bidang Arsenio yang terbalut jas Tom Ford hampir menyentuh ujung hidungnya. "Pertama, saya mau mengingatkan kalau ini sudah di luar jam kerja kantor. Kedua, senyuman saya bukan salah satu aset Yudhistira Group yang bisa Bapak monopoli secara sepihak dalam perjanjian kontrak kerja. Dan yang ketiga... Bapak ini sebenarnya sedang cemburu atau memang lagi tantrum karena merasa tidak jadi pusat perhatian malam ini, hm?"
Kalimat terakhir yang keluar dari bibir ranum Kiera meluncur seperti anak panah yang langsung menancap tepat di ulu hati ego raksasa Arsenio.
*DEG.*
Arsenio mematung di tempatnya berdiri. Wajah tampannya yang semula memerah karena amarah mendadak kaku bak manekin toko baju yang kehilangan daya. Jantung di balik dada bidangnya berketuk dua kali lebih cepat, melakukan sebuah lompatan aneh yang membuat tenggorokannya seketika kering kerontang.
*“C-cemburu? Saya? Menjelma jadi budak cinta untuk gadis ugal-ugalan yang hobi pakai kopi sasetan ini? Gak mungkin! Mustahil!”* raung ego penderita gila kendali dalam diri Arsenio, menolak mentah-mentah realitas yang baru saja ditampar tepat ke wajah tampannya.
Arsenio buru-buru menegakkan punggungnya, menarik diri satu langkah mundur demi memulihkan wibawa seorang Yudhistira yang sempat goyah tak bersisa. Ia berdehem keras, memalingkan wajah ke arah tanaman hias di samping koridor sambil merapikan kerah jas tiga potongnya yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan.
"Jangan percaya diri berlebihan, Kiera Anandita!" sergah Arsenio dengan volume suara yang sengaja dikeras-keraskan untuk menutupi kepanikan yang mendadak melanda hatinya. Sorot matanya kembali disetel sedingin es kutub, meskipun kedua telinganya sudah merah padam seperti kepiting rebus yang baru matang. "Saya? Cemburu pada kamu? *No way!* Bahkan dalam mimpi paling liar kamu pun, hal menjijikkan seperti itu tidak akan pernah terjadi!"
"Oh, syukurlah kalau begitu," balas Kiera santai, mengedikkan kedua bahunya acuh tak acuh tanpa beban. "Jadi saya bisa kembali ke dalam *ballroom* sekarang dan menerima tawaran kartu nama dari Pak Raditya, kan? Lumayan, siapa tahu di perusahaannya tidak ada aturan konyol soal warna klip kertas atau selisih milimeter pada margin laporan. Setidaknya mental saya bisa sedikit beristirahat di sana."
Kiera berbalik dengan gerakan anggun, membiarkan ujung gaunnya melambai indah. Ia benar-benar berniat melangkah kembali menuju pintu aula pesta. Namun, baru setengah langkah kakinya bergerak, pergelangan tangan kecilnya kembali ditangkap dengan sentuhan yang luar biasa posesif, erat, dan tidak terbantahkan.
*SET!*
Arsenio menarik tangan Kiera, memaksa tubuh gadis itu berputar hingga punggung Kiera kembali berhadapan langsung dengan dada bidangnya. Dari arah belakang, Arsenio condong ke depan, berbisik tepat di samping telinga Kiera dengan suara bariton yang rendah, berat, dan sarat akan ancaman mutlak yang membuat bulu kuduk Kiera meremang serempak.
"Jangan berani-berani melangkah ke sana, Kiera," desis Arsenio, memancarkan aura dominasi yang sangat pekat. "Kamu harus selalu ingat dengan kontrak khusus yang sudah kamu tandatangani. Kamu masih punya utang ganti rugi jas ratusan juta pada saya. Selama utang itu belum lunas dari potongan gajimu, kamu adalah hak milik absolut di bawah kendali saya selama di lingkungan bisnis. Saya tidak suka barang milik saya disentuh, digoda, atau bahkan sekadar dilirik oleh tiran amatir seperti Raditya. Mengerti?"
Kiera menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan dadanya yang tiba-tiba bergemuruh aneh karena jarak mereka yang terlalu dekat dan intim ini. Di dalam hati, ia memaki habis-habisan dengan segala sumpah serapah, *“Sialan, pakai bawa-bawa urusan utang jas lagi! Dasar tiran licik gila harta, bilang aja lu gak rela gue deket sama cowok lain, gengsi lu aja yang segede gedung Yudhistira Tower makanya gak mau ngaku!”*
Meskipun batinnya berteriak histeris, Kiera tetap berusaha keras mengendalikan akal sehat dan emosinya. Ia menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, melirik Arsenio dari sudut mata dengan senyuman miring yang meremehkan. "Baik, Pak Bos yang hobi memaksa kehendak. Tapi tolong lepaskan tangan Bapak sekarang. Kontak fisik yang tidak perlu di luar urusan pekerjaan bisa saya kategorikan sebagai pelanggaran kenyamanan karyawan, lho. Mau saya laporkan ke bagian HRD?"
Mendengar ancaman itu, Arsenio langsung menarik tangan Kiera dengan cepat seolah-olah baru saja menyentuh pantat panci gosong yang masih panas berapi. Ia kembali berdehem kaku, buru-buru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya demi menyembunyikan getaran gugup yang mendadak menyerang sepuluh jemari tangannya.
"Pulang sekarang. Acara malam ini sudah selesai untuk kita," perintah Arsenio ketus dengan nada tiran andalannya.
---
Gengsi seorang Arsenio Yudhistira memang setinggi langit ketujuh, tetapi malam ini, hukum karma tampaknya sedang memesan tiket VIP untuk menjatuhkan harga dirinya secara instan.
Setelah melontarkan perintah pulang dengan dagu terangkat angkuh, Arsenio membalikkan badan dengan gerakan memutar berputar yang ia bayangkan bakal terlihat sangat keren di film-film aksi. Ia merogoh saku jasnya secara dramatis untuk mengambil ponsel, berniat melakukan panggilan telepon ke sopir pribadi dengan gaya bos besar yang sangat berwibawa.
Namun, alih-alih menemukan benda persegi panjang yang canggih, jemari kekarnya hanya meraba kain puring saku yang kosong melompong.
Arsenio menepuk saku kanan jasnya. Kosong. Ia beralih meraba saku kiri celananya dengan gerakan agak panik. Nihil. Masih tidak percaya, tangan kekarnya mulai menggerayungi saku dalam jas tempat ia biasa menyimpan dompet kulit premiumnya. Hasilnya? Bersih total tanpa sisa.
Seketika itu juga, sebutir keringat dingin berukuran sebesar biji jagung mendadak merayap turun dari pelipis sang CEO tampan. Otak jeniusnya baru saja memproses satu informasi yang sangat fatal: ponsel mahalnya masih tergeletak dengan damai di atas meja bundar *gala dinner*, tepat di samping sisa piring pencuci mulut, akibat ia terlalu panik menyeret Kiera keluar dari aula pesta tadi.
Kiera yang berdiri tepat dua langkah di belakangnya tentu saja tidak melewatkan pemandangan langka ini. Langkah angkuh Arsenio yang tadinya seperti model *catwalk* mendadak macet total, digantikan oleh gerakan meraba-raba seluruh tubuhnya sendiri seperti orang yang mendadak amnesia letak kantong, atau lebih mirip bapak-bapak yang panik karena mengira ada ulat bulu masuk ke dalam bajunya.
Kiera maju satu langkah, lalu sengaja melongokkan kepalanya ke depan wajah Arsenio sambil menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi super menyebalkan.
"Kenapa, Pak Bos? Kantong jas ratusan jutanya mendadak berubah jadi kantong ajaib Doraemon yang kehilangan fungsi, atau ada kecoa transparan yang lagi main petak umpet di dalam baju Bapak?" tanya Kiera dengan nada suara polos yang tingkat keasliannya minus seratus persen.
*“Mampus lu, setannya kena serangan panik mendadak,”* batin Kiera bersorak gembira guling-guling, menyalakan kembang api kemenangan di dalam kepalanya melihat gurat pias yang coba ditutupi setengah mati di wajah tampan Arsenio.
Arsenio berdehem sangat keras, bahkan saking kerasnya suara deheman itu sampai terdengar seperti batuk ayam yang tersedak biji jagung. Ia berusaha keras menstabilkan rahangnya agar tidak kelihatan gemetar di hadapan sang asisten pribadi.
"Ponsel saya... sepertinya mengalami distorsi ruang dan tertinggal di meja dalam aula. Kamu, kembali ke dalam sekarang, terobos kerumunan itu, dan ambilkan ponsel saya," perintah Arsenio, kembali mencoba menggunakan mode tiran mutlaknya untuk menutupi rasa malu yang sudah menjalar sampai ke ubun-ubun.
Kiera langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada gaun hijau zamrudnya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat sedramatis mungkin. Ia menggeleng tegas, lalu memamerkan senyuman tiga jari paling lebar dan paling cerah yang pernah ada dalam sejarah umat manusia.
"Wah, mohon maaf yang sebesar-besarnya nih, Pak Arsenio yang maha perfeksionis dan serba tahu. Pertama, jam kerja saya sebagai budak korporat sudah kedaluwarsa sejak dua puluh menit yang lalu. Dan yang kedua... kalau saya nekat masuk lagi ke dalam sendirian tanpa kawalan ketat, nanti saya tidak sengaja berpapasan dan mengobrol akrab lagi dengan Pak Raditya yang ganteng itu, lho. Bukannya tadi Bapak sendiri yang bilang kalau saya dilarang keras menebar pesona dan menyumbangkan senyuman gratis ke pria lain di gedung ini? Saya ini kan asisten yang sangat patuh pada titah sang tiran," sahut Kiera dengan kedipan mata yang sengaja dibuat sok lugu dan dramatis.
Mendengar nama Raditya disebut lagi dengan embel-embel 'ganteng', pembuluh darah di pelipis Arsenio mendadak berdenyut kencang, nyaris meledak. "Kiera! Kamu berani-beraninya menggunakan kata-kata saya untuk mengintimidasi saya balik?!"
"Saya tidak mengintimidasi, Pak Bos. Saya hanya menjalankan 'Protokol Cemburu Buta' yang Bapak deklarasikan sendiri secara lisan dan sah di depan taman hotel dua menit yang lalu," balas Kiera dengan nada santai tanpa dosa.
*“Rasain lu! Senjata makan tuan kan! Makanya ego jangan dipelihara gede-gede, untung gak ditarik pajak sama pemerintah!”* maki Kiera dalam hati, puasnya sudah menembus atmosfer bumi melihat Arsenio Yudhistira yang terhormat kini berdiri kaku dengan wajah merah padam, terjebak oleh jebakan batman yang ia pasang sendiri.
Mau tidak mau, dengan sisa-sisa harga diri yang sudah runtuh, hancur lebur, dan tercecer mengenaskan di atas lantai marmer hotel bintang lima, Arsenio terpaksa membalikkan badannya kembali. Dengan langkah kaki yang dientak-entakkan kesal seperti anak balita yang tidak dibelikan mainan, sang CEO terpaksa berjalan sendiri kembali menembus pintu aula pesta demi menjemput ponselnya yang kesepian di atas meja.
Kiera yang ditinggalkan berdiri sendirian di koridor taman langsung tidak bisa menahan diri lagi. Ia memegangi perutnya, membungkuk, dan tertawa tanpa suara sampai seluruh tubuhnya terguncang-guncang hebat. Air matanya bahkan sampai keluar saking gelinya menyaksikan pemandangan super langka di mana seorang tiran sumbu pendek baru saja mendapatkan karma instan paling kocak abad ini.