Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Aturan Apartemen Steril
"Dokter sinting! Apa-apaan ini?" teriak Cala melengking dari arah dapur.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Ronan berdiri di ambang pintu dapur, menatap Cala dengan alis berkerut rapat. Pria itu sudah melepas jas putih laboratoriumnya, menyisakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku.
"Aturan keenam, jangan berteriak. Apakah telingamu bermasalah sampai suara sendiri tidak terdengar?" balas Ronan dingin.
Cala menunjuk rak tengah kulkas dengan jari telunjuknya yang bergetar. Emosinya benar-benar sudah mencapai ubun-ubun. "Kamu menaruh potongan jaringan berdarah di dalam toples kaca tepat di sebelah rak minuman? Otakmu tertinggal di laboratorium atau bagaimana?"
"Itu jaringan kulit untuk analisis toksikologi tingkat lanjut. Suhu kulkas ini sudah kuatur secara presisi di angka empat derajat celcius," jelas Ronan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Ambil botol air di rak atas. Jangan menyentuh pita kuningnya. Pita itu sangat sensitif terhadap tekanan."
Cala menarik napas panjang berulang kali. Ia menahan napas, mengambil sebotol air mineral, menutup pintu kulkas pelan, lalu meminumnya rakus sampai tandas. Rasa dingin air itu sedikit mendinginkan kepalanya yang nyaris meledak. Ia meletakkan botol kosong di atas meja baja dengan kasar.
"Kamar mandimu di mana? Kamar tidurku di mana? Aku mau tidur sekarang sebelum aku benar-benar mencekikmu ganti," ucap Cala parau.
Ronan menunjuk pintu putih di ujung lorong sebelah kanan. "Itu kamar tamu. Sabun antiseptik ada di dalam lemari kaca. Pastikan kamu menggosok badanmu minimal sepuluh menit. Kuman dari luar sangat membandel."
Cala tidak menjawab lagi. Ia menyeret langkahnya menuju kamar yang ditunjuk, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam. Ia membersihkan diri secepat kilat, memakai kaus kebesaran cadangan yang ia temukan di lemari tamu, lalu merebahkan tubuhnya yang remuk redam ke atas kasur putih bersih. Rasa lelah luar biasa usai melarikan diri dari maut langsung menarik kesadarannya ke dalam tidur lelap.
Cahaya matahari yang terik menyilaukan mata Cala. Ia mengerjap perlahan, merasakan pegal luar biasa di sekujur punggung dan lehernya. Ia bangkit duduk, mengusap wajahnya yang kusut. Ingatan tentang kejadian mengerikan di Hotel Grand Valera semalam kembali menghantam otaknya.
Cala beranjak dari kasur. Ia membuka tas selempangnya yang tergeletak di atas nakas, membongkar isinya mencari sesuatu yang bisa menaikkan suasana hatinya. Tangannya menemukan dua bungkus kopi instan karamel merek Seduh Nikmat yang selalu ia bawa untuk begadang menyusun rencana pernikahan, dan sebotol kecil parfum beraroma mawar.
Ia berjalan keluar kamar menuju dapur. Suasana apartemen ini masih sepi dan sedingin es. Cala merebus air di teko listrik, menyeduh kopi karamelnya ke dalam cangkir putih polos yang ia temukan di rak. Aroma manis karamel dan kopi panggang seketika memenuhi udara dapur yang biasanya hanya berbau cairan pembersih lantai.
Cala tersenyum puas. Ia menyemprotkan parfum mawar ke pergelangan tangan dan lehernya. Wangi bunga yang manis dan segar akhirnya berhasil mengusir bau rumah sakit yang sedari tadi menyiksanya.
"Apa yang kamu lakukan pada udaraku?"
Suara bariton yang menggelegar itu membuat Cala nyaris menumpahkan kopinya. Ronan berdiri di ujung lorong dapur. Wajah pria itu memerah, hidungnya kembang kempis, dan tangannya memegang sapu tangan putih tebal yang menutupi separuh wajahnya layaknya masker gas darurat.
"Minum kopi," jawab Cala santai. Ia menyesap kopi karamelnya perlahan. "Kamu mau? Aku masih punya satu bungkus."
Ronan berjalan mendekat dengan langkah lebar. Ia membuka jendela ventilasi dapur lebar-lebar, membiarkan angin luar masuk menukar udara ruangan.
"Kamu merebus racun manis itu di panci pemanas air sterilku. Lalu kamu menyemprotkan cairan kimia beraroma bunga busuk itu ke tubuhmu," omel Ronan dari balik sapu tangannya. "Aturan kelima. Tidak ada makanan atau minuman berbau menyengat. Apakah memori jangka pendekmu bermasalah?"
"Ini kopi karamel, Dokter. Baunya surgawi. Dan parfum ini merek Fleur de Reve, harganya setara dengan gajimu setengah bulan. Bukan cairan kimia busuk," bela Cala tidak mau kalah. Ia menyandarkan punggungnya santai ke meja dapur.
Ronan menurunkan sapu tangannya. Ia mengambil botol kaca berisi cairan bening dari dalam lemari pendingin lain di sudut ruangan, menuangkannya ke dalam gelas takar, lalu menenggaknya dalam satu kali tegukan. Cala mengernyit melihat minuman misterius itu.
"Cairan apa itu? Kamu minum bahan pengawet?" tanya Cala ngeri.
"Ini campuran elektrolit, asam amino cair, dan sari sayuran murni. Semua nutrisi yang dibutuhkan sel tubuh manusia dalam satu takaran. Tanpa bau, tanpa rasa yang mengganggu saraf pengecap," jelas Ronan membanggakan minumannya.
Cala pura-pura muntah. "Pantas saja hidupmu kaku sekali. Minuman sarapanmu saja tidak punya jiwa. Bagaimana kamu bisa menikmati hidup kalau lidahmu hanya dijejali air hambar begitu?"
Ronan meletakkan gelas takarnya. Ia menatap Cala dengan sorot mata meremehkan. "Menikmati hidup bukan berarti merusak organ vital dengan glukosa sintesis dan kafein murahan. Aku menjaga tubuhku agar berfungsi seratus persen. Berbeda denganmu yang hidup dari menjual ilusi omong kosong pada orang bodoh."
Cala meletakkan cangkir kopinya dengan keras sampai berbunyi nyaring. Matanya memicing tajam. "Ilusi omong kosong apa maksudmu? Aku perencana pernikahan. Aku mewujudkan mimpi orang-orang tentang cinta sejati. Aku merangkai hari paling bahagia dalam hidup mereka."
Ronan tertawa pelan. Tawa yang sangat sinis, kering, dan sama sekali tidak terdengar ramah. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di tepi meja, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Cinta sejati itu omong kosong terbesar abad ini, Cala. Semua yang kamu urus di pesta mewah itu hanyalah kepalsuan yang dibalut gaun mahal dan dekorasi bunga berlebihan. Kamu merayakan sebuah anomali biologis sementara," ucap Ronan telak.
"Kamu benar-benar tidak punya hati nurani," balas Cala kesal. "Orang-orang menikah karena mereka saling mencintai. Mereka berkomitmen untuk menghabiskan sisa waktu hidup bersama."
"Salah total," potong Ronan cepat. "Orang-orang merasa jatuh cinta karena ada lonjakan hormon oksitosin, dopamin, dan serotonin di otak mereka. Reaksi kimiawi itu menipu logika dasar manusia. Membuat mereka merasa euforia dan buta secara rasional. Dan tahukah kamu berapa lama reaksi kimia itu bertahan dalam tubuh subjek?"
Cala terdiam, tidak sudi menjawab pertanyaan konyol pria aneh ini.
Ronan menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada dengan gaya angkuh seorang dosen yang menceramahi mahasiswa lamban. "Maksimal empat tahun. Setelah empat tahun, kadar oksitosin akan kembali stabil. Reaksi kimia itu memudar sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah rutinitas yang monoton, tagihan rumah tangga, dan konflik perebutan ego. Itulah fakta sains. Tidak ada dongeng romantis. Pekerjaanmu hanya mengeruk uang dari lonjakan hormon sesaat itu."
Dada Cala naik turun. Pria ini sukses menginjak-injak prinsip hidup dan profesi kesayangannya. Seumur hidup, Cala percaya pada keindahan romansa. Ia melihat binar kebahagiaan para pengantin. Ia menangis haru setiap kali mendengarkan janji suci di depan altar. Dan manusia mesin berhati dingin ini berani menyederhanakan semuanya menjadi sebatas reaksi kimia empat tahun?
Cala menggeser cangkirnya menjauh. Ia melangkah maju perlahan, memangkas jarak di antara mereka tanpa ragu. Aroma kopi karamel dan parfum mawarnya menguar kuat, menabrak aroma tajam cairan antiseptik yang menempel di pakaian Ronan.
Ronan sedikit melebarkan matanya melihat pergerakan tiba-tiba itu, namun harga dirinya membuat pria itu tetap berdiri kaku di tempat. Matanya yang tajam mengunci pergerakan Cala dengan tingkat kewaspadaan penuh.
Cala mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan wajahnya berada dalam jarak pandang yang sangat dekat dengan dada Ronan. Ia bisa melihat jakun pria itu bergerak pelan. Cala mengukir senyum termanis yang ia punya, senyum andalan yang selalu sukses ia gunakan untuk menaklukkan klien VIP tersulit sekalipun.
Ia mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata Ronan yang sedingin es.
Cala yang kesal sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Ronan sambil tersenyum menantang, "Mau tes seberapa cepat oksitosinmu bereaksi, Dokter?"
berasa nonton adegan action