Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. SIDANG KOMITE DISIPLIN
Tepat pukul tujuh pagi, Erina dan Saga sudah menginjakkan kaki di halaman depan SMP Tunas Emas, tempat Saga mengenyam pendidikan formal menengah pertama selama dua tahun terakhir.
Sidang Komite Disiplin akan dilaksanakan pukul sembilan di Aula Pertemuan lantai dua Gedung Barat, dan akan dihadiri Kepala Sekolah, Ketua Komite Murid, Guru BK, Admin Sekolah, Perwakilan Yayasan, Wali Kelas, "terdakwa" dan wali, juga beberapa saksi--sesuai yang tertera dalam pesan pemberitahuan resmi yang dikirim ke WA Erina dan Saga sejak hari Sabtu malam.
Saga statusnya sekarang diskors sehingga ia tidak boleh megikuti kegiatan apapun di sekolah. Tetapi ia dan ibunya sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jam pelajaran pertama dimulai pukul 7.30 pagi. Saga kemudian menunjukkan seisi ruang kelas dan beberapa rekannya yang akan menjadi saksi, sesuai permintaan Erina.
Erina mengajak lima remaja itu ke kantin, membelikan minuman segar dan memberi mereka masing-masing sekotak sandwich krim dan buah lezat yang dibuatnya sendiri pagi ini.
"Tante nggak nyogok lho ya," kata Erina kalem. "Ini tester katering Tante--siapa tahu kalian minat dan mau order. Nanti di ruang sidang kalian bicara sejujur-jujurnya ya... terutama alasan kenapa Saga mukul Rudi. Kalian lihat sendiri Rudi mukul Nia duluan, kan? Kalian lihat sendiri Rudi mau mukul Saga. Bahkan dalam kasus kriminal, ada kasualitas yang namanya 'membela diri.' Jadi ya kalian bilang sejujur-jujurnya apa yang terjadi siang itu... memang Saga mau membela Nia dan membela dirinya sendiri. Jangan ditutupi, oke?"
Lima remaja itu mengangguk kikuk.
Pukul sembilan, Erina dan Saga memasuki Aula Pertemuan yang auranya seperti arena gladiator di zaman kuno--dan mereka adalah petarung amatir yang dilempar menghadapi harimau-harimau lapar hidup-hidup.
"Sagara Mandala. Siswa kelas 8A. Pada hari Jumat, 29 Mei 2026, pukul 12.30, saat istirahat siang, kamu melakukan tindakan penganiayaan terhadap Rudi Baskara, sesama siswa kelas 8A--meninju wajahnya hingga hidungnya patah. Apa kamu mengakui perbuatan itu, Sagara?"
Tuduhan langsung dijatuhkan--dingin dan tanpa ampun--oleh Ketua Komite Murid selaku "Jaksa Penuntut Umum" Sidang Komite Disiplin kali ini.
Saga yang duduk kaku di tengah ruangan, dengan jujur mengangguk.
"Ya, tapi--"
"Kamu sadar penuh saat melakukan itu?"
"Ya, tapi--"
"Kamu tahu tindakanmu salah, melanggar aturan, bahkan menyebabkan kerugian bagi korban?"
"Ya, tapi--"
"Baik. Kamu sudah mengakui. Kamu terbukti bersalah," Ketua Komite Murid, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun dengan make up tebal, lensa kontak biru, rambut panjang yang dikeriting dengan alat pengeriting rambut, dan mengenakan setelan blazer dan rok panjang berwarna merah menyala sewarna lipstiknya, lantas tersenyum miring dan menatap Lela, Guru BK yang gemuk dan bertampang galak. "Hukuman yang pantas bagi tindakan pelanggaran berat seperti penganiayaan ini adalah dikeluarkan dari sekolah. Di peraturan sekolah juga ada butir ketentuan itu--benar begitu, Bu Lela?"
Lela mengangguk. "Benar, Bu Farah."
"Baik. Jadi apa keputusan Anda, Kepala Sekolah?" Farah, Ketua Komite Murid, kini menatap lekat Kepala Sekolah yang tua, setengah botak, dan bertampang seperti gorila suram.
Iskandar, sang Kepala Sekolah, menghela napas berat dan panjang.
"Karena sudah mengaku dan terbukti melanggar aturan, dan sesuai ketentuan yang berlaku, Ananda Sagara Mandala mulai hari ini diberhentikan sebagai siswa dan dikeluarkan--"
"TUNGGU DULU!"
Erina seketika berteriak dan berdiri, matanya membara dan wajahnya merah menahan amarah.
"Ini Sidang Komite Disiplin--tolong tunjukkan etika dan sopan santun Anda!" tegur Farah tak senang. "Sungguh tak pantas Anda berteriak seperti tukang parkir jalanan dan memotong ucapan Kepala Sekolah seperti itu... kita jadi tahu dari mana kekasaran Sagara itu berasal!"
"Anda yang jaga ucapan Anda!" balas Erina tak gentar. "Apa-apaan sidang ini... kalian hanya menjatuhkan tuduhan dan hukuman, tanpa membuka kronologi dan keterangan para saksi? Kalau seperti ini, bukan sidang namanya...!"
"Semua sudah terbuka jelas--Sagara memukul Rudi hingga hidungnya patah dan sekarang dia terpaksa dirawat di rumah sakit untuk memulihkan lukanya! Putra berandalan Anda itu juga sudah mengakui perbuatannya! Apa lagi yang kurang jelas bagi Anda?" seru Farah tak mau kalah.
"Anda harusnya juga menelisik dan mengungkap kebenaran di balik perbuatan Saga--kenapa dia sampai memukul Rudi seperti itu? Tak ada asap kalau tak ada api!" bentak Erina. "Cek CCTV kelas! Cek para saksi! Rudi terbukti memukul Nia, karena itu Saga maju dan membela--"
"Kita di sini untuk menindaklanjuti perbuatan Saga, Bu Erina. Tindakan Saga itu sudah keterlaluan dan bahkan bisa mengancam keselamatan Rudi--hidungnya patah, jiwanya trauma--"
"Lantas bagaimana dengan tindakan pemukulan Rudi terhadap Nia? Kenapa tidak disidang juga?" sela Erina marah.
"Itu tidak relevan dengan sidang kali ini--"
"Tidak relevan?! Itu sumber masalahnya!" Erina berteriak frustasi. "Saga membela Nia--menegur Rudi--Rudi hampir memukul Saga juga, tapi Saga melawan! Pukulan Saga itu untuk membela diri--"
"Diam kamu!"
Perwakilan Yayasan, sekaligus ibu kandung Rudi, seorang wanita bertubuh kurus tinggi dengan rambut pendek dan paras runcing--Atika Baskara, tak segan membentak Erina.
"Kamu ibu berandalan yang sudah merusak wajah anakku! Anakmu harusnya kutuntut ke polisi karena perbuatannya sudah termasuk tindakan kriminal! Tadinya kupikir dikeluarkan dari sekolah dan memasukkannya dalam daftar hitam adalah hukuman yang cukup pantas untuk memberinya efek jera, tapi melihat kelakuanmu, lebih baik kuteruskan saja kasus ini ke pihak berwajib--"
Erina terpaku. Wajahnya seketika berubah sepucat hantu.
Tidak... jangan polisi! Anakku! Ginjalku!
"Selamat pagi."
Pintu Aula tiba-tiba terbuka dan sesosok lelaki jangkung, asing, sangat tampan dalam setelan jas dan celana panjang abu-abu tua masuk dengan langkah tegak dan tenang.
Seisi ruangan spontan hening. Seakan udara seketika lenyap dan kehilangan cara mengalirkan denting.
Ganteng banget... eh...
Erina menekap mulutnya sendiri, saat batinnya tanpa sadar mengagumi paras lelaki itu yang sangat bersih, dengan sepasang mata teduh, hidung lurus, bibir penuh, dan bahkan rambut agak ikal pendeknya tertata rapi.
Pemandangan seperti itu, dan bahkan reaksinya sendiri--adalah sesuatu yang langka... barangkali hanya terjadi seribu tahun sekali.
"Siapa Anda?" tanya Pak Iskandar bingung.
"Saya Alvin Hermawan. Ayah kandung Kania Hermawan--murid kelas 8A yang dipukul teman sekelasnya, Rudi Baskara, Jumat silam."
Tarikan napas dan gumaman kaget terdengar di mana-mana.
"Pak... Alvin... Hermawan?" Farah mengerjap dan bahkan tergagap--entah karena saking kagetnya atau terpesona dengan sosok Alvin yang muncul mendadak, tanpa diundang, namun ketampanannya bersinar seperti bintang.
"Wajar saja kalian merasa asing dengan saya. Ini pertama kalinya saya muncul di sekolah anak saya. Selama ini saya tinggal dan bekerja di luar negeri--dan ini pertama kali saya menginjakkan kaki di sini. Jujur saya langsung memutuskan terbang pulang begitu mendengar putri semata wayang saya mengalami penganiayaan di sekolah, dan saya kemari untuk meminta klarifikasi sekaligus pertanggungjawaban pihak yang terkait."
Cara bicara Alvin sungguh tertata dan penuh wibawa--menyiratkan kecerdasan dan kekuatan yang tak bisa diremehkan.
"Nia... apa dia baik-baik saja, Om?"
Saga memecah keheningan yang canggung dengan pertanyaan pelan, dan mengejutkan semua orang.
"Kamu... apa kamu anak lelaki yang membelanya? Sagara?" Alvin menatap lekat Saga yang duduk di tengah Aula sebagai "terdakwa".
Saga mengangguk.
Alvin menghela napas sejenak.
"Nia cerita tentang kamu. Pipinya memar dan bengkak akibat pukulan anak kurang ajar itu--dan dia trauma sampai tak mau keluar rumah. Karena itu Om ke sini untuk menuntut tanggung jawab dan keadilan--dan security di depan bilang, Komite dan Sekolah sedang menggelar sidang untuk menghukum kamu yang sudah membela Nia..."
Tatapan Alvin kini berubah tajam dan dingin, tersorot bergantian ke arah Iskandar, Farah, Lela, dan Atika--yang semuanya bungkam dan beku.
"Jelaskan!" Suara keras Alvin menggema, sarat perintah sekaligus kemarahan.
"Berandal itu sudah mematahkan hidung anakku--dia pantas diseret ke penjara--"
Atika dengan nekat dan berani kembali menuding Saga, membuat Alvin semakin naik pitam.
"Lalu? Anakmu yang sudah lebih dulu menganiaya anakku, boleh kuseret dia ke penjara sekarang juga?"
***