Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin yang Masih Memiliki Istri
Ada saat ketika hati seseorang pecah.
Bukan retak.
Bukan terluka.
Tapi benar-benar pecah.
Menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak mungkin disusun kembali.
Dan saat berdiri di depan rumah Seline pagi itu, melihat nama Wisnu terpampang di atas papan pengantin, Nandin merasa itulah akhir dari segalanya.
Namun ia belum tahu.
Yang menunggunya di dalam rumah jauh lebih menyakitkan.
“Mammaa…”
(Mama…)
Shella memegang ujung bajunya.
“Mau puyang…”
(Mau pulang?)
Anak itu mulai gelisah.
Mungkin karena melihat ibunya menangis.
Mungkin karena suasana asing.
Mungkin karena terlalu banyak orang.
Nandin mengusap kepala putrinya pelan.
Belum.
Dia belum bisa pulang.
Belum sebelum mendapatkan jawaban.
Belum sebelum mengetahui mengapa semua ini terjadi.
Belum sebelum melihat wajah suaminya sendiri.
Ia menghapus air mata.
Menarik napas panjang.
Lalu menggenggam tangan Shella dan Sherly.
"Ayo."
Suaranya serak.
Sangat serak.
Namun ia tetap melangkah masuk.
Halaman rumah itu cukup luas.
Beberapa ibu-ibu sedang sibuk memotong buah.
Ada yang menata minuman.
Ada yang menggoreng kerupuk.
Suasana khas persiapan hajatan.
Ramai.
Hangat.
Penuh kebahagiaan.
Dan justru itu yang membuat dada Nandin semakin sesak.
Karena semua orang di sana sedang menunggu pesta.
Sedangkan dirinya sedang membawa duka.
"Silakan masuk Mbak."
kata salah satu ibu dengan ramah.
"Oh iya."
Nandin tersenyum tipis.
Senyum yang lebih mirip menahan tangis.
Rumah Seline cukup besar.
Lantai keramik mengkilap.
Ruang tamu dipenuhi kursi tambahan.
Beberapa kerabat sedang bercengkerama.
Anak-anak kecil berlarian.
Semua terlihat bahagia.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang istri sah baru saja datang ke rumah calon suami mereka.
"Ini siapa ya?"
tanya seorang wanita paruh baya.
Wajahnya ramah.
Mungkin kerabat.
Mungkin tetangga.
Nandin mengangguk sopan.
"Saya teman lama."
"Oh teman Seline?"
"Iya."
Bohong.
Namun Nandin tidak punya tenaga untuk menjelaskan.
"Kasihan ya Seline."
kata wanita itu tiba-tiba.
Nandin menoleh.
"Kenapa Bu?"
Wanita itu tersenyum.
"Ya akhirnya dapat jodoh juga."
"Memangnya kenapa?"
"Seline itu baik."
"Kerja di Korea bertahun-tahun."
"Alhamdulillah sekarang dapat laki-laki baik."
Nandin merasakan sesuatu menusuk dadanya.
Laki-laki baik.
Kalimat itu terasa seperti lelucon.
"Laki-lakinya kerja di Korea juga?"
tanya Nandin pelan.
"Iya."
"Namanya Wisnu."
Wanita itu tersenyum lebar.
"Sopan sekali orangnya."
"Seline beruntung."
Nandin menunduk.
Takut air matanya terlihat.
Beruntung.
Sementara dirinya?
Apa namanya perempuan yang ditinggalkan saat hamil?
Yang membesarkan anak sendirian?
Yang selama bertahun-tahun menunggu?
Apakah itu disebut beruntung juga?
"Yang paling bikin saya senang."
lanjut wanita itu.
"Mas Wisnu belum pernah menikah."
Deg.
Dunia berhenti.
Apa?
"Belum pernah menikah?"
Suara Nandin nyaris tak terdengar.
"Iya."
Wanita itu mengangguk santai.
"Katanya belum pernah nikah."
"Nggak punya anak."
"Murni bujangan."
Brak.
Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam kepala Nandin.
Napasnya tercekat.
Telinganya berdenging.
Dan untuk sesaat ia benar-benar kehilangan kemampuan berpikir.
Belum pernah menikah.
Tidak punya anak.
Jadi selama ini...
Wisnu tidak hanya selingkuh.
Dia menghapus keberadaan dirinya.
Menghapus keberadaan Shella.
Menghapus keberadaan Sherly.
Seolah mereka tidak pernah ada.
"Mbak?"
Wanita itu mengernyit.
"Kok pucat?"
Nandin tidak menjawab.
Karena air matanya mulai jatuh lagi.
Bukan tangisan keras.
Tapi tangisan yang jauh lebih menyakitkan.
Tangisan seseorang yang baru menyadari dirinya sudah dihapus dari kehidupan orang yang dicintainya.
Pada saat yang sama.
Di lantai atas rumah.
Seseorang ternyata melihat kedatangannya.
Dan orang itu langsung panik.
Wisnu.
Pria itu membeku di depan jendela.
Wajahnya langsung pucat.
"Tidak mungkin..."
bisiknya.
Dia mengenali Nandin.
Mengenali Shella.
Mengenali Sherly.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Dia benar-benar ketakutan.
Beberapa menit kemudian.
Suasana rumah mulai berubah.
Orang-orang mulai melihat ada sesuatu yang tidak beres.
Karena Nandin tidak bisa lagi menahan tangis.
Dan saat itulah...
Wisnu muncul.
Turun dari tangga.
Masih mengenakan kemeja putih pengantin.
Wajahnya tegang.
Matanya membelalak saat berdiri beberapa meter di depan Nandin.
Mereka saling menatap.
Lama.
Sangat lama.
Tidak ada suara.
Tidak ada kata-kata.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai.
Kini berdiri di dua sisi yang berbeda.
“Mamma…”
(Mama.)
bisik Shella.
Karena anak kecil itu merasakan ketegangan.
Namun tidak mengerti.
"Nandin."
ucap Wisnu akhirnya.
Suara itu membuat tubuh Nandin gemetar.
Karena bertahun-tahun.
Bertahun-tahun ia menunggu lelaki itu pulang.
Dan sekarang saat akhirnya bertemu...
Justru di rumah calon istri barunya.
"Aku..."
Wisnu mencoba bicara.
Namun Nandin lebih dulu bertanya.
"Kenapa?"
Hanya satu kata.
Namun begitu penuh luka.
"Kenapa?"
Air matanya jatuh lagi.
"Aku kurang apa?"
Wisnu terdiam.
"Anak-anakmu kurang apa?"
Tetap diam.
"Kenapa kamu bilang belum pernah menikah?"
Suasana rumah langsung sunyi.
Orang-orang mulai saling pandang.
Karena kalimat itu terdengar jelas.
Sangat jelas.
Belum pernah menikah?
Apa maksudnya?
Dan sebelum Wisnu sempat menjawab.
Suara kendaraan terdengar dari luar.
Rombongan baru datang.
Beberapa mobil berhenti.
Dan orang pertama yang turun membuat tubuh Nandin semakin lemas.
Bu Sri.
Di belakangnya.
Kakak Wisnu.
Ipar Wisnu.
Beberapa kerabat.
Semuanya.
Semua orang yang selama ini dikenalnya.
Dan saat melihat mereka.
Nandin akhirnya mengerti.
Semuanya tahu.
Semua.
Bu Sri tahu.
Kakaknya tahu.
Keluarganya tahu.
Semuanya tahu.
Hanya dirinya yang tidak tahu.
Hanya dirinya.
Yang masih menunggu.
Yang masih bertahan.
Yang masih berharap.
Bu Sri langsung membeku saat melihat Nandin.
Namun keterkejutan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Karena wanita itu segera mengeraskan wajahnya.
"Kamu ngapain di sini?"
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir.
Karena bahkan sekarang.
Setelah semua kebohongan terbongkar.
Dirinya masih dianggap pengganggu.
Bukan korban.
Bukan istri.
Melainkan pengganggu.
Dada Nandin semakin sesak.
Napasnya mulai tidak teratur.
Pandangannya kabur.
Suara-suara mulai bercampur.
Orang-orang bicara bersamaan.
Ada yang bertanya.
Ada yang panik.
Ada yang bingung.
Dan di tengah semua itu.
Nandin hanya melihat satu hal.
Shella.
Sherly.
Dua anak kecil yang berdiri memeluk kakinya.
Mereka mengenal Bu Sri.
Karena pernah tinggal bersama.
Namun mereka menatap Wisnu seperti menatap orang asing.
Karena memang orang asing.
Mereka tidak tahu.
Bahwa laki-laki yang berdiri di depan sana adalah ayah mereka.
Mereka tidak tahu.
Karena sejak dalam kandungan.
Mereka sudah ditinggalkan.
“Nenne”
(Nenek…)
ucap Sherly saat melihat Bu Sri.
Namun tidak ada satu pun kata untuk Wisnu.
Tidak ada.
Dan entah kenapa.
Pemandangan itu membuat beberapa orang mulai mengerti.
Mulai curiga.
Mulai bertanya-tanya.
Napas Nandin semakin cepat.
Tangannya gemetar hebat.
Kepalanya terasa sakit.
Sangat sakit.
Seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Ia mencoba berdiri tegak.
Namun dunia mulai berputar.
Suara-suara terdengar jauh.
Sangat jauh.
"Mbak!"
"Nandin!"
"Sadar!"
"Ambil air!"
"Ya Allah!"
Lalu semuanya gelap.
Tubuh Nandin ambruk ke lantai.
Tepat di depan pelaminan yang disiapkan untuk pernikahan suaminya dengan perempuan lain.
"MAMA!"
Tangisan Shella pecah.
"MAMA!"
Sherly ikut menangis keras.
Kedua anak itu mengguncang tubuh ibunya.
Ketakutan.
Bingung.
Tidak mengerti apa yang terjadi.
“Mamma banuun”
(Mama bangun…)
"Mama..."
Tangisan mereka menggema di seluruh rumah.
Membuat suasana yang tadinya meriah berubah kacau.
Keluarga Seline panik.
Keluarga Wisnu panik.
Para tetangga berkerumun.
Orang-orang mulai bertanya-tanya.
Dan untuk pertama kalinya.a
Kebohongan yang selama ini disimpan bertahun-tahun mulai retak di depan banyak saksi.
Sementara di tengah kekacauan itu.
Wisnu hanya berdiri diam.
Memandangi tubuh Nandin yang tak sadarkan diri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Ia mulai menyadari bahwa kebohongan yang dibangunnya selama bertahun-tahun akhirnya runtuh.
Bukan karena dirinya mengaku.
Melainkan karena perempuan yang selama ini ia tinggalkan datang sendiri membawa kebenaran.