NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 KEGIATAN BELUM AKTIF

Singkat waktu, di hari berikutnya…

Aku dan Ayu mendapatkan kabar melalui telepon dari Ustadz Furqon bahwa beliau akan datang pagi ini. Dan Alhamdulillah, ternyata beliau benar datang. Tampak ia datang sendirian menggunakan sebuah mobil. Kami berdua sedang duduk santai di beranda masjid, saat kedatangan beliau.

“Assalamu’alaikum…” ucap Ustadz Furqon ketika ia turun dari mobil.

“Wa’alaikumsalam…” jawab kami berdua bersamaan, lalu dengan segera kami menghampiri beliau.

Ustadz Furqon tersenyum lepas saat melihatku…

“Gimana Nis? Udah mulai ngerasa betah di sini?” tanya beliau.

“Alhamdulillah Ustadz, mulai betah rasanya.” jawabku sambil membalas senyumannya.

“Alhamdulillah… Gimana Ayu? Jahil gak sama kamu? Hehe…” tambahnya sambil melirik ke arah Ayu yang berdiri di sampingku. Seolah beliau memang sudah mengenal karakter Ayu yang suka jahil itu.

“Saya gak jahil kok Ustadz, malah Nisa yang jahil sama saya loh…” ucap Ayu yang mencoba bercanda denganku lagi.

“Yeeeh… Enggak Ustadz, saya gak jahil. Dia nya aja yang emang jahil tuh…” sanggahku segera.

Tampak bahagia raut wajah Ustadz Furqon melihat kami berdua.

“Hahaha… kayaknya kalian nanti bisa jadi sahabat akrab deh. Udah mulai kelihatan kalian itu bisa kompak.” Kata Ustadz Furqon sambil tertawa bijak.

Lalu beliau menuju ke bagasi belakang, membuka pintunya, dan meminta bantuan kami berdua.

“Nisa, Ayu, bantuin saya dulu sebentar sini…”

“Iya Ustadz…” jawab Ayu.

Lantas beliau tampak menurunkan cukup banyak kardus-kardus berukuran sedang dan juga berukuran agak besar. Dibantu oleh kami berdua.

“Em, ini semua isinya apa Ustadz?” tanya Ayu sambil menurunkan salah satunya.

“Ini semua adalah buku-buku, sama kitab-kitab buat santriwati nanti.” jawab beliau.

“Emang santriwati nya pasti banyak ya Ustadz?” tanya Ayu kemudian.

“Nanti saya jelaskan ya Yu, sekarang kalian bantuin dulu bawa kardus-kardusnya ke masjid aja.” jawabnya.

Tanpa banyak kata, kami bertiga memindahkan seluruh kardus itu ke dalam masjid, di susun dengan rapi di bagian pojok dekat dengan lemari mukena. Cukup memakan waktu dan tenaga kami bertiga untuk memindahkan semuanya.

Setelah semua kardusnya tersusun rapi, Ayu berinisiatif membuatkan teh manis hangat untuk kami bertiga. Ayu segera menuju ke dapur pondok, sedangkan aku duduk beristirahat sejenak bersama Ustadz Furqon di beranda masjid.

“Gimana Nis perjalananmu kemarin? Lancar?” tanya beliau membuka obrolan soal perjalananku lagi.

“Alhamdulillah Ustadz, lancar.” jawabku.

“Berapa lama kamu di kereta?”

“Kurang lebih, kalau gak salah sih sekitar sebelas jam Ustadz.”

“Oh sebelas jam ya… Terus, gimana perjalanan bareng Pak Nardi kemarin?”

“Alhamdulillah, lancar juga Ustadz. Saya ngerasa takjub sama semua pemandangan selama di mobil menuju ke sini, hehehe…”

“Alhamdulillah kalo gitu. Pasti ngerasa beda banget kan sama lingkungan rumah di Bogor?”

“Ya jelas dong Ustadz, hehe…”

Kemudian Ayu datang sambil membawa nampan dengan tiga gelas teh manis hangat yang masih mengepul uapnya.

“Ini Ustadz, teh nya. Di minum dulu sambil istirahat.” Ucap Ayu sambil menaruh gelas-gelas itu.

“Oh ya Ustadz, gimana kondisi Ibu?” tanyaku, dan yang kumaksud adalah Bu Fatimah.

“Masih demam Nis. Tapi gak kenapa-kenapa kok, murni emang kelelahan aja Ibu.” jawab beliau, sambil mengambil teh yang disuguhkan, lalu meminumnya.

“Alhamdulillah kalo gitu. Semoga Ibu segera sehat lagi.” ucapku.

Kemudian aku dan Ayu segera meminum teh juga. Begitu terasa aroma melati yang harum di setiap tegukan. Ditambah dengan semilir angin di sekitar area pondok putri yang berada di kaki Gunung Kelud ini.

“Oh iya, saya mau jelaskan sesuatu sama kalian berdua.” sambung Ustadz Furqon.

Aku dan Ayu duduk bersebelahan, memperhatikan beliau yang duduk bersila di hadapan kami, menunggu hal apa yang akan dijelaskannya.

Dan Ustadz Furqon berkata, “Nisa… Ayu… Sebenarnya pondok putri ini masih belum aktif kegiatan pesantrennya di bulan ini.”

Sejenak, aku dan Ayu saling bertukar pandang saat mendengar hal itu.

“Loh, emangnya kenapa Ustadz? Bukannya pondok putra sudah aktif? Biasanya kalau satu pondok, walau berbeda wilayah antara putra dan putri, kegiatannya serentak.” ucapku.

“Iya… Awalnya pas pondok putra dan putri ini selesai di bangun, sudah ditentukan semuanya. Mulai dari struktur organisasi pondok, segala administrasi pondok, jadwal penerimaan santri dan santriwati baru, jadwal kegiatan pondok, semuanya udah dibicarakan dan ditentukan dengan berbagai pihak.” jawab Ustadz Furqon.

“Lalu, apakah ada kendala Ustadz? Sampai pondok putri di sini belum aktif dalam waktu dekat ini?” tanya Ayu yang juga penasaran.

“Alhamdulillah, kalau kendala sih enggak ada, Insya Alloh. Tapi, karena peminat yang masuk ke pondok lebih banyak santri laki-laki, jadinya duluan pondok putra yang aktif dan berjalan.” jelas beliau.

“Oh gitu… Alhamdulillah deh kalau peminat santri laki-lakinya udah mulai banyak Ustadz.” kataku.

“Berapa jumlah santri laki-lakinya Ustadz kalau boleh saya tau?” tanya Ayu.

“Ya belum banyak juga sih, tapi Alhamdulillah sudah ada tiga puluh santri. Ya harap maklum, namanya juga baru pertama kali berdiri. Ditambah juga kan daerah Kediri ini udah banyak pondok pesantren lain yang udah berdiri duluan, malah ada yang sudah puluhan tahun berdirinya.” jawab beliau.

“Ya semoga nanti seiring waktu, jumlah santrinya semakin bertambah ya… Aamiin…” kata Ayu kemudian.

“Iya Yu, Aamiin… Terima kasih doanya…” balas Ustadz Furqon.

“Oh iya, kalau di sini, kira-kira kapan ya Ustadz aktif kegiatannya? Apakah sudah ada yang mendaftar?” tanyaku.

Karena memang hal itulah yang menjadi salah satu pertanyaanku sejak aku tiba di sini yang belum mendapatkan jawaban jelas.

“Kalau yang mendaftar, Alhamdulillah, sudah ada Nis. Tapi ya masih sedikit, baru lima orang calon santri perempuan.” jawab beliau.

“Minimal, saya ingin ada sepuluh calon santriwati yang sudah dipastikan masuk ke sini, baru lebih enak buat mulai aktif kegiatan pondoknya.” tambahnya lagi.

“Oh gitu… terus yang lima calon santriwati itu belum datang ke sini Ustadz?” tanyaku lagi.

“Insya Alloh yang lima itu bulan depan sudah mulai mondok di sini Nis.”

“Wah, bulan depan Ustadz?” tanya Ayu sedikit terkejut.

“Iya, bulan depan. Oh iya, nanti sistemnya adalah pondok putri ini murni hanya sebagai pondok saja, gak dicampur dengan pendidikan formal seperti di sekolah. Karena memang fokus untuk asrama yang mengajarkan ilmu-ilmu agama saja. Jadi nanti ketika pagi sampai menjelang sore, seluruh santri di sini akan berangkat ke sekolah masing-masing. Nah setelah pulang sekolah mereka langsung kembali ke sini. Malamnya baru diisi dengan kegiatan belajar ilmu agama.” jelas Ustadz Furqon panjang lebar.

“Oooh… Begitu ya…” responku, di susul anggukan kepala Ayu yang juga semakin memahami sistem di pondok putri ini.

“Nanti bulan depan, akan ada administrasi yang harus kalian lengkapi sebagai tenaga pengurus di sini. Seperti surat tugas, surat keputusan pimpinan pondok dari saya, dan lain-lain. Ya pelan-pelan kita lengkapi semua ya…” tambah Ustadz Furqon.

“Baik Ustadz, kami bisa paham.” jawabku.

.....

🌳🌳🌳🕌🌳🌳🌳

.....

Singkat cerita, setelah obrolan yang cukup panjang tentang segala seluk beluk sistem kegiatan pondok putri ini, Ustadz Furqon berpamitan hendak kembali ke pondok putra.

Sebelum dirinya beranjak pergi meninggalkan kami berdua, beliau memberikan beberapa jenis makanan dan juga minuman sebagai persediaan selama satu minggu ke depan yang ternyata sudah dibawakan dalam mobilnya.

Di antaranya ada satu karung beras ukuran 15 kilogram, gula, garam, dan minyak goreng. Tak lupa juga beragam jenis bumbu masak. Seluruhnya di bawa dari sebagian persediaan pondok putra.

Sementara bahan masakan lain, selebihnya Ustadz Furqon berpesan untuk beli saja di warung. Tepat di desa rumahnya Ayu berada yang tak jauh dari sini.

Dan setelah itu semua diberikan kepada kami berdua, beliau hendak berpamitan...

"Nisa, Ayu, tolong dijaga pondok putri ini ya selama belum aktif kegiatannya. Di jaga kebersihan lingkungannya. Dan di jaga keamanannya." pesan Ustadz Furqon saat sudah duduk di kursi kemudi mobil.

"Iya Ustadz..." Jawab kami berdua.

"Oh iya, semua kunci ruangan, sampai kunci gerbang sudah saya kasih ke Ayu. Dia yang simpan." tambah beliau sambil menatapku.

"Iya Ustadz, aman semua kuncinya di dalam kamar saya." jawab Ayu.

"Ya sudah, saya pamit ya... Jaga diri baik-baik, kalian jangan pergi terlalu jauh. Nanti kosong pondoknya."

"Iya Ustadz... Paham..." jawabku.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam..." jawabku dan Ayu bersamaan.

Dan mulailah mobil yang dikendarai Ustadz Furqon beranjak meninggalkan kami berdua.

.....

.....

....

Akan tetapi, ketika aku dan Ayu berbalik badan hendak masuk ke dalam pondok, mobil yang dikendarai Ustadz Furqon berhenti di kejauhan.

"Eh Nis, itu kenapa berhenti mobilnya?" tanya Ayu sambil menepuk pundakku.

Dan aku pun menoleh, "Loh, iya ya. Kenapa ya?" aku pun jadi heran sedikit.

Lalu terdengar suara Ustadz Furqon memanggilku dari kaca mobil.

"Nisa... Maaf... Bisa ke sini sebentar gak?" ucapnya agak berteriak.

"Bentar ya Yu, aku ke sana dulu."

"Iya, sana, buruan!"

Aku langsung berjalan mendekati mobil.

"Ada apa Ustadz?" tanyaku saat sudah berdiri di samping mobil.

"Saya kelupaan tadi mau bilang sama kamu dan Ayu." kata Ustadz Furqon.

"Kelupaan bilang apa Ustadz?"

"Nanti ada satu lagi yang akan dateng ke pondok, sama-sama tugasnya mengurus pondok putri. Namanya... Aduuuh... Saya lupa namanya siapa..."

"Oh gitu..." responku.

"Iya, tapi saya kelupaan namanya siapa..."

"Tapi yang pasti perempuan kan Ustadz?" tanyaku.

"Ya iya dong, masa laki-laki... Kamu ini, ada-ada aja Nisa... Hehe..." jawab Ustadz Furqon.

"Ya sudah, nanti saya kabarin lagi deh lewat telepon ya Nis..." tambahnya.

"Iya Ustadz, siap..." jawabku.

"Saya jalan lagi ya Nis... Maaf udah manggil kamu."

"Iya Ustadz, gak apa-apa. Hati-hati di jalan."

"Iya Nis..."

Setelah itu, kembali mobil berjalan sambil sejenak aku masih berdiri melihatnya menjauh, menyusuri jalan tanah berbatu yang menurun.

Dan aku segera kembali ke Ayu, menyampaikan apa yang barusan dikatakan Ustadz Furqon. Lalu kami berdua masuk area pondok, menutup gerbangnya, dan tak lupa menguncinya juga.

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!