NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Malam Pertama Yang Hancur

Mesin mobil sedan mewah milik Mas Elang menderu halus, membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang menjelang tengah malam. Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu pekat dan menekan, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru mereka. Elang fokus menatap jalanan di depan dengan rahang yang mengeras tegang, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di kursi penumpang depan, Alin menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Rambut sanggulnya sudah dilepas oleh perias di hotel tadi, menyisakan helai-helai rambut yang agak lengket karena sisa sasakan dan minyak rambut. Ronce melati yang semula wangi kini telah layu, ia letakkan begitu saja di dalam tas jinjingnya. Di kursi belakang, Cindy duduk mendekap Ega yang akhirnya tertidur pulas setelah diberi obat penurun demam oleh dokter hotel. Sesekali, suara helaan napas berat atau isak lirih yang sengaja ditahan oleh Cindy terdengar, memecah keheningan kabin. Namun, Alin memilih memejamkan mata, berpura-pura tidur demi menghindari interaksi apa pun.

Pikiran Alin melayang kembali pada percakapan terakhir di ruang transit hotel satu jam yang lalu.

Setelah keputusan sepihak Elang untuk membawa Cindy dan Ega pulang, Nenek Aisyah tampak begitu terpukul. Wanita sepuh itu bersandar pada tongkat kayunya dengan tubuh yang gemetar hebat, menatap cucu laki-laki kesayangannya dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam.

"Nenek tidak pernah mengajari kamu menjadi pria yang tidak punya harga diri, Elang," ucap Nenek Aisyah saat itu, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus kesedihan. "Hari ini, kamu bukan hanya menginjak-injak martabat Alin dan keluarganya, tapi kamu juga sudah menodai kepercayaan Nenek. Rumah itu... rumah baru itu dibangun dengan doa agar kamu bisa memulai lembaran baru yang bersih. Bukan untuk menampung masa lalumu yang cacat moral!"

Elang hanya menunduk kaku, menerima setiap makian sang nenek tanpa berniat mengubah keputusannya. Baginya, logika sebagai seorang pria yang bertanggung jawab atas anak kandungnya jauh lebih mendesak daripada sekadar menjaga gengsi keluarga besar di malam pernikahan.

Sebelum mereka meninggalkan hotel, Nenek Aisyah menarik Alin ke dalam pelukan hangatnya. Aroma minyak mawar yang familier dari tubuh sang nenek sempat membuat pertahanan Alin runtuh, air matanya menetes pelan di bahu wanita tua itu.

"Nduk, Alin ... Nenek mohon, tetaplah berada di samping Elang," bisik Nenek Aisyah dengan suara yang parau, menggenggam kedua tangan Alin dengan sangat erat seolah sedang menitipkan seluruh harapan terakhirnya. "Jangan biarkan wanita itu merebut posisimu. Kamu adalah istri sah Elang yang direstui. Pegang kendali rumah itu, jangan biarkan dirimu tersingkir."

Saat itu, Alin hanya mengangguk kecil dan mengiyakan penuturan Nenek Aisyah sekadar untuk menenangkan jantung sang nenek yang sempat tidak stabil. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Alin tahu situasinya sudah berbeda. Jauh di dalam lubuk hatinya, Alin sudah bersiap untuk menyerah. Dia sudah menyusun rencana untuk membatalkan atau menyudahi status pernikahan konyol ini secepat mungkin setelah badai mereda.

Alin bukan wanita bodoh yang buta karena cinta. Melalui sepasang mata Mas Elang saat pria itu menatap Cindy tadi, Alin bisa melihat dengan sangat jelas bahwa riak-riak cinta, rasa memiliki, dan penyesalan masa lalu untuk mantan kekasihnya itu masih menyala dengan begitu hebat. Di antara Elang dan Cindy, ada jembatan emosi yang belum runtuh. Sementara dirinya? Alin hanyalah orang asing yang dipaksa masuk karena selembar kertas kontrak perjodohan. Berdiri di antara dua orang yang masih saling mencintai hanya akan membuat dirinya berakhir sebagai korban yang mengenaskan.

Citt.

Mobil berhenti dengan perlahan. Alin membuka matanya, mendapati mereka sudah sampai di depan pagar besi hitam sebuah rumah klaster mewah bergaya minimalis modern di kawasan Jakarta Selatan. Rumah berlantai dua dengan cat dominan putih gading itu tampak begitu sunyi. Lampu taman yang temaram menyala otomatis, menyiram dinding rumah dengan cahaya kuning yang hangat. Rumah ini harusnya menjadi saksi dimulainya kehidupan ia Alin sebagai seorang istri, tempat di mana dia dan Elang belajar menumbuhkan rasa dari nol. Namun malam ini, rumah ini justru menyambut mereka dengan atmosfer sebuah tragedi.

Elang mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke belakang dengan gerakan yang sangat lembut—kontras dengan bagaimana dia bersikap dingin pada Alin sejak sore tadi. "Cindy, sudah sampai. Biar Ega Mas yang gendong ke dalam."

"Maaf ya, Mas ... aku benar-benar merepotkanmu. Harusnya malam ini–" Cindy menggantung kalimatnya sengaja, melirik ke arah spion tengah untuk memastikan Alin mendengarnya. Ia meremas ujung blusnya dengan wajah yang penuh rasa bersalah yang tampak begitu natural.

"Sudah, jangan dibahas lagi. Ayo turun," potong Elang, nadanya melembut.

Alin membuka sabuk pengamannya sendiri. Ia tidak menunggu Elang untuk membukakan pintu mobilnya. Dengan gerakan lambat karena kakinya yang masih terasa kaku dan jarik yang membelit, Alin turun dari mobil, membawa tas jinjingnya sendiri. Ia melangkah mendahului mereka, membuka pintu utama rumah menggunakan kunci cadangan yang dipegangnya.

Begitu pintu terbuka, aroma cat baru dan keharuman pewangi ruangan beraroma lavender menyergap indra penciuman Alin. Di dalam ruang tengah, sebuah sofa beludru berwarna abu-abu yang nyaman sudah tertata rapi. Semuanya tampak sempurna, disiapkan oleh keluarga besar suaminya untuk menyambut pengantin baru.

Elang melangkah masuk paling akhir, mendekap Ega yang tertidur pulas di dadanya dengan begitu protektif. Di belakangnya, Cindy mengekor dengan langkah ragu-ragu, matanya mengedar menatap kemewahan rumah baru milik mantan kekasihnya itu dengan binar yang sulit dibaca.

"Alin," panggil Elang, membuat langkah Alin yang hendak menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua terhenti. Alin membalikkan tubuhnya perlahan, menatap suaminya datar.

"Kamar tamu di bawah ... apakah sudah siap dipakai?" tanya Elang, nadanya kembali formal dan berjarak. "Maksud Mas, sprei dan selimutnya. Ega harus segera dibaringkan, badannya masih agak hangat."

Alin menatap Elang selama beberapa detik tanpa ekspresi. Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Alin berjalan menuju lemari penyimpanan di dekat dapur bawah. Ia mengambil satu set sprei bersih dan selimut tebal yang baru, lalu melangkah menuju kamar tamu yang terletak di sudut lantai satu. Dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara, Alin memasang sprei tersebut ke atas kasur, menepuk-nepuk bantal dengan ritme yang teratur, dari gerakan tangan Alin yang kaku menunjukkan betapa ia sedang menekan seluruh emosi negatifnya ke titik terdalam.

Elang masuk ke dalam kamar tamu setelah Alin selesai, meletakkan Ega di atas kasur dengan sangat hati-hati, lalu menyelimuti tubuh mungil itu hingga sebatas dada. Cindy berdiri di ambang pintu, menatap punggung Elang dengan tatapan penuh kelembutan yang sengaja ia pamerkan di hadapan Alin.

"Terima kasih ya, Alin," ucap Cindy dengan suara berbisik, memasang wajah sekaku mungkin seolah ia tahu diri atas posisinya yang mengganggu. "Aku benar-benar minta maaf karena harus mengacaukan malam pertamamu dengan Mas Elang."

Bersambung ...

1
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
😂😂😂😂
merry yuliana
suruh ganti nama jadi burung perkutut aja kak
Naufal Affiq
kalau masih bodoh lagi kau elang,oma sudah mengasih jalan biar kau menjadi pintar,maka jalan kan apa yang harus kamu kerja kan
olyv
elang oon dikasih berlian kayk alin malah milih jalang kayak cindy siap² gigit jari kalo tetap keras kepala
Yul Kin
lanjut kak
Ayudya
nah apa yg di bilang nenek itu bener elang apa ada bukti kalau si Ega itu anak kandung kamu.seorang CEO kok bodoh banget🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
nah pilih yang mana lang
yuni ati
Elang galauu🤣
Teh Euis Tea
nah loh pilih elang km berani ga pilih cindi dan di miskinkan nenekmu atau km pilih alin tg tulus sayang sm nenekmu
Sugiharti Rusli
mungkin karena hubungan yang terjalin selama ini dengan Alin dan keluarganya, membuat nenek Aisyah lebih memilih dirinya jadi cucu menantunya sih,,,
Sugiharti Rusli
kira" nenek Aisyah tuh tahu pasti yah kalo watak Alin juga tegas seperti dirinya, tapi dia bisa menempatkan kapan waktunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kalo perusahaannya baru berkembang pesat tapi juga ada di bawah induk perusahaan keluarganya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang perusahaan yang di bawah kendali si Elang itu bukannya start up yah, kira" apa hubungannya sama harta milik sang nenek, apa investornya kah,,,
Mommy Ghina: perusahaan start up, tapi masih berinduk dengan perusahaan almarhum suami Nenek Aisyah
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata nenek Aisyah meski sudah uzur, tapi wibawanya tetap terlihat yah saat berkata tegas kepada si Elang cucunya
Wiek Soen
setuju dg nenek, CEO kok goblok
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
😬😬, ga bisa berkutik kan bapak elang yg terhormat, berpikir lah secara benaar jangan cuma bulol yg tdk pada tempatnya daaah... hadeeeh.. 😏😏
Nasya
bagus nek tak setuju bgt biar kapok elang
Nasya
hedehh CEO oon
Halimatus Syadiah
lanjut
Siti Jumiati
lanjut mommy💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!