NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Kembaranku Membenciku

“Nayla sadar?”

Suara Nadira terdengar nyaris berbisik.

Perawat itu mengangguk cepat. “Tapi kondisinya masih lemah. Dokter sedang memeriksa sekarang.”

Mamanya yang baru datang langsung menangis lega.

“Syukurlah… syukurlah…”

Papanya bahkan sampai hampir menjatuhkan ponselnya sendiri karena panik.

Sedangkan Nadira…

Ia cuma berdiri diam.

Campuran lega, takut, dan bingung bercampur jadi satu.

Karena begitu Nayla sadar, maka sandiwara ini selesai.

Harusnya begitu.

Tapi entah kenapa firasat buruk justru makin kuat.

Arsen berdiri di samping Nadira sambil memperhatikan wajahnya.

“Kamu nggak senang?”

“Aku senang.”

“Tapi?”

Nadira menatap pintu ruang rawat yang tertutup rapat.

“Aku takut.”

Arsen belum sempat bertanya lagi ketika dokter keluar dari ruangan.

“Keluarga pasien bisa masuk satu orang dulu.”

Mamanya langsung maju paling cepat.

“Aku!”

Dan wanita itu buru-buru masuk sambil menangis.

Papanya menyusul beberapa menit kemudian.

Tinggal Nadira dan Arsen di luar.

Lorong rumah sakit terasa terlalu sunyi.

Nadira menggigit kuku jarinya pelan—kebiasaan buruk yang selalu muncul saat gugup.

“Berhenti.”

Nadira menoleh.

Arsen menarik tangan Nadira pelan menjauh dari mulutnya.

“Kamu bakal luka.”

Nadira langsung salah tingkah.

“Refleks.”

“Kebiasaan jelek.”

“Kamu cerewet ya ternyata.”

“Aku pilih-pilih.”

Nadira mendecih pelan, tapi sudut bibirnya tanpa sadar naik sedikit.

Lalu beberapa detik kemudian…

Pintu ruang rawat terbuka keras.

Mamanya keluar dengan wajah pucat.

“Nadira.”

Nada suaranya aneh.

Bukan lega.

Bukan bahagia.

Tapi panik.

“Nayla mau bicara sama kamu.”

Jantung Nadira langsung jatuh.

Langkahnya terasa berat saat masuk ke ruang rawat.

Lampu kamar remang-remang.

Bau obat terasa kuat.

Dan di atas ranjang…

Nayla duduk bersandar dengan kepala masih diperban.

Wajahnya pucat.

Tapi matanya—

Matanya tetap sama.

Tajam.

Hidup.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari…

Nadira merasa dirinya benar-benar kecil lagi.

“Kalian keluar dulu,” kata Nayla pelan.

Mamannya ragu. “Sayang…”

“Aku mau bicara sama Nadira berdua.”

Suasana langsung canggung.

Namun akhirnya semua keluar.

Tinggal mereka berdua.

Si kembar.

Saling menatap dalam diam.

Nadira meremas jemarinya sendiri gugup.

“Aku—”

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya.

Nadira langsung terdiam.

Nayla menatapnya dengan mata penuh emosi.

“Kamu senang sekarang?”

Nadira membeku.

“Apa?”

“Kamu pikir aku nggak tahu?”

“Nay…”

“Kamu menikmati hidupku ya?”

Suara Nayla bergetar marah.

“Aku koma beberapa hari, lalu bangun-bangun semua orang ngomongin kamu yang pura-pura jadi aku!”

“Itu bukan ideku—”

“Terus kenapa kamu mau?!”

Air mata Nadira hampir jatuh.

“Papa Mama yang minta…”

“Kamu bisa nolak!”

“Aku udah coba!”

Nayla tertawa sinis.

“Tapi akhirnya kamu tetap menikmati perhatian itu kan?”

“Nggak!”

“Bohong!”

Nadira langsung menatap saudara kembarnya tak percaya.

“Kenapa kamu ngomong kayak gitu?”

Karena selama ini…

Selama bertahun-tahun…

Nadira selalu mengalah demi Nayla.

Selalu.

Namun Nayla malah terlihat marah seolah Nadira mencuri hidupnya.

“Aku nggak pernah minta jadi kamu,” suara Nadira mulai bergetar.

“Tapi kamu tetap melakukannya.”

“Aku terpaksa!”

Nayla menatapnya tajam.

“Dan Arsen?”

Deg.

Nadira langsung diam.

Tatapan Nayla berubah dingin.

“Kamu dekat sama dia?”

“Nggak.”

“Dia terus di samping kamu.”

“Itu karena dia tahu.”

Nayla langsung membeku.

“Apa?”

“Dia tahu aku bukan kamu.”

Ruangan mendadak hening.

Untuk pertama kalinya ekspresi Nayla berubah panik.

“Kenapa kamu nggak bilang?!”

“Aku takut.”

“Kamu bodoh apa gimana?!”

Nadira mulai kesal juga sekarang.

“Aku juga capek, Nay!”

“Jangan panggil aku begitu!”

Kalimat itu menghantam keras.

Karena sejak kecil, hanya Nadira yang memanggilnya

“Nay.”

Panggilan khusus saudara kembar.

Dan sekarang Nayla membencinya sampai sejauh itu.

“Kenapa kamu marah sama aku?” tanya Nadira lirih.

Nayla tertawa kecil.

Namun matanya merah.

“Karena selama ini aku selalu tahu.”

“Tahu apa?”

“Kalau suatu hari nanti kamu bakal mengambil semuanya dariku.”

Deg.

Nadira benar-benar tidak mengerti.

“Ngomong apa sih?”

“Kamu selalu pura-pura lemah.”

“Apa?”

“Padahal semua orang lebih nyaman sama kamu.”

Nadira menatapnya tak percaya.

Nayla mulai menangis.

Tangannya gemetar memegang selimut.

“Kamu tahu nggak capeknya jadi sempurna terus?”

Suara Nayla pecah.

“Aku harus cantik.”

“Aku harus pintar.”

“Aku harus jadi anak kebanggaan.”

Air mata jatuh di pipinya.

“Dan setiap kali aku gagal…” ia menatap Nadira tajam, “mereka selalu bilang, ‘coba kayak Nadira yang lebih tenang.’”

Nadira membeku.

Karena ia tidak pernah tahu itu.

Tak pernah.

Selama ini ia selalu berpikir Nayla punya semuanya.

Ternyata saudara kembarnya juga hidup di dalam tekanan.

“Aku benci dibandingin sama kamu,” bisik Nayla.

“…”

“Dan aku lebih benci lagi karena aku sayang sama kamu.”

Air mata Nadira akhirnya jatuh juga.

Karena untuk pertama kalinya…

Mereka jujur satu sama lain.

Di luar ruangan, Arsen berdiri sambil bersandar di dinding.

Papanya Nadira berjalan mondar-mandir cemas.

“Lama banget…”

Mamanya juga terlihat gelisah.

Beberapa menit kemudian pintu terbuka.

Nadira keluar dengan mata merah.

Arsen langsung berdiri tegak.

“Kamu nangis?”

Nadira cepat mengusap matanya.

“Nggak.”

“Bohong.”

Sebelum Nadira sempat menjawab, Nayla tiba-tiba memanggil dari dalam.

“Arsen.”

Semua langsung menoleh.

“Masuk.”

Pria itu masuk tanpa banyak bicara.

Pintu tertutup lagi.

Dan entah kenapa…

Dada Nadira terasa aneh.

Tidak nyaman.

Di dalam ruang rawat, Nayla menatap Arsen lama.

Pria itu tetap tenang seperti biasa.

“Kamu tahu dari awal ya?” tanya Nayla pelan.

“Iya.”

“Kenapa nggak bongkar?”

Arsen duduk santai di kursi dekat ranjang.

“Aku menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Kamu bangun.”

Nayla tersenyum tipis.

“Aku kalah ternyata.”

Arsen tidak menjawab.

“Aku kira Nadira bakal ketahuan dalam sehari.”

“Dia lebih kuat dari yang kamu kira.”

Kalimat itu membuat Nayla diam.

Lalu perlahan ia tertawa kecil pahit.

“Iya…”

Tatapannya turun ke selimut.

“Selalu begitu.”

Arsen memperhatikan Nayla beberapa detik.

“Kecelakaanmu bukan kecelakaan biasa.”

Nayla langsung mengangkat kepala cepat.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, wajah Nayla terlihat takut.

“Kamu tahu sesuatu?” tanya Arsen tajam.

Nayla menggigit bibir.

“Kalau aku ngomong… semuanya bakal kacau.”

“Sudah kacau dari awal.”

Ruangan mendadak sunyi.

Lalu Nayla berkata pelan,

“Orang itu bakal balik lagi.”

“Siapa?”

Nayla menatap lurus ke mata Arsen.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

Ponsel Arsen bergetar.

Pria itu mengangkat telepon sambil tetap memperhatikan Nayla.

“Iya?”

Wajahnya langsung berubah dingin.

“Kapan?”

Beberapa detik kemudian ia berdiri cepat.

“Aku ke sana sekarang.”

Nayla langsung merasa tidak enak.

“Ada apa?”

Arsen mematikan telepon.

Lalu berkata singkat,

“Ada orang masuk ke apartemen Nadira malam ini.”

Deg.

Perjalanan menuju apartemen Nadira terasa mencekam.

Hujan turun lagi.

Arsen menyetir cepat tanpa banyak bicara.

Sedangkan Nadira duduk di sampingnya dengan tangan dingin.

“Apartemenku dibobol?”

“Iya.”

“Ada yang hilang?”

“Belum tahu.”

Nadira menelan ludah.

Ia tinggal sendiri di apartemen kecil itu sebelum semua kekacauan ini terjadi.

Dan fakta bahwa seseorang masuk ke sana membuatnya merinding.

Begitu mereka sampai, dua petugas keamanan sudah berjaga di depan unit apartemen.

Pintunya terbuka sedikit.

Bekas congkelan terlihat jelas.

Nadira langsung merasa lemas.

Arsen masuk lebih dulu.

Ruangan apartemen berantakan.

Laci dibuka paksa.

Buku-buku jatuh ke lantai.

Pigura foto pecah.

“Ya Tuhan…”

Nadira mematung melihat rumah kecilnya hancur seperti habis dirampok.

Namun anehnya…

Barang mahal seperti laptop dan tablet masih ada.

Artinya pelaku bukan mencari uang.

Seseorang memang mencari sesuatu.

“Atau seseorang,” gumam Arsen pelan.

Nadira memeluk dirinya sendiri.

Tiba-tiba ia sadar sesuatu.

Kamarnya.

Ia langsung berlari masuk.

“Eh—”

Arsen mengejar cepat.

Begitu masuk kamar, napas Nadira langsung tercekat.

Dinding kamarnya penuh tulisan merah.

TULISAN BESAR.

BERANTAKAN.

MENYERAMKAN.

AKU TAHU KAMU BUKAN NAYLA.

AKU TAHU SEMUANYA.

Dan di tengah dinding…

Ada foto Nadira yang dicoret-coret merah.

Tangan Nadira langsung gemetar hebat.

“Arsen…”

Suaranya pecah.

Pria itu langsung menarik Nadira menjauh dari dinding.

“Jangan lihat.”

“A-aku takut…”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

Nadira benar-benar ketakutan.

Bukan takut ketahuan.

Tapi takut mati.

Malam itu Arsen tidak membiarkan Nadira sendirian.

Ia membawa Nadira ke penthouse pribadinya.

Dan itu membuat Nadira makin tidak nyaman.

“Aku nggak enak ganggu kamu.”

“Kamu lebih aman di sini.”

Penthouse itu besar, modern, dan terlalu mewah.

Jendela kaca tinggi memperlihatkan lampu kota malam hari.

Namun Nadira tetap gelisah.

“Aku nggak ngerti…”

Arsen melepas jasnya lalu menatapnya.

“Apa?”

“Kenapa kamu bantu aku?”

Pria itu diam sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Karena sekarang kamu targetnya.”

“Itu bukan jawaban.”

Arsen berjalan mendekat perlahan.

Tatapannya lurus ke mata Nadira.

Dan itu membuat jantungnya mulai kacau lagi.

“Kalau aku jawab jujur,” katanya rendah, “kamu bakal takut.”

Deg.

“Apa maksudnya?”

Arsen mengangkat tangan pelan lalu menyentuh pipi Nadira yang tadi ditampar Nayla.

Masih ada sedikit bekas merah di sana.

Tatapannya berubah gelap.

“Aku nggak suka lihat kamu nangis.”

Jantung Nadira langsung berhenti sesaat.

Suasana mendadak sunyi.

Terlalu sunyi.

Dan bahaya.

Karena untuk pertama kalinya…

Nadira sadar sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Ia mulai nyaman berada di dekat tunangan saudara kembarnya sendiri.

Namun sebelum salah satu dari mereka bicara lagi—

Ponsel Nadira tiba-tiba berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Tangannya gemetar saat mengangkat telepon.

“Halo…?”

Tak ada jawaban.

Hanya suara napas.

Lalu suara pria berat berbisik pelan—

“Permainan baru dimulai, Nadira.”

Telepon langsung terputus.

Dan saat itu juga…

Lampu penthouse mendadak mati total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!