Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencurigakan
Collin mengakui makan nasi Padang dengan tangan itu memang nikmat. Meskipun dia agak kagok saat mencoba makan dengan tangan, tapi Mahreen mengajari caranya.
"Tangan kamu dibuat begini macam kerucut ... Nah, benar. Terus kamu cubit begini baru kamu masukkan ke dalam mulut," ucap Mahreen sambil memberikan contoh.
Akhirnya Collin pun bisa makan dengan tangan dan tersenyum tipis karena sensasinya berbeda dengan makan pizza atau burger. Dia melihat Mahreen tampak menikmati acara makan siangnya.
"Anda ada kuliah besok?" tanya Collin.
"Ada. Jam sembilan pagi," jawab Mahreen yang mengambil kuliah di bidang art dan budaya Asia Tenggara. Dia sengaja mengambil jurusan itu untuk mempelajari budaya nenek moyangnya yang dari Indonesia terutama suku Jawa Tengah tepatnya Yogjakarta.
"Saya akan mengantar anda. Lalu saya tunggu di taman seperti halnya pengawal anda yang lain." Collin menatap serius ke Mahreen.
"Aku bisa pergi sendiri, Lange."
"Seperti halnya kemarin. Anda pergi sendiri dan Khoirunnisa di flat lalu apa yang terjadi? Anda berkelahi dengan mantan pacar anda hingga dia terdampar di rumah sakit?" ucap Collin dingin.
Mahreen memajukan bibirnya. "Dia kan mencoba melecehkan aku!"
"Saya tahu Princess tapi saya mencegah anda masuk sel ke enam kalinya!" jawab Collin.
Mahreen menyipitkan matanya. "Kenapa kamu tiba-tiba memakai bahasa formal?"
Collin hanya melanjutkan makannya. "Bukankah harus formal?"
"Nope. Kemarin kamu dengan bahasa cuek." Mahreen mengecap jari jemarinya yang lentik seolah takut kehilangan rasa nikmat dari kuah rendang.
Collin mengernyitkan dahinya. "Serius anda melakukan itu?"
"Apa?" tanya Mahreen bingung.
"Mengecap jari anda?"
Mahreen melihat tangannya. "Memang kenapa? Kan enak ngecap dari jari yang sudah kena kuah rendang."
"Tidak usah sok patuh aturan kalau di rumah. Apalagi tidak ada orang lain selain kamu! Kecuali kalau aku berada di acara kenegaraan, baru itu tidak sopan!" Mahreen melipat kertas bungkus nasi Padang yang dia tahu, adalah milik keluarga Indonesia berdarah Padang yang imigrasi ke Leiden dua generasi sebelumnya. "Kok kamu tahu pesan nasi Padang yang ini?"
"Karena ratingnya paling tinggi. Ternyata tidak salah." Collin meniru cara Mahreen melipat kertas bungkus nasi Padang itu. Di Belanda memang ketat dalam pemilihan sampah.
"Apa kamu tahu, resto Padang itu sudah tiga generasi di Leiden. Oom Aspen yang kasih tahu kalau makanannya sangat otentik Padang. Jadi aku langganan lah," ucap Mahreen sambil membuang sampah.
"Pantas tadi saat saya terima, yang ngantar bingung karena beda orang," gumam Collin.
Mahreen tersenyum. "Eniwaii, enak, kenyang, sekarang aku mau tidur! Aku ada hutang merem. Kamu ... terserah mau ngapain!"
Collin menatap Mahreen. "Anda mau tidur?"
"Yup. Good day Lange." Mahreen pun masuk ke dalam kamarnya dan Collin bisa mendengar suara pintu dikunci dari dalam.
Collin pun membereskan meja makan dan mencuci semua gelas serta piring yang tadi dipakai. Setelahnya, dia masuk ke dalam kamarnya sambil menyeret koper dan tasnya.
Satu persatu koper dan tas dibuka. Collin tersenyum saat melihat lemari pakaiannya cukup besar jadi dia tidak repot. Collin mulai menata semua bajunya dan setelahnya dia menyimpan koper serta tasnya.
Collin pun menjejerkan semua senjata yang dibawanya. Ada empat pistol, enam kotak peluru, pisau tentara dan juga baton. Satu persatu semua senjata dia simpan di tempat yang mudah dia jangkau selama di kamar. Semua pistol sudah diisi dengan peluru penuh.
Dirasa sudah, Collin mengambil laptop, iPad serta semua peralatan gadgetnya. Usai mensetting semuanya, Collin menghubungi seseorang. Tak lama wajah yang sangat dikenalnya, muncul di layar.
"Collin my man. Bagaimana adikku?" senyum Kenneth dengan wajah usil.
"Pain in the a$$!" jawab Collin sebal membuat Kenneth terbahak dan terdengar di airpodsnya.
"Tapi dia cantik kan C?" goda Kenneth.
"Not my type Ken!" cebik Collin.
"Iya tahu. Tipe kamu itu macam adikku, Kayleen kan? Sayangnya, Kay lebih suka bersama Athrun. Kamu hanya kakak baginya, C," ucap Kenneth.
"Aku merasa Athrun tidak cocok buat Kayleen. Dia terlalu ... sempurna!" jawab Collin.
"Sekarang, kamu fokus saja dengan Mahreen. Aku tahu dia masih ada tiga tahun lagi selesai kuliahnya. Jadi kamu bersabar ya. Oom Malik merasa kasusnya cukup pelik di Bahrain. Jadi sebulan lagi kamu bisa kesana usai Mahreen selesai ujian semester." Kenneth menatap Collin serius. "Berhati-hatilah, C. Yang tahu kamu agen MI6 hanya Oom Malik dan paman Mustafa. Tante Milly dan Maxi saja tidak tahu."
"Iya Ken. Aku akan melindungi adik kamu, Ken. Jangan khawatir," ucap Collin sungguh-sungguh.
"Satu kuncinya sama Mahreen. Sabar!"
Collin tersenyum. "Sepertinya akan sulit itu."
***
Kamar Mahreen
"Abi nyebelin Mas Maxi! Bisa-bisanya kirim pengawal orang Irlandia pula!" omel Mahreen.
"Kenapa kamu ribut? Kan kamu sendiri yang cari masalah jadi mau tidak mau Abi harus mengganti Nissa biar kamu nggak harus kena hold duitnya." Maximilian menatap wajah manyun adiknya. "Kamu itu tiga tahun, bisa kurang, bisa lulus. Jangan menambah daftar panjang kenakalan kamu."
Mahreen menghela napas panjang.
"Sudah, kamu tidur saja. Kamu kurang tidur kan? Itu mata panda kamu mulai muncul." Maximilian tersenyum lembut. "Ingat ya Marning. Jangan sampai Abi menahan semua uang kamu. Karena kamu akan lebih rumit lagi nanti."
Usai diberikan nasehat panjang lebar oleh Maximilian, Mahreen pun berusaha memejamkan matanya. Tak lama dia pun terlelap tanpa tahu ponselnya ada panggilan tidak terjawab banyak karena dibuat do not disturb.
***
Collin benar-benar gabut dan memilih untuk memeriksa flat milik Mahreen. Terlepas Mahreen seorang Princess, semua barang-barangnya termasuk simple. Tidak ada yang mewah sekali karena semuanya adalah barang-barang yang praktis.
Collin melihat situasi di luar dari kaca jendela flat dan entah mengapa, dia merasa ada yang aneh di seberang gedung flat Mahreen. Mata abu-abunya melihat sosok pria mengenakan hoddie sambil memegang ponselnya.
Collin mengintip dari dari balik tirai dan memperhatikan pria misterius itu. Dia mendongak ke arah jendela flat Mahreen. Collin mengumpat dalam hati karena pria itu memakai masker jadi hanya terlihat wajahnya. Tak lama pria itu menyimpan ponselnya dan pergi meninggalkan gedung flat Mahreen.
Instingnya sebagai agen MI6, membuat Collin curiga. Dia tahu, Mahreen mantannya banyak. Jadi sekarang yang dia lakukan adalah, mencari semua data mantan Mahreen dan berusaha dicocokkan dengan pria yang tadi di bawah.
"Ampun deh Ken! Adikmu itu benar-benar playgirl!" gerutu Collin kesal sambil membuka ponselnya.
***
Yuhuuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh