Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ganteng juga
pagi ini turun hujan tidak deras tapi membuat suasana pagi ini lebih dingin dari pagi pagi lain, adzan subuh berkumandang meski suasana membuat orang enggan untuk bangun dan memilih merapatkan selimutnya tapi di pesantren berbeda, semuanya akan bangun ketika adzan berkumandang apapun keadaan dan suasananya. aku segera menunaikan shalat karna harus ke stasiun setelah ini
What's up .....
(nomer baru) 04.36 : mbak aleea... berangkat jam berapa? . : maaf saya Areez mbak
Hah.... Pasti Abah ini....
(Aleea) 04.39 : jam 04.50 sebentar lagi
: saya naik motor saja, saya akan bilang sama abah
aku segera ke Abah, menyampaikan maksudku untuk berangkat sendiri ke stasiun, baru aku masuk pintu kamar
Abah.
" di antar saja leea... di luar gerimis " ucap Abah
" aleea bisa sendiri Abah... Aleea pakai mantel " jawabku meyakinkan Abah
" mbak leea di antar saja ya... Ibu ikut biar mbak lea nyaman " sahut ibu
" bukan tidak nyaman Bu... Aleea hanya suka sendiri "jawabku lesu
" aleea... sendiri itu ada batasnya, Abah dan ibu hanya khawatir tidak ada maksud membuat leea tidak nyaman" sahut Abah " begini saja kalo leea bersikeras naik motor, yasudah naik motor saja tapi Areez tetap menemani kamu sampai stasiun " ucah Abah lanjutnya
aku terdiam sejenak, mau membantah tapi kalimat terakhir Abah sudah jelas Abah tidak mau bantahan apapun lagi dariku, aku memutuskan mengikuti kemauannya meski sebenarnya aku kurang nyaman, aku segera pamit dengan Abah dan ibu untuk berangkat ke stasiun, Abah Titip beberapa pesan untuk aylin dan ibu titip rindu untuk aylin.
Aku segera keluar dari rumah dan menaruh koper kecilku di bagian depan motor, aku melihat siluet seseorang di gerbang depan, pasti itu areez yang sedang menungguku. Aku nyalakan motorku setelah ku pakai jas hujan, ternyata gerimisnya lumayan deras dan membuat kabut semakin tebal, aku sedikit khawatir karena pengelihatanku tidak begitu baik tapi tidak apa, toh ada areez kan.
Aku berhenti di belakang motor areez, dan mengisyaratkan tanganku untuk areez dulu yang berjalan di depanku, aku tidak begitu melihat ke arahnya tapi dia mengerti dan mendahuluiku, aku mengikuti di belakangnya.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, gerimis berubah menjadi hujan lebat, jalanan semakin tak terlihat oleh mataku tapi areez tetap berjalan pelan di depan sedangkan tanganku mulai menggigil, aku lupa memakai sarung tangan. Biasanya jam 5 sudah terang tapi hari ini langit masih gelap karna hujan, aku tetap berjalan pelan mengikuti areez dari belakang.
tak lama kami sampai stasiun, areez berhenti sedangkan aku masuk parkiran motor, tanganku gemetar karna dingin, kulepas helm dan jas hujanku, kuturukan koper dan berjalan ke arah stasiun, tiba tiba areez menghentikan langkahku.
" bawa ini mbak leea " dengan menunjukkan penghangat tangan potabel yang di bawanya.
" terimakasih " jawabku sambil menggenggam penghangat itu
Aku berlalu melewatinya, masih ada sepuluh menit lagi untuk berangkat dan aku duduk menunggu kereta datang, tak sengaja aku menoleh ke arah parkiran Untuk lihat apa yang ketinggalan, tidak ada sudah ku bawa semua... tapi aku lihat di tempat yang sama areez berhenti, benar dia tetap di sana dan juga menoleh ke arahku.
ganteng juga..... gumamku seketika
eh.... Astaghfirullah aleeaaaa......
Langsung ku tundukkan kepalaku dan merogoh jaket mencari handphone, sebenarnya agar terlihat sibuk saja sebenarnya.
aku baru tau ternyata areez cukup rupawan, kupikir dia hanya tinggi karna aku tidak pernah melihat ke wajahnya. Tak lama kereta datang, segera aku berdiri dan menunjukan tiketku dan berjalan ke arah gerbong tempat aku duduk.
What's up....
(Nomer baru) 05.45 : hati- hati mbak leea
ku lihat layar handphoneku, dari areez, kukira dia cuek karna yang ku dengar selama ini begitu, apa karna aku anak gurunya jadi dia perhatian juga seperti ke Abah dan ibu ya, tak ku balas pesannya, tidak aku buka hanya lihat di notifikasi saja,
Aku duduk di dekat jendela, melihat keluar, tak lama rasa kantuk mulai menguasai sampai akhirnya aku lelap, padahal kereta baru saja berangkat.
Aku tertidur sepanjang perjalanan, jam menunjukkan pukul 12.33 wib, aku memutuskan tayamum dan sholat di tempat dudukku. Setelah itu aku mengeluarkan beberapa camilan dan air dari tasku untuk mengusir rasa bosan, untungnya kursi sebelahku kosong padahal kalau tiket promo seluruh kursi akan penuh, tapi di sebelahku kosong, syukurlah aku sedikit leluasa.
solo....
Aku sampai di solo sore hari menjelang malam, suasana sangat berbeda dengan malang yang sejuk, solo terasa hangat tapi asing namun rasanya sangat nyaman, apa karna disini ada aylin. entahlah.....
Aku turun dari kereta membawa koper, aku jalan ke Indomaret stasiun, membeli beberapa makan dan beberapa jajan untuk aylin. Aku duduk di bangku... Menikmati mie cup yang ku beli,
sambil pesan grab car ke tempat aylin. Tak lama habis sudah makananku dan grab pesananku datang, aku naik dan duduk di kursi belakang, aku pasang earphoneku ku nyalakan musik kesukaanku.
Tak lama aku sampai, aku di sambut oleh aylin, adik dan teman favoritku, dia excited melihat beberapa camilan yang ku bawa, syukurlah
"mbak leea pasti capek... Mandi dulu sana " ucap aylin dan kubalas anggukan kecil, Ake segera mandi, mandi itu seperti ritual melepas lelah ketika perjalanan jauh, sangat sangat menyegarkan, entah seperti mantra atau apa, setelah mandi lelah benar benar hilang.
semakin malam, aku menceritakan beberapa hal dan tulisanku aylin membacanya berulang kali seperti memastikan apa yang kurang, dia menulis di atas notes kecil, aku hanya melihat aylin sebentar mengernyit sebentar lagi tersenyum.
" astaghfirullah aylin... Mbak lupa mengabari Abah dan ibu" ucapku sambil mencari keberadaan handphoneku
" handphonenya aylin cas mas, tadi mati habis batrenya " ucap aylin sambil melihatku panik
" aylin sudah chat Abah mbak, pas mbak mandi tadi " lanjutnya santai, aku memang sedikit pelupa soal memberi kabar, untung ada aylin, aku mewurungkan niatku mengambil handphone yang di cas, aku kembali lagi duduk di ranjang aylin, kembali memperhatikan aylin yang sedang membaca,
tak terasa aku ketiduran saat sedang memperhatikan aylin.