NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Di Antara Debu dan Tangisan

Beberapa saat kemudian , Han Li muncul kembali beberapa meter di depannya, keluar dari tanah seperti iblis yang lahir dari kuburan.

Napasnya mulai terasa berat, goresan tipis tampak di pipinya, dan darah samar terlihat di sudut bibirnya. Namun, sorot matanya justru semakin tajam dan ganas.

““Luar biasa...” ujar Han Li dengan suara rendah.

Ia menghapus darah di sudut bibirnya dengan ibu jari.

“Meski hanya menggunakan satu tangan, kau masih bisa memaksaku sejauh ini,” ucap Han Li dengan nada rendah.

Tatapannya turun pada bayi di pelukan Ye Chen. Seketika, rasa kagum di wajahnya menghilang, digantikan oleh sorot dingin yang dipenuhi kebencian.

“Serahkan bayi itu,” ujar Han Li dingin.

Ye Chen hanya diam.

Han Li melangkah perlahan.

“Serahkan dia untuk aku bunuh, Ye Chen.”

Suaranya kali ini jauh lebih berat.

Bukan sekadar perintah.

Melainkan keyakinan seorang pria yang sungguh percaya bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang perlu.

“Anak itu...” lanjutnya, “adalah benih kehancuran bagi kami di masa depan.”

Tatapan Ye Chen langsung mengeras, sementara Han Li menatap bayi itu dengan sorot dingin.

“Jika bayi itu dibiarkan hidup, suatu hari nanti seluruh tatanan kekuatan yang kami bangun akan runtuh. Dinasti seperti Huangtu tidak akan membiarkan ancaman seperti itu tumbuh,” ujar Han Li dengan nada dingin.

“Ancaman?” Ye Chen akhirnya bicara.

Suaranya terdengar pelan—terlalu pelan. Justru karena itu, hawa di sekelilingnya mendadak terasa semakin dingin.

Ia memeluk bayi itu sedikit lebih erat.

Lalu menatap Han Li lurus-lurus.

“Itu bukan ancaman,” balas Ye Chen dengan tegas.

Nada suaranya berubah menjadi tajam dan penuh kepastian.

“Itu hanya seorang bayi,” ujar Ye Chen dengan nada dingin namun tegas.

Han Li mengeraskan rahangnya.

"Seorang bayi yang kelak akan menghancurkan kami di masa depan,” balas Han Li dengan dingin.

Ye Chen mengangkat pedangnya.

Petir ungu kembali menjalar di sepanjang bilahnya.

“Kalau begitu...” ucap Ye Chen pelan, “jangan salahkan aku karena memilih untuk melindunginya.”

Matanya menyala dingin.

“Jika kau ingin menyentuhnya...”

Suaranya kali ini menggelegar di seluruh hutan.

“Kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu!”

Tangisan bayi pecah lagi.

Daun-daun di sekitar bergetar oleh benturan aura mereka.

Dan untuk pertama kalinya, amarah Han Li benar-benar meledak.

“Kalau begitu matilah bersama bayi itu !”

Ia menghantamkan tinjunya ke tanah.

DOOOOM!!

Gelombang energi bumi langsung menjalar ke seluruh permukaan tanah seperti gempa mini.

Akar-akar pohon terangkat dari tanah, batu-batu kecil mulai melayang, dan retakan panjang menjalar lurus ke arah Ye Chen.

“Thorned Earth Pulse!” teriak Han Li.

Dari jalur retakan itu, barisan duri-duri batu besar langsung mencuat satu demi satu, melesat seperti tombak hidup yang mengejar posisi Ye Chen dengan brutal.

KRAK! KRAK! KRAK! KRAK!

Ye Chen langsung bergerak.

Ia berlari zig-zag di antara pepohonan, melompati akar, memutar tubuh, dan menghindari setiap duri yang mencuat nyaris menyentuh tumitnya. Tangannya yang memegang bayi tetap stabil, sementara kaki dan tubuhnya bergerak dengan presisi luar biasa.

Namun duri-duri itu tidak berhenti, justru terus mengejarnya dari bawah tanah, membelah jalur pelariannya dan memaksanya masuk ke ruang yang semakin sempit. Dari belakang, Han Li tertawa dingin.

“Berlarilah!”

“Lihat sampai kapan kau bisa menjaga dia!”

Satu duri hampir menembus dari bawah kaki Ye Chen.

Ia langsung mengerahkan energi ke kedua telapak kakinya.

ZZZT!

Petir ungu menyelimuti betisnya.

Lalu—

WUSSHH!

Tubuh Ye Chen melesat tinggi ke udara.

Ia melompat melewati pucuk semak dan cabang-cabang pohon, menembus ruang gelap di antara daun-daun, lalu muncul di atas area terbuka hutan, menggantung sesaat di bawah langit malam yang baru mulai terbentuk.

Bulan masih belum sepenuhnya muncul.

Namun kilat ungu yang mengelilingi tubuhnya membuat dirinya tampak seperti bintang jatuh yang salah arah.

Han Li mengangkat kepalanya, dan seketika ekspresinya berubah.

Karena untuk pertama kalinya, ia melihat bentuk aura di sekitar pedang Ye Chen mulai berubah.

Bukan lagi sekadar petir.

Melainkan siluet seekor naga.

Petir ungu berputar di sepanjang bilah pedang, melilit seperti sisik hidup. Suara gemuruh samar terdengar dari langit, meski awan di atas mereka nyaris tidak bergerak.

Ye Chen menatap ke bawah dengan dingin. Tatapannya setajam hukuman langit.

Han Li refleks mengangkat kedua tangannya.

Ia tahu, serangan berikutnya tidak akan sama.

Serangan itu akan jauh lebih berat… dan jauh lebih mematikan.

“Unshakable Mountain Wall!”

Tanah di depan Han Li meledak naik.

Sebuah dinding batu raksasa menjulang setinggi belasan meter, tebal dan padat seperti benteng perang. Permukaannya dipenuhi lapisan batu bertumpuk, seolah seluruh bukit telah dipaksa berdiri untuk menjadi perisai.

Han li memasukkan seluruh sisa energinya ke dalam pertahanan itu.

Namun di langit—Ye Chen sudah turun. Bukan sekadar jatuh, melainkan datang untuk menghukum.

Tubuhnya melesat dari udara seperti meteor petir.

Pedangnya ditarik ke belakang.

Aura naga ungu meraung di sekeliling bilahnya.

Dan saat ujung kakinya nyaris menyentuh tanah—

ia menebas.

BOOOOOOOOMMMMMM!!!

Tebasan itu menghantam dinding tanah milik Han Li secara langsung bahkan

Tak ada perlawanan yang berarti.

Dinding batu raksasa itu pecah hanya dalam satu serangan.

Batu-batu besar meledak menjadi debu.

Petir ungu menembus lurus ke tengah pertahanan, menghancurkan semua lapisan dinding yang dibangun Han Li.

Gelombang kejutnya menyapu area sekitar, merobohkan beberapa pohon sekaligus hingga Han Li terpental ke belakang.

Matanya melebar penuh ketidakpercayaan.

“Tidak mungkin—!” seru Han Li dengan terkejut.

Ia belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi pada saat itu juga Ye Chen sudah berdiri tepat di hadapannya. Debu masih beterbangan, sementara petir masih menari di udara.

Dan di tengah semua itu, sosok Ye Chen terlihat seperti roh perang yang turun dari legenda.

“Ini...” suara Ye Chen rendah, berat, dan penuh tekanan, “berakhir di sini, Komandan Han Li.”

Ia memutar pedangnya perlahan.

Gerakan itu membentuk pola melingkar rumit di udara, meninggalkan jejak-jejak petir ungu yang saling berpotongan seperti lingkaran sihir kuno. Energi di sekitar bilah pedangnya mulai berdenyut lebih liar, lebih ganas, lebih hidup.

Bulu kuduk Han Li seketika berdiri ketika insting tempurnya menangkap satu hal dengan jelas yaitu bahaya besar sedang mendekat.

Ye Chen menatapnya lurus.

Lalu dengan suara yang membuat udara di sekitar bergetar, ia mengucapkan teknik pamungkasnya—

“Dance of the Nine Thunder Dragons.”

Detik berikutnya—

sembilan naga petir kecil melesat keluar dari bilah pedangnya.

Masing-masing berbentuk ramping, panjang, dan bercahaya ungu pekat. Mereka meraung tanpa suara, berputar liar di udara sebelum menukik ke arah Han Li dari sembilan sudut berbeda.

Han Li berusaha membangun pertahanan, namun ia sudah terlambat.

BOOM! CRASH! KRAAAK! DUAAAR!

Satu naga menghantam bahunya.

Dua lagi mencabik pertahanannya dari samping.

Tiga lainnya menghantam tanah di sekelilingnya, menutup semua jalur menghindar.

Sisa naga petir itu menabrak tubuh Han Li secara beruntun, mengoyak sisa energi tanah yang masih melindunginya.

Tubuh sang panglima langsung terpukul mundur, zirah tanah yang melapisinya pecah seluruhnya, darah menyembur dari sudut bibirnya, namun yang paling mengerikan adalah serangan itu ternyata belum berakhir.

Di balik sembilan naga petir itu, tubuh asli Ye Chen sudah datang.

Dengan satu langkah terakhir yang secepat sambaran cahaya, ia menutup jarak dan mengayunkan tebasan utamanya lurus ke dada Han Li.

BOOOOOOM!!!

Tebasan itu menghantam telak.

Tubuh Han Li terlempar seperti batu yang dilempar dewa.

Ia melesat puluhan meter ke belakang, menghantam dinding tebing batu di ujung hutan dengan suara mengerikan.

DUAAAAKKK!!

Tebing itu mulai retak, dan sebagian batunya runtuh ke bawah.

Tubuh Han Li jatuh miring ke tanah dan tak bergerak sama sekali , Suasana mendadak sunyi .

Benar-benar sunyi

Yang terdengar hanya suara ranting patah yang perlahan jatuh, disusul debu dan serpihan batu yang mengendap di tanah.

Lalu, di tengah kesunyian itu, tangisan bayi kembali terdengar—kecil, lemah, namun masih hidup.

Ye Chen berdiri diam selama beberapa detik.

Pedangnya masih bergetar tipis oleh sisa petir.

Napasnya berat.

Sangat berat.

Tubuhnya gemetar halus akibat konsumsi energi yang terlalu besar, dan untuk sesaat, pandangannya bahkan sedikit kabur.

Namun perlahan, ia tetap menyarungkan pedangnya.

Gerakan itu tampak sederhana, tapi tangan kanannya bergetar cukup keras hingga sarung pedang hampir terlepas dari pinggangnya.

Ia menunduk.

Memandangi bayi kecil di pelukannya.

Wajah mungil itu memerah karena menangis, matanya masih terpejam rapat, jari-jarinya menggenggam kain jubah Ye Chen tanpa sadar.

Ye Chen mengangkat wajahnya ke langit malam.

Langit kini benar-benar gelap.

Bintang-bintang mulai muncul satu demi satu di sela awan tipis.

Dan di tengah kegelapan itu, bayangan wajah Lu Feng kembali muncul di benaknya.

Tatapan penuh tekad itu bahkan Permohonan terakhirnya.

Dan suara parau seorang kakak yang menyerahkan seluruh harapan hidupnya kepada orang lain.

Ye Chen memejamkan mata sesaat.

Rahangnya mengeras.

Lalu dengan suara pelan namun mantap, ia berbisik—

“Lu Feng...”

Angin malam melewati dedaunan di atasnya.

Dan di bawah langit itu, untuk pertama kalinya, Ye Chen mengucapkan sumpah yang kelak akan mengubah takdir dunia.

“Aku bersumpah...”

Tangannya memeluk bayi itu lebih erat.

“Demi nyawaku.”

Tatapannya menajam.

“Demi pedangku.”

Napasnya mengembus perlahan.

“Demi semua orang yang telah mati berkorban malam ini...”

Ia menunduk, menatap wajah kecil di pelukannya.

Dan untuk pertama kalinya, suara Ye Chen terdengar bukan seperti seorang pendekar legendaris.

Melainkan seperti seseorang yang diam-diam menerima beban menjadi pelindung.

“Aku akan menjaganya sampai dia tumbuh besar.”

Hening.

Lalu ia menatap kalung kecil di leher bayi itu.

Lambang petir bercabang tiga masih tergantung di sana, berkilat redup diterpa cahaya bulan.

Ye Chen mengusapnya perlahan, dan sorot matanya pun berubah menjadi sedikit sendu.

Ia mengangkat bayi itu sedikit, lalu menatapnya dengan serius.

“ aku tidak akan membiarkan siapa pun mengetahui identitas mu.”

Tangisan bayi itu perlahan mereda, seolah mendengar sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum bisa pahami.

Ye Chen mengangkat kepala dan menatap dalam ke arah hutan yang membentang tanpa ujung. Ia tahu ini baru permulaan. Dinasti-dinasti besar tidak akan menyerah mereka akan terus memburunya, terus mencarinya, bahkan mencoba membunuhnya.

Dan suatu hari nanti, ketika anak ini tumbuh dewasa, seluruh rahasia malam ini akan kembali menuntut jawaban.

Namun malam ini...

yang terpenting hanya satu yaitu Bertahan hidup.

Ye Chen membalikkan tubuhnya.

Lalu, dengan sisa tenaga yang masih tersisa, ia kembali berlari menembus kegelapan hutan.

Meninggalkan Han Li yang terkapar tak sadarkan diri.

Meninggalkan reruntuhan perang.

Meninggalkan nama, darah, dan takdir yang untuk sementara harus dikubur.

Di pelukannya, bayi ramalan itu tertidur pelan di antara suara angin dan langkah kaki yang menjauh.

Dan jauh di dalam malam yang sunyi—

takdir dunia diam-diam mulai menunggu hari kebangkitannya.

End Chapter 4

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!