Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: HANDUK KREM
Pukul 03:14. Sari memejamkan mata. Tidak tidur. Hanya menutup kelopak yang terasa seperti amplas.
Laptop menyala di meja kopi. Layar gelap, tapi folder DATA tetap terbuka. Foto hotel Aston tersimpan rapi di subfolder Hotel. Sari hafal setiap detail: sudut parkiran barat, posisi Ardi setengah langkah di depan Maya, Maya menunduk menyembunyikan wajah.
Dan mobil hitam di pojok kanan bawah. Terpotong setengah. Kaca film gelap. Bukan mobil Ardi, bukan mobil Maya. Sari sudah crop, zoom, hingga piksel pecah. Plat tak terbaca. Tapi satu hal pasti: foto itu tidak diambil secara kebetulan.
Mira mengirimnya lewat WhatsApp pukul 21:47. "Ini dari temenku. Katanya minggu lalu."
Sari tidak bertanya siapa teman Mira. Tidak bertanya kenapa baru sekarang.
Dia membalas: "Makasih."
Satu kata. Dingin.
Lalu dia duduk empat jam, menatap foto itu. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan—dia tidak menangis.
Pagi datang.
Sari bangun pukul 06:30. Kosong. Lalu terisi satu nama: Ardi.
Dia duduk di tepi tempat tidur. Rambut kusut, wajah pucat, tapi matanya jernih. Jernih seperti pisau baru diasah.
Dia mandi. Air hangat mengalir, tapi dia tidak merasa hangat. Gerakan mekanis. Di depan wastafel, dia menatap bayangannya sendiri.
Kamu tidak sama.
Dahi lebih kerut. Rahang lebih kaku. Mata seperti milik orang asing.
Dia tidak berdandan. Wajah telanjang, rambut dikuncir, kemeja putih lengan panjang, jeans, sepatu kets. Bukan Sari yang biasanya. Tapi Sari yang sekarang tidak peduli.
Sari yang sekarang mengambil HP, membuka chat dengan Ardi, mengetik:
Sari: Aku ke rumah ya.
Tiga titik muncul. Menari. Berhenti.
Ardi: Sekarang?
Sari: Iya. Kangen rumah.
Dua kalimat. Ardi akan membaca lebih dari itu.
Kangen rumah. Rumah Hartono. Rumah yang bukan rumahnya. Rumah yang di dalamnya ada Maya.
Dia tidak menunggu balasan.
Perjalanan dua puluh tiga menit. Radio mati. Spotify tidak dibuka. Hanya mesin mobil dan detak jantung.
Dia tidak menyusun skrip. Tidak merencanakan dialog.
Satu hal: dia harus melihat mereka bersama. Bukan dari foto. Bukan dari cerita Mira. Tapi dengan matanya sendiri.
Mobilnya berbelok ke perumahan elite pukul 09:17. Gerbang otomatis terbuka—Ardi masih belum menghapus aksesnya. Lucu. Sari tersenyum kecil. Dia sibuk berselingkuh, tapi lupa mencabut kunci dari tangan pacarnya.
Atau mungkin dia tidak lupa. Mungkin dia menikmati sensasi bahaya.
Sari memarkir di samping rumah, bukan garasi. Dari posisinya, jendela dapur terlihat.
Maya menuang kopi ke dalam dua cangkir.
Dua.
Sari mematikan mesin. Diam. Turun.
Bel berbunyi. Nada terlalu ceria.
Tiga detik. Lima detik. Sandal di lantai marmer.
Pintu terbuka.
Maya berdiri di ambang. Ekspresinya berubah: santai → sedikit kaget → cepat terkendali menjadi senyum ramah. Terlalu cepat. Terlalu rapi.
"Sari? Kok pagi-pagi sudah ke sini? Ada apa?"
Ada apa.
Sari tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Kangen rumah. Ardi di dalam?"
Maya mengangguk, sedikit terlalu cepat. "Iya. Di ruang kerja. Masuk yuk."
Sari melangkah masuk. Aroma kopi menyambut. Familiar, tapi kali ini lebih tajam, lebih mengganggu.
Matanya bergerak cepat: posisi sandal di teras (sandal Ardi dan Maya bersebelahan), jas hujan tergantung (padahal semalam tidak hujan), dan—
Dua cangkir kopi di meja dapur.
Sudah tahu dari jendela. Tapi melihat langsung berbeda.
Maya berjalan di depan. Sari mengikuti, mata tertuju pada meja. Dua cangkir. Dua piring kecil dengan sisa roti panggang. Dua serbet.
Sarapan berdua.
Maya berbalik. Jeda sepersekian detik. Lalu tersenyum lebih lebar, sedikit berlebihan.
"Kebetulan aku juga baru sarapan. Ardi sudah duluan. Kamu mau kopi?"
"Ya. Tolong."
Sari duduk di kursi menghadap lorong menuju ruang kerja. Posisi strategis.
Maya menuang kopi ke cangkir ketiga—dari lemari, bukan dari meja. Artinya, dua cangkir di meja memang khusus untuk mereka berdua.
"Maya?"
"Iya?"
"Kamu sendiri di rumah pagi-pagi begini?"
Maya berhenti menuang. Sebentar. Lalu melanjutkan. "Iya. Ardi kan ada di ruang kerja." Dia tertawa kecil—terpaksa. "Ya ampun, Sari, kamu nanyanya lucu. Kan kita tinggal serumah."
Kita.
Sari memegang cangkir. Tidak diminum. Hanya merasakan hangat di telapak tangan.
"Bukan begitu maksudku. Maksudku... Ardi kan sering keluar. Tapi kok akhir-akhir ini kamu selalu ada di rumah kalau aku datang?"
Jeda.
Maya membuka mulut. Belum sempat menjawab. Langkah kaki dari lorong memotong.
Ardi muncul.
Kemeja rumah abu-abu, dua kancing terbuka. Rambut sedikit berantakan. Matanya menemukan Sari dalam satu detik. Dan di detik itu, Sari melihat sesuatu.
Bukan keterkejutan. Bukan kegembiraan.
Freeze.
Seperti tubuhnya berhenti sejenak sebelum otak memerintahkan gerakan normal.
"San." Suaranya serak. "Kok datang pagi-pagi?"
Sari tersenyum. Lagi-lagi senyum yang tidak sampai ke mana pun.
"Kangen kamu."
Dua kata. Berat seperti timah.
Ardi berjalan mendekat, mencium kening Sari—cepat, otomatis. Tapi Sari merasakan: bibir Ardi dingin. Tidak hangat seperti dulu. Atau mungkin dia lupa bagaimana rasanya hangat.
Dia duduk di kursi sebelah Sari. Maya di seberang meja, memegang cangkirnya. Posisi mereka: Sari dan Ardi berhadapan dengan Maya.
Segitiga yang salah.
"Kamu sarapan?" tanya Ardi. Matanya beralih ke meja, lalu ke Maya, lalu kembali ke Sari. Cepat. Hanya Sari yang sadar.
"Belum."
"Mau aku buatin?" Maya menawarkan, terlalu cepat.
"Tidak usah. Aku sudah makan."
Dia berbohong. Perut kosong. Tapi dia tidak mau makan di sini.
Keheningan. Tebal. Seperti udara sebelum badai.
Ardi mengambil cangkir kopinya—setengah kosong. Berarti dia sudah minum sebelumnya. Dari cangkir yang sudah ada di meja sebelum dia keluar.
"Kok diam? Ada apa, San?"
Sari menatapnya. Lurus. Tidak berkedip.
"### Kalian berdua... kenapa sering berdua?"
Maya meletakkan cangkirnya. Klink. Terlalu keras di ruangan yang tiba-tiba terasa sempit.
Ardi tidak bergerak. Tapi Sari melihat jari-jarinya mengeras di cangkir—buku jari memutih.
"Kok tiba-tiba nanya gitu?" Ardi tertawa kecil. Tawa yang terdengar normal, tapi Sari hafal semua versinya. Ini tawa defensif. Tawa saat dia terpojok.
Sari mengangkat bahu. "Penasaran aja. Setiap aku datang, kalian berdua selalu ada di rumah. Bareng."
"Ya iyalah," potong Maya cepat. "Kita tinggal serumah."
Tapi Sari tidak menatap Maya. Matanya tetap pada Ardi.
"Bukan cuma itu. Akhir-akhir ini kamu jarang di apartemen. Pulang malam terus. Katanya sibuk kerja. Tapi..." dia menoleh ke meja, ke dua cangkir, ke sisa roti panggang, "kamu sempat sarapan bareng Kak Maya."
Jeda.
Ardi meletakkan cangkirnya. Perlahan. Terlalu perlahan.
"San." Nada suaranya berubah menjadi lebih lembut—lembut yang dibuat-buat, seperti menenangkan anak kecil. "Kamu mulai mikir aneh-aneh ya?"
Sari tersenyum.
Gaslighting. Putaran pertama.
"Memangnya mikirku aneh? Aku cuma nanya. Wajar dong pacar nanya pacar."
Maya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Gelisah. "Sari, aku jujur... kalau kamu merasa tidak nyaman dengan aku di sini, kamu bilang saja. Aku bisa—"
"Tidak nyaman?" Sari memotong. Matanya beralih ke Maya. Tidak tajam. Tidak marah. Hanya mengamati. "Aku tidak bilang tidak nyaman. Aku hanya bertanya."
Dan kalian berdua panik.
Ardi menghela napas. Lalu berdiri, pindah ke kursi sebelah Sari. Tangannya meraih tangan Sari. Ibu jari mengusap punggung tangan.
"Lihat, akhir-akhir ini aku memang sibuk. Banyak proyek. Papa juga mulai kasih tanggung jawab lebih. Jadi aku sering di rumah karena... ya, lebih dekat ke kantor. Dan Kak Maya memang sering di rumah karena lagi tidak ada kerjaan."
Kak Maya.
Formal. Sopan. Jaga jarak.
Tapi Sari pernah mendengar Ardi memanggil Maya saat mereka tidak tahu dia mendengar. Dua minggu lalu, Sari datang lebih awal. Pintu tidak terkunci. Dari lorong, dia mendengar suara Ardi dari ruang keluarga: "Maya, kopiku mana?"
Bukan Kak Maya. Langsung. Akrab.
Sari mundur. Keluar. Masuk lagi lima menit kemudian dengan membunyikan bel.
Sejak saat itu, dia tahu.
Tapi sekarang, dia tidak akan mengatakan itu. Belum.
"Oke," kata Sari akhirnya. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Ardi—perlahan, tidak kasar—lalu berdiri. "Aku percaya."
Ardi mengernyit. Terlalu mudah. "Serius?"
"Iya. Aku cuma butuh kepastian. Sekarang sudah dapet."
Maya terlihat lega. Terlalu lega. Bahunya turun, napasnya keluar pelan. Sari merekam semuanya.
"Kamu pulang?" tanya Ardi.
"Enggak. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Sari berjalan ke lorong, melewati ruang kerja Ardi, menuju kamar mandi tamu di ujung. Tapi sebelum masuk, dia berhenti.
Pintu kamar Ardi sedikit terbuka. Celah dua jari. Cukup untuk melihat ke dalam.
Meja kerja. Laptop. Buku-buku. Dan di atas tempat tidur—handuk. Krem, terlipat rapi di ujung ranjang.
Bukan handuk Ardi. Handuk Ardi abu-abu gelap. Sari yang membelikan dua tahun lalu.
Handuk krem itu handuk Maya.
Sari masuk ke kamar mandi. Menutup pintu. Menyalakan keran, membiarkan air mengalir meski tidak digunakannya.
Dia menatap cermin.
Bayangannya kembali menatap. Kali ini, Sari tersenyum.
Bukan senyum bahagia. Bukan senyum sinis.
Tapi senyum kepastian.
Mereka berbohong. Dan mereka tidak tahu kalau aku tahu.
Lima menit kemudian, Sari keluar. Wajahnya segar—dia membasuhnya dengan air dingin. Rambut dirapikan. Senyum terpasang rapi.
Ardi dan Maya masih di dapur. Tapi sekarang mereka duduk berjauhan—jeda satu kursi. Pura-pura jaga jarak.
"Aku pulang dulu, Di. Ada rapat siang ini."
Ardi berdiri. "Aku anter."
"Sampai pintu aja."
Maya juga berdiri, tersenyum ramah. "Hati-hati di jalan, Sari."
Hati-hati. Terdengar seperti pergilah.
Ardi mengantar ke pintu. Di ambang, dia menarik Sari ke dalam pelukan. Cepat. Tapi erat.
Sari membalas. Juga cepat. Juga erat.
Tapi di dalam pelukan itu, Sari merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya: jarak. Meski tubuh menempel, ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu bernama Maya.
"Love you," bisik Ardi.
Sari tersenyum. "Love you too."
Lalu dia pergi.
Di dalam mobil, Sari tidak langsung menyalakan mesin.
Dia duduk diam, memegang setir, menatap rumah Hartono dari kaca spion. Di jendela dapur, siluet dua orang berdiri berdekatan.
Ardi dan Maya. Berdekatan. Tidak ada jarak satu kursi.
Sari meraih HP. Membuka folder DATA. Menambahkan catatan:
Observasi langsung - 33
- Dua cangkir kopi hangat saat aku datang (sarapan berdua sejak sebelum aku tiba)
- Ardi memanggil Maya "Kak Maya" di depanku, padahal pernah kudengar "Maya" saja
- Handuk Maya di kamar Ardi
- Jarak duduk berubah saat aku ada vs saat aku pergi
- Jawaban tidak sinkron: Ardi bilang "dekat kantor", Maya bilang "tidak ada kerjaan"
- Reaksi tubuh: Ardi freeze, Maya terlalu cepat tersenyum
Kesimpulan: Mereka berselingkuh. Dan mereka sudah terlatih berbohong.
Dia membaca ulang. Lalu menambahkan satu kalimat:
Tapi bohong yang terlatih pun tetap bohong. Dan bohong akan selalu punya celah.
Dia menyalakan mesin. Sebelum mobil bergerak, dia membuka foto hotel Aston lagi.
Zoom ke mobil hitam di pojok kanan bawah.
Kali ini, dia memperbesar plat nomor. Masih buram. Tapi satu angka mulai terlihat: B.
Hanya B. Tapi itu cukup.
Seseorang sengaja memotret Ardi dan Maya di hotel. Seseorang mengirim foto itu ke Mira. Dan Mira mengirimkannya ke Sari.
Siapa?
Sari meletakkan HP. Dia mundurkan mobil, melaju perlahan melewati gerbang.
Di spion, siluet di jendela dapur masih berdiri berdekatan. Tangan Ardi—Sari yakin itu tangan Ardi—menggapai bahu Maya.
Sari menginjak gas.
Di kepalanya, satu kalimat berputar:
Kamu bukan satu-satunya yang mengawasi mereka.
Dan itu artinya... ini bukan cuma tentang aku.