Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Sore yang nyaman di teras Kos Bunga Bangsa. Anak-anak baru sedang membongkar kardus sambil curhat-curhat ringan. Si Willa datang membawa kardus berisi buku-buku ekonomi, baju ganti, dan wig cadangan yang ia selipkan di dasar kardus.
Langkahnya memang belum terhitung sempurna sebagai perempuan, tapi untuk saat ini bisa diakali. Ia memakai rok jeans longgar yang Rina pilih agar tidak terlalu ketara. Bagaimanapun, gestur cowok dan cewek itu berbeda.
Dia menaiki tangga kayu lantai dua pelan-pelan, tangan kiri memegang tali tas selempang, tangan kanan siap mengetok pintu kamar 204. Jantungnya berdetak lebih kencang, melebihi euforia kupu-kupu di perutnya ketika menembak Summer di hari kelulusan dulu.
Tok, tok, tok!
Pintu terbuka setengah. Summer berdiri di ambang pintu, rambutnya sedikit acak-acakan karena baru bangun tidur siang, kacamata frameless-nya agak melorot di hidung. Matanya langsung membulat sempurna. Ia tidak terkejut, tapi penasaran.
“Eh, hai?” sapa Summer ramah. Willa menarik napas dalam, teringat latihan kemarin. Ingat, jangan buru-buru. Tetap tenang dan lakukan sebaik mungkin.
“Hallo, gue Willa. Penghuni kamar baru di 206, kita sebelahan loh. Ibu kost bilang gue boleh kenalan dulu sama tetangga sebelah. Maaf ganggu, ya?”
Summer diam sesaat, matanya menatap selidik ke wajah Willa. Tidak ada tanda aneh ataupun curiga. Willa menunjukkan senyum gigi kering terbaiknya.
“Oh, iya, masuk aja sini. Gue lagi beres-beres juga kok.”
Summer membuka pintu lebar-lebar. Willa masuk perlahan dan langsung terpukau melihat kondisi kamar Summer yang begitu rapi. Posisi meja belajar yang hanya ada buku Ekonomi Mikro dan highlighter warna pastel, kasur single dilipat, selimut motif bunga kecil, dan di dinding ada post-it kecil bertuliskan “Jangan lupa tarik napas dalam kalau lagi deg-degan”.
Willa duduk di pinggir kasur yang ditunjuk Summer dengan kaki merapat dan tangan di atas paha. Pose yang kemarin Rina ajarkan tetap teringat di benaknya. Jangan selonjoran seperti cowok habis main bola.
“Lo baru masuk UI juga, ya?” tanya Summer sambil duduk di kursi meja, badannya agak condong ke depan. Biasanya kalau ada cowok mendekat, tubuhnya refleks memberi sinyal untuk mundur. Sekarang malah sebaliknya.
“Iya, angkatan 2025. Gue dari FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), Sastra Inggris. Lo sendiri gimana?” Wanita jadi-jadian itu terpaksa berbohong demi tidak dicurigai.
“Gue dari FEB, Prodi Ilmu Ekonomi. Nama gue Summer, tapi panggil Mer aja.”
“Gue Willa. Seneng banget akhirnya ada temen sekost yang satu angkatan. Tadi pagi gue bingung sendiri lho di kelas,” balas Willa riang. Summer terkekeh anggun. Ia menatap Willa lebih dalam.
“Iya, ya? Gue juga, tapi entah kenapa gue ngerasa lebih enak kalau ngobrol sama cewek aja. Cowok tuh gue agak susah berbaur.”
“Gue ngerti kok. Kadang orang beda-beda nyamannya. Kadang gue juga agak susah ngomong sama cowok. Seperlunya aja.”
Summer langsung cerita lebih panjang. Dia cerita tentang temen kelompok yang suka bernyanyi saat praktikum, dan ia yang hobi duduk pojok supaya tidak terlalu berdekatan dengan orang. Willa hanya mendengarkan, sesekali membalas sederhana dengan suara tingginya yang mirip Lucinta Luna.
“Capek juga ngomong kayak gini,” batinnya mulai gumoh.
Waktu berlalu dengan cepet. Tak terasa sudah jam setengah delapan malam, lampu kamar Summer menyala dengan warna kuning hangat.
“Eh, lo belum makan malam kan? Gue mau pesen GoFood. Mau sekalian? Mie apa nasi?”
Willa panik dalam hati. Kalau makan bersama, sudah tentu sulit menjaga gestur, tapi jika ditolak juga menimbulkan kecurigaan.
“Boleh deh. Mie aja. Level 3 pedes.”
“Sama! Gue juga suka pedes. Tunggu ya, gue pesen sekarang.”
Saat mata Summer terfokus ke layar ponsel, Willa rileks sebentar. Kakinya diselonjorkan santai seperti cowok yang habis menukang di gedung Transmedia. Di saat itu juga Summer menoleh tanpa sengaja.
“Eh, lo biasa duduk gitu ya? Santai banget.”
“Hehe, kebiasaan kalau lagi capek. Maaf ya.”
“Nggak apa-apa. Malah lucu. Kayak cewek-cewek tomboy gitu.”
Malam semakin larut. Makanan mereka tiba hampir tengah malam. Karena tempatnya sempit, mereka makan di ruang tamu sambil selonjoran. Summer yang mulai lebih dulu dan Willa hanya mengikut karena hitungannya ia adalah tamu.
Summer cerita lebih banyak lagi. Masa-masa SMA-nya yang hectic, kebiasannya yang berhenti membaca buku di tiga bab awal karena takut ending-nya sedih, atau menyimpan sendiri mimpi-mimpi buruknya karena takut jadi nyata.
Willa mendengarkan tanpa menyela. Baru kali ini Summer bercerita panjang lebar tanpa respon tubuh berlebihan.
Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara keras dari luar. Tentu saja satpam kost teriak ke anak-anak yang telat pulang.
“BUKAAA PINTUNYA CEPET! UDAH JAM 10 LEWAT!”
Willa terkejut, refleks suara aslinya keluar. Suara khodam rawa rontek.
“Anjir kenceng amat cok!” katanya. Summer yang tadinya diam langsung menoleh, matanya membulat lebar. Seketika Willa panik, buru-buru menutup mulut dengan mata memelotot sempurna.
Dikira Summer menyadari ada yang salah, ternyata sebaliknya. Gadis itu malah tertawa seolah tidak terjadi apa-apa.
“Suara lo bisa nge-bass gitu ya? Kayak cowok abis puber.” Willa buru-buru menaikkan pitch lagi dan berpura-pura batuk.
“Hehe, iya, kadang suara gue tuh suka drop. Maaf, ya kalau jelek.”
“Lucu malah. Kayak lagi cosplay.”
Ya, kali ini paham Summer asal menyeletuk sesuai isi pikirannya, tapi siapa sangka Willa adalah the real cosplayer teraneh abad ini? Mungkin ia patut diberikan penghargaan kelas dunia jika misinya berhasil.
‘Anjir, hampir mati mengenaskan gue,’ batinnya mengusap kening.
Mereka lanjut mengobrol sampai jam 1 malam. Summer akhirnya mengantuk, terlihat dari matanya yang menyipit.
“Makasih ya Willa. Seneng banget hari ini. Biasanya gue susah ngobrol lama sama orang baru, tapi sama lo kayak enjoy aja gitu. Berasa udah kenalan bertahun-tahun.”
“Gue juga, Mer. Seneng banget.”
Summer bangkit membantu Willa membereskan mangkuk mie. Ketika sedang beres-beres, tak sengaja tangan Summer menyentuh pungung tangan Willa. Gadis itu menoleh sekejap, lalu tersenyum lagi.
“Tangannya dingin ya.”
Willa hanya bisa mengangguk pelan, takut suara khodamnya keluar lagi.
Dan malam itu saat Willa kembali ke kamar 206 sebelah, dia langsung selonjoran di kasur tanpa ganti baju. Wig masih menempel erat, make-up juga masih on point dengan bulu mata extension dan lipstik yang setengah hilang karena pergeludan panasnya dengan mie tadi.
Dia menatap plafon langit-langit kamar, lalu tersenyum sendiri seperti orang gila. Ya, memang sudah gila. Jatuh cinta pun harus rela menyamar demi cewek yang ia incar.
“Gue berhasil bikin dia nyaman. Dia cerita banyak. Dia nggak takut.”
Baik, untuk sekarang ia bisa bangga, tapi bagaimana hari kemudian? Ketika Summer mengetahui fakta sebenarnya, mungkinkah di saat itu juga harapannya musnah?