NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.

Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Untuknya

Andra tidak pernah benar-benar percaya pada kebetulan. Dia tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup ini seperti mesin jam—semua bergerak sesuai putaran rodanya masing-masing, tidak ada yang benar-benar acak. Setiap pertemuan punya alasan, setiap perpisahan punya sebab dan tidak ada yang namanya kebetulan.

Tapi tiga hari setelah acara makan siang di panti itu, dia kembali berdiri di depan pagar yang sama tidak punya penjelasan logis untuk itu.

Alasannya—kalau dipaksa—sebenarnya sederhana. Rei kembali mengirim pesan di grup semalam: "Besok Minggu ada yang bantu lagi di panti. Siapa ikut?"

Pesan itu hanya satu dari sekian banyak notifikasi yang masuk. Andra bahkan tidak membalasnya. Jempolnya berhenti beberapa detik di atas layar, lalu mengunci ponsel menaruhnya di atas meja, ragu yang tidak bisa di jelaskan.

Tapi pagi harinya, saat alarm belum berbunyi dan kamar kos masih gelap, dia sudah bangun mandi memilih baju—hoodie abu-abu yang sudah lusuh, celana jeans yang nyaman—lalu tanpa banyak pikir menyalakan motor melaju ke ujung jalan tidak terlalu ramai

Di tengah perjalanan, dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia datang karena anak-anak di sana menyenangkan. Karena tawa mereka tidak dibuat-buat, udara segar setelah berminggu-minggu terkurung di antara dinding kantor dan layar komputer.

Bukan karena seseorang.

Bukan karena wanita dengan kemeja putih dan senyum entah kenapa terus menghantuinya.

Bukan.

---

Halaman panti masih sama seperti sebelumnya. Pagar besi berkarat masih berdiri dengan setia. Pohon mangga tua menaungi bangku-bangku kayu dengan daunnya yang rimbun. Beberapa anak kecil berlarian di sekitarnya, bermain kejar-kejaran tertawa keras.

Suara tawa anak-anak berbeda karena memang ingin tertawa—bukan karena sopan santun, bukan pula karena tekanan sosial.

Andra bersandar sebentar di pagar sebelum masuk. Matanya secara otomatis menyapu halaman, mencari seseorang—dengan cara tidak berani dia akui.

Dan hampir seketika, dia melihatnya.

Wanita itu.

Meisyah duduk di lantai teras bersama tiga anak kecil. Sinar matahari pagi jatuh lembut di atas mereka, menciptakan bayangan hangat di lantai semen. Seorang anak perempuan memegang buku gambar.

Gadis itu membantunya mewarnai dengan krayon menggoreskannya dengan hati-hati di dalam bingkai garis gambar bunga. Rambutnya diikat asal seperti waktu pertama Andra melihatnya. Hari ini dia memakai kaus sederhana—putih, sedikit longgar—dan celana jeans pudar di bagian lutut.

Salah satu dari gadis kecil tiba-tiba berkata, polos, "Kak, warnanya keluar garis."

Mei menatap lamat dan benar saja, sedikit warna merah keluar dari kelopak bunga.

"Tidak apa-apa," katanya tenang.

"Tapi jelek."Ia mengerutkan kening, tidak puas.

"Siapa bilang?"

"Bu guru. Bu guru bilang kalau gambar harus rapi."

"Bu guru tidak lihat gambar ini."Mei menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?"

"Karena gambar ini kamu yang buat. Jadi kamu yang paling tahu apakah jelek atau bagus."

Alisnya yang tipis berkerut lucu."Kalau begitu… bagus?"

Meisyah tersenyum membuat matanya ikut bicara."Bagus sekali."

Gadis kecil kembali mengambil krayon biru mewarnai langit dengan semangat baru.

Andra tidak sadar tersenyum sendiri.

"Lo ternyata datang lagi?" Rei menepuk bahunya muncul dari balik pintu dapur, membawa ember kecil.

"Iya." Andra mengangguk tubuhnya mengisyaratkan biasa saja." Gue ingin membantu apa yang dapat."

"Bagus, kita lagi kurang orang buat bersihin gudang."

"Di mana?"

Rei menunjuk ke belakang bangunan dengan ibu jarinya

Beberapa menit kemudian Andra sudah berada di belakang panti bersama Rei dan dua relawan lainnya. Gudang kecil itu lebih mirip ruang penyimpanan rahasia—pintu kayunya tua, engselnya berdecit setiap kali dibuka. Di dalam, kotak-kotak kardus bertumpuk tak beraturan.

Tugas mereka sederhana: memindahkan kotak-kotak itu ke luar, memilah mana yang masih bisa dipakai, dan membuang sisanya.

Debu beterbangan setiap kali mereka membuka kardus. Andra bersin dua kali berturut-turut.

"Ini buku lama semua," kata Rei membuka satu kardus dan mengeluarkan buku pelajaran SD sampul lusuh.

Andra mengangkat satu kotak lain berat. Isinya seperti peralatan dapur bekas.

"Masih dipakai?" tanyanya.

"Sebagian sisanya rusak. Yang ini mungkin buat dijual ke pengepul."

Setelah sekitar setengah jam, Andra memutuskan untuk keluar sebentar. Debu mulai membuat matanya perih. Ia berjalan kembali ke halaman depan, mengusap lehernya sedikit pegal.

Anak-anak sedang asik bermain bola plastik kecil. Bola merah terang itu melambung ke sana kemari, diikuti teriakan dan tawa.

Meisyah berdiri di dekat pohon mangga mencoba mengikat tali sepatu seorang anak kecil—anak laki-laki yang dulu dipanggilnya "Kapten". Tampaknya tidak sabar untuk berdiam diri.

"Tunggu," teriak Mei dengan sabar meski talinya lepas terus.

"Kak mau main!" Ia merengek, badannya bergoyang.

"Sebentar Kapten, tali sepatu mu masih lepas."

"Aku mau cepat kakak"

Meisyah tertawa kecil seperti suara dedaunan tertiup angin. "Tali sepatu tidak bisa cepat, mereka suka lambat"

Dia akhirnya diam—mungkin karena penasaran dengan penjelasan aneh itu.

Mei menyelesaikan ikatan menepuk bahunya pelan"Nah. sekarang Kapten boleh main."

Ia langsung berlari tanpa menengok ke belakang hampir menabrak tubuh Andra, lalu berhenti mendadak dengan mata membelalak.

"Om yang kemarin ?"

Andra berkedip. "Iya?"

"Bola!" Ia menunjuk ke arah halaman melihat bola plastik merah menggelinding tepat di kaki Andra. Ia mengambil bola plastik tipis, ringan lalu melemparkannya kembali dengan lemparan pendek.

Anak anak berteriak senang dan berlari mengejar bola.

-_

Meisyah menatap untuk pertama kalinya sejak pertemuan pertama mereka, mata mereka benar-benar bertemu pandangan yang saling mengunci di tengah hiruk-pikuk halaman panti.

Beberapa detik.

Tidak ada yang bicara.

Lalu ia tersenyum kecil membuat sudut matanya sedikit berkerut.“Mas... yang kemarin, kan?”

Andra sedikit gugup tangannya tiba-tiba tidak tahu harus diletakkan di mana.

“Iya.”

Ia berjalan mendekat, tidak terburu-buru.

" Mas membantu membagi nasi.”

“Eh...Ia”

“Dan mas memberi nasi terlalu sedikit kepada Anya.”

Andra tertawa pelan langsung teringat anak perempuan berkuncir dua itu. “Dia yang minta biar yang lainnya cukup.”

“Anya memang selalu begitu.” Meisyah tersenyum. “Dia anak yang paling jujur soal perut.”

Ada jeda kecil di antara mereka. Angin bergerak pelan melewati halaman, membawa aroma tanah dan daun kering.

“Aku Meisyah,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Andra melihat tangan dengan jari-jarinya jenjang, bersih, tanpa cincin atau gelang. Ia menjabatnya.

“Andra.”

Ia melepaskan melirik ke arah gudang di belakang bangunan panti. “Mas membantu bersihin gudang?”

“Bersama Rei dan relawan lainnya.”

“Berani juga.” Ada nada bercanda di suaranya.

“Kenapa?”

“Gudangnya penuh debu. Dan aku dengar di dalamnya banyak tikus."

“Memang begitu tikusnya besar - besar.”

Meisyah tertawa mirip dengan tawanya di antara anak-anak dengan buku gambar.

“Kenapa mas datang lagi?” tanyanya menatap rasa ingin tahu tulus bukan menginterogasi—hanya sekadar ingin tahu.

Andra terdiam sejenak. Sebenarnya ada banyak jawaban yang bisa dia berikan, bisa jadi karena temannya memaksa, tidak ada kerjaan dihari Minggu atau bisa pula karena rasa penasaran.

Tapi yang keluar hanya satu kalimat sederhana yang bahkan tidak sempat ia rencanakan, "Tempat ini sangat menyenangkan.”

Meisyah menoleh ke arah anak-anak yang sedang bermain bola dengan wajah tenang

“Iya,” katanya pelan.“Tempat ini memang selalu membuat orang ingin kembali.”

Andra mengikuti arah pandangannya.

Anak-anak berlari di bawah pohon mangga dengan tawa keras.

Matahari hampir tepat di atas kepala mereka sekarang, menciptakan bayangan-bayangan pendek di tanah. Salah satu dari mereka jatuh saat mengejar bola lututnya mungkin lecet.

Tapi dia bangun sambil tertawa— kembali berlari.

Hidup mereka mungkin tidak mudah. Sebagian dari mereka mungkin tidak punya orang tua, mungkin hanya memiliki satu setel pakaian yang benar-benar layak.

Namun di halaman kecil itu, di bawah pohon mangga tua itu, mereka terlihat benar-benar bahagia dengan cara yang paling sederhana.

“Dan kadang,” lanjut Mei pelan seperti bergumam pada dirinya sendiri, “anak-anak ini mengingatkan kita pada sesuatu.”

“Apa?”

“Bahwa bahagia sebenarnya tidak sesulit yang kita kira.”

Andra tersenyum, berdiri di halaman kecil panti asuhan, di bawah pohon mangga tua, bersama seorang perempuan baru saja memperkenalkan namanya— sesuatu dalam hidupnya baru saja mulai berubah. Dia belum tahu ke mana perubahan itu akan membawanya.

Bisa jadi suatu hari nanti, ia akan memberikan perasaan tulus berharga kepada anak anak itu atau ....

 

.

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!