Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Merah
Dua minggu telah berlalu sejak malam yang ingin dihapus Zevanya dari ingatannya.
Namun, pagi ini,
kenyataan pahit justru menghantamnya tepat di depan cermin kamar mandi.
"Ugh..."
Zevanya menutup mulutnya rapat-rapat, berlari kecil menuju wastafel.
Ia memuntahkan cairan bening karena perutnya terasa sangat mual,
padahal ia belum memakan apa pun sejak semalam.
Tubuhnya terasa lemas, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Kenapa denganku?"
bisik Zevanya dengan suara gemetar.
Ia mencoba menghitung siklus bulanannya di kalender ponsel.
Jantungnya berdegub kencang saat menyadari satu hal,
ia sudah terlambat haid satu minggu.
Ingatannya kembali ke dalam kamar hotel tempat ia memadu kasih,
Bayangan pria asing yang menidurinya dalam keadaan mabuk itu kembali muncul.
Ia ingat bagaimana pria itu menahannya, dan bagaimana ia tidak berdaya malam itu.
Rasa takut yang luar biasa mendorong Zevanya berlari keluar saat jam istirahat.
Ia menuju apotek terdekat dengan napas tersengal.
Dengan tangan gemetar dan wajah yang ditutupi masker,
ia membeli sebuah alat tes kehamilan.
Di dalam ruangan toilet hotel yang dingin,
Zevanya menunggu dengan air mata dan perasaan khawatir.
Menit-menit terasa seperti siksaan.
Saat ia akhirnya memberanikan diri melihat benda kecil itu,
dunianya seolah hancur.
Dua garis merah. Jelas dan nyata.
"Bagaimana mungkin..."
Zevanya menutup mulutnya agar tangisan tidak terdengar keluar.
"Bagaimana aku bisa hamil dari pria yang wajahnya saja aku tidak ingat?"
Ia terduduk lemas di lantai toilet yang dingin.
ia takut tidak bisa mengurus anak dan kehamilannya.
Ia hanyalah seorang anak yatim piatu yang tidak tau siapa orang tua nya.
dia di besarkan di panti asuhan hingga dewasa,
dan berjuang sendirian di kota besar ini.
tanpa keluarga,
dan kini... ada benih seorang pria asing yang tumbuh di rahimnya.
Zevanya mengelus perutnya yang masih rata dengan jari yang bergetar.
"Tolong, Tuhan... jangan sekarang. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku hanya seorang pelayan,"
rintih Zevanya.
Perlahan,
ia memberanikan diri lagi melihat alat itu.
Di sana, di bawah cahaya lampu,
dua garis merah terlihat dengan sangat jelas.
Positif.
"Bagaimana aku akan menjelaskan ini? Aku akan dipecat jika pihak hotel tahu pelayannya hamil..."
"Aku memang benar-benar bodoh!"
keluh Zevanya pada diri sendiri.
"Bagaimana bisa aku membiarkan malam itu terjadi? Dan yang lebih gila lagi...
aku benar-benar tidak mengenali wajah pria yang meniduriku.
aku tidak ingat wajahnya dengan jelas. Aku hanya tahu dia pria yang sedang mabuk malam itu."
"Jika aku tidak bisa menemukan ayah dari anak ini, maka aku harus menanggung ini sendirian? Tapi sampai kapan aku bisa bersembunyi?"
Zevanya mengusap air matanya dengan kasar.
Ia harus segera kembali bekerja sebelum pengawas hotel mencarinya.
Ia mencuci wajahnya berkali-kali,
mencoba menghilangkan jejak tangis,
"Siapa pun pria itu... aku akan tetap mengurus anak ini,"
ucap zevanya sambil menatap ke arah cermin.
Ia mengusap perutnya dengan lembut,
"Anak ini tidak bersalah. Dia tidak memilih untuk hadir dengan cara seperti ini.
Aku tidak boleh egois dan membiarkannya menanggung kesalahan yang aku dan pria itu lakukan."
Zevanya tidak tau,
bahwa benih yang dikandungnya adalah
"Benih Sang Mahendra"
sosok yang sedang dicari-cari oleh Baskara Mahendra untuk menjadi penerus takhta bisnis perusahaan besar mereka.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪