Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Nomor Dua Belas
"Nama?."
"Wei Mou Sha."
Pencatat itu menulis. "Afiliasi sekte.?"
"Tidak ada."
"Kultivator bebas." Ia menulis lagi. "Tingkat kultivasi."
Wei Mou Sha berhenti sejenak.
Tingkat kultivasi. Kategori yang dalam sistem kultivasi ditentukan oleh seberapa jauh seseorang membangun inti qi mereka dan seberapa stabil aliran energinya. Tapi dengan segel yang membatasi sebagian besar aliran qi Wei Mou Sha, tingkat yang bisa ia tunjukkan secara eksternal jauh lebih rendah dari apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya.
"Pembangunan Fondasi atas," katanya.
Ini bukan kebohongan, berdasarkan apa yang bisa ia akses dan tunjukkan, itu adalah estimasi yang akurat. Bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik segel, informasi yang tidak penting untuk formulir pendaftaran.
Pencatat itu menatapnya sebentar, mungkin sedikit heran dengan pernyataan yang terdengar rendah untuk orang yang sudah menarik perhatian se Kota Wanhua, tapi tidak berkomentar. Ia menulis dan mendorong sebuah lempengan giok kecil ke arah Wei Mou Sha.
"Nomor peserta dua belas. Jadwal kualifikasi akan diumumkan empat hari lagi. Bawa lempengan ini ke arena pada hari yang ditentukan."
Wei Mou Sha mengambil lempengan itu.
Nomor dua belas. Konsisten dengan saran Chen Liang Huo tentang pendaftaran awal.
Di luar arena, ia berdiri sebentar di bawah matahari yang sudah semakin terik.
Lempengan giok itu dingin di telapak tangannya dan juga tipis, dengan angka dua belas terukir di satu sisi dan lambang Kota Wanhua di sisi lainnya. Sesuatu yang kecil yang menandai komitmen untuk dua minggu ke depan.
"Nomor dua belas."
Suara itu datang dari kiri.
Lian Zhu Yue berdiri di luar antrian pendaftaran, memegang lempengan gioknya sendiri, sudah selesai mendaftar rupanya. Matanya turun ke lempengan di tangan Wei Mou Sha sebentar, lalu kembali ke wajahnya.
"Ternyata kamu jadi ikut."
"Tampaknya begitu. Nomor berapa kamu?" tanya Wei Mou Sha.
Lian Zhu Yue membalik lempengannya. "Delapan belas."
"Kemungkinan kita tidak bertemu di babak kualifikasi."
"Kemungkinan besar tidak." Lian Zhu Yue menyimpan lempengannya kembali. "Tapi babak utama, itu cerita lain."
Wei Mou Sha tidak menjawab.
Lian Zhu Yue menatapnya dengan cara yang sudah mulai ia kenali, tidak terburu-buru, tidak memaksa, hanya benar-benar melihat.
"Kamu menyatakan diri sebagai Pembangunan Fondasi atas," katanya.
"Kamu mendengarnya"
"Antrian itu tidak terlalu panjang." Ia tidak mengomentari apakah pernyataan itu akurat atau tidak, hanya menyebutkan bahwa ia tahu.
"Hati-hati. Kalau panitia menilai kamu meremehkan tingkatan sendiri untuk keuntungan, ada konsekuensinya."
"Menurut ku itu tingkatan yang akurat."
Lian Zhu Yue menatapnya satu detik lebih lama.
"Baik," katanya akhirnya. "Sampai di babak utama, kalau kamu lolos kualifikasi."
Ia berjalan pergi dengan langkah yang tidak terburu-buru.
Wei Mou Sha mengamati punggungnya sampai hilang di keramaian jalan utama.
Kalau kamu lolos kualifikasi, ulangnya dalam kepala.
Bukan kalau kamu menang. Bukan semangat. Hanya kalau kamu lolos kualifikasi, dengan nada orang yang menganggapnya sebagai variabel yang belum pasti, bukan kepastian.
Wei Mou Sha mempertimbangkan apakah itu bentuk meremehkan atau justru penilaian jujur terhadap kondisi yang ia miliki saat ini.
Ia tidak bisa memutuskan.
Yang membuatnya tidak nyaman bukan ketidakpastian itu sendiri. Tapi kenyataan bahwa ia ingin membuktikan kalau Lian Zhu Yue itu salah.
Dan kenyataan bahwa keinginan itu tidak bisa ia jelaskan hanya dengan kalkulasi.
Malam sebelum jadwal kualifikasi diumumkan, Wei Mou Sha duduk di tepi ranjangnya dan memeriksa lempengan giok itu di bawah cahaya lampu minyak kecil.
Angka dua belas.
Di dalam dadanya, segel berdenyut dengan ritme yang sudah familiar. Retakan yang ia temukan beberapa hari lalu masih ada, masih tidak bertambah besar, masih mengeluarkan rembesan yang tidak bisa ia artikan sepenuhnya.
Tapi malam ini ada sesuatu yang berbeda.
Bukan dari retakan itu. Dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu lapisan paling jauh dari segel yang biasanya paling tidak bisa ia sentuh.
Di tempat yang bahkan Lian Zhu Yue pun dengan seluruh kemampuan kultivasi jiwa Sekte Bunga Abadi-nya, menyebut sebagai ruang yang tidak bisa ia sentuh.
Ada sesuatu di sana yang bergerak.
Sangat pelan dan samar samar. Seperti orang yang tidur sangat lelap dan baru saja mulai bermimpi.
Wei Mou Sha menutup mata dan mencoba memusatkan persepsinya ke titik itu.
Tapi begitu ia mendekat, sesuatu menutup kembali.
Ia membuka matanya
Menatap lempengan giok lagi di tangannya.
Dua minggu, pikirnya. Perpustakaan Awan. Catatan era kuno.
Dan sesuatu di dalam segel yang baru saja mulai bergerak untuk pertama kalinya.
Terlalu banyak yang bergerak sekaligus.
Tapi Wei Mou Sha sudah lama belajar bereaksi terhadap banyak variabel sekaligus, ia meletakkan lempengan itu di atas meja, berbaring, dan memejamkan matanya lagi.
Satu langkah dulu.
Babak kualifikasi.
Sisanya menyusul.
Di menara tertinggi kota, Tao Xu Ying berdiri di depan jendela yang menghadap ke seluruh Wanhua.
Batu pelacak di tangannya berpendar sedikit lebih terang dari kemarin.
Di meja di belakangnya ada tumpukan laporan dari para perantaranya, nama, tingkat yang didaftarkan, nomor lot. Semuanya sudah ia baca dua kali.
Nomor dua belas. Pembangunan Fondasi atas.
Tao Xu Ying menatap batu pelacak itu lama.
"Kamu menyembunyikan diri," katanya pelan, kepada titik cahaya di batu itu yang tidak bisa menjawab. "Masuk akal. Aku juga akan melakukan hal yang sama."
Ia menutup telapak tangannya.
"Tapi segel sudah mulai bereaksi. Artinya ada sesuatu di Wanhua ini yang menjadi pemicunya."
Kabutnya bergerak sedikit di sekitarnya, bukan karena angin, tapi seperti mengikuti arah pikirannya.
"Bagus," katanya akhirnya. "Biarkan pemicu itu bekerja. Waktunya hampir tiba."